Pengantin Pengganti Untuk Mafia.
Laura dijebak saat dia berniat bekerja sebagai seorang Nanny di sebuah mansion besar McManaman, Irlandia. Ia justru dijadikan pengantin untuk menggantikan putri berharga sekaligus pewaris McManaman dan menikahkan Laura dengan seorang Killian Marcano demi keuntungan sekaligus menjadi jembatan perdamaian antara dua keluarga mafia Irlandia dan New York.
Tekanan, ancaman, darah dan nyawa menjadi taruhan bagi Laura sehingga dia terjebak dalam lingkaran Sindycat. Dan berniat meracuni Killian Marcano di malam pertama mereka.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon Dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OTM — BAB 15
PUTRI SESUNGGUHNYA
Bruak!!!!
Pecahan kaca berhamburan ke lantai marmer, beradu dengan dentuman yang memecah keheningan kediaman McManaman. Kieran berdiri dengan napas memburu, wajahnya merah padam menahan amarah yang meluap-luap. Gelas kristal yang ia lemparkan kini terbelah tak berbentuk di dekat kaki anak buahnya yang menunduk gemetar.
"APA MAKSUDMU HILANG?" bentak Kieran, suaranya menggelegar di ruangan yang luas itu. "Kau membiarkan seseorang membawanya pergi begitu saja, bajingan?"
"Maaf, Tuan..." jawab pria itu dengan suara tertahan. "Kami menyebar ke segala arah, namun ketika kami tiba di tempat itu... Nona Fiona sudah tidak ada. Yang tersisa hanya jejak pertarungan, dan tidak ada yang melihat siapa yang membawanya."
Eleanor berdiri tak jauh dari suaminya, wajahnya pucat pasi, kedua tangannya saling meremas di depan dada. "oh, astaga... Fiona..." gumamnya pelan, langkahnya terasa berat mendekati Kieran. "Kita harus mengambilnya kembali, Kieran. Siapa pun yang membawanya, mereka tidak tahu apa yang mereka hadapi."
Kieran menoleh padanya, tatapannya tajam namun tersirat kegelisahan yang tak ingin ia tunjukkan. "Kau pikir aku tidak tahu itu?"
"Jangan biarkan dia berada di tangan orang asing, Kieran!" suara Eleanor meninggi, cemas bercampur ketakutan. "Mereka bisa menyakitinya! Kita harus segera mencari tahu ke mana mereka membawanya!"
"Kau pikir aku diam saja?" Kieran membalasnya dengan nada yang sama tajamnya. "Jika mereka yang membawanya, berarti mereka tahu siapa dia. Dan jika mereka tahu, berarti pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai." Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri sejenak, lalu menatap anak buahnya yang masih menunduk.
"Perluas jangkauan pencarian. Periksa setiap jalan keluar, setiap pelabuhan, setiap lapangan terbang. Cari tahu siapa yang mengambilnya, dan di mana mereka menyimpannya. Jangan berhenti sebelum menemukannya." ucap Kieran penuh emosi.
"Baik, Tuan." Anak buah itu segera berbalik melangkah pergi, meninggalkan pasangan yang berdiri dalam keheningan yang berat.
Eleanor menunduk, air mata mulai menetes. "Putriku..." bisiknya.
Kieran menghela napas kasar, berbalik memunggungi istrinya. "Dia harus bertahan. Demi kita semua."
.
.
.
Di atas jet pribadi yang masih menetap di landasan pacu, suasana hening dan dingin, seakan waktu ikut berhenti di sana. Fiona perlahan membuka matanya, kesadaran menyusul perlahan disertai rasa perih di pangkal hidungnya. Ia bergerak mundur seketika, punggungnya membentur sandaran kursi, napasnya tertahan di kerongkongan.
Di hadapannya, duduk seorang pria dengan tenang, kedua tangannya bertaut di pangkuan. Matanya yang berwarna biru menatapnya lekat — dingin, tajam, dan tak tertebak, sebutir es yang mengapung di samudra yang gelap.
"Ola, (Halo)," ucapnya singkat, datar, tanpa nada ramah sedikit pun.
Fiona menelan ludah kasar, tubuhnya gemetar hebat. Ia menatap sekelilingnya — ruangan yang sempit namun mewah, jendela yang tertutup tirai, dan pria di hadapannya yang menatapnya seakan ingin membongkar setiap rahasia yang tersimpan di kepalanya.
"Di-di mana aku?" suaranya nyaris tak terdengar. "Kenapa... kenapa kau menangkapku?"
Killian tak mengalihkan pandangannya. "Seharusnya kau menanyakan hal itu kepada ayahmu," jawabnya rendah. "Kenapa dia melakukan hal seperti itu?"
Fiona mengerutkan kening, semakin bingung. "Ap-apa maksudmu? Aku tidak mengerti..."
"Fiona McManaman..." Killian mengucapkan namanya perlahan, seakan menguji setiap suku katanya. "Itu namamu. Atau harus kupanggil Laura McManaman?"
Fiona tertegun, mulutnya ternganga namun tak ada kata yang keluar. Nama itu... ia pernah mendengarnya, samar-samar, di antara bisik-bisik yang tak ditujukan kepadanya. Namun ia tak tahu siapa gadis itu. Ia hanya diam, menunduk, tak berani menatap mata pria itu lagi.
Killian berdiri perlahan. Di tangan kanannya, tergenggam sebuah pistol yang berkilau dingin di bawah cahaya kabin. Ia melangkah mendekat, langkahnya tak terdengar, seakan menyatu dengan bayangan. Fiona mendongak, napasnya terhenti saat ujung senjata itu menyentuh dadanya perlahan, lalu bergerak naik — menyentuh tulang selangkanya, menelusuri garis rahangnya, hingga berhenti di pelipisnya.
“To-tolong jangan habisi aku..”
"Siapa gadis itu?" tanyanya pelan, namun setiap kata terasa begitu berat.
"Ak- aku tidak tahu..." suara Fiona bergetar hebat, air mata mulai menetes di pipinya. "Aku tidak tahu siapa Laura itu... aku tidak ikut campur urusan ayahku... aku tidak tahu apa-apa... kumohon, jangan... Ku mohon,"
"Aku mengerti," potong Killian, ujung senjata itu tak bergerak sedikit pun, "Apa yang harus kulakukan kepadamu agar kita impas?"
Fiona terisak, tak mampu berkata-kata, tubuhnya gemetar hingga bahunya berguncang. Dadanya sesak.
Killian tak menurunkan senjatanya dan tatapannya tetap tajam menembus jiwa. "Katakan kepada ayahmu. Katakan padanya — Killian Marcano menunggunya di sini.”
Fiona menelan ludah, tangannya gemetar sembari mengangguk pasrah tak bisa berbuat apa-apa.
***
Sementara itu, di New York, langit mulai mendung. Laura berdiri di dekat jendela besar, mengusap lehernya yang terasa panas tanpa sebab yang jelas. Sesuatu di dadanya terasa sesak, seakan ada tali tak kasat mata yang mengencang perlahan. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.
"Tenanglah..." bisiknya pada bayangannya sendiri di kaca. "Hanya dua hari lagi. Dia akan kembali. Kau hanya perlu bertahan dua hari lagi. Setelah itu katakan saja yang sebenarnya. Atau kabur dari sini? Tapi bagaimana dengan Lily?”
Namun pandangannya kembali tertuju ke luar, ke arah jalan yang luas dan bebas.
Betapa inginnya ia melangkah keluar, berlari sejauh mungkin, meninggalkan dinding dingin ini yang terasa semakin sempit setiap harinya. Namun ia tahu — di mana pun ia pergi, bayang-bayang McManaman dan ancaman terhadap Lily akan selalu mengejarnya.
Di ruangan yang hening dan sepi, jauh dari jangkauan cahaya matahari, Vincenzo duduk sendirian.
Matanya menatap ke luar jendela yang tertutup tirai tebal, namun pandangannya tak melihat apa pun di hadapannya. Pikirannya melayang jauh, puluhan tahun silam, ke masa di mana segalanya masih berbeda.
Suara itu kembali terdengar — jeritan, pertengkaran, kata-kata perpisahan yang menyayat hati. Wanita yang dicintainya berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan mata yang tak lagi bercahaya.
("Aku tidak bisa hidup seperti ini, Vincen... Dunia yang kau jalani ini... aku tidak ingin ikut bersamamu di dalamnya.")
Suara itu bergema di ingatannya, jelas dan menyakitkan.
(“Kau ingin membunuhku? Maka lakukan saja, karena memang begitulah kehidupan mu. Dan tinggalkan aku sendiri.”)
Ia terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis yang tak sampai ke matanya.
"Dan sekarang... akulah yang memegang kendali atas nasib putramu, Jollie."
Suasana kembali hening, namun bayangan masa lalu tak kunjung pudar. Dan dari lubuk hatinya yang paling dalam. Cinta yang besar itu membuatnya menjadi pembalasan yang impas.