Dibuang oleh keluarga sendiri. Dikhianati oleh orang yang paling ia percaya. Dan kehilangan segalanya karena ulah mereka.
Reyna pernah menjalani hidup seperti itu sampai kematian menjadi satu-satunya akhir yang tersisa.
Namun ketika membuka mata, ia justru kembali ke masa lalu. Kali ini, Reyna tahu siapa yang akan mengkhianatinya.
Mereka mengira Reyna masih gadis naif yang mudah dimanfaatkan, namun mereka salah.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, Reyna akan merebut kembali apa yang menjadi haknya, melindungi orang-orang yang dulu gagal ia selamatkan, dan membongkar satu per satu kebusukan yang pernah menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Mobil itu akhirnya berhenti di depan gerbang besi raksasa Estat Blackwood. Dua penjaga bersenjata segera melangkah maju, namun Maya sudah lebih dulu turun, menunjukkan lencana keamanan tingkat tinggi dan berbisik sesuatu pada penjaga itu. Wajah penjaga tersebut berubah pucat, dan gerbang besi itu perlahan terbuka.
Estat Blackwood bukanlah sebuah rumah; itu adalah sebuah benteng. Arsitekturnya gotik dan mengintimidasi, dikelilingi oleh hutan pinus yang gelap.
Reyna melangkah keluar dari mobil, angin malam yang dingin menerbangkan ujung mantelnya. Ia tidak membawa senjata, tidak membawa pengawal selain Maya. Senjatanya adalah otaknya, dan perisainya adalah rahasia yang ia bawa dari masa depan.
Pintu ganda kayu oak di pintu masuk utama terbuka sebelum Reyna sempat mengetuk. Seorang kepala pelayan dengan wajah kaku membungkuk sedikit. "Nona Reyna. Tuan Adrian sedang makan malam. Beliau tidak menerima tamu tanpa..."
"Katakan pada Tuan Blackwood bahwa Reyna Arland datang untuk menagih utang," potong Reyna dingin, melangkah masuk tanpa menunggu izin.
Maya mengikutinya dari belakang, tangan kanannya secara tidak sadar melayang dekat ke jaketnya, mengantisipasi ancaman.
Mereka diarahkan ke ruang makan pribadi yang megah. Di tengah ruangan, di bawah cahaya lampu gantung kristal yang redup, duduk Adrian Blackwood. Pria tua itu memiliki aura yang jauh lebih berbahaya daripada Richard. Matanya yang elang memindai Reyna dengan rasa ingin tahu yang mengintimidasi.
Di sebelahnya, Richard Arland duduk dengan wajah yang masih memerah oleh amarah dan anggur mahal. Di atas meja, tergeletak sebuah map kulit berisi draf perjanjian yang siap ditandatangani. Sebuah pulpen emas sudah diletakkan di tangan Richard.
"Reyna!" Richard berdiri begitu melihat putrinya, kursinya berdecit keras di lantai marmer. "Apa yang kau lakukan di sini?! Keluar dari rumah orang lain!"
"Rumah orang lain?" Reyna melirik Adrian, lalu kembali menatap ayahnya dengan senyum mengejek. "Maaf, Pa. Aku tidak tahu kalau Papa sudah menjual estat ini pada Tuan Blackwood. Atau mungkin ini hanya ruang tamu yang Papa sewa dengan uang hasil mencuri?"
"Kau kurang ajar!" Richard menggebrak meja. "Adrian, maafkan putrinya yang tidak beradab ini. Dia sedang mengalami gangguan mental yang parah. Tolong panggilkan keamanan.."
"Duduk, Richard," suara Adrian tiba-tiba terdengar. Suaranya berat, serak, dan memiliki berat jenis yang membuat Richard seketika menutup mulutnya dan duduk kembali dengan patuh.
Adrian menatap Reyna, menumpukkan ujung jarinya yang berbentuk seperti cakar. "Nona Reyna. Aku harus mengakui, keberanianmu untuk masuk ke rumahku tanpa diundang cukup mengingatkanku pada almarhumah ibumu, Elena. Wanita itu juga tidak pernah takut pada bayangan. Tapi keberanian tanpa kekuatan hanyalah bunuh diri yang diperlambat."
"Aku tidak datang untuk bunuh diri, Tuan Blackwood. Aku datang untuk menyelamatkan Tuan dari investasi yang buruk," ucap Reyna, menarik kursi di hadapan Adrian dan duduk dengan anggun, mengabaikan Richard yang sudah hampir meledak karena marah.
"Menyelamatkanku?" Adrian mengangkat alis peraknya. "Aku sedang membeli dua puluh persen saham Arland Group dari ayahmu. Dengan harga premium. Itu adalah investasi yang sangat bagus."
"Benarkah?" Reyna menatap map di atas meja. "Papa, sebelum Papa menandatangani perjanjian itu dan menyerahkan dua puluh persen suaramu pada pria yang akan menghancurkan nama Arland sampai ke akar-akarnya, ada satu hal yang harus Papa ketahui."
Reyna mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tepat ke dalam mata Adrian. "Tuan Blackwood, Papa membeli saham itu karena Papa pikir Papa bisa menggunakan suara itu untuk mengambil alih dewan direksi dan mengakses teknologi paten dari divisi riset Arland, bukan?"
Adrian menyipitkan matanya, tidak menyangkal. "Lanjutkan."
"Masalahnya," ucap Reyna, suaranya turun menjadi bisikan yang mematikan, "divisi riset Arland yang Papa incar itu sebenarnya sudah tidak memiliki paten apa pun. Tiga bulan lalu, Ibu melalui yayasan amalnya yang tidak pernah Papa curigai telah memindahkan seluruh hak kekayaan intelektual inti perusahaan ke sebuah perusahaan cangkang di Singapura. Arland Group saat ini hanya memegang lisensi penggunaan sementara. Jika Papa membeli saham Papa, Papa tidak akan mendapatkan teknologi itu. Papa hanya akan membeli cangkang kosong yang sedang digugat oleh tiga negara berbeda atas pelanggaran hak cipta."
Hening.
Richard menatap Reyna dengan mulut terbuka, wajahnya berubah menjadi warna abu-abu yang mengerikan. "A... apa? Reyna, apa yang kau omongkan?! Itu tidak mungkin!"
Adrian tidak berteriak. Pria tua itu hanya menatap Reyna dalam diam selama sepuluh detik yang terasa seperti sepuluh tahun. Lalu, ia menoleh pada kepala bagian hukumnya yang berdiri di sudut ruangan. "Cek."
Pria itu segera membuka laptopnya, mengetik dengan cepat. Dua menit kemudian, ia mengangguk pelan pada Adrian. "Benar, Tuan. Hak paten utama telah dialihkan ke yayasan Elena Arland. Perusahaan kita hanya memegang lisensi... dan lisensi itu akan hangus jika terjadi perubahan kepemilikan saham mayoritas."