NovelToon NovelToon
Gawat Jendral, Istri Gendutmu Ternyata Badas!

Gawat Jendral, Istri Gendutmu Ternyata Badas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:43k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Pernikahan ini hanya ikatan di atas kertas. Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu.”

Duka membeku di hati Arjuna. Sejak kepergian istri tercintanya, jenderal muda yang disegani itu mengubur rapat hatinya untuk siapa pun. Namun, sebuah wasiat terakhir memaksanya menikahi Arunika, perempuan yang sama sekali tak pernah ia bayangkan menjadi pendamping hidupnya.

Di mata Arjuna, Arunika hanyalah wanita bertubuh gemuk, sederhana dan tak pantas berjalan di sisinya. Ia menerima pernikahan itu semata demi menghormati pesan terakhir mendiang istrinya dan memberikan seorang ibu bagi putra kecil mereka.

Saat Arunika perlahan menaklukkan hati putra kecilnya, sang Jenderal pun mulai goyah.

​Bisakah Arjuna mempertahankan dinding esnya ketika wanita yang ia remehkan justru menjadi satu-satunya alasan jantungnya berdetak kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 15

"Dokter! Tolong anak saya!" teriak Arunika dengan wajah panik. Beberapa perawat yang berjaga sigap berlari membawa brankar dorong.

"Cepat! Angkat anaknya ke atas brankar!" perintah seorang perawat senior.

Dengan sangat hati-hati, Arunika memindahkan tubuh kaku Nakula. Tangan kecil bocah itu terasa sangat dingin, sementara bibirnya tampak pucat kebiruan.

"Pasien anak laki-laki, usia sekitar enam tahun. Kondisi tidak sadarkan diri!" teriak perawat melaporkan.

Brankar meluncur kencang membelah lorong putih menuju ruang tindakan. Arunika terus berlari di sisi brankar, jemarinya menggenggam erat tangan Nakula.

"Nakula... bertahan ya, Sayang... Mama ada di sini. Jangan tinggalkan Mama..."

Begitu tiba di dalam ruang gawat darurat, seorang dokter pria berjas putih langsung mendekat.

"Apa yang sebenarnya terjadi pada pasien?"

"Dia kehujanan cukup lama di luar, Dok. Waktu saya menemukannya, dia sudah pingsan di halte. Dan sebelumnya," jawab Arunika.

Ekspresi dokter langsung berubah tajam dan serius. "Perawat, segera cek tanda-tanda vital sekarang!"

"Baik, Dok!"

Seorang perawat dengan cepat melilitkan manset pengukur tekanan darah di lengan kecil Nakula. Perawat lain memasangkan penjepit oksigen di jari mungilnya.

"Tekanan darah pasien menurun, Dok!" lapor perawat.

"Nadi teraba cepat dan lemah!"

"Suhu tubuhnya tinggi panas, tetapi bagian tangan dan kakinya sangat dingin!"

Dokter mengangguk tegas. "Pasang jalur infus segera! Selimuti tubuh pasien dengan selimut penghangat. Siapkan cairan infus hangat sekarang juga!"

Jarum infus ukuran kecil perlahan dimasukkan ke punggung tangan Nakula yang pucat. Arunika refleks memalingkan wajah sambil menggigit bibir bawahnya. Dadanya terasa sesak luar biasa melihat tangan mungil itu harus ditusuk jarum.

"Pelan-pelan, dia masih kecil," bisik Arunika lirih penuh iba.

Dokter kemudian mengambil senter medis kecil untuk memeriksa pupil mata Nakula.

"Saya juga melihat ada banyak memar di pelipis dan wajahnya. Kita harus memastikan tidak ada cedera serius atau pendarahan di dalam kepalanya."

Perawat lain mulai membersihkan luka-luka lecet di sudut bibir dan lutut Nakula menggunakan cairan antiseptik khusus. Meski dalam keadaan tidak sadarkan diri, bocah itu sempat meringis pelan kesakitan.

"Ugh..." rintih Nakula lemah.

"Nakula," panggil Arunika sambil mencengkeram erat kaki ranjang tindakan.

Dokter meraba dengan hati-hati bagian kepala dan lengan pasien. "Dari pemeriksaan fisik awal tidak tampak adanya patah tulang besar, tetapi kita tetap harus melakukan observasi lanjutan dan rontgen." Dokter menatap wajah Nakula yang babak belur, rahangnya mengeras. "Bu, luka-luka ini jelas bukan akibat terjatuh biasa dari sepeda."

Arunika menundukkan kepalanya dalam-dalam, air matanya kembali tumpah.

Dokter menepuk pundak Arunika pelan. "Untuk sementara, kondisi anak ini masih kritis dan membutuhkan observasi ketat di ruang ICU anak. Kami akan berjuang menstabilkan keadaannya."

Arunika mengangguk patah-patah. "Tolong selamatkan anak saya, Dok. Saya mohon."

Dokter mengangguk mantap. "Kami akan melakukan yang terbaik."

Di balik pintu ruang gawat darurat yang tertutup rapat, Arunika memejamkan mata erat-erat sambil mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya menancap ke telapak tangan. Siapa pun keluarga atau orang di rumah yang telah membuat Nakula menderita sampai sekecil ini, ia bersumpah tidak akan pernah membiarkan mereka hidup tenang setelah suaminya kembali dari perbatasan.

Drrt! Drrt!

Ponsel di dalam tasnya mendadak bergetar. Arunika segera merogoh dan mengambil benda tersebut. Matanya langsung membelalak kaget saat melihat nama yang tertera di layar.

Sebuah pesan singkat baru saja masuk dari sang jenderal.

"Nakula sedang apa di rumah? Biasanya jam sore begini dia senang duduk di ruang keluarga menonton televisi kesukaannya."

Arunika terdiam membeku. Jarinya berhenti di atas layar. Bagaimana mungkin Arjuna bisa tahu kebiasaan kecil putranya?

"Oh, pasti Wina yang melaporkan setiap detail kegiatan Nakula pada Arjuna."

Selama ini, Wina memang selalu memasang topeng seolah-olah ia adalah bibi yang sangat peduli dan menyayangi Nakula di depan Arjuna. Padahal kenyataannya di balik layar, wanita itu adalah monster kejam.

Arunika mendadak ragu ragu. Ia merasa sangat tidak tega mengatakan yang sebenarnya sekarang, di saat Arjuna sedang memimpin operasi militer penting di perbatasan. Namun, membiarkan kebohongan ini terus berlanjut juga terasa salah.

Dengan tangan gemetar, ia mengetik balasan singkat.

"Ya, dia sedang menonton televisi kesukaannya di kamar."

"Syukurlah kalau begitu. Bolehkah aku melakukan video call sebentar untuk melihatnya? Aku sangat merindukannya."

Mata Arunika langsung membelalak lebar. Video call?!

Arunika menatap layar ponselnya dengan panik luar biasa. Bagaimana mungkin ia melakukan panggilan video sekarang? Nakula sedang terbaring lemah di atas brankar rumah sakit dengan selang infus melingkar di tangan dan wajah penuh luka lebam lecet.

Arunika menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya mendadak kering.

"Ya Tuhan, gimana ini?"

Ia baru saja terpaksa berbohong pada suaminya sendiri. Dan sekarang, jenderal bermata elang itu ingin melihat langsung keadaan putranya dengan mata kepalanya sendiri.

Tangannya menggenggam ponsel itu semakin erat. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Arunika merasa begitu kebingungan.

Haruskah ia tetap menutupi kenyataan pahit ini demi tugas negara suaminya? Ataukah ia harus membongkar semua kebusukan keluarga Wiratama saat ini juga?

Masalahnya, kalau di bongkar sekarang apa Arjuna akan percaya? pikirnya.

1
Ita rahmawati
denger GK tuh kalian
Ita rahmawati
iya iya percaya,,hanya karena kasian aja kan 🤣
🇦 🇵 🇷 🇾👎
😫😫😅😅😅😅😅😅🤣🤣🤣🤣🤣giod
🇦 🇵 🇷 🇾👎
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣😅😅😅😀😀😌😌😫😫😫😫
🇦 🇵 🇷 🇾👎
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🇦 🇵 🇷 🇾👎
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Bunda SalVa
dari kasihan lama2 jadi bucin ya Jun 🤭🤭
Sri Rahayu
hahaha. bu Ratna....senjata makan tuan.... bukan Arunika yg hrs makan didapur...tp Ratna Wina dan Damar 🤩🤩🤩🤪🤪🤪... lanjut Thorr😘😘😘
Bunda SalVa
empuk banget kayak donat ya Nakula 😄😄
dyah EkaPratiwi
🤣🤣🤣🤣 arunika😍
Endang Sulistiyowati
senjata makan tuan, rasain tuh. Arunika di lawan
Mundri Astuti
ampun dah si arunika jangan keluarin bar"nya klo di kamar arun😂😂😂
Maria Lina
bagus juna jgn ngalah lgi ok..lanju lgi thor ya ya
dyah EkaPratiwi
gengsinya gede amat jendral
Mundri Astuti
😂😂😂
Sri Rahayu
walah Jendral ga usah malu2 gengsi ngakuin mulai tertarik dgn Arunika... pura2 hanya merasa kasihan 🤪🤪🤪🤩🤩🤩... lanjut Thorf😘😘😘
Endang Sulistiyowati
Rasa kasian yang di tumbuhi bunga2 cinta 🤭
Maria Lina
dsr sunderu li arjuna tar jatuh cintro lo wkwk
Melia Gusnetty
lagian si arjuna pulang tugas bukan anak kandung yg d gendong dn peluk...malah anak iblis...aneh..😏😏
Bunda SalVa
semangat buat gaaasss terus bab selanjutnya Kak 🫰🫰🤗🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!