💗🤗 Assalamualaikum semua! Ayo mampir baca pelan-pelan aja ya! jika suka jangan lupa tinggalkan jejak kalian!👇🤗😍
Di balik wajah cantiknya, Alana menyimpan identitas mematikan: seorang hacker genius sekaligus penembak jitu bayaran yang tak pernah meleset. Namun, ia terpaksa menggantung senapannya demi satu tujuan baru yang tak pernah ia rencanakan—menjadi ibu pengganti bagi keponakannya yang mendadak yatim piatu.
Di sisi lain kota, Sang Bos Mafia penguasa dunia bawah tanah sedang murka. Pembantaian brutal baru saja menewaskan tangan kanan kepercayaannya, dan sepasang anak kembar sang tangan kanan menghilang tanpa jejak.
Dalam perburuannya mencari anak-anak itu dan menuntut balas, sang Mafia juga memburu seorang hacker misterius yang terus-menerus meretas sistem keamanan kartelnya.
Takdir mempertemukan mereka dalam kejar-kejaran yang mematikan. Sang Bos Mafia tidak tahu bahwa wanita cantik yang mati-matian melindungi sepasang anak kembar di dekapannya adalah penembak jitu yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Di sisi lain kota, raungan mesin dari empat motor sport berkapasitas tinggi menderu buas membelah keheningan malam, merobek kabut tebal yang mulai menyelimuti jalanan perbukitan berliku.
Kendaraan-kendaraan hitam legam itu melaju dengan kecepatan ugal-ugalan, nyaris menyentuh aspal setiap kali melewati tikungan tajam. Mengabaikan segala aturan lalu lintas, rombongan itu akhirnya mengerem mendadak di pelataran sebuah mansion mewah.
Decit ban yang bergesekan kasar dengan aspal memekakkan telinga, meninggalkan jejak karet yang terbakar dan kepulan asap tipis di udara dingin yang menusuk tulang.
Seorang pemuda melompat turun dari motor terdepannya bahkan sebelum mesin sepenuhnya mati. Dibalut jaket kulit hitam yang memeluk bahu tegapnya, napas pemuda itu memburu kasar. Dadanya naik-turun dengan cepat.
Bukan karena sisa adrenalin dari perjalanan gilanya menembus kota, melainkan karena firasat buruk yang sejak beberapa jam lalu mencekik lehernya.
Gerbang utama mansion yang terbuat dari besi tempa kokoh tampak hancur, terlepas dari engselnya seolah baru saja ditabrak oleh kendaraan lapis baja.
Penjaga gerbang yang biasanya menyambutnya kini tergeletak tak bernyawa di pos jaga, bersimbah darah.
Tanpa perlu mengeluarkan sepatah kata pun, aura intimidasi yang menguar dari pemuda itu membuat belasan pria bersenjata yang menyusul di belakangnya seketika menunduk kaku. Bahkan Jace, salah satu tertinggi pasukan elite Adhitama yang tak pernah gentar menghadapi maut, berdiri tegak menahan napas saat mengikuti langkah sang Tuan Muda.
Elvano Adhitama. Pemimpin tertinggi klan yang auranya malam ini terasa lebih dingin dari angin malam perbukitan.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Elvano melangkah lebar menaiki undakan tangga teras. Begitu sepatu botnya melewati ambang pintu utama yang hancur berantakan, bau anyir darah segar bercampur mesiu langsung menyergap penciumannya dengan kejam. Udara di dalam mansion terasa kental dan memualkan.
Lampu utama padam total. Hanya lampu darurat berwarna merah yang berputar putus asa di langit-langit, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menyoroti mimpi buruk di dalam sana.
Langkah sepatu bot Elvano berderak menginjak pecahan kaca dari jendela kristal yang hancur lebur. Mayat-mayat pengawal terbaik yang ditugaskannya untuk menjaga mansion ini berserakan di atas lantai marmer dalam kondisi mengenaskan.
Beberapa di antaranya bahkan masih menggenggam senjata mereka, pertanda bahwa serangan ini terjadi sangat cepat dan brutal.
Dinding-dinding pualam yang tadinya megah kini berlubang penuh peluru. Perabotan antik, guci mahal, hingga lukisan hancur tak bersisa akibat baku tembak jarak dekat. Jejak kehancuran itu menjadi saksi bisu betapa tidak seimbangnya pembantaian yang baru saja terjadi.
Namun, mata elang Elvano mengabaikan semua kekacauan itu. Fokusnya langsung terkunci pada dua sosok yang tergeletak di tengah ruang keluarga.
Langkah kaki Elvano perlahan memelan. Udara di sekitarnya seolah tersedot habis, membuat dadanya terasa sesak. Ia berjalan mendekat, melewati selongsong peluru yang berserakan, hingga akhirnya berhenti tepat di hadapan tubuh Raka—tangan kanannya, pelindungnya, sekaligus sahabat yang sudah ia anggap seperti saudara kandungnya sendiri.
Pemandangan di bawah kakinya menghentikan detak jantung Elvano secara paksa.
Tubuh Raka terbaring terlentang dengan beberapa luka tembak yang merobek kemejanya. Jari telunjuk pria itu masih berada di pelatuk pistol yang kehabisan peluru.
Dan tepat di sisinya, Luna tergeletak menelungkup. Tangan wanita itu terjulur, menggenggam erat jemari suaminya yang sudah kaku.
Elvano tahu betul siapa Luna. Wanita itu seharusnya bersembunyi. Namun, melihat posisi tubuhnya dan senjata di dekatnya, sangat jelas bahwa Luna menolak lari dan memilih keluar untuk bertarung di sisi suaminya sampai napas dan peluru terakhir mereka habis. Mereka mati sebagai pelindung sejati.
"Bangsat."
Satu umpatan itu meluncur pelan dari bibir Elvano, namun volumenya bergetar menggetarkan ruangan.
Dengan gerakan tiba-tiba, Elvano menghantamkan tinjunya ke pilar marmer di dekatnya.
Bugh!
Krak!
Suara retakan tulang terdengar dari buku-buku jarinya. Kulit tangannya robek, meneteskan darah segar ke lantai, namun rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan amarah yang kini mendidih di pembuluhnya.
Urat-urat di lehernya menonjol keras, rahangnya mengeras hingga gigi-giginya bergemeretak, dan matanya memerah menahan badai murka.
Di detik itu juga, semua potongan teka-teki di kepalanya menyatu dengan sempurna.
Tiga jam yang lalu, gudang senjata utama klan Adhitama di pelabuhan diserang secara besar-besaran. Serangan itu begitu masif hingga Elvano harus turun tangan langsung dan membawa seluruh pasukan utamanya.Ternyata, itu hanyalah sebuah ilusi murahan.
"Mereka mempermainkanku," desis Elvano. Suaranya bergetar rendah, dipenuhi intonasi mematikan yang membuat Jace dan belasan pasukannya di belakang sontak menunduk semakin dalam. Suhu ruangan seolah anjlok drastis.
"Musuh sengaja menciptakan kekacauan di pelabuhan agar aku menarik seluruh pasukan utama ke sana," lanjut Elvano, matanya yang dingin kini berkilat oleh dendam kesumat.
"Mereka tahu aku tidak akan membiarkan aset klan disentuh. Dan saat pertahananku terbuka, mereka memanfaatkan celah emas itu untuk menyerang perisaiku."
Elvano menatap nanar jasad Raka. Musuh tidak mengincar kekayaan atau wilayah malam ini. Mereka mengincar Raka. Mereka ingin memotong tangan kanannya dan menghancurkan fondasi terkuat yang selalu menopang punggung Elvano selama ini.
Jace melangkah maju satu langkah dengan kehati-hatian tingkat tinggi. Keringat dingin menetes di pelipis pria berwajah garang itu.
"Tuan Muda... maafkan kami. Kami datang terlambat."
Elvano memejamkan mata. Ia menarik napas panjang, meredam monster di dalam dirinya yang meronta-ronta ingin keluar menghancurkan seisi kota. Saat ia kembali membuka mata, tidak ada lagi keterkejutan atau duka yang terlihat.
Yang tersisa hanyalah aura mutlak seorang raja mafia yang telah menjatuhkan vonis mati.
"Bersihkan tempat ini, Jace," perintah Elvano mutlak. Suaranya sedingin es.
"Urus pemakaman yang paling layak dan terhormat untuk Raka, Luna, dan seluruh pengawal kita yang gugur. Mereka pahlawan klan Adhitama."
"Baik, Tuan Muda!"
"Dan pastikan tidak ada satu pun media, wartawan, atau anjing-anjing kepolisian yang mencium kejadian malam ini," lanjut Elvano, menoleh menatap Jace dengan tatapan menguliti.
"Sebelum aku sendiri yang memenggal kepala bajingan yang berani melakukan ini, aku tidak ingin ada berita bocor."
"Dipahami, Tuan Muda. Saya akan mengurus semuanya."
Elvano memalingkan wajah, kembali menatap lantai. Tiba-tiba, keningnya berkerut tajam. Sebuah kesadaran baru menghantam benaknya bagaikan godam. Matanya melebar, menyapu ke sekeliling ruangan yang hancur.
Ada yang kurang di ruangan ini. Sesuatu yang sangat penting.
"Di mana anak-anaknya?" tanya Elvano.
Nada suaranya yang selalu terkontrol mendadak berubah, diwarnai kepanikan mematikan yang sangat jarang ia tunjukkan. Jace sontak mendongak, ikut menyadari hal tersebut.
"Dimana Kael dan Kai? Usia mereka baru lima tahun!" Elvano berbalik, menatap pasukannya dengan beringas.
"Cari mereka di seluruh penjuru mansion ini sekarang juga! Periksa ruang bawah tanah, setiap lemari, setiap celah, dan lorong rahasia! Raka dan Luna pasti menyembunyikan mereka!"
"Periksa seluruh lantai atas dan basemen! Bergerak sekarang!" teriak Jace, memberi komando.
Belasan pria berseragam hitam itu seketika menyebar bak anjing pelacak, menyisir setiap sudut reruntuhan mansion dengan panik.
Sementara pasukannya sibuk mencari, Elvano kembali menundukkan pandangannya pada wajah Raka. Di bawah temaram lampu merah yang masih berputar, sang bos mafia berlutut dengan satu kaki hingga lututnya menyentuh genangan darah sahabatnya.
Perlahan, Elvano meletakkan telapak tangannya di atas dada Raka, lalu mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Dalam keheningan reruntuhan itu, Elvano Adhitama mengikat sebuah sumpah darah yang tak akan pernah bisa dibatalkan oleh siapa pun.
Ia bersumpah akan meratakan klan musuhnya dengan tanah. Ia akan memburu para pelaku keji itu hingga ke ujung dunia dan menguliti mereka hidup-hidup.
Dan yang paling penting, ia bersumpah harus menemukan si kembar, melindungi mereka dengan nyawanya sendiri, dan memastikan anak-anak itu hidup cukup lama untuk menyaksikan sendiri bagaimana musuh orang tua mereka hancur berkeping-keping.
Bersambung....