Sepuluh tahun Erlyn membangun kehidupan sempurna bersama suami dan anaknya, menyembunyikan masa lalu kelam yang sudah ia kunci rapat-rapat.
Dulu, saat usia 19 tahun, ia terjebak pada Om Hendi — pria kaya yang mengurungnya, menyiksanya, dan menyimpan ratusan foto memalukan yang dipaksa diambil. Erlyn berhasil kabur, berpikir ia sudah aman.
Hingga suatu hari, pesan dan foto lama masuk ke ponselnya. Hendi kembali.
"Datang padaku, atau semua foto dikirim ke suamimu."
Sekarang Erlyn harus memilih:
kembali ke neraka yang dulu ia tinggalkan, atau membiarkan keluarganya hancur oleh kebenaran yang menyakitkan.
Satu rahasia. Dua pilihan. Tak ada yang tidak terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Hari-hari setelah Rabu kedua itu, berjalan bagaikan sebuah siksaan tanpa ujung bagi Erlyn.
Rumah kecil berpagar putih yang dulunya menjadi tempat paling aman dan menenangkan di dunia kini terasa seperti sangkar kaca yang penuh dengan mata tak kasat mata.
Setiap kali ia memandang wajah suaminya atau mendengar tawa renyah Rara di ruang tengah, gelombang rasa bersalah yang teramat pekat langsung menghantam ulu hatinya, membuat napasnya sesak dan air matanya mendesak ingin keluar.
Erlyn merasa dirinya telah kotor. Ia merasa tidak lagi pantas mengenakan status sebagai istri Iqbal, pria tulus yang mencintainya tanpa syarat.
Namun, di saat yang bersamaan, rasa takut kehilangan mereka jauh lebih besar daripada rasa jijik pada dirinya sendiri. Ia memilih untuk tetap memakai topeng kebahagiaan itu, meski ia tahu persis bahwa retakan di wajahnya kini sudah terlalu parah untuk disembunyikan lebih lama lagi.
***
Sementara itu, di sebuah kantor arsitektur di pusat kota, Iqbal tidak bisa lagi berkonsentrasi pada pekerjaannya. Selama beberapa hari penuh setelah malam di mana ia memergoki Erlyn melamun ketakutan di dekat jendela, pikiran Iqbal terus berkecamuk hebat.
Sebagai seorang pria dan suami, instingnya berteriak kencang bahwa ada sesuatu yang sangat berbahaya sedang menghancurkan istrinya dari balik layar.
Perubahan jam kepulangan Erlyn setiap hari Rabu, wajah pucat pasi yang selalu dibawa pulang, rasa takut berlebihan pada ponsel, hingga tatapan mata kosong yang menyiratkan keputusasaan, semuanya menyusun sebuah teka-teki kelam yang menuntut untuk segera dipecahkan.
Iqbal mengepalkan kedua tangannya di atas meja kerjanya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tidak tahan lagi. Ia tidak bisa terus-menerus menunggu dalam ketidakpastian sementara wanita yang paling dicintainya terlihat ketakutan dan menanggung beban mental.
Namun, ia juga tahu satu hal, jika ia bertanya langsung tanpa bukti, Erlyn akan kembali menutup rapat mulutnya dan berbohong demi melindunginya. Ia harus melihat dengan mata kepalanya sendiri.
Sehari sebelum hari Rabu tiba, Iqbal menyempatkan diri pergi ke tempat penyewaan mobil. Ia sengaja menyewa sebuah mobil sedan biasa berwarna gelap yang sangat agar tidak mencolok dan tidak dikenali oleh istrinya.
Malam harinya, mobil rental itu ia parkirkan agak jauh dari rumah mereka, di tepi jalan dekat rumah tetangga yang halamannya sedang kosong, tertutup bayang-bayang pohon besar sehingga tidak terlihat dari jendela rumah Erlyn.
"Rian," panggil Iqbal pada rekan kerjanya di kantor keesokan harinya. "Tolong batalkan seluruh jadwalku untuk hari Rabu sore besok. Aku ada urusan pribadi yang sangat mendesak. Urusan keluarga yang harus kuselesaikan hari itu juga."
Rian mengangguk mengerti melihat sorot mata tajam dan rahang yang mengeras pada diri sahabat sekaligus rekan kerjanya itu. "Baiklah, kubereskan jadwal klien besok."
***
Hari Rabu ketiga tiba dengan cuaca yang mendung, seolah alam pun turut meratapi badai emosi yang bersiap meledak di hari itu.
Pukul dua siang di rumah kecil mereka, Erlyn mulai bersiap-siap. Ia mengenakan pakaian tertutup berwarna gelap, merapikan rambutnya di depan cermin, dan menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan debar jantungnya.
Ia tahu persis apa yang menunggunya di ujung sana, sebuah kewajiban mengerikan yang harus ia penuhi demi menjaga agar rahasianya tetap terkunci rapat.
Dengan tangan yang gemetar, ia menyambar tas kecilnya, mengecup kening Rara yang sedang tidur siang sebentar, lalu berpamitan pada Iqbal dengan alasan klasik: “Mas, aku mau mampir ke rumah teman sebentar ya.”
Iqbal yang duduk di ruang tamu mengangguk pelan. Begitu pintu depan tertutup rapat dan suara langkah Erlyn menjauh di halaman, Iqbal langsung bangkit berdiri. Ia berjalan cepat menuju tempat mobil rental hitamnya terparkir di ujung jalan.
Tidak lama kemudian, mobil rental yang dikemudikan Iqbal sudah bersiap di jarak yang aman. Dari balik kaca mobil, ia melihat Erlyn berjalan cepat menuju persimpangan jalan untuk mencegat angkutan umum.
Begitu angkot yang ditumpangi Erlyn melaju, Iqbal langsung menyalakan mesin mobilnya. Dengan jarak terjaga, membiarkan beberapa kendaraan lain berada di antara mobilnya dan angkot sang istri. Iqbal mengikuti ke mana pun kendaraan itu membawa Erlyn.
Setiap kilometer perjalanan terasa seperti menghujam ribuan jarum di dada Iqbal. Jantungnya berdetak kencang, bergemuruh di balik tulang rusuknya.
Ia terus bertanya-tanya di dalam hati: Ke mana sebenarnya istriku pergi setiap Rabu? Siapa orang yang tega membuatnya setengah mati ketakutan seperti ini?
Angkot yang ditumpangi Erlyn akhirnya melambat dan berhenti di kawasan komersial elit di pusat kota, sebuah wilayah perkantoran dan apartemen mewah bernama Grand Tower.
Iqbal meminggirkan mobil rentalnya di seberang jalan, tepat di bawah rindangnya pohon besar dan membiarkan mesin mobil tetap menyala. Dari balik kaca kemudi mobil yang diguyur rintik hujan gerimis tipis, Iqbal melihat Erlyn turun dari angkot.
Istrinya tampak berdiri sejenak di trotoar, mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan gestur tubuh yang sangat cemas dan ketakutan, seolah sedang memastikan tidak ada orang yang mengenalinya, sebelum akhirnya melangkah cepat menyeberang jalan dan menghilang di balik pintu kaca lobi gedung Grand Tower yang megah.
Dunia Iqbal seakan runtuh seketika pada detik itu juga.
Rasa curiga yang selama ini ia pendam berubah menjadi kenyataan yang menghantam telak.
Gedung itu adalah sebuah apartemen mewah. Rasanya Erlyn tidak mungkin mempunyai "teman lama" di tempat mewah itu. Tempat di mana pengamanannya sangat ketat dan hanya orang-orang tertentu yang bisa mengaksesnya.
Pikiran Iqbal langsung melompat pada kemungkinan terburuk.
Kemarahan yang mendidih di dalam darah serta kepedihan yang luar biasa bercampur aduk menjadi satu hantaman badai di dalam dadanya.
Iqbal mencengkeram lingkar kemudi mobil rental itu begitu kuat hingga otot-otot di lengannya menonjol keluar. Napasnya memburu, menghirup udara di dalam kabin mobil yang mendadak terasa sangat tipis dan panas.
Ia ingin menyusul masuk ke dalam lobi. Namun, sebagai orang luar tanpa kartu akses, ia tahu posisinya tidak akan diizinkan naik oleh petugas keamanan gedung. Lagi pula, unit berapa yang dituju Erlyn? Ia tidak tahu.
Iqbal mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Pilihannya hanya satu: menunggu. Ia memasang mata tajamnya ke arah pintu lobi utama, memastikan ia tidak akan kehilangan jejak istrinya saat keluar nanti.
Waktu berjalan sangat lambat di dalam kabin mobil yang sunyi itu. Menit demi menit berlalu, jarum jam dinding di dashboard mobil bergeser melewati angka tiga, empat, hingga mendekati pukul lima sore.
Di dalam sana, di suatu tempat di lantai atas gedung megah itu, Iqbal tahu persis bahwa istrinya sedang bersama seseorang. Pemikiran itu membuat dada Iqbal terasa mau meledak.
Air mata kemarahan dan kepedihan sempat menetes di sudut matanya, namun segera ia hapus dengan kasar menggunakan punggung tangannya.
Sabar, Iqbal... sabar. Tunggu sampai ia keluar, batinnya meratap di antara kepalan tangan yang terus bergetar hebat.
Dan benar saja, tepat pada pukul lima lewat sepuluh menit, pintu kaca otomatis lobi Grand Tower terbuka kembali.
Sosok yang sangat ia kenal melangkah keluar ke trotoar jalanan sore itu. Erlyn.
Iqbal menajamkan pandangannya, menatap lekat-lekat ke arah istrinya dari balik kaca mobil rental. Penampilan Erlyn tampak sangat berantakan.
Wajahnya pucat pasi, matanya bengkak dan merah seperti habis menangis hebat, langkah kakinya gontai dan lemah seolah ia berjalan tanpa jiwa di dalam raganya. Istrinya memeluk tas kecilnya erat-erat, berjalan sendirian menyusuri trotoar sebelum akhirnya melambaikan tangan mencegat taksi pertama yang melintas.
Melihat kondisi Erlyn yang hancur itu, gelombang kemarahan Iqbal tiba-tiba bergeser menjadi rasa iba dan sakit yang teramat mendalam. Hatinya menjerit melihat wanita yang sangat dicintainya terlihat kehilangan seluruh cahaya hidupnya.
Namun, rasa iba itu tidak menghentikan tekadnya. Iqbal langsung memasukkan gigi, memutar kemudi mobil rentalnya, dan kembali mengikuti taksi yang dinaiki Erlyn dari jarak aman, membawa mereka berdua kembali menuju rumah kecil berpagar putih di mana badai sesungguhnya bersiap untuk meledak tanpa ampun.
kuat2 ya kalian menghadapi orang kayak hendi 😖
kasih pencerahan biar otaknya gak mampet ngelanjutin service berkala untuk si hendi
woy jengkel banget gua sumpah 😩
..maaf thor esmosi lihat ini erlyn
jangan bilang habis ini ketemu terus CLBK/Blush//Blush/