Di dunia otomotif, uang bisa membeli mobil mewah, kekuasaan bisa membeli bengkel terbaik, dan nama besar bisa membuat seseorang dihormati. Namun, tidak semua orang memahami bahwa di balik setiap mesin hebat, ada seseorang yang benar-benar mengerti cara kerjanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmat Agung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 — TANTANGAN PARA MEKANIK ELITE
Pagi berikutnya, Arga datang ke Agung Joyo Motor lebih awal daripada biasanya. Udara masih dingin, jalanan gang belum terlalu ramai, dan suara kendaraan sesekali terdengar dari jalan raya.
Ia membuka pintu bengkel, menyalakan lampu, lalu mulai merapikan peralatan yang berserakan di meja kerja.
Seperti biasa, tidak ada yang istimewa dari rutinitasnya.
Setidaknya, itulah yang terlihat dari luar.
Di dalam pikirannya, Arga masih teringat pada foto lama yang tersimpan di dalam kotak logam. Ia sudah berusaha melupakan masa lalunya selama lima tahun, tetapi kemunculan Ferrari merah kemarin membuatnya sadar bahwa kemampuan yang ia miliki tidak akan pernah benar-benar hilang.
Ia menggeleng kecil.
“Aku tidak boleh memikirkan itu lagi,” gumamnya.
Arga mengambil kunci pas dan mulai mengerjakan mobil pelanggan yang ditinggalkan sejak kemarin.
Sekitar pukul delapan, Pak Darto datang membawa dua bungkus nasi uduk.
“Ga, kamu sudah sarapan?”
“Belum, Pak.”
“Nih, makan dulu. Jangan sampai kamu pingsan di bawah mobil. Nanti siapa yang memperbaiki kendaraan pelanggan?”
Arga menerima bungkus nasi itu sambil tersenyum.
“Terima kasih, Pak.”
Darto duduk di kursi kayu dekat meja kasir. Ia memperhatikan Arga beberapa saat sebelum akhirnya berbicara.
“Ngomong-ngomong, kemarin aku masih memikirkan Ferrari itu.”
Arga tetap makan.
“Kenapa, Pak?”
“Bukan apa-apa. Aku hanya penasaran. Kamu tidak pernah belajar di bengkel resmi, tetapi cara kamu memeriksa mobil itu berbeda dari kebanyakan mekanik yang pernah bekerja denganku.”
Arga berhenti mengunyah sejenak.
“Saya hanya mengikuti gejalanya, Pak.”
“Jangan merendah terus. Aku tahu perbedaan antara mekanik yang sekadar bisa mengganti komponen dan mekanik yang benar-benar memahami mesin.”
Arga kembali makan tanpa menjawab.
Darto menghela napas.
“Sudahlah. Kalau kamu memang tidak ingin bercerita, aku tidak akan memaksamu.”
Percakapan itu berakhir ketika seorang pelanggan datang membawa sepeda motor untuk diperbaiki.
Arga segera berdiri dan kembali bekerja.
Namun, ketenangan bengkel tidak bertahan lama.
Pukul sepuluh pagi, ponsel Arga bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenalnya.
Pesan itu berisi sebuah poster digital.
Di bagian atas tertulis nama sebuah acara otomotif besar yang akan diselenggarakan pada akhir pekan di Jakarta International Convention Center.
Di bawahnya terdapat tulisan:
TANTANGAN MEKANIK NASIONAL.
Acara tersebut akan mempertemukan mekanik dari berbagai bengkel, teknisi perusahaan otomotif, dan perwakilan tim balap profesional. Para peserta akan menghadapi serangkaian tantangan diagnosis, perbaikan, dan pengujian kendaraan.
Di bagian bawah poster terdapat sebuah kalimat.
“Apakah mekanik biasa mampu mengalahkan para profesional?”
Arga mengernyit.
Ia membaca pesan berikutnya.
“Jangan lupa datang. Aku akan menunggumu di sana.”
Tidak ada nama pengirim.
Namun, Arga tidak membutuhkan waktu lama untuk menebak siapa yang mengirimkannya.
Rendy Mahardika.
Arga meletakkan ponselnya kembali di meja.
Ia tidak berniat datang.
Baginya, mengikuti perlombaan seperti itu hanya akan membuka pintu menuju kehidupan yang berusaha ia tinggalkan.
Sayangnya, Rendy tidak berpikir demikian.
Di sebuah garasi mewah di kawasan Jakarta Selatan, Rendy sedang berbincang dengan dua temannya sambil memperlihatkan poster yang sama.
“Dia pasti datang,” kata Rendy dengan percaya diri.
Temannya, Kevin, mengangkat alis.
“Kamu yakin? Kemarin saja dia tidak terlihat tertarik ketika kamu menantangnya.”
“Justru itu. Orang seperti dia biasanya menyimpan kesombongan di balik sikap tenangnya.”
Kevin tertawa.
“Kalau begitu, kamu mau melakukan apa?”
Rendy menyandarkan tubuhnya ke sofa.
“Aku ingin mempermalukannya di depan banyak orang. Bayangkan seorang mekanik dari bengkel kecil berdiri di hadapan para ahli terbaik. Begitu dia gagal, semua orang akan tahu tempatnya.”
Teman mereka yang lain, Dimas, terlihat kurang yakin.
“Bagaimana kalau dia benar-benar hebat?”
Rendy menatapnya tajam.
“Kamu bercanda? Dia hanya memperbaiki satu mobil. Itu belum membuktikan apa pun.”
“Memang belum,” jawab Dimas. “Tapi kamu sendiri bilang bengkel resmi tidak menemukan masalah Ferrari-mu.”
Rendy terdiam sesaat.
Ia masih mengingat bagaimana Arga menemukan gangguan tersebut tanpa mengganti komponen secara sembarangan.
Pengalaman itu membuatnya tidak nyaman.
Namun, alih-alih menerima kemampuan Arga, ia justru semakin ingin membuktikan bahwa pemuda itu tidak lebih baik darinya.
“Sudahlah,” katanya. “Aku sudah mendaftarkan namanya sebagai peserta undangan.”
Kevin langsung tertawa.
“Kamu mendaftarkannya tanpa izin?”
“Tenang saja. Pendaftaran awal tidak membutuhkan banyak hal. Panitia akan menghubunginya untuk konfirmasi.”
Dimas menggeleng.
“Kamu benar-benar tidak bisa membiarkan orang lain hidup tenang.”
Rendy hanya tersenyum.
Baginya, akhir pekan nanti akan menjadi pertunjukan yang tidak boleh dilewatkan.
Siang harinya, sebuah mobil van putih berhenti di depan Agung Joyo Motor.
Seorang pria mengenakan kemeja rapi turun sambil membawa map dan tablet. Ia melihat papan nama bengkel sebelum masuk ke halaman.
“Selamat siang. Apakah benar ini Agung Joyo Motor?”
Pak Darto yang sedang memeriksa sebuah mobil langsung menjawab.
“Benar. Ada keperluan apa, Pak?”
Pria itu memperkenalkan diri sebagai Fajar, salah satu petugas penyelenggara Tantangan Mekanik Nasional.
“Kami datang untuk menyerahkan undangan kepada Saudara Arga Pratama.”
Arga yang sedang bekerja di dekat meja perkakas menoleh.
“Saya Arga.”
Fajar menghampirinya dan menyerahkan sebuah map.
“Nama Anda telah didaftarkan sebagai peserta undangan. Kami hanya perlu memastikan apakah Anda bersedia mengikuti kompetisi tersebut.”
Arga membuka map itu.
Di dalamnya terdapat penjelasan mengenai aturan acara, jadwal pertandingan, dan daftar kategori yang akan diperlombakan.
Ada tiga tahap utama.
Pertama, diagnosis kerusakan kendaraan berdasarkan gejala dan data yang tersedia.
Kedua, penyelesaian masalah teknis dengan batas waktu tertentu.
Ketiga, pengujian hasil perbaikan berdasarkan prosedur keselamatan dan standar yang telah ditentukan panitia.
Arga membaca semuanya dengan teliti.
“Siapa yang mendaftarkan saya?” tanyanya.
Fajar memeriksa tabletnya.
“Nama pendaftar yang tercatat adalah Rendy Mahardika.”
Arga menghela napas pelan.
Ia sudah menduganya.
“Maaf, Pak. Saya tidak bisa menerima undangan ini.”
Fajar terlihat terkejut.
“Apakah ada masalah dengan jadwalnya?”
“Tidak. Saya hanya tidak berminat mengikuti kompetisi.”
Fajar tidak langsung pergi.
“Kalau boleh jujur, kami sudah melihat laporan mengenai pekerjaan Anda pada sebuah Ferrari merah kemarin. Pemilik kendaraan tersebut memberikan tanggapan positif mengenai hasil pemeriksaan dan perbaikannya.”
Arga mengangkat alis.
“Dia mengatakan begitu?”
“Dia tidak menjelaskan semuanya secara terperinci. Namun, nama Anda mulai menarik perhatian beberapa orang.”
Arga menutup map tersebut.
“Saya hanya memperbaiki mobil pelanggan, Pak. Tidak lebih.”
Fajar mengangguk, meskipun terlihat masih penasaran.
“Baiklah. Saya akan menyampaikan keputusan Anda kepada panitia. Namun, undangan ini masih berlaku sampai batas waktu konfirmasi besok sore.”
Setelah berpamitan, Fajar meninggalkan bengkel.
Darto yang sejak tadi mendengarkan percakapan itu segera menghampiri Arga.
“Kamu benar-benar tidak mau ikut?”
“Tidak, Pak.”
“Kenapa?”
Arga memasukkan kembali dokumen ke dalam map.
“Saya punya pekerjaan di sini.”
Darto memandangnya dengan serius.
“Pekerjaan memang selalu ada. Tetapi kesempatan seperti itu belum tentu datang dua kali.”
Arga terdiam.
Darto melanjutkan, “Aku tidak menyuruhmu mengejar ketenaran. Aku hanya ingin kamu mempertimbangkan apakah kamu benar-benar menolak karena tidak berminat atau karena takut menghadapi sesuatu yang pernah terjadi.”
Kalimat itu membuat Arga berhenti bergerak.
Ia menatap Darto.
“Bapak tahu sesuatu tentang masa lalu saya?”
Darto menggeleng.
“Tidak. Aku tidak tahu apa-apa. Tapi selama bekerja di sini, aku melihat bahwa kamu selalu menghindari pembicaraan tentang kompetisi dan dunia balap.”
Arga tidak menjawab.
“Kalau kamu memang ingin melupakan masa lalu, itu hakmu,” kata Darto. “Namun, jangan sampai masa lalu mengambil semua kesempatanmu untuk menentukan masa depan.”
Arga menundukkan kepala.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, perkataan seseorang membuatnya benar-benar berpikir.
Ia mengambil map undangan itu dan menyimpannya di dalam laci.
“Akan saya pikirkan, Pak.”
Darto tersenyum tipis.
“Bagus. Sekarang bantu aku memeriksa mobil pelanggan. Jangan sampai kita malah lupa bekerja karena membicarakan masa depan.”
Arga tertawa kecil.
“Siap, Pak.”
Mereka kembali bekerja seperti biasa.
Namun, pikiran Arga tidak sepenuhnya berada di bengkel.
Malam harinya, Arga pulang ke kamar kontrakannya yang sederhana.
Ruangan itu hanya memiliki satu tempat tidur, lemari kecil, meja kerja, dan beberapa buku teknik otomotif yang sudah lama ia kumpulkan. Di sudut ruangan terdapat sebuah kotak logam yang selalu ia bawa ke mana pun ia pindah.
Arga duduk di tepi tempat tidur dan menatap kotak itu.
Ia teringat pada suara mesin mobil balap, sorakan penonton, dan wajah seorang pria yang dahulu ia anggap sebagai saudara sendiri.
Ingatan itu membuat dadanya terasa sesak.
Lima tahun lalu, ia pernah berdiri di panggung internasional sebagai bagian dari tim mekanik terbaik. Ia memiliki masa depan cerah, kontrak besar, dan kesempatan untuk mengembangkan teknologi yang selama ini hanya menjadi impiannya.
Namun, semuanya lenyap dalam satu malam.
Arga memejamkan mata.
Ia tidak ingin mengingat kejadian tersebut.
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
“Kalau kamu masih memiliki keberanian, datanglah ke kompetisi itu. Sudah waktunya dunia mengetahui siapa dirimu sebenarnya.”
Arga langsung duduk tegak.
Ia membaca pesan itu berulang kali.
Nomor tersebut tidak dikenal. Tidak ada nama pengirim. Tidak ada penjelasan tambahan.
Namun, satu kalimat membuat jantungnya berdegup lebih cepat.
Dunia mengetahui siapa dirimu sebenarnya.
Hanya segelintir orang yang mengetahui identitas lamanya sebagai AR-01.
Arga mencoba menelepon nomor tersebut, tetapi panggilannya tidak tersambung.
Ia mengetik sebuah balasan.
“Siapa kamu?”
Pesan itu terkirim, tetapi tidak mendapatkan jawaban.
Arga menatap layar ponselnya dalam diam.
Untuk pertama kalinya setelah lima tahun, ia merasa masa lalunya bukan sekadar bayangan yang terus menghantuinya.
Seseorang sedang mencarinya.
Dan orang itu mengetahui rahasia yang selama ini ia sembunyikan.
Keesokan paginya, Arga datang ke bengkel dengan keputusan yang belum sepenuhnya bulat.
Ia meletakkan map undangan di atas meja, lalu berdiri memandang papan nama Agung Joyo Motor dari dalam ruangan.
Ia teringat perkataan Pak Darto.
Jangan sampai masa lalu mengambil semua kesempatanmu untuk menentukan masa depan.
Arga menarik napas panjang.
Mungkin ia tidak bisa terus bersembunyi.
Mungkin sudah waktunya ia menghadapi dunia yang dahulu telah membuangnya.
Namun, ia tidak akan datang demi membuktikan sesuatu kepada Rendy.
Ia akan datang untuk mencari jawaban.
Jika kompetisi itu benar-benar menjadi jalan menuju kebenaran, ia akan menghadapinya.
Arga mengambil ponselnya dan menghubungi nomor panitia yang tercantum dalam undangan.
“Saya Arga Pratama. Saya ingin mengonfirmasi keikutsertaan saya dalam Tantangan Mekanik Nasional.”
Di seberang telepon, petugas panitia terdengar terkejut.
“Baik, Saudara Arga. Kami akan mencatat konfirmasi Anda. Silakan hadir pada hari Sabtu pukul delapan pagi.”
“Baik. Terima kasih.”
Arga mengakhiri panggilan.
Ia berdiri diam beberapa saat, kemudian menatap kedua tangannya yang masih memiliki bekas oli.
Tangan yang dahulu pernah membangun mesin balap juara dunia.
Tangan yang pernah dihina, disalahkan, dan dianggap tidak berguna.
Kini, tangan itu akan kembali bekerja di hadapan para mekanik terbaik.
Arga tersenyum tipis.
“Baiklah,” gumamnya. “Mari kita lihat apakah dunia masih mengingat AR-01.”
Di tempat lain, Rendy menerima kabar bahwa Arga telah menyetujui undangan kompetisi.
Ia langsung tertawa puas.
“Akhirnya dia datang juga!”
Kevin menepuk bahunya.
“Jangan terlalu yakin, Ren. Kita belum tahu seberapa hebat dia.”
Rendy berdiri sambil merapikan kemejanya.
“Pada hari Sabtu, aku akan membuatnya menyesal karena berani memasuki dunia para profesional.”
Ia tidak menyadari bahwa keputusan Arga untuk datang bukanlah awal dari penghinaan yang ia rencanakan.
Itu adalah awal dari kebangkitan sebuah nama yang pernah ditakuti dunia otomotif.
Dan ketika kompetisi dimulai, Rendy akan mengetahui bahwa mekanik yang ia remehkan ternyata menyimpan kemampuan yang jauh melampaui perkiraannya.
Bersambung.