Latifah, seorang guru di pondok pesantren, menjalani kehidupan sederhana dengan mengabdikan dirinya untuk mendidik para santri.
Setahun lalu, seorang anak perempuan berusia lima tahun bernama Kahiyang Ayudia datang dan menetap di pesantren tersebut. Kahiyang adalah putri seorang Mayor TNI bernama Abimanyu Wicaksono yang sedang bertugas di Lebanon.
Atas perintah sang ayah, Kahiyang dititipkan kepada Neneknya agar tumbuh menjadi anak yang mandiri dan berakhlak mulia.
Seiring berjalannya waktu, Latifah semakin menyayangi Kahiyang dan menganggapnya seperti anak sendiri. Namun, kebahagiaan itu terusik ketika kedua orang tuanya berniat menjodohkannya dengan seorang duda beranak satu. Latifah tentu saja menolak karena belum siap menjadi seorang istri sekaligus ibu sambung.
Tanpa sepengetahuannya, pria yang dijodohkan dengannya ternyata adalah Abimanyu, ayah dari Kahiyang, anak yang begitu disayanginya.
Akankah Latifah menerima takdir tersebut dan membuka hatinya untuk sang Mayor?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan yang dinantikan
Siang itu, suasana Pondok Pesantren Darussalam tampak tenang.
Setelah menyelesaikan kegiatan belajar, para santri melaksanakan salat Zuhur berjamaah di masjid pesantren. Latifah juga turut berjamaah bersama mereka, sebelum akhirnya mengajak beberapa santri kembali ke area taman.
Di sampingnya, Kaning berjalan sambil menggenggam tangan Latifah.
Bocah itu tampak sedikit lebih ceria dibandingkan hari-hari sebelumnya. Meskipun kerinduannya kepada sang ayah belum sepenuhnya terobati, perhatian dan kasih sayang Latifah berhasil membuatnya kembali bersemangat.
"Bu Ifah, nanti sore Kaning boleh bermain di taman lagi, enggak?" tanyanya polos.
Latifah tersenyum.
"Boleh, Sayang. Tapi, Kaning harus menyelesaikan tugas mengajinya dulu."
"Kalau Kaning selesai lebih cepat, boleh?"
"Tentu saja."
Kaning tersenyum lebar.
"Yeay! Nanti Kaning mau mengumpulkan bunga untuk Nenek!"
"Wah, memangnya Kaning mau memberikan bunga kepada Nenek?"
"Iya! Kaning sayang Nenek."
Latifah tertawa lembut.
"Kalau begitu, nanti kita pilih bunga yang cantik, ya."
Mereka terus berjalan menyusuri taman yang terletak tidak jauh dari gerbang utama pesantren.
Namun, langkah keduanya mendadak melambat ketika sebuah mobil berwarna hitam memasuki halaman.
Latifah menoleh sekilas.
"Sepertinya ada tamu yang datang, Nak."
Kaning ikut menatap mobil tersebut dengan rasa penasaran.
"Iya, Bu. Mobilnya besar!"
Mobil itu berhenti tidak jauh dari gerbang. Mesin perlahan dimatikan, kemudian pintu penumpang depan terbuka.
Seorang wanita paruh baya berjilbab turun terlebih dahulu.
Latifah mengenali wanita itu.
"Bu Almira?" gumamnya.
Ia terkejut sekaligus senang melihat kedatangan neneknya Kaning yang sudah beberapa waktu tidak berkunjung.
"Masyaallah, Nenek datang!" seru Kaning dengan wajah berbinar.
Namun, sebelum bocah itu sempat melangkah mendekat, pintu pengemudi terbuka. Seorang pria bertubuh tegap keluar dari mobil.
Ia mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku. Rambutnya rapi, wajahnya tegas, dan sorot matanya terlihat begitu dalam ketika memandang ke arah halaman pesantren.
Latifah yang semula hendak menyapa Bu Almira mendadak menghentikan langkahnya. Ia tidak mengenal pria itu. Namun, bagi Kaning, sosok tersebut bukanlah orang asing.
Bocah kecil itu membeku di tempatnya. Kedua matanya membesar, seolah tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya. Bibir mungilnya terbuka sedikit.
"Pa... pah?"
Pria itu menoleh.
Begitu pandangannya jatuh pada seorang bocah perempuan yang berdiri di dekat taman, wajah tegasnya seketika berubah lembut.
Bima tersenyum. Senyum yang selama ini hanya bisa ia kirimkan melalui layar ponsel, kini benar-benar hadir di hadapan putrinya.
"Kaning..."
Suara itu membuat mata bocah kecil tersebut seketika berkaca-kaca.
"Papah!"
Teriakan Kaning menggema di halaman pesantren.
Tanpa memperdulikan apa pun di sekitarnya, ia melepaskan tangan Latifah dan berlari sekencang-kencangnya ke arah pria yang selama ini dirindukannya.
"Papah! Papah pulang!"
Bima segera merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
"Iya, Sayang! Papah pulang!"
Sesaat kemudian, tubuh kecil Kaning menabrak pelukannya.
Bima langsung mengangkat putrinya, mendekapnya erat-erat seolah tidak ingin melepaskannya lagi.
"Ya Allah, Kaning..." bisiknya dengan suara bergetar. "Putri Papah sudah besar sekali!"
Kaning menangis di dada ayahnya, kedua tangannya melingkar erat di leher Bima.
"Papah! Kaning kangen! Kaning kangen banget sama Papah!"
Bima memejamkan mata, membiarkan air matanya mengalir tanpa berusaha menyembunyikannya.
"Papah juga kangen sama Kaning, Sayang. Kangen sekali."
"Kenapa Papah lama banget pulangnya?" rengek Kaning di sela tangisnya. "Kaning selalu nunggu Papah! Kaning setiap malam berdoa supaya Papah cepat pulang!"
Bima mengecup pipi putrinya berkali-kali.
"Maafkan Papah, Nak. Maafkan Papah karena sudah membuat Kaning menunggu begitu lama."
"Papah enggak pergi lagi, kan?"
Pertanyaan itu membuat hati Bima terasa diremas.
Ia menjauhkan tubuh Kaning sedikit agar bisa menatap wajah mungilnya.
"Papah sudah selesai bertugas di Lebanon, Sayang. Sekarang Papah sudah pulang ke Indonesia."
"Jadi, Papah akan tinggal sama Kaning?"
Bima tersenyum haru.
"Iya. Papah akan berusaha selalu ada untuk Kaning. Papah ingin menemani Kaning belajar, bermain, dan mendengarkan semua cerita Kaning."
Kaning kembali memeluknya erat.
"Kaning sayang Papah!"
"Papah juga sayang Kaning. Lebih dari apa pun."
Bima kemudian menggendong putrinya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mengusap kepalanya yang lembut.
Ia tidak peduli jika kemejanya menjadi basah karena air mata Kaning. Ia juga tidak memperdulikan pandangan beberapa santri yang menyaksikan pertemuan mengharukan itu.
Baginya, saat ini hanya ada satu hal yang terpenting.
Putrinya sudah berada dalam pelukannya. Tidak jauh dari mereka, Latifah berdiri mematung.
Ia menyaksikan pertemuan ayah dan anak itu dengan mata berkaca-kaca. Ada kebahagiaan yang sulit dijelaskan ketika melihat seorang anak yang selama ini merindukan ayahnya akhirnya bisa mendapatkan pelukan yang begitu didambakannya.
Tanpa sadar, Latifah mengusap sudut matanya.
"Alhamdulillah..." bisiknya. "Akhirnya, Kaning bisa bertemu dengan papahnya."
Bu Almira yang berdiri tidak jauh dari sana ikut menangis haru. Ia melangkah mendekati Latifah, lalu berdiri di samping wanita muda tersebut.
"Maafkan saya, Nak Latifah. Kaning pasti sering merepotkanmu selama ini."
Latifah segera menggeleng.
"Jangan berkata begitu, Bu. Kaning anak yang baik. Saya justru senang bisa menemaninya selama ini."
Bu Almira tersenyum penuh rasa syukur.
"Terima kasih karena sudah menyayangi cucu saya seperti anak sendiri."
Latifah menundukkan kepala dengan sopan.
"Saya juga sudah menganggap Kaning seperti keluarga saya sendiri, Bu."
Mendengar jawaban itu, senyum Bu Almira semakin mengembang. Dalam hati, ia kembali meyakini bahwa Latifah adalah wanita yang tepat untuk putranya.
Sementara itu, Bima masih sibuk memeluk Kaning.
Setelah tangisnya mulai mereda, bocah itu tiba-tiba teringat sesuatu. Ia menoleh ke arah Latifah, kemudian menunjuk wanita muda yang berdiri bersama neneknya.
"Papah!"
"Iya, Sayang?"
"Itu Bu Ifah!"
Bima mengikuti arah telunjuk putrinya.
Untuk pertama kalinya, pandangan mereka bertemu.
Latifah sedikit gugup, tetapi ia segera menguasai dirinya dan tersenyum sopan.
Bima menatapnya sejenak, lalu membalas senyum tersebut.
"Jadi, ini Bu Latifah yang selama ini menjaga Kaning?"
Kaning mengangguk penuh semangat.
"Iya, Papah! Ini Bu Ifah! Bu Ifah baik sekali. Bu Ifah selalu menemani Kaning mengaji, bermain, dan memeluk Kaning kalau Kaning sedih."
Bima kembali menatap Latifah. Kali ini, sorot matanya dipenuhi rasa terima kasih yang tulus.
"Terima kasih, Bu Latifah," ucapnya. "Terima kasih sudah menjaga dan mendidik putri saya selama saya bertugas di luar negeri."
Latifah tersenyum lembut.
"Sama-sama, Pak. Kaning anak yang baik dan pintar. Saya senang bisa menemaninya belajar."
Bima mengangguk.
"Meski begitu, saya tahu tidak mudah menggantikan kehadiran orang tuanya. Saya sangat berterima kasih karena Ibu sudah membuat Kaning merasa nyaman di sini."
Latifah terdiam sesaat, tersentuh oleh ketulusan pria tersebut.
"Insyaallah, Pak. Saya hanya berusaha melakukan yang terbaik untuk Kaning."
Kaning yang masih berada dalam gendongan ayahnya tiba-tiba mengangkat kedua tangan kecilnya.
"Papah, Kaning mau cerita banyak!"
Bima tertawa.
"Wah, cerita apa saja, Sayang?"
"Banyak! Kaning mau cerita tentang teman-teman Kaning, tentang pelajaran mengaji, tentang bunga di taman, terus tentang Bu Ifah juga!"
Bima mengusap hidung putrinya dengan gemas.
"Baiklah. Nanti Papah dengarkan semuanya."
"Janji?"
"Janji."
Kaning tersenyum lebar, lalu menyandarkan kepala di bahu ayahnya.
Latifah kembali tersenyum melihat pemandangan itu. Entah mengapa, ada kehangatan yang menjalar di dalam dadanya ketika melihat Kaning akhirnya bisa tertawa sebahagia itu.
Ia tidak mengetahui bahwa pria yang baru saja berterima kasih kepadanya adalah sosok yang namanya telah disebut kedua orang tuanya dalam sebuah perjodohan.
Ia juga tidak mengetahui bahwa Bu Almira, yang kini berdiri di sampingnya, tengah menyimpan rahasia besar mengenai hubungan mereka.
Sementara itu, Bu Almira memandang putranya yang sedang menggendong Kaning, kemudian melirik Latifah.
Senyum kecil terbit di bibirnya.
"Ya Allah, semoga Engkau memudahkan jalan mereka. Semoga kali ini Bima bersedia membuka hatinya dan menerima takdir yang telah kami siapkan."
Namun, Bu Almira tahu bahwa perjalanan itu tidak akan sesederhana yang ia harapkan. apalagi Bima pernah menolak perjodohan dengan Latifah.
Dan Latifah sendiri tanpa ada seorangpun yang tahu bahwa ia masih menyimpan perasaan kepada pria lain.
Keduanya belum mengetahui bahwa nama mereka telah dihubungkan oleh sebuah janji lama.
Sore itu, pertemuan yang dinantikan seorang anak kecil akhirnya terjadi. Seorang ayah kembali ke pelukan putrinya, sementara seorang wanita yang begitu menyayangi anak itu berdiri sebagai saksi kebahagiaan mereka.
Tanpa mereka sadari, pertemuan sederhana di halaman pesantren tersebut adalah awal dari kisah yang jauh lebih besar.
Sebab, terkadang Allah mempertemukan dua orang bukan hanya melalui cinta, melainkan melalui seseorang yang terlebih dahulu berhasil menyentuh hati mereka.
Bersambung...
atau baru bab 33
bentar lagi pasti ud nemplok aja pak mayor😂😂😂,duuuh semoga dech author buat kayak gt,biar asyik laaaa,eh maaf Thor,sok melangkahi pula aq🤭🤭🤭,lanjut ya Thor....