Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta bersama Arthur Bond, Rexana Nycekerh hidup bagai pajangan mahal di dalam sangkar emas. Demi menyelamatkan perusahan ayahnya yang terancam runtuh, Rex terpaksa menelan bulat-bulat dinginnya penghinaan dan tuduhan atas rahasia masa lalu yang enggan ia bocorkan. Namun, ketika kembali ke New York, takdir memainkan lelucon paling kejam.
Lexana, kakaknya sendiri, secara terang-terangan memamerkan kekasih barunya—Diedrick Glodereus Ashford.
Pria itu adalah pemilik masa lalu Rex, cinta pertamanya yang kini hadir kembali membawa dendam dan kepahitan.
Di tengah kepungan tuntutan keluarga yang tak berhati dan intrik kekuasaan, Rex harus berdiri sendirian di antara dua pria yang membencinya.
Akankah rahasia di balik perpisahan masa lalu mereka terkuak, atau justru Rex akan benar-benar hancur dalam permainan pembalasan dendam ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#1
Suara gunting terakhir malam itu beradu dingin dengan sunyinya kamar mandi. Helai-helai rambut panjang yang dulunya terurai halus seperti sutra gelap, kini berserakan di atas lantai marmer yang berkilau, mengendap kaku bagai kelopak-kelopak bunga mati yang digugurkan paksa oleh musim dingin.
Rexa Ballerina Nycekerh menatap pantulan dirinya di cermin besar yang terbingkai sepuhan emas.
Wajah porselennya yang mulus terlihat makin kontras dengan gaya rambut barunya—potongan pendek yang memangkas habis keanggunan lamanya, persis jatuh kaku di atas bahu.
Mata tajam yang biasanya memancarkan aura dingin dan tak tersentuh, malam ini tampak begitu redup, rapuh, dan kehilangan pijakan.
Air mata yang sejak tadi dia tahan di sudut kelopak matanya akhirnya lolos juga, menetes pelan, membahasi pipi yang pucat.
Dengan jemari yang sedikit gemetar, Rex buru-buru menyapunya kasar, seolah-olah menyeka noda ketidakberdayaan yang tak boleh tercium oleh siapa pun.
Rambut pendek, huh?
Rex mencoba tersenyum di depan cermin, tetapi yang tercipta hanyalah lekukan bibir hampa, meratapi betapa konyol dan menyedihkannya garis takdir yang dia jalani.
Empat tahun.
Empat tahun lamanya dia terjebak dalam dinding-dinding tinggi mansion megah ini, mencoba menjadi istri yang nurut, memangkas selera diri, dan mengubah seluruh penampilannya demi menyenangkan pria yang dipanggilnya suami.
Hanya demi mendengar kalimat bernada sarkas dari mulut Sang Suami tadi sore.
"Mungkin kalau kau potong rambut pendek, aku bisa memikirkannya?" bisiknya tadi dengan nada meremehkan yang mengiris ulu hati.
"Pikirkan apa, Arthur Blond? Memikirkan untuk menyentuhku? Atau memikirkan cara baru untuk menghina diriku?" gumam Rex pelan pada pantulan dirinya sendiri di cermin.
Suaranya terdengar begitu parau, tenggelam di antara gemericik sisa air kran yang belum sepenuhnya terkatup.
Lucu memang.
Mereka tidak pernah saling mencintai.
Pernikahan ini cuma transaksi bisnis, sebuah kesepakatan tertulis berlapis tinta hitam di atas kertas mewah; ikatan formalitas dari keluarga Nycekerh yang hampir runtuh tak berbekas, lalu diselamatkan oleh megahnya kekayaan keluarga Bond.
Rex tidak punya pilihan.
Kalau sampai pernikahan ini hancur dalam serpihan skandal, ayahnya yang sakit-sakitan dan tergantung pada tabung oksigen tidak akan segan-segan mengusirnya—atau bahkan mengancam nyawanya sendiri demi mempertahankan sisa gengsi aristokrasi yang hampir busuk.
Rex tidak punya uang sepeser pun.
Dia tidak memiliki tabungan, tidak memiliki hak atas saham, cuma menjadi pajangan mahal yang terkurung dalam sangkar emas bersuhu minus.
Hukuman Rex dimulai tepat di malam pernikahan mereka empat tahun lalu.
Saat kejujurannya tentang masa lalu memicu murka dan keangkuhan Arthur Blond.
Pria itu merasa harga dirinya diinjak-injak begitu tahu Rex pernah menyerahkan dirinya secara utuh pada pria lain—sebuah kenangan yang tidak pernah bisa dihalau atau dihapus oleh kekayaan keluarga Bond.
"Siapa pria itu? Kalau cuma pria jalanan dari kalangan rendah, demi Tuhan, aku tidak sudi menyentuh barang bekas! Tapi kalau dia dari kalangan atas seperti kita... aku mungkin bisa memikirkannya."
kalimat penuh hinaan itu masih berdengung jelas di telinganya, mengendap di setiap celah ingatan bagai racun yang diguyurkan bertahap.
Rex menolak membuka mulut.
Pria dari masa lalunya adalah rahasia tertutup yang bakal dia bawa sampai mati, sebuah benteng terakhir dari martabatnya yang hancur.
Dan sejak saat itu, Arthur benar-benar mengasingkannya.
Pria itu memboyongnya tinggal di mansion mewah di Swiss selama empat tahun—tempat serba dingin dan bersalju yang makin membekukan hubungan mereka, alasan terselubung Arthur agar Rex tidak bisa menyentuh kembali tanah kelahirannya atau menemui sang mantan.
Tapi kematian ayah mertuanya beberapa Hari lalu memaksa mereka kembali ke New York.
Kembali ke tempat di mana semuanya dimulai, tempat di mana abu masa lalu masih belum sepenuhnya ditiup angin.
Tok! Tok! Tok!
Gedoran pintu kamar mandi yang keras menyentakkan Rex dari lamunannya yang pekat.
Suara berat, dalam, dan dingin dari balik pintu menusuk pendengarannya tanpa belas kasihan.
"Kau tidur di dalam kamar mandi?!"
Rex menghela napas panjang yang terasa bergetar di dada.
Dia merapikan gaun tidurnya yang terbuat dari kain sutra tipis sebentar, mengusap bekas basah di pipinya, lalu memutar gagang pintu logam yang terasa sedingin es.
Saat pintu terbuka, sosok Arthur berdiri menjulang di sana.
Wajah tampannya yang terbias cahaya lampu kamar menatap Rex dari atas ke bawah dengan tatapan menilai yang tajam.
Pandangannya tertahan di leher yang kini terekspos jelas dan rambut pendek Rex yang baru dipotong kaku.
Senyum miring yang begitu familier—dan selalu menyakitkan—terukir perlahan di bibir tipisnya.
"Wah, kau sungguh patuh," ejek Arthur dengan nada santai tapi menusuk hingga ke tulang. "Kepatuhanmu ini... apa sama seperti saat kau dengan sukarela membuka kedua kakimu untuk pria yang bahkan tidak bisa menyelamatkan perusahaan ayahmu? Menjijikkan!"
Deg.
Hati Rex rasanya diremas lagi hingga tak berdarah.
Sakitnya selalu sama, tidak pernah berkurang atau menjadi kebal meski sudah ribuan kali dia mendengarnya berulang.
Rex bukannya tidak bisa melawan atau membalas makian kasar itu dengan lidahnya yang tak kalah tajam.
Tapi dia tahu betapa tingginya taruhan yang dia genggam: kesehatan ayahnya yang makin rapuh dan masa depan perusahaan keluarganya yang tergantung pada belas kasihan Arthur.
Semuanya berada di tangan pria brengsek di hadapannya ini.
Jadi, Rex cuma memendam semuanya rapat-rapat di dalam hati.
Dia menatap lurus mata tajam Arthur, memasang topeng dingin yang paling sempurna—topeng tanpa emosi yang membantunya bertahan hidup.
"Hm, aku memang menjijikkan. Kau puas?" sahut Rex pelan, hampir tanpa nada, seolah-olah kata-kata itu diucapkan oleh patung batu.
Arthur tertawa pelan, sebuah tawa kering tanpa kehangatan.
Pria itu melangkah mendekat hingga jarak di antara mereka terkikis habis, membawa aroma parfum kayu yang berat dan dominan.
Pria itu menunduk sedikit, menyejajarkan pandangannya dengan Rex, menatap lekat-lekat mata tajam istrinya yang tak bergeming.
"Apa kau berubah pikiran sekarang?" bisik Arthur dengan senyum yang makin lebar dan intimidatif, hembusan napasnya menerpa kulit wajah Rex.
"Kau bisa memberitahuku sekarang, siapa satu-satunya mantan kekasihmu itu. Kita sudah di New York, Rex. Apa dia satu high school denganmu? Universitas? Atau... apa aku perlu mengadakan pesta kembalinya dirimu ke New York agar dia muncul dari semak-semak?"
"Lakukan saja sesukamu, Arthur," jawab Rex dingin, menahan gejolak emosi yang membakar dadanya dari dalam.
"Mau kau buat pesta atau mengundang seluruh orang di kota ini, jawabanku tetap sama. Tidak ada yang perlu kau ketahui."
Arthur terkekeh pelan, jari-jarinya yang kasar menyentuh helai rambut pendek Rex yang baru dipotong dengan ujung jarinya, memainkan setiap ujungnya yang terasa tajam.
"Kita lihat saja seberapa lama kau bisa menyimpan rahasia busukmu itu dariku."
Langkah kaki Arthur terdengar menjauh, ketukan pantofel kulitnya di atas lantai kayu bertahap meredup bersamaan dengan pintu kamar utama yang tertutup rapat.
Keheningan melingkupi ruangan itu kembali, mengendap lebat bagai kabut tebal di tengah malam New York yang tak pernah benar-benar tidur.
Rex tertegun di tempatnya berdiri, bahunya merosot perlahan saat seluruh kepura-puraan yang dia bangun runtuh tak berbekas.
Dia menyandarkan punggungnya pada pintu marmer yang dingin, merasakan dadanya sesak oleh tumpukan bayangan yang berusaha dia kubur dalam-dalam selama empat tahun pengasingan.
Sepeninggal sang suami dari kamar itu, tiba-tiba sekelebat nama berbisik liar di benaknya.
Nama yang tak pernah berani dia sebutkan keras-keras di depan siapa pun, nama yang terukir di sudut paling sunyi dalam jiwanya.
Diedrick Glodereus Ashford.
Nama itu bergetar pelan di dalam pikirannya, membawa kenangan akan jemari hangat yang dulu menangkup pipinya tanpa rasa penghinaan, tatapan mata yang tak pernah menilai atau menuntut kepatuhan buta, serta aroma hujan musim gugur yang selalu melekat padanya.
Bagaimana kabarmu? bisik Rex dalam hati, menatap kehampaan kamar mandi yang dipenuhi ceceran rambut lamanya.
Apakah New York masih terasa sama hangatnya ketika kau memelukku... atau kau juga telah menjadi asing di kota yang penuh dengan kebohongan ini?
Rex memejamkan mata erat-erat, meratapi fakta bahwa nama itu kini menjadi racun sekaligus satu-satunya alasan jantungnya masih berdetak di dalam sangkar besi ini.
...----------------...
Sequel Novel OVERRATED