NovelToon NovelToon
Sisi Gelap Anak Kost

Sisi Gelap Anak Kost

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Lelaki/Pria Miskin / Slice of Life
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Cerita terinspirasi kisah nyata!

Karena tak tahan dengan kerasnya didikan sang ayah, Galih nekat pergi dari rumah. Dia meninggalkan kampung halamannya hanya dengan selembar uang seratus ribu.

Galih memilih pergi ke ibukota. Di sanalah dia menemukan tempat tinggal baru yaitu sebuah kost campuran. Di sana Galih bertemu wanita cantik yang ternyata istri orang, lalu gadis pendiam misterius, serta lelaki mencurigakan yang terus menatapnya. Saat satu per satu misteri terkuak, Galih sadar, tempat yang ditinggalinya punya sisi gelap tak terduga.

Di antara sisi gelap itu, Galih berusaha keras mengejar mimpi dan memperbaiki kehidupannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20 - Pilihan Galih

"Aku mau masuk dulu. Istirahatlah, Lih. Masalah Indri itu... urusin sendiri, jangan libatkan orang lain," ucap Adit dingin, lalu berbalik badan meninggalkan Galih yang termenung seorang diri di teras kostan yang mulai temaram diterpa senja.

Langkah kaki Adit yang berat berangsur-angsur menjauh, meninggalkan Galih yang masih terpaku di atas kursi bambu. Udara sore yang dingin berembus pelan, menyelusup di balik kemeja tipis yang dikenakannya. Galih menundukkan kepalanya, meremas kedua lututnya sendiri dengan perasaan yang amat kalut. Hidupnya di kota ini, yang baru berjalan beberapa hari, rasanya sudah jungkir balik dan dihantam berbagai cobaan bertubi-tubi.

Hari-hari berikutnya di tempat kosan benar-benar menjadi sebuah siksaan batin yang luar biasa bagi Galih. Setiap kali ia melangkah keluar kamar untuk sekadar pergi mandi, mencuci muka, atau berangkat bekerja ke warung makan, ia bisa merasakan perubahan drastis dari atmosfer sekitarnya.

Para penghuni kostan, yang sebagian besar sudah termakan oleh rumor dan video kehebohan yang disebarkan Ifan, kini menatapnya dengan pandangan penuh kebencian, sinis, dan jijik. Ada yang terang-terangan meludah ke lantai saat Galih melintas, ada pula yang berbisik-bisik sambil mencibir di belakang punggungnya. Ifan, si pembuat masalah, kerap melemparkan tawa meremehkan setiap kali mata mereka berpapasan di lorong. Bahkan Fika, yang biasanya ramah dan sering berbagi makanan, kini tampak canggung dan memilih menghindar setiap kali Galih mendekat.

Galih merasa dikucilkan dan terisolasi di rumah kosan itu. Namun, ia tidak punya pilihan lain. Dengan kondisi keuangannya yang menipis dan ancaman pengusiran dari Pak Yono yang terus menggantung di atas kepalanya seperti pedang, Galih harus bertahan. Ia menelan setiap ludah kepahitan itu bulat-bulat, memilih diam, dan menyibukkan diri dengan bekerja sekuat tenaga di Warung Makan Bu Asih demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Di sela-sela kesibukannya melayani pelanggan yang sepi, pikiran Galih terus berputar keras memikirkan tawaran gila dari Indri.

Pernikahan kontrak. Menjadi suami status quo untuk menutupi aib seorang wanita yang baru dikenalnya, demi menyelamatkan diri dari kehancuran sosial di kota rantau.

Setelah merenung siang dan malam, menimbang segala untung rugi serta tidak melihat jalan keluar lain yang lebih baik, Galih akhirnya tiba pada sebuah keputusan besar. Tekadnya sudah bulat. Ia tahu keputusan ini akan membebani batinnya, tetapi ia tidak bisa membiarkan dirinya diusir dalam keadaan tanpa pegangan apa pun di tengah kota yang kejam ini.

Malam itu, usai pulang bekerja dengan badan yang letih lesu, Galih tidak langsung merebahkan diri. Ia menarik napas panjang, melangkahkan kakinya keluar kamar, dan mengetuk pintu kayu kamar Indri di ujung lorong sebanyak dua kali.

Tok... Tok...

Tak butuh waktu lama, pintu berderit terbuka. Indri muncul dengan wajah yang tampak lelah, namun sorot matanya langsung berbinar begitu melihat siapa yang berdiri di hadapannya.

"Galih...?" panggil Indri setengah tidak percaya.

"Mbak Indri, aku mau ngomong sebentar," kata Galih dengan nada suara yang datar namun tegas, berusaha menyembunyikan rasa gentar di dadanya.

Indri buru-buru membukakan pintu lebih lebar dan mempersilakan Galih masuk. Suasana di dalam kamar itu masih sama seperti sebelumnya, sederhana dan agak berantakan. Galih tidak duduk; ia berdiri tegak di tengah ruangan, menatap lurus ke mata Indri yang tampak berkaca-kaca penuh harap.

"Aku sudah memikirkan tawaran Mbak Indri kemarin," ujar Galih membuka pembicaraan tanpa basa-basi.

Indri meremas kedua tangannya di depan dada, menahan napas menanti jawaban pemuda itu. "Lalu... apa keputusanmu, Galih?"

Galih menelan ludahnya yang terasa kering. "Aku terima tawaran itu. Aku bersedia membantumu... aku bersedia menikahimu."

Mendengar kata-kata itu, air mata bahagia seketika tumpah dari pelupuk mata Indri. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, terisak pelan karena rasa lega yang teramat besar menghantam dadanya. Beban berat yang nyaris merenggut nyawanya beberapa hari lalu seolah terangkat separuh.

"Terima kasih, Galih... Terima kasih banyak!" ucap Indri berulang-ulang dengan suara parau penuh rasa syukur. "Kamu penyelamatku... Sungguh, aku tidak tahu harus membalas budi ini bagaimana lagi."

"Tunggu dulu, Mbak. Jangan berterima kasih terlalu cepat," potong Galih dengan raut muka yang tetap serius, mengangkat satu telapak tangannya untuk menghentikan luapan emosi Indri. "Ada syarat dan batasan yang harus kita sepakati sejak awal. Pernikahan ini bukan pernikahan yang sebenarnya."

Indri mengusap air matanya, menatap Galih penuh tanda tanya. "Maksudmu?"

"Kita hanya akan menikah secara agama saja, nikah siri sederhana yang penting sah di mata agama untuk meredam amarah Pak Yono dan menutup aib di kosan ini," jelas Galih lugas, merumuskan batas-batas teritorial di antara mereka. "Pernikahan ini bersifat kontrak. Aku hanya bertindak sebagai suami status quo atau pelindung formal untuk bayimu sampai anak itu lahir ke dunia. Setelah anak itu lahir dan keadaanmu sudah aman, kita akan resmi bercerai dan berpisah jalan masing-masing tanpa ada ikatan apa pun lagi."

Indri terdiam sejenak, meresapi setiap persyaratan mutlak yang diajukan oleh pemuda berusia dua puluh tahun di hadapannya itu. Ia mengangguk pelan penuh pengertian.

"Aku setuju, Galih," jawab Indri mantap. "Aku tidak akan menuntut lebih dari apa yang kamu berikan. Perjanjian ini murni demi menyelamatkan muka kita berdua."

"Baguslah kalau kita sepemahaman," lanjut Galih. "Mengenai kompensasi uang yang Mbak janjikan secara cicil... aku mau uang itu digunakan untuk biaya hidup kita sewajarnya dan keperluan bayi nanti, bukan untuk hal-hal lain. Dan satu lagi, kita tetap akan tinggal di kamar masing-masing. Tidak ada campur urusan pribadi di luar status kita ini."

Indri kembali mengangguk patuh. "Apapun mau mu, Galih. Aku akan menuruti semuanya. Besok lusa, aku akan coba menghubungi salah satu ustaz kenalan tetangga sebelah gang untuk menikahkan kita secara siri secara diam-diam dan sederhana."

Galih mengembuskan napas panjang. Beban besar memang baru saja ia ambil alih ke atas pundaknya, tetapi setidaknya ia tahu langkah apa yang harus ia tempuh selanjutnya untuk bertahan hidup di tanah rantau ini. Tanpa berkata apa-apa lagi, Galih berbalik badan dan melangkah keluar kamar Indri, meninggalkan wanita itu yang masih terharu di ambang pintu.

1
Ardan
ingat warung pak susilo, jangan langsung ditinggalkan, kasihan ledua orang paruh baya tsb, bikin warungnya rame dan maju dulu galih
Ardan
misteri nya blm terpecahkan, antara horor atau ada orang usil nih
fara sina
lanjut kak. semangat selalu ya nulisnyaa
fara sina
ini gak adil. indri kamu bener bener jahat. padahal galih ga ada salah apa apa sama kamu. kamu memanfaatkan kebaikan galih.
fara sina
mas Adit gamau bantu?? kenapa ya🥺 inget mas Adit mas Adit 1 piring Indomie kamu ga ada niatan bantuin
fara sina
sangking baiknya kamu ya galih. padahal kenal belum ada seminggu
fara sina
galih orangnya gaenakan ya. serius jadi orang gaenakan itu gaenak. serba salah
fara sina
kenapa ga pernah akur begitu ya
fara sina
Waduh Galih, jangan senyum kecut aja dong... Hati-hati itu Fika tetangga sebelah beneran takut atau cuma modus malam-malam begini?
fara sina
gerak geriknya serem ya kaya bukan manusia
fara sina
ikutan sedih ya lih, banyak banyak berdoa biar warungnya laris manis.
fara sina
yess, cari cuan dulu ya buat modal nantinya. kalo udah ada modal tambahan juga cari kerja yang gajinya lumayan
fara sina
yuk bisa yuk galih cita citanya bisa terwujud
fara sina
tapi kayanya mba Fika bukan orang jahat ya
fara sina
duh, hati hati galih. jangan gampang menerima pemberian orang asing yang baru kenal apalagi makanan
fara sina
🥺 tetap semangat ya galih. semoga nantinya cepet dapet kerjaan
fara sina
gatau, aku bukan laki laki. kayanya gasemua sama dah
Ekka
aneh
fara sina
sekaligus baik dan pengertian. tau galih ga ada duit inisiatif ngasih duit
fara sina
keuntungan biar banyak yang kos wkwkwk pak Yono
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!