Arabella (18th), gadis SMA yang haus kasih sayang akibat diabaikan keluarga, dia mencari kasih sayang itu dari luar. tanpa dia berpikir panjang bahwa dia di manfaatkan oleh dunia luar yang ia percaya sebagai rumah.
Merasa putra pertamanya, Nathan tak dekat dan mengabaikan bella. orang tua Nathan mengirim sang adik untuk membatu mengurus Bella.
Karena sikap liar Bella dengan kekasihnya itu membuat christian menyimpan rasa pada Bella. hingga perasaan itu berubah menjadi obsesi terlarang.
.
.
Happy reading ✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20.
Plak!
Suara tamparan itu menggema begitu nyaring di ruang tamu yang luas, memecah keheningan malam dan membuat seisi ruangan membeku seketika. Nathan terpelanting kecil ke samping, pipinya langsung memerah panas dengan bekas kelima jari yang tercetak jelas di sana.
Nathan mendesis kesakitan, memegang pipinya dengan mata membelalak lebar penuh ketidakpercayaan. "Hei! Apa-apaan kamu—!" bentaknya, amarahnya langsung tersulut seketika.
Namun, sebelum Nathan sempat melayangkan protes lebih jauh atau membalas, Clarisa sudah lebih dulu maju selangkah dengan dagu terangkat tinggi, menatap pemuda itu dengan kilatan kebencian yang menyala-nyala di matanya.
"Kamu tanya apa-apaan?!" seru Clarisa dengan suara bergetar penuh amarah. "Seharusnya aku yang tanya, seberapa tidak punya malunya kamu, Nathan Allegra! Sore tadi kamu dengan kasarnya ngusir aku dari rumahmu, memfitnah aku, dan sekarang kamu berani datang ke rumahku dengan gaya arogan seperti ini?!"
Mendengar nama keluarga dan bentakan gadis itu, Nathan tertegun. Ia menyipitkan matanya tajam, memperhatikan wajah Clarisa lekat-lekat di bawah temaram lampu gantung mewah. Otaknya yang sempat dipenuhi kepanikan mendadak berputar keras, menghubungkan titik-titik yang ada.
Clarisa... nama belakangnya Bimantara? batin Nathan tersadar.
Bukan hanya Nathan, Christian yang berdiri di sampingnya pun ikut menegang. Sorot mata cokelat gelap pria itu membelalak tipis. Baru pada detik itulah Christian menyadari sebuah fakta mengejutkan: gadis remaja yang selama ini menjadi sahabat karib Arabella—gadis yang baru saja ditampar oleh keponakannya—ternyata adalah Clarisa Bimantara, putri tunggal dari Tuan Bimantara, pengusaha properti raksasa yang juga merupakan salah satu rekan bisnis terpenting di perusahaan milik Alan Allegra, sekaligus mitra kerja utama Nathan dalam beberapa proyek besar belakangan ini.
Bima, sang kepala keluarga, langsung melangkah maju dengan langkah berat dan wajah yang mengeras bagai es. Ia berdiri tepat di antara Clarisa dan kedua tamu tak diundang itu, melindungi putrinya dengan tubuh tegapnya.
"Cukup, Clarisa," suara Bima terdengar rendah namun penuh wibawa, menghentikan amukan putrinya. Ia kemudian menoleh tajam ke arah Nathan dan Christian. "Kalian dengar sendiri? Putri saya, Clarisa, adalah sahabat Arabella. Dan di rumah inilah Arabella mendapatkan perlindungan yang tidak pernah kalian berikan padanya!"
Nathan merapikan kerah kemejanya dengan napas memburu, rasa malunya kini bercampur dengan keterkejutan luar biasa. Ia menatap Bima dengan ragu. "O-Om Bima... jadi... Clarisa ini..."
"Ya, Clarisa Bimantara adalah anak saya," potong Bima tandas, tatapannya menyalang penuh amarah kepada Nathan. "Dan sebagai rekan bisnis ayahmu, serta mitra dari perusahaanmu, Nathan... saya merasa jijik melihat bagaimana cara kalian memperlakukan Arabella. Anak itu datang ke rumah saya dalam keadaan basah, kedinginan, hancur lebur, dan ketakutan setengah mati karena perlakuan keji kalian!"
Christian mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh. Wajah tampannya yang dingin mengeras sempurna, meski nadanya tetap dijaga demi menghormati sang tuan rumah. "Tuan Bima, saya mengerti kemarahan Anda. Apa yang terjadi di mansion memang di luar kendali, tapi Arabella adalah tanggung jawab keluarga kami—"
"Tanggung jawab?!" potong Bima dengan suara meninggi, memotong ucapan Christian tanpa ragu. "Kalian membuangnya saat dia melakukan kesalahan, membuat mentalnya hancur, bahkan nyaris membuatnya mati di jalanan karena kalian mengusirnya dengan pakaian tidak layak! Dan sekarang kalian berani datang menagih tanggung jawab?"
Christian terdiam. Untuk pertama kalinya, pria berwibawa itu tidak bisa membantah. Fakta bahwa Bella pergi dari rumah hanya berbalut tanktop di tengah malam membuktikan betapa gagalnya keluarga Allegra menjaga gadis itu.
*
"Om..." suara serak terdengar dari arah tangga atas.
Semua pasang mata langsung menoleh ke sumber suara. Bella berdiri di sana dengan mengenakan sweater kebesaran milik Clarisa yang menenggelamkan tubuh mungilnya. Wajahnya sangat pucat, matanya bengkak, dan kedua tangannya gemetar hebat memegang pegangan tangga.
"Bella..." panggil Nathan lirih, insting kakaknya seketika mendesak untuk mendekat.
Namun, begitu melihat sosok Nathan dan Christian di bawah, Bella menggeleng pelan dengan isak tangis yang kembali pecah. Ia melangkah turun perlahan-lahan, menatap mereka semua dengan sejuta kepedihan di matanya.
"Tidak, Jangan mendekat..." bisik Bella parau, menghentikan langkah Nathan dan Christian yang hendak maju. Ia meremat ujung sweater yang dipakainya, lalu menatap Bima dan Dinda dengan penuh rasa terima kasih. "Om Bima... Tante Dinda... makasih banyak udah nolongin Bella... Makasih udah baik sama Bella..."
"Bella, kamu tenang ya di sini, Nak. Nggak ada yang bakal nyakitin kamu lagi," ucap Dinda dengan suara lembut, berniat menghampiri gadis itu.
Namun Bella kembali menggeleng lemah. Ia menatap lurus ke arah Nathan dan Christian, lalu beralih menatap Bima dengan mantap meski air matanya terus bercucuran.
"Tapi Bella nggak bisa tinggal di sini..." ucap Bella lirih namun tegas, memecah keheningan malam. "Bella akan pergi dari tempat ini... Bella nggak mau membebankan siapapun lagi... Cukup jadi benalu di keluarga Allegra, Bella nggak mau jadi beban di keluarga Om Bima juga..."
"Bella, apa kamu gila?!" seru Nathan panik, melangkah maju. "Mau ke mana kamu malam-malam begini?!"
"Bukan urusan Kakak lagi!" potong Bella tajam, suaranya bergetar hebat menahan luka. "Anggap saja aku nggak ada... Biarin aku pergi. Biar aku hidup sendiri tanpa merepotkan kalian semua!"
*
*
*
kesel banget liat keluarga allegra
tadi aja pada diem Bae pas Bella di maki"
pake acara marah segala pas Bella di culik orang