NovelToon NovelToon
Aku Hanya Bidak, Lalu Membunuh Pemainnya

Aku Hanya Bidak, Lalu Membunuh Pemainnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:125
Nilai: 5
Nama Author: Bagas Hirmawan

Gu Chen hanyalah pemuda biasa yang keluarganya dihancurkan oleh kekuatan misterius. Namun, sebelum kematian menjemputnya, ia menemukan sebuah rahasia mengerikan: dunia tempatnya tinggal hanyalah papan permainan bagi makhluk-makhluk di luar pemahamannya.

Perang, kehancuran sekte, bahkan nasib para jenius ternyata telah diatur oleh tangan tersembunyi. Manusia hanyalah bidak, sementara para kultivator terkuat pun tidak lebih dari pion yang bisa dikorbankan kapan saja.

Gu Chen tidak memiliki bakat luar biasa ataupun kekuatan yang mampu mengguncang langit. Ia hanya memiliki kecerdasan, kesabaran, dan keberanian untuk menentang aturan permainan.

Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin mengerikan kebenaran yang ditemukannya.

Jika dunia ini adalah papan permainan, maka Gu Chen akan menemukan para pemainnya—dan membunuh mereka satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 — Orang yang Menunggu Sebelum Kelahiran

Gu Chen tidak segera membuka pintu.

Ia telah mendengar terlalu banyak suara yang menyerupai dirinya sendiri. Ada suara dari cermin, suara dari masa lalu, bahkan suara yang mengaku sebagai identitas pertamanya. Setiap kali ia mengira telah menemukan jawaban, kenyataan justru berubah menjadi teka-teki yang lebih buruk.

Karena itu, kali ini ia memilih untuk tidak terburu-buru.

“Kalau kau benar-benar aku,” katanya ke arah pintu, “kau pasti tahu bahwa aku tidak suka masuk ke ruangan yang pintunya terbuka tanpa alasan.”

Dari balik pintu terdengar tawa pendek.

“Kau juga tidak suka menunggu.”

“Itu masalah yang berbeda.”

“Tidak. Itu masalah yang sama. Kau selalu ingin mengetahui jawaban, tetapi kau takut pada harga yang harus dibayar untuk mendapatkannya.”

Gu Chen mengerutkan kening. Kalimat itu terdengar familier, bukan karena pernah didengarnya, melainkan karena terasa seperti sesuatu yang pernah ia pikirkan sendiri.

Ia menoleh kepada Gu Yuan. “Kau tahu apa yang ada di balik pintu ini?”

Gu Yuan memandangi permukaannya. Wajahnya tampak lebih pucat daripada sebelumnya.

“Tidak.”

Gu Chen menyipitkan mata.

“Jawabanmu terlalu cepat.”

“Karena aku memang tidak tahu.”

“Kalau begitu, kenapa kau terlihat seperti baru saja melihat kuburanmu sendiri?”

Gu Yuan tidak membalas. Ia justru menatap tulisan pada pintu sekali lagi, lalu berbisik, “Tempat ini seharusnya tidak bisa ditemukan.”

Bai yang terbaring di dekat Lin Yue perlahan membuka mata. Wajahnya masih pucat, dan napasnya belum teratur.

“Jangan masuk,” katanya.

Gu Chen menoleh. “Kau juga mengenal tempat ini?”

“Tidak.” Bai berusaha duduk. “Tapi aku pernah mendengar peringatan tentangnya. Ada sebuah tempat yang tidak menyimpan nama, ingatan, ataupun sejarah. Tempat yang hanya bisa ditemukan oleh seseorang yang telah ditunggu sebelum keberadaannya dimulai.”

“Dan tempat itu ada di balik pintu ini?”

Bai mengangguk lemah.

“Dalam catatan yang pernah kubaca, tempat itu disebut Ruang Sebelum Ada.”

Lin Yue mengerutkan kening. “Nama yang sangat tidak masuk akal.”

“Tempatnya memang tidak masuk akal,” jawab Bai. “Konon, di sanalah para pemain pertama kali menemukan sesuatu yang tidak bisa mereka kendalikan.”

Gu Chen menatap pintu batu itu lagi.

“Dan sesuatu itu adalah penciptaku?”

“Tidak ada yang tahu.”

“Jawaban yang luar biasa. Kita telah berjalan begitu jauh hanya untuk menemukan lebih banyak orang yang tidak tahu apa-apa.”

Lin Yue melipat tangan. “Kalau kau sudah selesai mengeluh, mungkin kita bisa memikirkan cara membuka pintunya.”

“Pintu ini sudah terbuka.”

“Kalau begitu, masuklah.”

“Setelah kau.”

Lin Yue menatapnya datar. “Aku akan menembakmu kalau kau terus menyebalkan.”

“Setidaknya kita punya rencana cadangan.”

Gu Yuan menghela napas panjang. “Kalian berdua tidak pernah berubah.”

Gu Chen langsung menoleh kepadanya. “Kau mengatakan itu seolah sudah mengenal kami sejak lama.”

Gu Yuan terdiam.

Kesalahan kecil. Namun, Gu Chen tidak melewatkannya.

Sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, pintu batu itu terbuka sendiri. Tidak ada suara gesekan, tidak ada getaran. Permukaannya hanya menghilang, memperlihatkan lorong putih yang membentang ke dalam kegelapan.

Suara dari balik pintu kembali terdengar.

“Masuklah, Gu Chen. Jangan biarkan mereka mengikutimu.”

Gu Chen tersenyum tipis.

“Sekarang aku justru ingin mereka ikut.”

Ia melangkah masuk.

Lin Yue menyusul tanpa ragu. Gu Yuan menatap lorong tersebut beberapa saat sebelum mengikuti mereka. Bai menjadi orang terakhir yang masuk, meskipun langkahnya masih goyah.

Begitu mereka melewati ambang pintu, pintu batu menghilang.

Di dalam, tidak ada langit-langit ataupun lantai yang jelas. Mereka berjalan di atas permukaan putih yang menyerupai kaca, tetapi tidak memantulkan bayangan. Di kejauhan berdiri ratusan pintu dengan ukuran berbeda. Sebagian kecil, sebagian sangat besar, dan beberapa hanya berupa bingkai tanpa daun pintu.

Tidak satu pun memiliki gagang.

Tidak satu pun memiliki nama.

Gu Chen berhenti di depan sebuah pintu kecil yang tingginya hanya setengah tubuhnya. Pada permukaannya terdapat goresan-goresan tipis, seperti seseorang pernah berusaha menuliskan sesuatu lalu menghapusnya berkali-kali.

Ia menyentuhnya.

Seketika, sebuah suara anak kecil terdengar di telinganya.

“Kalau suatu hari aku lupa namaku, apakah kau masih akan mengenaliku?”

Gu Chen menarik tangannya.

Sebuah gambaran muncul dalam benaknya: seorang anak perempuan duduk di lantai, memeluk lutut, sementara seorang anak laki-laki berambut putih berdiri di hadapannya. Anak laki-laki itu mengulurkan gelang kayu dengan sembilan garis dan lingkaran kosong.

“Aku akan mengenalimu,” jawab anak laki-laki itu dalam ingatan tersebut. “Bahkan jika dunia melupakanmu.”

Gambaran itu menghilang.

Gu Chen berdiri membeku.

Lin Yue memperhatikan wajahnya. “Apa yang kau lihat?”

“Seorang anak perempuan.”

“Siapa?”

“Aku tidak tahu.”

Namun, jauh di dalam dirinya, Gu Chen merasa bahwa ia pernah mengenal anak itu. Bukan sekadar mengenalnya, melainkan pernah membuat sebuah janji yang mengubah seluruh hidupnya.

Ia memandang gelang kayu di tangannya. Lingkaran kosong pada gelang itu terasa sedikit hangat.

Gu Yuan memperhatikan reaksinya, tetapi tidak mengatakan apa-apa.

Mereka melanjutkan perjalanan hingga mencapai sebuah ruangan berbentuk lingkaran. Di tengahnya terdapat sebuah meja batu dengan tiga kursi. Di atas meja terletak buku hitam tanpa judul, sebuah cermin retak, dan sebuah mangkuk kosong.

Seseorang duduk di kursi paling jauh.

Sosok itu mengenakan pakaian sederhana berwarna putih. Rambutnya hitam, wajahnya pucat, dan matanya tertutup kain tipis. Penampilannya tidak menyeramkan. Ia bahkan terlihat seperti pemuda biasa yang sedang menunggu seseorang di sebuah kedai.

Namun, ketika Gu Chen melihat wajahnya, langkahnya terhenti.

Wajah itu adalah wajahnya sendiri.

Bukan wajah Pemain Pertama yang berambut putih. Bukan wajah anak kecil dari balik pintu rahasia. Bukan pula wajah dari pantulan yang pernah muncul di dalam cermin.

Wajah itu adalah wajah Gu Chen yang sekarang.

Pemuda di kursi tersenyum.

“Kau datang lebih lambat daripada perkiraanku.”

Gu Chen menatapnya beberapa saat.

“Siapa kau?”

“Pertanyaan yang bagus.”

“Aku mengharapkan jawaban, bukan pujian.”

Pemuda itu tertawa. “Aku adalah orang yang menciptakan kehidupan yang sedang kau jalani.”

Gu Yuan segera maju satu langkah.

“Jangan percaya padanya.”

Pemuda itu menoleh kepadanya.

“Kau masih menggunakan kalimat itu, Gu Yuan? Setelah semua yang telah kau lakukan?”

Gu Yuan mengatupkan rahang.

Gu Chen memperhatikan keduanya bergantian. “Kalian saling mengenal?”

“Kami pernah bertemu,” jawab pemuda itu.

Gu Yuan langsung menyela. “Dia berbohong.”

Pemuda itu tidak tampak tersinggung.

“Kalau begitu, biarkan Gu Chen memutuskan siapa yang harus dipercaya.”

Gu Chen menarik kursi dan duduk di hadapan pemuda itu. Ia tidak peduli apakah tindakan tersebut berbahaya. Jika sosok di depannya memang mengetahui asal-usul kehidupannya, ia tidak akan membiarkan kesempatan itu berlalu begitu saja.

“Baik. Kita mulai dengan pertanyaan sederhana. Apakah kau yang menciptakan identitas pertamaku?”

Pemuda itu menggeleng.

“Tidak.”

“Apakah kau yang menciptakan identitas ketigaku?”

“Tidak.”

“Apakah kau yang memberiku nama Gu Chen?”

“Tidak.”

Gu Chen terdiam beberapa saat.

“Jadi, apa sebenarnya yang kau ciptakan?”

Pemuda itu menyentuh buku hitam di atas meja.

“Kehidupan yang memungkinkanmu duduk di sini dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu.”

Jawaban tersebut membuat Gu Chen semakin curiga.

“Kau memisahkan kehidupan dari identitas?”

“Identitas adalah sesuatu yang dapat dikenali. Kehidupan adalah sesuatu yang terus berlangsung, bahkan ketika identitasnya berubah.”

Pemuda itu membuka buku hitam. Halaman-halamannya kosong, tetapi ketika ia meletakkan telapak tangannya di atas kertas, sebuah tulisan perlahan muncul.

\[SUBJEK: GU CHEN.\]

\[KEHIDUPAN: AKTIF.\]

\[IDENTITAS: BERTENTANGAN.\]

\[ASAL-USUL: TIDAK DAPAT DITENTUKAN.\]

Gu Chen membaca tulisan tersebut dengan tenang, meskipun pikirannya mulai dipenuhi pertanyaan baru.

“Kalau asal-usulku tidak dapat ditentukan, bagaimana kau bisa menciptakan kehidupanku?”

“Karena aku tidak menciptakanmu dari ketiadaan.”

Pemuda itu menutup buku.

“Aku mengambil sesuatu yang sudah ada, memberinya kesempatan untuk hidup kembali, lalu menempatkannya di dunia yang tidak mengenal masa lalunya.”

Gu Yuan mengepalkan tangan.

“Cukup.”

Pemuda itu mengabaikannya.

“Namun, ada satu hal yang tidak pernah bisa kuubah. Aku dapat memberimu tubuh, ingatan, bahkan nama. Tetapi aku tidak dapat menentukan siapa dirimu ketika kau mulai membuat pilihan sendiri.”

Gu Chen menatapnya tajam. “Jadi, kau bukan pencipta mutlak.”

“Tidak ada pencipta yang benar-benar mutlak.”

Kalimat itu membuat ruangan mendadak sunyi.

Selama ini, Gu Chen membayangkan sosok yang berada di balik seluruh kejadian sebagai seseorang yang memiliki kendali penuh atas dunia. Namun, pemuda itu berbicara seolah-olah bahkan dirinya terikat oleh aturan yang tidak ia pahami.

“Lalu siapa yang menciptakanmu?” tanya Gu Chen.

Pemuda itu tidak segera menjawab.

Ia mengangkat cermin retak dari meja dan mengarahkannya kepada Gu Chen.

“Lihatlah.”

Gu Chen memandang permukaan cermin.

Awalnya, ia hanya melihat wajahnya sendiri. Namun, pantulan itu perlahan berubah. Rambutnya memutih, kulitnya menjadi pucat, dan lingkaran hitam muncul di mata kirinya.

Pemain Pertama.

Gu Chen hendak memalingkan wajah, tetapi pantulan itu berubah lagi. Kali ini ia melihat seorang anak kecil yang berdiri di ruangan putih. Anak itu tidak memiliki wajah yang jelas, hanya sebuah lingkaran kosong di tempat wajah seharusnya berada.

Di belakang anak itu berdiri Gu Yuan.

Dan di hadapan mereka, seseorang mengangkat tangan.

Seseorang dengan wajah yang sama seperti Gu Chen.

Namun, kali ini bukan pantulan Gu Chen yang sekarang.

Melainkan wajah pemuda yang duduk di hadapannya.

Cermin itu retak lebih jauh.

Gu Chen segera meletakkannya di meja.

“Apa maksudnya?”

Pemuda itu mengembuskan napas.

“Itulah alasan aku menunggumu. Ada sebuah kesalahan dalam kehidupanmu yang tidak pernah berhasil kuperbaiki.”

“Kesalahan apa?”

Pemuda itu menatapnya.

“Ketika kehidupanmu dimulai, seseorang telah menuliskan hasil akhirnya.”

Gu Chen tidak bergerak.

“Siapa?”

Pemuda itu menggeleng pelan.

“Aku tidak tahu.”

Gu Chen hampir tertawa karena frustrasi. “Kau mengaku menciptakan kehidupanku, tetapi tidak tahu siapa yang menentukan akhirnya?”

“Karena tulisan itu muncul sebelum aku menciptakanmu.”

“Dan kau membiarkannya?”

“Aku mencoba menghapusnya.”

Pemuda itu membuka buku hitam sekali lagi. Pada halaman terakhir terdapat sebuah kalimat yang ditulis dengan tinta merah.

PADA AKHIR PERMAINAN, GU CHEN AKAN MEMBUNUH ORANG YANG MEMBERINYA KEHIDUPAN.

Gu Chen membaca kalimat itu tanpa berkedip.

Lalu ia menatap pemuda di hadapannya.

“Apakah orang itu kau?”

Pemuda itu tidak menjawab.

Gu Yuan tiba-tiba menarik Gu Chen dari kursinya.

“Kita harus pergi. Sekarang.”

Namun, sebelum mereka sempat bergerak, seluruh pintu di ruangan itu menutup bersamaan. Permukaan putih di bawah kaki mereka berubah menjadi hitam, dan suara yang sama dengan suara Gu Chen terdengar dari segala arah.

Bukan suara pemuda di kursi.

Bukan suara Pemain Pertama.

Melainkan suara yang pernah muncul dari dalam cermin bertahun-tahun lalu.

Suara seseorang yang mengaku pernah menjadi dirinya.

“Jangan percaya kepada siapa pun di ruangan itu.”

Gu Chen membeku.

Suara itu melanjutkan.

“Termasuk dirimu sendiri.”

Pemuda di kursi berdiri perlahan. Untuk pertama kalinya, ia tampak benar-benar takut.

“Tidak,” bisiknya. “Kau seharusnya belum bisa berbicara.”

Buku hitam di atas meja terbuka dengan sendirinya. Halaman-halamannya berputar cepat hingga berhenti pada halaman pertama.

Tulisan baru muncul.

\[PENCIPTA KEHIDUPAN: TERDETEKSI.\]

\[PENCIPTA IDENTITAS: TIDAK DIKENALI.\]

\[PENCIPTA AKHIR: TELAH MEMASUKI RUANGAN.\]

Gu Chen memandang pemuda di hadapannya.

Lalu ia melihat ke belakang.

Tidak ada siapa pun di sana.

Namun, di permukaan cermin yang retak, pantulannya sendiri sedang tersenyum.

Padahal Gu Chen tidak tersenyum.

Bersambung ke Bab 27 — Pencipta yang Tidak Memiliki Wajah

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!