Menikahi pewaris gila (spin off MBPB) Ini adalah spin off dari novel sebelumnya (Mengandung benih pria beristri) silakan baca novel itu dulu untuk mengerti alurnya. Menceritakan kisah Sagara davitra Fernandez, buah hati dari Citra dan David dan seorang gadis bernama Azalea kirana, disini akan banyak diceritakan bagaimana cerita setelah ending pernikahan David dan citra di novel sebelumnya, Sagara yang di cap sebagai “pewaris gila” harus di hadapkan dengan intrik dan konspirasi yang kejam demi kekuasaan di dalam keluarganya sendiri setelah ayahnya meninggal dunia dan ibunya yang ia anggap pengkhianat dan meninggalkan nya sendirian saat kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 06
Aleah membeku di tengah ruangan mewah itu, nafasnya masih tersengal- sengal sisa larinya tadi menghindari kejaran anak buah Barnas.Ia baru sempat mengedarkan pandangan nya sekilas, bingung ketika melihat isi kamar dimana sebuah gaun pengantin berkilauan tergantung di sudut ruangan, meja rias penuh perhiasan mahal,dan cermin besar berhias ukiran emas,sebelum pintu di belakangnya terbuka dan suara ramah itu menyapanya.
“Selamat pagi, nona. Kami kesini untuk merias anda.”
Aleah menoleh cepat, matanya membelalak melihat serombongan perias lengkap dengan kotak- kotak alat rias besar sudah berbaris rapi di ambang pintu,semuanya tersenyum sopan ke arahnya seolah ia memang orang yang mereka tunggu- tunggu sejak tadi.
“Saya?” Aleah menunjuk dirinya sendiri, suara nya bergetar antara bingung dan panik. “Bu, saya rasa ibu salah orang, saya bukan—“
“Ayo nona, kita tidak punya banyak waktu,” potong salah satu perias,wanita paruh baya dengan tas rias besar itu sudah lebih dulu melangkah masuk tanpa mendengar sanggahan Aleah, menarik lengan gadis itu lembut namun tegas menuju kursi rias di tengah ruangan. “Akad akan di mulai dalam dua jam lagi, kita harua segera mulai,”
“Tunggu kalian salah sangka, saya bukan pengantin nya!” Aleah berusaha memberontak, namun tangannya sudah keburu di dudukkan paksa di kursi empuk itu, sementara di luar, samar- samar ia bisa mendengar suara langkah kaki berat dan teriakan anak buah Barnas yang masih mencari nya di sepanjang lorong mansion.
Pikirannya berkecamuk. Kalau ia kabur sekarang, keluar dari ruangan ini,sudah pasti langsung tertangkap oleh orang-orang Barnas yang masih berkeliaran. Tapi kalau ia tetap disini… ia bahkan tidak tahu sedang terjebak dalam masalah macam apa.
“Nona cantik sekali, wajahnya bagus banget buat dirias, “ celetuk perias muda lainnya sambil mulai membersihkan wajah Aleah dengan kapas dan air micelar, tanpa sedikit pun curiga.
Aleah menelan ludah, otaknya berputar cepat mencari jalan keluar, namun setiap kali ia membuka mulut untuk menjelaskan,para perias itu terus menyela dengan obrolan riang mereka sendiri, sibuk membahas warna eyeshadow apa yang cocok, model rambut apa yang akan mereka buat , seolah kehadiran nya di ruangan itu sudah menjadi kepastian mutlak yang tak perlu di pertanyakan lagi.
----------------
Di luar ruangan, Mayang berjalan mondar- mandir dengan kegelisahan yang dibuat- buat,sesekali melirik jam tangannya sambil menahan senyum kemenangan yang nyaris meluap dari wajahnya.
“Sebentar lagi,” gumamnya pada diri sendiri. “Sebentar lagi reputasi keluarga ini akan hancur di hadapan para tamu, Gracia tidak akan memiliki muka dan Sagara akan dipermalukan, haha.”
Namun di tengah kepuasan yang sudah ia bayangkan matang- matang itu, salah satu bawahannya menghampiri dengan wajah bingung dan gelisah.
“Nyonya Mayang ada yang aneh,” lapor asisten nya itu, “ tim rias bilang pengantin wanita sudah ada di dalam ruang rias sejak tadi, katanya sudah mulai di rias.”
Kedua alis mayang sontak mengerut tajam. “Apa?”
“Iya nyonya, katanya nona pengantinnya ada di sana dan sedang dirias sekarang,” ulang si bawahan dengan tampang juga ikut heran dan terkejut.
Mayang tersentak, jantungnya berdegup kencang antara kebingungan dan kepanikan.Ini tidak sesuai rencana. Xavia sudah kabur, ia sendiri yang mengatur jalan pelariannya tadi pagi-pagi buta, lantas siapa yang sedang dirias di dalam sana sekarang?
Dengan langkah cepat penuh curiga,Mayang bergegas menuju ruang rias,mendorong pintu itu terbuka lebar tanpa mengetuk terlebih dahulu.
Dan disanalah, duduk di kursi rias, seorang gadis asing dengan wajah panik yang sudah setengah dirias,rambutnya sedang di tata rapi oleh dua orang penata rambut yang sibuk berdebat kecil soal model sanggul apa yang paling pas.
“SIAPA KAU?!” Pekik Mayang,membuat seisi ruangan seketika terdiam kaget.
Aleah menoleh cepat, wajahnya yang sedang di poles bedak tipis itu memucat seketika melihat wanita horor yang auranya mengintimidasi berdiri diambang pintu, menatapnya dengan mata yang seolah siap menelan nya hidup- hidup.
“Astaga, habislah aku. Siapa wanita yang mirip seperti nenek kebayan ini?”
Batin Aleah menengguk ludah kasar. “S-saya,” Aleah gelagapan. “Saya bukan siapa- siapa bu, saya cuma mau numpang lewat, saya—“
“Nyonya Mayang,” salah satu perias menyela bingung.” Bukannya nona ini calon pengantin nya? Kami sudah di beritahu kalau ruangan ini untuk merias pengantin wanita,dan begitu kami masuk nona ini sudah ada di sini .”
Mayang menatap Aleah lekat- lekat, otaknya berputar cepat, mencoba mencerna situasi yang sama sekali di luar perhitungan nya. Gadis ini bukan Xavia, itu jelas. Tapi kalau ia buru-buru mengungkap kebenarannya sekarang, di depan tim perias yang sudah terlanjur tahu, rencana besarnya untuk mempermalukan Sagara justru bisa terbongkar lebih cepat, atau lebih buruk lagi, malah dirinya lah yang akan di curigai.
Sebuah ide licik tiba-tiba berkelebat dikepalanya.
“Oh, maaf nona, saya kaget saja, “ ujarnya, suaranya berubah lembut seketika, membuat Aleah semakin bingung dengan perubahan sikap yang begitu drastis itu.” Lanjutkan saja riasannya.”
Aleah membelalak. “Tunggu bu, saya sungguh bukan—“
“Sudah, sudah tidak usah gugup,” potong Mayang cepat, matanya berkilat penuh perhitungan yang tersembunyi rapi dibalik senyum lembutnya.”wajar kalau calon pengantin gugup di hari besar nya.”
Aleah membuka mulut lagi untuk protes, namun Mayang sudah lebih dulu berbalik dan melangkah keluar dari ruangan itu, meninggalkan Aleah yang masih bingung setengah mati, dikelilingi para perias yang kembali sibuk dengan pekerjaan mereka seolah tak terjadi apa-apa.
Di luar pintu, begitu memastikan tak ada yang mendengar, senyum Mayang berubah menjadi seringai penuh kemenangan yang jauh lebih besar dari rencana awalnya.
Kalau Xavia yang kabur bisa dimanfaatkan untuk mempermalukan Sagara di depan publik, maka gadis asing yang tiba-tiba muncul menggantikan posisi pengantin ini, bisa jadi senjata yang jauh lebih mematikan.
“Pucuk dicinta ulam pun tiba, ku pikir rencananya akan gagal tapi justru ini semakin menambah potensi untuk mempermalukan keluarga ini di depan umum.”
Batin Mayang sebelum akhirnya berlalu dengan lenggok riangnya, tak menyadari bahwa ada anak kecil yang mengamati gerak- geriknya dengan kedua mata polos nya.
Gino memperhatikan langkah Mayang yang melewatinya sambil memakan es krim, lalu kedua alis kecilnya menukik gemas.
“Kenapa tuh bibi Mayang cenyum- cenyum cendili, udah cetles kayanya, “ ucap bocah itu sambil geleng- geleng, memperagakan ekspresi ibunya jika lelah dengan kelakuan nakalnya.
Lalu langkah kecilnya membawa nya ke depan pintu ruang pengantin, kedua kakinya berjinjit berusaha menggapai kenop pintu yang melebihi tinggi badannya.
Setelah berhasil, senyum bocah itu merekah, ia lantas membuka dan mengintip apa yang ada di dalam yang mungkin menjadi penyebab bibinya itu senyam- senyum seperti tadi.
Mata bulat bocah itu melebar penuh binar ketika melihat kaca rias yang memantulkan wajah Aleah yang sudah selesai dengan riasannya.
Dengan penalaran yang ia punya sendiri sebagai anak kecil berusia lima tahun ia lantas mengerti kenapa bibi Mayang tadi terlihat begitu bahagia.
“Kakak yang ini cantik cekali cepelti bidadali, tidak cepelti kakak yang kemalin yang milip cepelti nenek cihil, pantas caja bibi Mayang cenyam- cenyum kaya tadi. Gino juga cetuju kalo yang ini buat abang cagala.”
Lantas bocah itu menutup pintu dengan gerakan pelan lalu berbalik sambil tersenyum riang, tak sabar memberitahukan apa yang ia lihat ini kepada orang tuanya.
……
Bersambung