NovelToon NovelToon
Puteri Rahasia Sang Ratu

Puteri Rahasia Sang Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Suesant SW

Seorang ratu yang kehilangan mahkota karena fitnah dan seorang putri yang tumbuh dalam pengasingan tanpa mengetahui bahwa darahnya menyimpan kunci takhta.

Enam belas tahun kemudian, seorang dayang baru memasuki istana dengan wajah polos, tangan terampil, dan rahasia yang dapat mengguncang dua kerajaan. Ia datang bukan untuk mencari cinta.
Ia datang untuk membersihkan kembali nama ibunya, membongkar dosa masa lalu, dan mengambil kembali takhta yang dirampas.

Namun, takdir mempertemukannya dengan dua pangeran: seorang pewaris takhta yang kejam tetapi kesepian, dan seorang pangeran dari kerajaan musuh yang membuatnya merasakan cinta untuk pertama kalinya.
Ketika pernikahannya dengan putra mahkota diumumkan, sang kekasih menculiknya tepat pada malam pertama. Satu tindakan nekat itu memicu perang yang mengancam menghancurkan kedua kerajaan di tengah pertumpahan darah, rahasia kelahirannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suesant SW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29. Hukuman Kuil Qingyun

Paviliun Fengyi masih diselimuti keheningan ketika kepala kasim datang membawa gulungan titah.

Di halaman, dua baris pengawal berdiri dengan tombak tegak. Para pelayan yang biasanya sibuk membersihkan taman dan mengganti air di dalam vas telah diperintahkan menjauh. Pintu-pintu samping ditutup, sedangkan gerbang utama dijaga ketat.

Wang Laoyin sedang duduk di dekat meja kecil ketika suara langkah terdengar dari luar.

Ia mengenakan jubah sederhana berwarna putih gading. Rambutnya terurai, hanya diikat dengan pita kain berwarna pucat. Tidak ada gelang giok di pergelangan tangannya, tidak ada kalung mutiara di lehernya, dan tidak ada perhiasan emas yang menghiasi rambutnya.

Sejak mahkotanya dicabut, ia sengaja menolak mengenakan benda-benda yang mengingatkannya pada kedudukan lama.

Namun, ia masih belum melepaskan kebiasaannya duduk dengan punggung tegak dan kepala terangkat.

Kepala kasim memasuki ruangan, kemudian berlutut.

“Wang Laoyin, hamba datang untuk membacakan titah Raja.”

Wang Laoyin mengangkat wajah.

“Bacakan.”

Kasim itu membuka gulungan kertas dengan kedua tangan.

“Atas nama Raja Han Quan, penguasa Kerajaan Weiyang, dengan ini diperintahkan bahwa Wang Laoyin harus meninggalkan Istana Weishan dan menjalani kehidupan sebagai biksuni di Kuil Qingyun, yang terletak di lembah pegunungan wilayah barat laut.”

Wang Laoyin tidak bergerak.

Kepala kasim melanjutkan dengan suara yang semakin pelan.

“Mulai hari ini, seluruh hak Wang Laoyin sebagai anggota kediaman dalam kerajaan dicabut. Ia tidak diperkenankan kembali ke istana, menghubungi para pejabat, atau mengirim surat tanpa izin Raja. Perjalanan menuju Kuil Qingyun akan dilaksanakan di bawah pengawasan pengawal kerajaan.”

Gulungan itu ditutup.

“Titah selesai dibacakan.”

Ruangan kembali sunyi.

Wang Laoyin menatap kasim yang berlutut di hadapannya. Lelaki itu tidak berani mengangkat wajah, seolah-olah takut menemukan kemarahan yang dapat membakarnya hidup-hidup.

Namun, Wang Laoyin tidak berteriak.

Ia tidak bertanya mengapa Raja begitu terburu-buru mengusirnya. Ia bahkan tidak tampak terkejut.

Setelah beberapa saat, ia hanya bertanya, “Kapan aku harus berangkat?” pertanyaan itu sungguh tak di sangka-sangka, sama sekali tanpa rasa takut dan penyesalan apalagi ketakutan.

“Kereta akan disiapkan dalam satu jam, Nyonya Wang.” Jawab sang Kasim.

“Satu jam?” Terlalu sangat cepat memang tetapi Wang Laoyin sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan.

“Benar.” Kasim itu membungkuk tanpa berani melihat wajah mantan ratu mereka itu.

Wang Laoyin mengangguk perlahan.

“Jadi, aku bahkan tidak diberi waktu untuk mengucapkan selamat tinggal pada raja?

Kasim itu menelan ludah. Tak menjawab. Wang Laoyin terkekeh saat seakan menertawakan nasib dirinya yang begitu malang bahkan dia sangat tahu keluarganya, keluarga bangsawan Wang yang terhormat sudah ditekan oleh keluarga kerajaan dan klan bangsawan yang berseberangan untuk meredam terjadinya protes dari keluarga. Penyitaan dan pembatasan di buat atas kekuasaan keluarga itu, demi mencegah terjadinya pemberontakan oleh keluarga Wang. Dan Wang Laoyin mendengar kabar ada beberapa dari kerabatnya bahkan di tahan jadi tahanan istana dan di eksekusi dengan alasan yang tak jelas.

Wang Laoyin menenangkan keluarganya, mencegah pembantaian yang dia tahu akan terjadi jika keluarganya sampai memprotes kebijakan istana atas pemakjulannya dengan menerima setiap hukuman dari raja tanpa banyak bicara.

“Perintah Raja mengharuskan perjalanan dilakukan segera.” Suara sang Kasim memecah sunyi.

Wang Laoyin memandang ke arah jendela, nanar hampir tak berkedip.

Di luar, pohon-pohon prem masih berdiri di tempatnya. Cabang-cabangnya bergerak diterpa angin, sementara kelopak putih berjatuhan ke atas batu taman. Ia telah melewati banyak musim di paviliun itu. Ia mengenal suara air yang mengalir di kolam, bunyi lonceng kecil di ujung atap, dan aroma bunga yang muncul setiap kali udara mulai menghangat.

Ia mengenal setiap sudut ruangan tempat ia pernah tertawa, menangis, dan merencanakan masa depan.

Kini, ia harus meninggalkan semuanya dalam waktu satu jam. Bukan sebagai Permaisuri yang berangkat mengunjungi kuil untuk berdoa, melainkan sebagai perempuan yang diusir dari rumahnya sendiri.

Ia mengenal setiap sudut ruangan tempat ia pernah tertawa, menangis, dan merencanakan masa depan, kini ia harus meninggalkan semuanya dalam waktu satu jam. Bukan sebagai Permaisuri yang berangkat mengunjungi kuil untuk berdoa. Melainkan sebagai perempuan yang diusir dari rumahnya sendiri.

“Baik,” katanya akhirnya. “Aku akan bersiap.”

Kepala kasim membungkuk dan segera meninggalkan ruangan.

Ketika pintu tertutup, Wang Laoyin tetap duduk beberapa saat.

Ia memandang tempat di mana mahkota phoenix dahulu diletakkan, lalu menatap ranjang yang pernah menjadi saksi malam berdarah itu. Ingatan tentang Shen Rui kembali muncul, diikuti suara Raja Han Quan yang memintanya mengaku demi menjaga kehormatan kerajaan.

Ia memejamkan mata.

Jadi, inilah akhir dari semua yang pernah kumiliki.

Namun, sebuah suara kecil di dalam dirinya segera menolak pemikiran itu.

Tidak!

Ini bukan akhir.

Ini hanyalah jalan lain yang dipaksakan kepadanya, dan jika jalan itu harus dilalui, ia akan melewatinya dengan kedua kakinya sendiri.

Wang Laoyin berdiri.

Ia mengambil sebuah jubah luar berwarna kelabu, lalu melipatnya dengan rapi. Setelah itu, ia membuka lemari kecil dan memilih dua helai pakaian sederhana tanpa terlalu banyak corak, sepasang sepatu kain dengan motif bunga lili kecil, yang di rajut oleh seorang dayang tua yang dulu pernah menjadi pengasuhnya ketika dipersiapkan menjadi putri mahkota sebagai pasangan putra mahkota sebelum Han Quan di nobatkan jadi raja, serta sebuah kain pembungkus yang dapat digunakan untuk membawa barang-barang pribadinya.

Hanya itu yang akan dibawanya, tanpa ada perhiasan atau kebesarannya sebagai istri raja. Dia bahkan tak tahu apakah dia masih adalah istri raja sekarang atau dibuang tanpa status yang tak jelas.

Ia tidak mengambil satu pun benda yang dapat membuat orang lain mengingatnya sebagai Permaisuri.

Dia benar-benar akan meninggalkan istana itu tanpa membawa sedikitpun harta berharga.

Namun, sebelum meninggalkan kamar, ia berhenti di depan meja kecil dan mengambil sebuah benda yang hampir terlupakan di sudutnya.

Sebuah sisir kayu sederhana.

Sisir itu telah menemaninya selama bertahun-tahun, sejak masa ketika ia masih tinggal di kediaman keluarganya sebelum menikah dengan Raja Han Quan. Tidak ada batu permata atau ukiran mewah pada benda tersebut. Hanya kayu tua yang telah menghalus karena sering disentuh.

Ia menggenggam sisir itu erat-erat. Airmatanya tiba-tiba jatuh begitu saja, tak bisa di tahannya.

Benda itu tidak memiliki nilai bagi kerajaan.

Tetapi bagi Wang Laoyin, sisir tersebut menyimpan kenangan tentang perempuan yang pernah menjadi dirinya sebelum gelar, kekuasaan, dan pengkhianatan mengubah takdirnya.

Ia memasukkannya ke dalam kain pembungkus. Kemudian ia menoleh sekali lagi ke seluruh ruangan.

“Selamat tinggal, Paviliun Fengyi.”

Suaranya begitu pelan hingga nyaris tidak terdengar.

“Semoga suatu hari nanti, kebenaran dapat kembali memasuki pintumu.”

( Bersambung yaaaah....tetap dukung novel ini readers kesayangan semua🥰)

1
Eka Burjo
oke lanjut
Eka Burjo
oke lanjut 👍
Suesant SW: siap lanjutttt
total 1 replies
Eka Burjo
lanjut
Eka Burjo
akhirnya selesai juga maratonku🤭
Suesant SW: mkasih bnyak dah marathon😄😄😄
total 1 replies
Eka Burjo
oke lanjut 👍
Rara
apa aku kedua thor
Aisyah Suyuti
good
ˡᵃⁿᵃ✰͜͡𝐯𐝃
semangat terus dengan karya² barunya Thor 💪💪💪💪💪
Sri Rahmawati
ibu yg bijak 😍😍
Sri Rahmawati
pertama ☝️☝️☝️
Deandra
lanjut thorrr
Eka Burjo
huhuhu aku ikutan 😭
Sri Rahmawati
/Angry/
Rara
😔😔😔😔😔
🌼EmeLBy🌼
lanjut
🌼EmeLBy🌼: Masih OL thor hihihihii
sama
total 2 replies
Sri Rahmawati
peluk dariku Yang Mulia 🤗🤗🤗
Sri Rahmawati
ku menangis 😭😭😭
Sri Rahmawati
aku maraton bacanya baru tau hari ini dan udh hbs satu pak tisu 😭😭😭
Sri Rahmawati
hadir Thor 🥰🥰
Suesant SW: makasih Kak Sri🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Rara
sediiih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!