NovelToon NovelToon
Menukar Takdir Untuk Bellona

Menukar Takdir Untuk Bellona

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:458
Nilai: 5
Nama Author: BUNGA LYONA

Selama bertahun-tahun, Bellona terbiasa menjalani hidup tanpa sosok ayah yang benar-benar hadir. Sampai suatu hari, keadaan memaksanya untuk tinggal bersama lelaki yang selama ini hanya ia kenal dari cerita orang lain.

Pertemuan mereka tidak berjalan seperti yang Bellona bayangkan.

Ada banyak pertengkaran, kecanggungan, dan hal-hal yang terlalu sulit untuk dibicarakan. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjadi keluarga setelah bertahun-tahun hidup sebagai orang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Jangan Tinggalin Devan, Bu.

Jam menunjukkan pukul satu malam. Lampu ruang tamu sudah dimatikan, hanya menyisakan pendaran remang cahaya bulan yang menembus celah ventilasi.

Suara cicit engsel pintu kamar belakang memecah hening. Bellona keluar dengan langkah pelan. Rambutnya agak berantakan, dan sepasang matanya menatap kosong ke lantai. Tidur lelap rasanya masih jadi hal yang terlalu mewah baginya. Tiap kali memejamkan mata, kepalanya mendadak bising oleh tumpukan memori pahit.

Ia melangkah ke dapur untuk mengambil segelas air dingin. Namun, langkahnya terhenti saat melihat sosok Devan sedang duduk bersandar di sofa ruang tamu. Pria itu masih memakai kaus oblong hitamnya, memangku gitar akustik tua, dan memetik senarnya sangat pelan—hampir tanpa suara—seolah tak ingin mengganggu penghuni kamar belakang.

Tring...

Petikan gitar Devan terhenti saat mendengar gemerisik langkah kaki. Pria itu menoleh.

"Kagak bisa tidur lo?" tanya Devan basa-basi, suaranya agak serak khas orang mengantuk.

Bellona mendecak pelan, menuang air dari dispenser ke gelas. "Kagak usah kepo."

Devan tidak membalas ketusan itu dengan amukan seperti biasanya. Pria itu meletakkan gitarnya di samping sofa, menyandarkan kepala ke belakang, lalu mengembuskan napas panjang.

"Kalau capek, bilang aja kali," gumam Devan pelan, menatap langit-langit ruangan yang gelap. "Kagak usah sok kuat terus. Gue juga pernah capek kok. Rasanya kayak mau meledak tapi kagak tahu mau ngamuk ke siapa."

Gelas di genggaman Bellona bergetar tipis. Gadis itu berdiri mematung di dekat meja dapur selama beberapa detik, sebelum akhirnya melangkah pelan dan menjatuhkan dirinya di ujung sofa—memberi jarak aman dari Devan.

Gengsi yang selama ini membentenginya rapat-rapat perlahan luruh, terkikis oleh rasa lelah yang sudah menumpuk di ambang batas.

"Gue dari dulu udah berusaha," bisik Bellona tiba-tiba. Suaranya serak, begitu pelan sampai hampir kalah oleh dengung kipas angin tua.

Devan tidak menyela. Pria itu memiringkan kepalanya, mendengarkan.

"Dari kecil, gue selalu berusaha buat ambil hati Sarah," lanjut Bellona, matanya menatap lurus ke gelas air di tangannya. "Gue cuma pengin dia ngeliat gue... sekali aja. Pas TK dulu, gue pernah bikin gambar. Gambar rumah sederhana, ada gambar Sarah sama gue di sampingnya. Gue seneng banget, gue lari-lari nyamperin dia di ruang TV."

Bellona terkekeh hambar, sebuah kekehan pilu terdengar pahit.

"Tapi Sarah bahkan kagak nengok," lanjutnya dengan napas agak tersendat. "Gambar gue ditepis gitu aja, terus dia lanjut asyik nonton TV seolah-olah gue cuma angin lalu. Gue berdiri di sana lama banget, bingung harus ngapain. Sampai akhirnya Oma dateng. Oma yang ngeliat gue diacuhin, langsung meluk gue, nanya gue gambar apa, terus muji gambar gue bagus..."

Jemari mungil Bellona meremas gelas kaca itu semakin erat.

"Tapi anehnya, setelah itu gue tetep aja bego. Gue tetep nyari perhatian Sarah. Gue pengin banget kayak temen-temen sekolah gue yang lain... punya ibu yang beneran sayang sama anaknya, yang bangga pas anaknya dapet nilai bagus, yang meluk pas anaknya sedih. Kenapa... kenapa dari dulu dia kagak pernah bener-bener sayang sama gue?"

Sebulir air mata meluncur pelan di pipi Bellona, tetapi gadis itu dengan cepat mengusapnya kasar menggunakan punggung lengan.

Devan terdiam cukup lama. Dada pria itu terasa berdenyut nyeri mendengar setiap patah kata yang keluar dari mulut gadis di sebelahnya. Bayangan Sarah yang egois dan mementingkan diri sendiri berputar di kepalanya. Namun, Devan mencoba mencerna situasi itu dari sudut pandangnya sebagai orang dewasa yang juga mengenal Sarah di masa lalu.

Devan merogoh sakunya, mengusap tengkuknya yang gatal dengan raut canggung.

"Gue... gue tahu Sarah emang keterlaluan," ujar Devan pelan, berusaha menata kalimatnya dengan hati-hati. "Tapi... mungkin Sarah juga punya alasannya sendiri, Bocah. Dia mungkin bingung, atau belum siap jadi ibu pas lo lahir. Orang kayak Sarah itu... dia cuma takut melarat dan kehilangan arah hidupnya sendiri, makanya dia jadi ngaco kayak gitu."

Mendengar tanggapan itu, bahu Bellona yang tadinya terkulai seketika menegang keras.

Gadis itu menoleh cepat, menatap Devan dengan mata membelalak penuh rasa kecewa dan amarah yang mendadak membakar dadanya kembali. Ia berharap Devan akan mengutuk Sarah, membelanya, atau setidaknya memvalidasi rasa sakitnya. Namun pria ini justru terkesan membela perempuan yang sudah membuangnya.

"Alasan?" desis Bellona, suaranya gemetar menahan panas di tenggorokan. "Lo bilang dia punya alasan?!"

Devan tersentak. "Eh, bukan gitu maksud gue—"

"Sama aja!" bentak Bellona sambil berdiri mendadak dari sofa, membuat air di gelasnya hampir tumpah. "Lo sama aja kayak orang-orang lain! Lo kagak tahu apa-apa tapi sok tahu! Lo pikir pembenaran konyol lo itu bisa nambal rasa sakit gue dari kecil?!"

"Bellona, dengerin dulu, Maksud gue kagak gitu—" Devan ikut berdiri, panik melihat perubahan raut wajah Bellona.

"Diem lo!" potong Bellona dengan nada dingin dan penuh rasa benci yang mendalam. "Gue bego banget bisa-bisanya cerita sama orang kayak lo. Lo tuh emang sama aja kayak Sarah, kagak punya otak!"

Tanpa memberikan kesempatan pada Devan untuk membela diri, Bellona memutar tubuhnya dan melangkah lebar menuju kamar belakang.

BLAM!

Suara pintu kayu dibanting dengan sangat keras hingga mengguncang dinding-dinding rumah tua itu. Suara kunci pintu digeser kasar dari dalam menyisakan hening yang jauh lebih mencekam dibanding sebelumnya.

Devan berdiri mematung di ruang tamu yang remang. Pria itu menatap pintu kamar yang sudah tertutup rapat, lalu meraup wajahnya kasar dengan kedua telapak tangan.

"Anjing..." gumam Devan menyesali mulutnya sendiri. "Niat nasehatin malah bikin makin hancur. Bener-bener bego lo, Devan."

***

Malam yang panjang dan dingin itu akhirnya menyeret Devan ke dalam lelap yang tak tenang. Dalam kegelapan tidurnya, memori lama yang telah tertimbun belasan tahun mendadak merayap naik, menjelma menjadi mimpi buruk yang begitu nyata.

Langkah-langkah kecil itu terasa berat. Di dalam mimpi, Devan kembali menjadi seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun dengan kemeja kebesaran dan celana pendek yang agak kusam. Udara sore itu terasa sangat lembap, langit mendung menggantung rendah di atas pasar malam yang riuh oleh suara komidi putar.

“Devan, duduk di bangku ini dulu, ya? Jangan ke mana-mana,” ujar seorang wanita berambut hitam panjang yang memegang kedua bahu mungil Devan. Wajah ibunya tampak samar di balik bayangan, tetapi suaranya yang lembut terasa begitu familier.

Devan kecil mendongak, mengangguk polos sambil memeluk tas ransel kecilnya. “Ibu mau ke mana?”

“Ibu mau beli makanan sebentar di depan. Nanti Ibu balik lagi. Janji, jangan pindah dari sini, ya?” Wanita itu mengusap puncak kepala Devan pelan, tersenyum tipis, lalu berbalik dan menghilang di antara lautan manusia.

Menit berlalu. Jam berputar.

Pengunjung pasar malam perlahan mulai menyepi. Lampu-lampu wahana dimatikan satu per satu. Langit di atas sana akhirnya meledak, menumpahkan hujan deras yang menghantam bumi tanpa ampun. Kilat menyambar, membiaskan cahaya putih yang menakutkan di atas aspal basah.

Devan kecil mulai panik. Menggigil kebasahan di atas bangku kayu, bajunya basah kuyup, air mata bercampur dengan titik-titik hujan di pipinya.

“Ibu... Ibu di mana?” bisiknya gemetar.

Karena tak sanggup lagi menunggu, Devan kecil akhirnya melompat turun dari bangku. Ia berlari. Kaki-kaki kecilnya menepuk genangan air di jalanan gang yang licin, menyusuri jalan raya yang samar oleh tirai hujan. Ia berteriak memanggil nama ibunya, tetapi suaranya kalah oleh gemuruh petir dan deru angin.

“Ibu! Ibu! Jangan tinggalin Devan!”

Langkahnya terhenti di belokan jalan raya. Di balik guyuran hujan yang makin lebat, Devan melihat kerumunan orang berkumpul di tengah jalan. Lampu-lampu kendaraan menyorot samar, sirene terdengar samar di kejauhan.

Jantung Devan kecil berdegup kencang secara aneh. Sebuah dorongan tak kasat mata memaksanya untuk terus melangkah.

Perlahan, ia menyelinap di antara celah kaki-kaki orang dewasa yang berdiri mengelilingi tempat itu. Menyusup ke depan, menembus riuh bisikan orang-orang yang panik.

Dan saat pandangannya terbuka... dunia Devan kecil seketika runtuh.

Di atas aspal yang basah dan tergenang air bercampur warna merah pekat, sesosok wanita terbaring tak bergerak. Rambut hitam panjangnya basah kuyup melilit lehernya. Pakaiannya robek, dan darah mengalir deras dari kepalanya, membasahi jalanan.

Itu ibunya.

“IBU!” jerit Devan kecil histeris.

Ia berlari menerobos kerumunan, menjatuhkan dirinya ke atas aspal yang dingin, merengkuh tubuh ibunya yang sudah terkulai tak berdaya. Jemari kecilnya yang gemetar mencoba mengusap darah di wajah sang ibu, tetapi noda merah itu justru makin menyebar di tangannya.

“Ibu, bangun! Katanya Ibu cuma beli makanan sebentar! Ibu bilang mau balik lagi!” Devan kecil meraung, memeluk erat dada ibunya yang tak lagi berhembus. “Jangan tinggalin Devan, Bu! Devan takut sendirian! IBU...!”

"NGGAK!"

Devan tersentak bangun dari tidurnya.

Napasnya tersengal-sengal memburu, dadanya naik turun dengan liar seolah-olah baru saja tenggelam di kedalaman air. Pelipis dan dahinya dibasahi keringat dingin yang mengucur deras. Pria itu terduduk kaku di atas sofa, telapak tangannya gemetar hebat saat meraup wajahnya sendiri dalam kegelapan ruang tamu.

"Bangsat..." gumam Devan lirih dengan suara serak yang memecah keheningan malam.

Mimpi buruk itu. Memori kelam yang selalu berusaha ia kubur dalam-dalam setiap kali ia merasa sendirian. Rasa takut akan ditinggalkan, rasa trauma karena tak pernah punya tempat untuk bersandar, dan kenyataan bahwa ia tumbuh tanpa seorang pun yang menunggunya di rumah.

Devan menyandarkan kepalanya ke dinding, menghembuskan napas panjang yang gemetar. Tangannya mengusap wajah kasar, lalu pandangannya bergulir perlahan menuju pintu kamar belakang yang tertutup rapat.

Di balik pintu itu, ada Bellona—seorang gadis yang saat ini merasakan kepedihan yang sama persis dengannya: dibuang, tidak diinginkan, dan merasa terasing di tengah riuhnya dunia.

Devan menyambar jaket kulitnya dari paku dinding. Tanpa memedulikan jam yang sudah menunjukkan pukul dua pagi, ia keluar dari rumah, menaiki motor tuanya, dan membelah jalanan malam yang sepi dengan kecepatan tinggi.

Beberapa menit kemudian, deru mesin motor Devan yang cempreng berhenti tepat di depan sebuah rumah sederhana di dalam komplek perumahan. Tanpa ragu, Devan melompati pagar rendahnya dan menggedor pintu depan dengan ritme terburu-buru.

TAK! TAK! TAK!

"Raka! Rak, buka pintunya, Bangsat!" bisik Devan setengah berteriak.

Tak lama kemudian, kunci pintu digeser pelan dari dalam. Pintu terbuka sedikit, memperlihatkan Raka yang berdiri dengan kaus santai dan celana pendek. Muka Raka dipenuhi raut gusar dan kantuk yang luar biasa.

"Ssshh! Pelan-pelan suara lo, Bego!" omel Raka pelan sambil menunjuk ke arah dalam rumah. "Istri sama anak gue lagi tidur! Lo gila ya, tengah malam begini gedor-gedor rumah orang?! Mau gue kaplok pake sandal lo?!"

Raka sudah siap mendorong bahu Devan dan mengusirnya pulang. Namun, gerakan tangannya mendadak terhenti di udara saat matanya meneliti raut wajah Devan.

Lampu teras yang remang menyorot wajah Devan yang pucat pasi, matanya merah, dan napasnya masih agak tersengal. Tidak ada cengiran tengil atau tatapan jahil yang biasanya selalu melekat pada pria itu. Devan terlihat sangat berantakan, linglung, dan... rapuh.

Raka mengembuskan napas panjang, kekesalannya seketika meluruh. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu menggeser tubuhnya memberi jalan.

"Masuk lo," gumam Raka pelan, memberi isyarat dengan kepalanya. "Jangan bikin suara. Kalau sampai anak gue bangun gara-gara lo, gue tendang lo ke got."

1
falea sezi
buat ini anak agak punya adab donk😒 sebel liat anak g tau aturan banyak kok anak broken home yg tau adab g kayak beloman ini sombong
falea sezi
buat belunasadar donk anak haram kok ngelunjak 😒
falea sezi
anak haram gk tau diri🤣🤣 mending usir aja emak loe aja gk mau lu ikut dia masih ada yg mau nampung loe aja alhamdulillah😒 sebel liat anak g tau Adab
falea sezi
q dpet anak g sopan uda guaa usir🤣
falea sezi
q kirim hadiah 🤭 up banyak ya moga makin bagus buat bocah nya jelas stts nya anak devan apa bukan
BUNGA LYONA: siap kak, makasih udah baca😇🌸
total 1 replies
falea sezi
moga ajaa bneran anak devan ya😓 kasian uda di buang emak nya tp lona jangan sok ya
falea sezi
ini numpang 😒 gk ada baik baiknya kayaknya belom. tentu lo anak devan🤣🤣 bisa aja emak lo🤣jalang gk tau anak siapa😒
falea sezi
ini bapak bneran kan🤣
Lisa Kusmiran07
semangat kak
BUNGA LYONA: makasihh😍
total 1 replies
Lisa Kusmiran07
semangat thorr,ceritanya seru lain dari yg lain
Lisa Kusmiran07
menunggu lanjutannya,
BUNGA LYONA: siapp🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!