Nadia seorang gadis yang diterima kerja sebagai admin di sebuah pabrik sawit di kabupaten Dharmasraya sumatera Barat terlibat cinta terlarang dengan asisten manager di pabrik sawit tersebut yang bernama Arif, mereka sama-sama tidak bisa memendam perasaan karena sering bertemu di tempat pekerjaan, padahal mereka sama-sama punya tunangan di kampung nya masing-masing siapa kah nanti yang akan di pilih Nadia apakah Arif Assisten Manager atau Tunangannya yang bernama Rizki seorang guru sejarah di kampung halamannya di padang panjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska Delvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Telepon Dari Rumah
Jam enam pagi, ponsel Nadia bergetar.
Bukan alarm. Telepon. Nama di layar: Mama.
Nadia yang baru selesai sholat subuh di mess putri, langsung angkat dengan senyum.
"Halo, Assalamualaikum Ma? tumben telepon pagi-pagi," kata Nadia ceria.
Tapi dari seberang tidak ada suara ceria. Hanya napas berat.
"Nadia," suara Mama di Padang pelan, tapi gemetar. "Foto apa yang Mama terima semalam itu?"
Jantung Nadia langsung jatuh.
"Foto... foto apa Ma?" Nadia pura-pura tidak tahu, padahal tangannya langsung dingin.
"Jangan pura-pura tidak tahu! Foto kamu jalan berduaan sama laki-laki pas hujan, pakai satu jas hujan! Siapa dia? Mana Rizki? Rizki itu tunangan kamu! Pelaminan Ivory Cream sudah Mama DP 5 juta! Undangan sudah Mama sebar ke 200 orang!" suara Mama mulai naik, hampir menangis.
Nadia duduk lemas di lantai mess. Rambut panjangnya yang baru selesai diikat kuda jadi berantakan lagi.
"Ma, itu... itu teman kerja Ma, bukan siapa-siapa. Kemarin hujan deras, kami kebetulan jalan bareng dari ruang genset. Gak ada apa-apa Ma, sumpah," kata Nadia, suaranya mulai bergetar.
"Teman kerja? Teman kerja pakai satu jas hujan? Peluk-pelukan? Kamu pikir Mama bodoh? Tadi malam keluarga Rizki telepon Mama, mereka juga dapat foto yang sama! Mereka bilang pertunangan dibatalkan! Rizki malu, Nadia! Keluarga Rizki malu!" teriak Mama di telepon.
Nadia menangis. Air matanya jatuh deras.
"Ma, jangan batalin Ma, tolong jangan batal. Nadia jelasin nanti Ma, Nadia pulang minggu depan ya Ma, jelasin semuanya," mohon Nadia.
Tapi Mama sudah tutup telepon. Tut... tut... tut...
Nadia pegang ponselnya, nangis sesenggukan di lantai mess putri yang dingin. Mbak Sari yang baru bangun lihat Nadia nangis, langsung peluk.
"Bu Nadia, ada apa? Kenapa?" tanya Mbak Sari panik.
Nadia tidak bisa jawab, hanya tunjukkan layar ponselnya. Foto jas hujan itu sudah dikirim balik oleh Mama, dengan caption: "Kamu bikin malu keluarga!"
Jam tujuh pagi, di ruang administrasi.
Nadia datang dengan mata bengkak, wajah pucat. Ia tidak pakai bedak sama sekali.
Arif sudah ada di ruangannya, lihat Nadia datang dengan kondisi seperti itu, langsung tahu ada sesuatu yang besar terjadi.
Arif berdiri, jalan ke meja Nadia.
"Nadia, kamu kenapa? Mata kamu bengkak?" tanya Arif pelan, suaranya khawatir.
Nadia menatap Arif, air matanya jatuh lagi.
"Pak Arif, Mama saya dapat foto kita... foto jas hujan dua hari lalu... Sekarang keluarga Rizki bilang mau batalkan lamaran... Mama saya malu, Pak..." bisik Nadia, hampir tidak terdengar.
Arif kaget. Wajahnya langsung pucat.
"Siapa yang sebar foto itu? Foto itu kan sudah dihapus satpam?" tanya Arif, tangannya mengepal.
Nadia menggeleng. "Gak tahu Pak, gak tahu..."
Pada saat itu, dari pintu masuk, Karin masuk dengan senyum paling manis, bawa dua kotak nasi goreng.
"Selamat pagi semua! Pagi Pak Arif, pagi Bu Nadia, pagi Mbak Sari, Bu Lastri! Saya bawakan sarapan nasi goreng spesial dari mess tamu!" kata Karin ceria, seperti tidak ada apa-apa.
Ia taruh satu kotak di meja Arif, satu kotak di meja Nadia.
"Nadia, kamu kenapa? Kok mata bengkak? Sakit? Sini saya cek, saya kan dokter," kata Karin pura-pura peduli, mau pegang dahi Nadia.
Nadia mundur.
"Gak usah, Dok. Saya gak sakit," jawab Nadia dingin.
Karin senyum, lalu bisik pelan hanya ke Nadia, tidak terdengar Mbak Sari: "Foto jas hujannya bagus ya, Nad? Romantis sekali di hujan."
Nadia menatap Karin, matanya membelalak. Ia langsung paham siapa yang sebar foto itu.
"Kamu..." bisik Nadia, tangannya gemetar mau tampar Karin.
Tapi Arif cepat tahan tangan Nadia dari belakang.
"Nadia, jangan! Jangan di sini!" bisik Arif.
Karin malah tertawa kecil, lalu jalan keluar dari ruang administrasi dengan langkah ringan, seperti habis menang perang.
Jam sembilan pagi, ponsel Nadia bergetar lagi. Kali ini dari Rizki.
Nadia angkat dengan tangan gemetar.
"Halo, Ki?" kata Nadia pelan.
Suara Rizki di seberang dingin, tidak seperti biasanya yang lembut.
"Nadia, kita selesai ya. Lamaran kita batal. Pelaminan Ivory Cream tolong batalkan saja. Keluarga saya sudah malu lihat foto kamu sama laki-laki lain di pabrik itu. Saya guru, Nadia. Saya malu dilihat murid-murid saya. Maaf," kata Rizki, langsung tutup telepon tanpa kasih Nadia kesempatan bicara.
Nadia menjatuhkan ponselnya ke lantai. Layarnya retak sedikit.
Di ruangannya, Arif dengar suara ponsel jatuh, ia lihat Nadia duduk lemas di kursi, tatapannya kosong.
Arif ingin sekali peluk Nadia saat itu, ingin bilang "Gak apa-apa, ada saya di sini." Tapi ia tidak bisa. Ada Mbak Sari dan Bu Lastri yang lihat.
Sore jam lima, Nadia tidak pulang ke mess putri. Ia duduk sendirian di mushola kecil pabrik yang di belakang gudang pupuk. Mushola itu sepi, hanya ada sajadah tipis dan mukena yang sudah lusuh.
Nadia sholat Ashar lama sekali, nangis di atas sajadah.
Di luar mushola, Arif berdiri jauh, tidak masuk, hanya jaga dari jauh biar tidak ada yang ganggu Nadia.
Setelah selesai sholat, Nadia keluar, lihat Arif berdiri di bawah pohon sawit.
Mereka berdua saling menatap dari jauh.
Tidak ada kata-kata.
Tapi dari tatapan itu, mereka berdua tahu: kebocoran foto jas hujan itu baru permulaan. Besok, foto mereka keluar dari gudang arsip juga akan menyebar ke grup WA pabrik. Dan itu akan lebih besar lagi.
Dan Mama Nadia di Padang Panjang menurut kabar dari tetangga yang telepon Mbak Sari barusan, jatuh sakit karena malu, tidak mau keluar rumah.
Semua gara-gara satu foto jas hujan yang disebar Karin.
Bersambung
---