Sejak ibunya meninggal, hidup Bima berubah menjadi neraka setelah ayahnya membawa istri baru dan anak tirinya yang egois, membuatnya diperlakukan seperti pesuruh dan orang asing di rumahnya sendiri.
Puncaknya, ia difitnah mencuri barang berharga dan diusir begitu saja tanpa ampun, membawa luka hati yang mendalam serta sebuah kotak peninggalan misterius dari mendiang ibunya.
Tak disangka, kotak rahasia itu menjadi kunci bagi Bima untuk bangkit dari titik terendah, bermetamorfosis menjadi sosok sukses dan berpengaruh besar yang siap membuat keluarga pembuangnya bertekuk lutut memohon pengampunan.
Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Cahaya layar televisi tabung bekas di sebuah warung pinggir jalan menyala terang pagi itu.
Suara pembaca berita pagi membahana dengan nada yang sangat antusias dan menggelegar.
"Skandal memalukan terjadi tadi malam di Hotel Grand Palace dalam acara amal besar PT Cipta Sentosa," ucap pembaca berita itu.
Wajah Rina dan Kevin yang compang-camping terpampang jelas di layar kaca nasional untuk disaksikan jutaan pasang mata.
Hendra yang sedang duduk termenung di atas tumpukan sampah bawah jembatan mendadak menoleh kaku ke arah televisi itu.
Matanya membelalak lebar melihat keluarganya menjadi bahan tertawaan seluruh negeri tanpa bisa berbuat apa-apa.
"Itu... itu Rina dan Kevin," gumam Hendra pelan dengan suara bergetar ketakutan yang luar biasa.
Orang-orang di sekitar warung kopi kecil itu langsung menunjuk-nunjuk layar televisi sambil tertawa mengejek tanpa ampun.
"Wah, parah banget ya kelakuan keluarga mantan direktur perusahaan besar itu," komentar seorang tukang ojek online di sebelah meja.
"Udah bangkrut, jadi gelandangan, malah bikin ulah teriak-teriak di hotel mewah demi uang," timpal warga lainnya menggelengkan kepala.
Hendra merasa sekujur tubuhnya lemas seketika mendengar cercaan dan hinaan orang-orang di sekitarnya.
Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam agar tidak ada satu pun orang yang mengenali wajah kotornya di tempat umum.
Di sudut lain kolong jembatan yang lembab, Rina dan Kevin sedang meringkuk kedinginan tanpa sisa tenaga sedikit pun.
Mereka baru saja kembali setelah diusir secara kasar oleh satpam hotel usai membuat keributan besar tadi malam.
"Ma... lihat berita itu, kita jadi bahan tontonan seluruh Indonesia sekarang," kata Kevin dengan suara parau menunjuk layar televisi.
Rina membuka matanya yang sembab dan melihat wajahnya sendiri terpampang di layar kaca sebagai bahan ejekan publik.
"Bima... anak sialan itu benar-benar ingin menghancurkan harga diri kita sampai berkeping-keping di tanah," tangis Rina histeris.
Semua orang di kota ini kini tahu persis siapa mereka dan bagaimana kejatuhan mereka yang sangat memalukan.
Tidak ada lagi orang yang mau memberi mereka sisa makanan atau sekadar rasa kasihan di pinggir jalan raya.
Reputasi mereka hancur lebur tanpa sisa, terkubur bersama lumpur kotor di bawah kolong jembatan kumuh.
Sementara itu, di kantor pusat PT Cipta Sentosa, suasana pagi terasa sangat sibuk, cerah, dan menyenangkan.
Bima duduk di kursi direktur utamanya sambil membaca berbagai koran pagi nasional di atas meja kerja kayu mahoni.
Hampir semua surat kabar terkemuka memuat berita utama tentang acara amal semalam dan insiden pengusiran tersebut.
Judul-judul berita itu sebagian besar memuji ketenangan Bima dan mengecam tindakan nekat keluarga tirinya.
"Berita hari ini menyebar sangat cepat sesuai dengan perkiraanku," batin Bima tersenyum tipis penuh kepuasan.
Pintu ruang kerja diketuk pelan dari luar sebelum akhirnya Rian melangkah masuk membawa secangkir kopi hitam hangat.
"Selamat pagi, Tuan Bima, koran pagi ini benar-benar menjadi senjata paling ampuh untuk menjatuhkan mental mereka," sapa Rian ceria.
"Baguslah, biarkan seluruh dunia tahu siapa sebenarnya parasit yang selama ini hidup di balik bayang-bayang kesuksesan mendiang ibu," balas Bima dingin.
"Apakah Anda ingin kita ambil tindakan hukum tambahan untuk mencegah mereka berulah lagi di masa depan?" tanya Rian profesional.
"Tidak perlu repot-repot mengotori tangan kita, biarkan masyarakat sosial yang menghakimi mereka secara perlahan," jawab Bima santai.
"Baik, Tuan, saya akan urus laporan keuangan ekspansi cabang baru di luar kota hari ini," kata Rian berpamitan sopan.
"Silakan lanjutkan tugasmu dengan baik, Rian," balas Bima mempersilakan.
Rian membungkuk hormat lalu berbalik badan melangkah keluar dari ruangan kerja eksekutif yang sangat mewah itu.
Bima kembali menatap lembaran koran di depannya dengan rasa puas yang luar biasa di dalam dadanya.
Dendam kesumat yang selama ini membakar hatinya perlahan-lahan terbayar lunas dengan pemandangan luar biasa ini.
Orang-orang yang dulu meremehkannya kini bertekuk lutut memuja namanya sebagai pengusaha muda paling berpengaruh di Asia.
Hari demi hari berlalu dengan sangat cepat bagi Bima di puncak kejayaan kariernya yang sangat gemilang.
Namun di sisi lain kota, penderitaan keluarga Hendra semakin hari semakin mencapai titik nadir yang mengenaskan.
Karena wajah mereka sudah viral di mana-mana, setiap kali mereka berjalan mengemis, orang-orang langsung mengusir mereka.
"Pergi kalian dari sini! Jangan bawa-bawa muka penipu ke depan tokoku!" bentak seorang pemilik toko kelontong dengan garang.
Rina dan Kevin terpaksa harus lari terbirit-birit menghindari lemparan batu dari warga sekitar yang merasa geram.
"Sialan! Kenapa orang-orang ini begitu kejam kepada kita?!" keluh Kevin menangis kesakitan di pinggir jalan raya.
"Ini semua gara-gara ayahmu yang tidak bisa cari uang dan malah bikin kita malu seharian!" balas Rina menyalahkan suaminya.
Hendra yang berjalan di belakang mereka hanya bisa diam menelan ludah kepahitan tanpa tenaga untuk membela diri.
Tubuh Hendra sudah sangat kurus kering karena berhari-hari tidak makan makanan yang layak dan bergizi.
Penyakit maag kronis dan stres berat mulai menggerogoti organ tubuhnya secara perlahan tanpa ampun.
"Aku rasa... aku sudah tidak sanggup lagi berjalan jauh," rintih Hendra memegang dadanya yang terasa sangat sesak.
"Jangan banyak alasan, Pa! Cepat bangun atau kita tinggalkan saja di sini!" bentak Kevin acuh tak acuh kepada ayah tirinya.
Rina juga tidak mempedulikan kondisi suaminya yang sudah hampir pingsan di pinggir jalan raya yang bising.
Sifat egois dan toksik di dalam keluarga itu tetap melekat kuat meskipun mereka sudah jatuh menjadi gelandangan.
Tidak ada kasih sayang atau rasa saling memiliki di antara mereka bertiga di saat-saat paling sulit sekalipun.
Mereka hanyalah sekumpulan orang serakah yang disatukan oleh harta, dan diceraikan oleh kemiskinan mutlak.
Matahari sore mulai tenggelam di ufuk barat menyisakan udara malam yang semakin menusuk kulit kotor mereka.
Mereka terpaksa kembali ke kolong jembatan kumuh dengan tangan kosong tanpa mendapatkan satu pun makanan.
"Aku lapar sekali... perutku rasanya mau copot," rintih Kevin merebahkan diri di atas kardus basah.
"Sabar sebentar, Kevin, besok kita coba cari makanan di tempat pembuangan sampah pasar," bujuk Rina pelan.