Ophelia Martin datang menggantikan kakak tirinya untuk menikahi seorang mafia, Bleiz Russo, karena hutang ayah tirinya.
Dia siap menghadapi monster yang dia pikir tua dan bengis itu.
Tapi ketika Ophelia memasuki kastil gelap dan dingin milik Bleiz Russo—dia tidak menemukan kakek-kakek keriput bertato dan tatapan menjijikkan itu.
Yang dia temui justru pria berusia tiga puluh tahunan dengan wajah mempesona, mata elang sedingin es, dan tubuh tegap yang terbalut jas berwarna gelap setara dengan auranya.
Pria itu ternyata menyodorkan kontrak sederhana, bukan sebuah pernikahan normal yang mungkin hanya akan berjalan sementara.
Ophelia hanya disuruh hamil darah dagingnya, dan itu membuat hutang ayah tirinya lunas. Tidak perlu ada cinta. Tidak perlu ada tuntutan. Bleiz hanya perlu wadah untuk pewarisnya.
Bleiz menyentuhnya seperti barang berharga, tapi menatapnya seperti debu tak berarti. Ophelia pernah menyaksikan sendiri bagaimana tangan kuat itu dengan tenang mematahkan tulang pengkhianatnya. Dia pikir dia akan mati ketakutan.
Tapi ternyata setiap kali jarak mereka hanya beberapa sentimeter, justru detak jantungnyalah yang paling berisik?
Ophelia harus mengingat satu aturan. Jangan pernah jatuh cinta pada iblis yang hanya menginginkan rahimmu.
Namun bagaimana caranya bertahan, ketika iblis itu mulai membelai perutnya yang mulai berisi, dengan tatapan yang untuk sekilas terlihat seperti ... ketakutan akan kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suasana Hangat
Mereka berdua kembali ke ruang tamu dan melihat Miranda sedang menyiapkan meja makan dengan hidangan favorit Ophelia dan juga Chloe.
"Wah, ini terlihat lezat," kata Ophelia dengan mata berbinar.
"Tentu saja. Aku akan memberikan yang terlezat untuk dua putriku," kata Miranda sambil tersenyum. "Aku selalu mengingat kesukaan kalian berdua."
Chloe tersenyum. “Terima kasih, Bibi. Kau sangat baik hanya saja nasibmu buruk bertemu ayahku.”
Ophelia hanya tertawa dan Miranda menggelengkan kepalanya. Dia sudah terbiasa dengan ucapan Chloe yang blak-blakan.
Mereka bertiga duduk di meja makan. Suasana terasa hangat dan akrab. Ophelia hampir lupa bahwa dia sebenarnya tidak di rumahnya sendiri.
"Apa kau bahagia, Sayang?" tanya Miranda tiba-tiba di tengah makan.
Ophelia menghentikan gerakannya. Dia menatap ibunya yang menatapnya dengan penuh harap.
"Aku ... aku sedang belajar untuk bahagia, Mom," jawab Ophelia jujur. "Ini semua baru bagiku. Tapi aku berusaha."
Miranda mengangguk, air mata menggenang di matanya. "Aku sangat menyesal dengan apa yang terjadi. Seandainya aku bisa mengubah segalanya ..."
"Tak ada yang bisa mengubah masa lalu, Mom. Yang bisa kita lakukan hanyalah menjalani masa depan sebaik mungkin," kata Ophelia sambil meraih tangan ibunya.
Chloe menghela napas. "Oke, cukup sudah suasana sedih ini. Mari kita bicara tentang hal yang lebih menyenangkan. Pheli, kau tahu kalau aku sekarang bekerja di kafe?"
"Benarkah?" Ophelia tampak terkejut. "Kafe apa?"
"Kafe kecil di dekat kampus. Pemiliknya baik. Dia memberiku jam fleksibel sehingga aku bisa kembali kuliah," kata Chloe bangga. "Aku juga mulai belajar membuat latte art. Lumayan bagus."
Ophelia tersenyum mendengar semangat di suara Chloe. "Aku senang mendengarnya, Chloe. Aku yakin kau akan sukses."
"Dan aku juga ikut les memasak karena aku ingin menjadi juru masak di kapal pesiar," tambah Chloe.
"Wah, itu ide yang bagus, Chloe!" Miranda tersenyum lebar. "Aku akan selalu mendukungmu.”
Mereka bertiga tertawa bersama. Suasana hangat menyelimuti mereka bertiga. Setelah makan, Ophelia membantu ibunya membersihkan meja sementara Chloe pergi ke kamarnya untuk mengambil sesuatu.
"Sst, Pheli," panggil Chloe dari balik pintu. "Aku punya sesuatu untukmu."
Ophelia mendekati kamar Chloe. Chloe menyerahkan sebuah paperbag kecil berwarna merah.
"Apa ini?"
"Buka saja," kata Chloe dengan senyum misterius.
Ophelia membuka kotak itu dan terkesiap. Di dalamnya terdapat sebuah lingerie sutra berwarna merah gelap dengan potongan yang cukup vulgar.
"Chloe! Kau bercanda?”
"Kau pasti bisa, dan kau akan memakainya," kata Chloe dengan tegas. "Pakai ini malam ini, Pheli. Lihat apa yang terjadi. Oh ya, ini adalah hadiah dari temanku dan aku tak pernah memakainya karena aku memang tak melakukan hal itu. Jadi, pakailah. Itu lebih berguna untukmu.”
"Tapi—"
"Tidak ada tapi. Percayalah padaku. Ini akan berhasil."
Ophelia menatap kain tipis dan menerawang itu. Kain itu terasa halus di tangannya. Dia bisa membayangkan bagaimana rasanya saat dikenakan.
"Aku ... aku akan memikirkannya," katanya ragu.
"Jangan hanya dipikirkan, lakukan!" Chloe mendorong bahu Ophelia. "Kau sudah kehilangan terlalu banyak waktu. Saatnya kau mengambil kendali hidup mafia itu. Jadikan dia budakmu!”
Ophelia berdecak. “Dia bukan budak, Chloe. Dia suamiku.”
“Ya ya ya … terserah kau saja.”
*
Tak lama, Ophelia pamit pulang. Dia berjalan ke lift dan masuk ke dalamnya. Di dalam lift dia melihat kembali isi paperbag yang diberi Chloe tadi.
“Ini gila. Aku tak mungkin memulainya duluan,” gumamnya berbisik. Wajahnya kembali memerah memikirkan hal itu.
JANGAN LUPA KOMEN DAN LIKE YAAAA
biar bleiz merasa kehilangan...
😁😁
seharusny kl ada bleiz bisa melihat bagaimana mereka dl mesra