NovelToon NovelToon
MEKANIK: Yang Diremehkan, Ternyata Mekanik Top 1 Dunia.

MEKANIK: Yang Diremehkan, Ternyata Mekanik Top 1 Dunia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rahmat Agung

Di dunia otomotif, uang bisa membeli mobil mewah, kekuasaan bisa membeli bengkel terbaik, dan nama besar bisa membuat seseorang dihormati. Namun, tidak semua orang memahami bahwa di balik setiap mesin hebat, ada seseorang yang benar-benar mengerti cara kerjanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmat Agung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 — PENGKHIANAT DI BALIK NAMA SURYA

Pagi belum sepenuhnya tiba ketika Arga Pratama membuka matanya.

Jam digital di samping tempat tidur menunjukkan pukul 04.17. Udara Jakarta masih terasa dingin, sementara suara kendaraan dari jalan raya terdengar samar melalui jendela penginapan.

Arga sebenarnya hanya tidur beberapa jam.

Pikirannya terus berputar pada dokumen yang diterimanya malam tadi. Nama Surya Wiratama muncul sebagai pemegang otorisasi cadangan akses terakhir proyek ARX-9. Namun, pesan anonim yang diterimanya justru memperingatkan agar ia tidak mempercayai pria tersebut.

Dua informasi yang saling bertentangan.

Dan keduanya belum memiliki bukti yang cukup untuk dijadikan pegangan.

Arga bangkit dari tempat tidur, mencuci muka, lalu duduk di depan meja kecil. Ia membuka buku catatan hitam yang selalu dibawanya sejak bekerja di Agung Joyo Motor.

Di halaman terakhir, ia menuliskan tiga pertanyaan.

Siapa yang mengotorisasi akses terakhir?

Siapa yang benar-benar menggunakan akses itu?

Siapa yang mengubah laporan setelah insiden ARX-9?

Arga menarik garis di bawah pertanyaan ketiga.

Selama lima tahun, semua orang hanya membicarakan kegagalan teknis proyek tersebut. Laporan resmi menyatakan bahwa kecelakaan pengujian terjadi akibat keputusan keliru dari kepala tim rekayasa.

Kepala tim itu adalah dirinya.

Namanya dicoret dari proyek. Lisensi profesionalnya dibekukan oleh perusahaan tempat ia bekerja. Orang-orang yang dahulu memujinya mendadak menjauh, sementara beberapa media otomotif memberitakan dirinya sebagai insinyur muda yang gagal mengendalikan eksperimen berisiko tinggi.

Arga tidak pernah menerima kesempatan yang layak untuk membela diri.

Bukan karena ia tidak memiliki penjelasan.

Melainkan karena dokumen yang seharusnya membuktikan penjelasannya dinyatakan tidak lengkap, dan sebagian rekaman penting tidak pernah ditemukan.

Kini, setelah lima tahun, potongan-potongan informasi mulai bermunculan.

Namun, semakin banyak petunjuk yang ia temukan, semakin sulit menentukan siapa yang bisa dipercaya.

Arga menutup buku catatan.

"Aku tidak akan menuduh siapa pun hanya karena sebuah nama," gumamnya.

Ia lalu bersiap menuju lokasi pertemuan yang disebutkan dalam pesan anonim.

Sebelum berangkat, ia mengirimkan pesan kepada Pak Darto.

Pak, pagi ini saya ada urusan penting sebelum kompetisi. Saya akan memberi kabar setelah selesai.

Balasan datang beberapa saat kemudian.

Hati-hati, Ga. Jangan biarkan masalah lama membuatmu lupa menjaga dirimu sendiri.

Arga membaca pesan itu sambil tersenyum tipis.

Pak Darto tidak pernah mengetahui seluruh kisah masa lalunya. Namun, pria itu selalu memahami bahwa ada sesuatu yang belum selesai dalam hidupnya.

Arga memasukkan ponsel ke saku dan meninggalkan penginapan.

Pagi itu, ia akan mencari jawaban.

Tetapi ia tidak akan datang dengan kepercayaan buta.

Tempat yang disebutkan dalam pesan berada di sebuah bangunan perkantoran lama di kawasan industri Jakarta.

Bangunan itu tidak tampak terbengkalai sepenuhnya. Sebagian jendelanya masih bersih, tetapi papan nama perusahaan yang dahulu terpasang di depan gedung telah dilepas. Hanya bekas lubang baut dan warna cat yang berbeda menjadi penanda bahwa tempat itu pernah digunakan untuk kegiatan bisnis.

Arga tiba pukul 05.26.

Ia tidak langsung masuk.

Dari seberang jalan, ia mengamati lingkungan sekitar. Sebuah mobil hitam terparkir di dekat pintu samping. Tidak ada orang yang terlihat di dalamnya.

Arga mengingat pesan yang melarangnya membawa Nadia atau memberi tahu Marcus. Ia juga mengingat pesan lain yang melarangnya mempercayai Surya.

Terlalu banyak larangan untuk sebuah pertemuan yang katanya akan mengungkap kebenaran.

Ia memotret bagian depan gedung dan mengirimkan lokasi kepada orang yang ia percaya. Setelah itu, ia melangkah menuju pintu utama.

Pintu tidak terkunci.

Di dalam, aroma debu dan cat lama memenuhi udara. Sebuah lorong sempit membentang menuju ruangan-ruangan bekas kantor. Lampu di langit-langit menyala sebagian, menciptakan bayangan panjang di lantai.

"Arga?"

Suara itu datang dari ujung lorong.

Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun muncul dari balik pintu. Ia mengenakan kemeja abu-abu sederhana dengan lengan digulung sampai siku.

Arga langsung mengenalinya.

"Pak Surya?"

Surya mengangguk.

"Aku tahu kamu akan datang."

Arga berhenti beberapa langkah darinya.

"Siapa yang mengirim pesan kepada saya?"

"Aku tidak mengirim pesan apa pun."

Jawaban itu terdengar terlalu cepat.

Arga menatapnya dengan saksama.

"Kalau begitu, mengapa Bapak ada di sini?"

Surya menghela napas.

"Karena ada seseorang yang menghubungiku tadi malam. Dia mengatakan kamu akan datang pagi ini dan menyuruhku membawa dokumen asli."

"Dokumen apa?"

Surya membuka tas selempangnya, tetapi tidak langsung mengeluarkan isinya.

"Catatan pengiriman komponen ARX-9. Ada halaman yang belum sempat kamu lihat ketika kita bertemu."

Arga teringat dokumen yang mereka periksa di bengkel tua.

"Apa yang belum saya lihat?"

"Halaman persetujuan pengiriman. Bukan hanya nomor komponen, tetapi juga nama orang yang mengizinkan pengiriman dilakukan di luar jadwal."

Arga mengulurkan tangan.

"Boleh saya melihatnya?"

Surya tidak segera menyerahkan dokumen tersebut.

"Ada sesuatu yang harus kamu pahami terlebih dahulu. Lima tahun lalu, aku memang bekerja sebagai teknisi pemasok. Tugasku hanya memastikan komponen dikirim sesuai permintaan. Aku tidak memiliki wewenang untuk mengubah sistem pengujian."

"Saya mengerti."

"Tidak, kamu belum mengerti." Suara Surya meninggi sedikit. "Setelah proyek itu gagal, aku juga diperiksa. Semua orang mencari seseorang untuk disalahkan. Aku kehilangan pekerjaan dan hampir seluruh tabunganku habis untuk menghadapi proses pemeriksaan."

Arga tetap diam.

Surya menatapnya dengan mata lelah.

"Aku tidak datang untuk meminta belas kasihan. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa bukan kamu satu-satunya orang yang kehilangan sesuatu karena kejadian itu."

"Apa Bapak pernah melihat laporan pengujian yang asli?"

Surya mengangguk pelan.

"Ya."

"Apakah laporan itu berbeda dengan versi yang diberikan kepada dewan direksi?"

Surya terdiam cukup lama.

"Itulah alasan aku menghubungimu."

Arga menahan napas.

"Jadi, Bapak memang menghubungi saya?"

"Aku mengirim pesan melalui seseorang yang bersedia membantuku. Aku tidak tahu apakah pesan itu sampai kepadamu dengan benar."

Arga segera teringat pesan anonim yang menyuruhnya membandingkan kode otorisasi.

"Apakah Bapak tahu siapa orang itu?"

"Dia tidak menyebutkan namanya."

Surya akhirnya mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari tasnya.

Di dalamnya terdapat beberapa lembar salinan dokumen, masing-masing dengan nomor halaman dan cap waktu.

Arga memeriksanya satu per satu.

Pada halaman ketiga, ia menemukan sesuatu yang membuat dahinya berkerut.

Nomor otorisasi pada dokumen itu cocok dengan pola yang ia temukan dalam arsip cadangan. Namun, nama pemegang akses berbeda dari nama yang muncul pada berkas anonim malam tadi.

Bukan Surya.

Bukan Marcus.

Dan bukan Adrian.

Nama yang tercantum adalah Kevin Santoso.

Arga menatap tulisan itu cukup lama.

Kevin.

Mantan anggota tim pengembangan yang pernah memberikan kesaksian bahwa Arga mengabaikan prosedur keselamatan.

Orang yang pernah berdiri di hadapan komite pemeriksaan dan mengatakan bahwa Arga tetap melanjutkan pengujian meskipun telah menerima peringatan teknis.

Arga mengangkat pandangan.

"Apakah Bapak yakin dokumen ini asli?"

"Aku tidak bisa menjamin salinannya tidak pernah diubah setelah berada di tanganku. Namun, catatan pengiriman yang asli pernah mencantumkan nomor yang sama."

"Kenapa Bapak tidak menyerahkannya kepada penyelidik waktu itu?"

Surya menunduk.

"Karena aku takut."

Jawaban itu membuat Arga terdiam.

"Aku tahu itu bukan alasan yang baik," lanjut Surya. "Tetapi saat itu, seseorang mengatakan bahwa jika aku menyerahkan dokumen tersebut, aku akan dituduh ikut membantu pelanggaran prosedur. Aku punya keluarga yang harus kuhidupi. Aku memilih diam."

Arga tidak langsung menghakiminya.

Ia tahu rasa takut dapat membuat seseorang mengambil keputusan yang keliru. Namun, ia juga tahu bahwa keputusan seperti itu bisa menghancurkan hidup orang lain.

"Kenapa sekarang Bapak berubah pikiran?"

Surya memandang dokumen di tangannya.

"Karena aku melihat namamu muncul lagi di berita kompetisi. Aku berpikir, kalau kamu kembali, mungkin sudah waktunya aku berhenti bersembunyi."

Arga hendak menjawab ketika terdengar suara pintu terbuka dari belakang mereka.

Keduanya langsung menoleh.

Seorang pria berdiri di ujung lorong.

Mengenakan jaket hitam, ia melangkah masuk tanpa tergesa-gesa. Wajahnya tampak familier bagi Arga, tetapi butuh beberapa detik sebelum ingatannya menemukan nama yang tepat.

Kevin Santoso.

Pria itu menatap Arga, lalu Surya.

"Sepertinya kalian sudah mulai membicarakan hal-hal yang seharusnya tetap terkubur."

Suasana ruangan berubah tegang.

Surya segera memasukkan beberapa dokumen ke dalam amplop. Arga tetap berdiri di tempatnya, mengamati Kevin tanpa menunjukkan keterkejutan.

Lima tahun telah mengubah penampilan Kevin. Rambutnya lebih pendek, wajahnya terlihat lebih matang, dan ada garis kelelahan di sekitar matanya.

Namun, tatapan itu masih sama.

Tatapan seseorang yang berusaha menyembunyikan sesuatu di balik sikap tenang.

"Kevin," kata Arga.

"Arga."

Keduanya saling menatap.

Tidak ada jabat tangan.

Tidak ada sapaan ramah.

Hanya keheningan yang dipenuhi kenangan buruk.

"Aku tidak menyangka kamu akan muncul di sini," ujar Arga.

Kevin tersenyum hambar.

"Aku juga tidak menyangka kamu akan kembali ke dunia otomotif. Kukira kamu sudah puas memperbaiki mobil di bengkel kecil."

Arga tidak terpancing.

"Kalau kamu datang hanya untuk menghinaku, kita tidak perlu membuang waktu."

"Aku datang karena Surya menghubungiku."

Surya langsung menggeleng.

"Aku tidak pernah menghubungimu."

Kevin memandang pria itu.

"Jangan berbohong. Ada orang yang mengirimkan salinan dokumen kepadaku. Mereka mengatakan kamu akan menyerahkan bukti kepada Arga pagi ini."

Arga menangkap sesuatu dari kalimat tersebut.

"Siapa yang mengirimkan dokumen itu kepadamu?"

Kevin tidak menjawab.

"Menarik," kata Arga. "Kamu tahu tentang pertemuan ini, tetapi tidak tahu siapa yang mengatur semuanya."

"Aku tahu lebih banyak daripada yang kamu kira."

"Kalau begitu, jelaskan kode otorisasi yang memakai namamu."

Wajah Kevin berubah.

Perubahan itu hanya berlangsung sesaat, tetapi Arga melihatnya.

"Aku tidak pernah mengotorisasi pengiriman komponen apa pun," jawab Kevin.

"Dokumen ini menunjukkan sebaliknya."

"Itu bisa dipalsukan."

"Mungkin." Arga mengangguk. "Karena itu aku belum menuduhmu."

Kevin tampak tidak menyangka jawaban tersebut.

Arga melanjutkan, "Aku ingin memeriksa tanda tangan digital, riwayat akses, dan catatan pengiriman aslinya. Kalau kamu memang tidak terlibat, bukti-bukti itu seharusnya membantu menjelaskan apa yang terjadi."

Kevin mengalihkan pandangan.

"Masalahnya tidak sesederhana itu."

"Kalau begitu, buatlah menjadi sederhana. Katakan apa yang kamu ketahui."

Kevin mengusap wajahnya.

Selama beberapa detik, ia terlihat seperti hendak berbicara. Namun, pada akhirnya ia kembali memasang ekspresi dingin.

"Kamu tidak tahu apa yang sedang kamu hadapi, Arga."

"Kalimat itu sudah terlalu sering kudengar."

"Karena memang benar!"

Suara Kevin menggema di lorong.

Ia menarik napas, kemudian berbicara lebih pelan.

"ARX-9 bukan sekadar proyek mesin. Ada perusahaan besar yang menginvestasikan dana, reputasi, dan teknologi di dalamnya. Jika proyek itu dinyatakan gagal karena kesalahan internal, saham perusahaan bisa jatuh dan kontrak bernilai besar akan dibatalkan."

"Jadi, seseorang mengubah laporan untuk melindungi perusahaan?"

Kevin tidak menjawab secara langsung.

"Aku tidak mengatakan itu."

"Tapi kamu juga tidak menyangkalnya."

Kevin mengepalkan tangan.

"Yang kutahu, setelah insiden itu, ada orang-orang yang memastikan seluruh kesalahan jatuh kepadamu. Aku diperintahkan memberikan kesaksian berdasarkan dokumen yang disediakan untukku."

Arga merasakan dadanya menegang.

"Dan kamu melakukannya."

Kevin menunduk.

"Ya."

Satu kata itu terasa lebih berat daripada semua alasan yang pernah diberikan orang lain.

Arga mengingat hari pemeriksaan lima tahun lalu. Ia ingat ruangan yang dingin, wajah para anggota komite, dan suara Kevin yang menyatakan bahwa dirinya telah mengabaikan peringatan.

Ia juga ingat bagaimana satu per satu rekan kerja menjauh setelah kesaksian tersebut.

"Apakah kamu tahu bahwa kesaksianmu menghancurkan karierku?" tanya Arga.

Kevin memejamkan mata sebentar.

"Aku tahu."

"Apakah kamu tahu bahwa aku tidak pernah menerima laporan peringatan yang kamu sebutkan?"

"Aku tahu sekarang."

Arga menatapnya tajam.

"Sejak kapan?"

Kevin tidak menjawab.

Surya melangkah maju.

"Kamu harus mengatakan semuanya, Kevin. Kami sudah terlalu lama diam."

Kevin menoleh tajam.

"Diamlah, Pak Surya. Bapak tidak tahu siapa yang akan terkena dampaknya jika semua ini terbuka."

"Setidaknya aku tidak lagi ingin bersembunyi di balik ketakutanku."

Kevin tertawa getir.

"Kalian masih berpikir kebenaran selalu cukup untuk menyelesaikan masalah?"

Arga menjawab dengan tenang.

"Tidak. Kebenaran tidak selalu membuat semuanya kembali seperti semula. Tapi tanpa kebenaran, kita bahkan tidak tahu apa yang harus diperbaiki."

Kalimat itu membuat Kevin terdiam.

Untuk sesaat, wajahnya kehilangan ketegangan. Ia terlihat seperti seseorang yang telah membawa beban terlalu lama.

Namun, sebelum ia sempat berbicara, ponselnya berdering.

Kevin melihat layar.

Ekspresinya langsung berubah.

Ia menolak panggilan itu.

Beberapa detik kemudian, sebuah pesan masuk.

Arga tidak bisa membaca seluruh isi layar dari tempatnya berdiri. Namun, satu kalimat terlihat jelas sebelum Kevin mematikan ponselnya.

Jangan biarkan Arga mendapatkan halaman terakhir.

Arga langsung menatap amplop di tangan Surya.

"Halaman terakhir," katanya pelan. "Dokumen apa yang belum kita lihat?"

Surya membuka amplop dan memeriksa isinya.

Wajahnya mendadak pucat.

"Halaman persetujuan terakhir tidak ada."

"Bagaimana mungkin?"

"Seharusnya ada di sini."

Kevin mundur selangkah.

Arga menoleh kepadanya.

"Kevin, siapa yang mengirim pesan itu?"

"Aku tidak tahu."

"Kalau kamu tidak tahu, mengapa wajahmu berubah seperti itu?"

Kevin tidak menjawab.

Tiba-tiba, suara mesin mobil terdengar dari luar gedung. Kendaraan hitam yang sebelumnya terparkir di dekat pintu samping mulai bergerak.

Surya bergegas menuju jendela.

"Mereka datang."

"Siapa?" tanya Arga.

Surya tidak sempat menjawab.

Dua orang berpakaian gelap masuk melalui pintu depan. Salah satunya membawa map perusahaan, sedangkan yang lain langsung melihat ke arah Surya.

"Pak Surya Wiratama?" tanya pria pertama.

Surya menegang.

"Siapa kalian?"

"Kami dari bagian kepatuhan perusahaan. Kami mendapat laporan bahwa ada dokumen internal yang dibawa keluar tanpa izin."

Arga segera menyadari situasi tersebut.

Mereka tidak datang secara kebetulan.

Seseorang mengetahui pertemuan itu dan telah menyiapkan alasan untuk mengambil dokumen Surya.

Pria kedua mengulurkan tangan.

"Serahkan amplop tersebut."

Surya memeluk tasnya erat-erat.

"Dokumen ini milik saya."

"Dokumen terkait proyek perusahaan bukan milik pribadi."

Arga melangkah ke samping Surya.

"Jika kalian memang petugas resmi, tunjukkan identitas dan surat kewenangan yang bisa diverifikasi. Kami tidak akan menyerahkan dokumen hanya berdasarkan permintaan lisan."

Kedua pria itu saling berpandangan.

Pria pertama mengeluarkan kartu identitas dari dompetnya, tetapi tidak memberikan kesempatan bagi mereka untuk memeriksanya lebih dekat.

"Kalian sedang menghambat proses pemeriksaan."

"Kami meminta prosedur yang benar," jawab Arga. "Bukan menghambatnya."

Ketegangan meningkat.

Kevin yang sejak tadi diam tiba-tiba bergerak ke arah pintu samping.

"Kevin!" panggil Arga.

Kevin berhenti, tetapi tidak menoleh.

"Aku tidak bisa terlibat lebih jauh."

"Kalau kamu pergi sekarang, kamu akan kembali membiarkan orang lain menentukan ceritanya."

Kevin mengepalkan tangan.

"Aku sudah melakukan kesalahan lima tahun lalu. Aku tidak tahu bagaimana memperbaikinya."

"Mulailah dengan berhenti melarikan diri."

Kevin terdiam lama.

Kedua pria berpakaian gelap itu mulai mendekat. Arga tidak ingin situasi berubah menjadi bentrokan. Ia memberi isyarat kepada Surya untuk tetap memegang dokumen, sementara dirinya meminta agar pemeriksaan dilakukan di hadapan pihak yang berwenang dan dapat diverifikasi.

Setelah beberapa menit perdebatan, kedua pria itu akhirnya mundur. Mereka meninggalkan gedung dengan peringatan bahwa masalah ini belum selesai.

Arga memperhatikan kendaraan mereka menjauh.

Ia tidak merasa lega.

Justru sebaliknya.

Kehadiran mereka membuktikan bahwa seseorang benar-benar sedang berusaha mendapatkan dokumen tersebut.

Dan orang itu memiliki informasi tentang pertemuan mereka.

Setelah keadaan kembali tenang, Surya duduk di kursi tua dekat dinding.

"Aku seharusnya membawa salinan ini ke tempat yang lebih aman," katanya.

Arga berdiri di hadapannya.

"Kita masih memiliki dokumen yang ada. Yang penting sekarang adalah memastikan tidak ada yang diubah dan mencatat asal-usulnya."

"Bagaimana dengan halaman terakhir?"

"Kita harus mencari tahu siapa yang mengambilnya atau apakah halaman itu memang tidak pernah berada di dalam amplop."

Arga menoleh kepada Kevin.

Pria itu masih berdiri di dekat pintu samping. Ia belum pergi.

"Apakah kamu akan tetap diam?" tanya Arga.

Kevin memandangnya lama.

"Ada satu hal yang harus kamu ketahui."

Arga menunggu.

"Malam sebelum insiden ARX-9, aku menerima panggilan dari seseorang di kantor pusat. Dia mengatakan bahwa ada perubahan jadwal pengujian dan aku harus memastikan tim menggunakan konfigurasi terbaru."

"Siapa yang meneleponmu?"

Kevin menggeleng.

"Aku tidak melihat namanya. Panggilan itu melalui saluran internal."

"Dan kamu menerima instruksi tersebut tanpa memeriksa dokumennya?"

"Aku memeriksa dokumen yang dikirimkan setelahnya. Dokumen itu terlihat sah."

"Siapa yang menandatanganinya?"

Kevin mengangkat pandangan.

"Adrian Voss."

Nama itu membuat ruangan kembali sunyi.

Arga tidak langsung bereaksi.

Ia sudah menduga Adrian memiliki hubungan dengan kejadian tersebut. Namun, dugaan bukanlah bukti. Tanda tangan pada dokumen juga belum membuktikan bahwa Adrian sendiri yang memberikan instruksi.

"Apakah kamu masih menyimpan dokumen itu?" tanya Arga.

Kevin mengangguk pelan.

"Sebagian."

"Di mana?"

"Di tempat yang tidak bisa kuakses lagi sejak aku meninggalkan perusahaan."

Arga menatapnya.

"Kalau begitu, kita perlu menemukan salinan yang masih tersimpan."

Kevin menghela napas.

"Ada hal lain. Setelah insiden, seseorang memberiku laporan yang harus kujadikan dasar kesaksian. Pada laporan itu tertulis bahwa kamu telah diberi peringatan sebelum pengujian dimulai."

"Aku tidak pernah menerimanya."

"Aku tahu. Belakangan, aku mencoba mencari rekaman pengiriman laporan itu. Tidak ada bukti bahwa laporan tersebut pernah dikirim ke akunmu."

Arga merasakan kemarahan lama kembali muncul, tetapi ia menahannya.

"Lalu mengapa kamu tidak mengatakan itu saat pemeriksaan?"

Kevin menunduk.

"Karena aku sudah terlanjur memberikan kesaksian. Jika aku menariknya, aku akan dituduh berbohong dan mungkin kehilangan pekerjaan. Aku memilih melindungi diriku sendiri."

"Dan membiarkan orang lain menanggung akibatnya."

Kevin tidak berusaha membantah.

"Ya."

Kejujuran itu datang terlambat lima tahun, tetapi tetap memiliki arti.

Arga tidak bisa langsung memaafkannya. Luka yang ditinggalkan kesaksian tersebut terlalu besar untuk dihapus oleh satu pengakuan.

Namun, untuk pertama kalinya, ia memiliki seseorang yang bersedia menjelaskan bagian dari kejadian malam itu.

"Kamu harus membuat pernyataan resmi," kata Arga. "Bukan hanya kepadaku. Kalau kamu benar-benar ingin memperbaiki kesalahanmu, semua yang kamu ketahui harus disampaikan melalui proses yang dapat diperiksa."

Kevin mengangguk lemah.

"Aku akan mempertimbangkannya."

"Jangan hanya mempertimbangkannya. Putuskan apakah kamu akan terus melindungi kebohongan atau mulai membantu mengungkapnya."

Kevin menatap lantai.

"Aku akan menghubungimu."

Ia kemudian meninggalkan gedung tanpa menoleh lagi.

Arga membiarkannya pergi.

Ia tahu Kevin belum tentu akan menepati janjinya. Namun, sekarang ia memiliki satu petunjuk baru yang bisa diperiksa.

Nama Adrian Voss.

Dan dokumen perubahan konfigurasi yang mungkin masih tersimpan.

Pukul 07.40, Arga tiba kembali di lokasi kompetisi.

Babak final akan dimulai dalam waktu kurang dari satu jam.

Ia sebenarnya ingin terus menyelidiki dokumen yang diterimanya, tetapi kompetisi itu juga memiliki arti penting baginya. Jika ia membiarkan masa lalu menguasai setiap keputusannya, ia akan kehilangan kesempatan untuk membuktikan bahwa dirinya masih mampu berdiri di dunia otomotif.

Di pintu masuk, Fajar sudah menunggunya.

"Ke mana saja kamu? Panitia mencarimu sejak pagi."

"Ada urusan yang harus diselesaikan."

Fajar memperhatikan wajahnya.

"Kamu baik-baik saja?"

"Ya."

Fajar tampak tidak sepenuhnya percaya, tetapi ia tidak memaksa.

"Babak final berbeda dari sebelumnya. Peserta akan bekerja dalam tim kecil untuk menganalisis sistem penggerak hibrida yang mengalami gangguan. Setiap tim harus menyusun diagnosis, menentukan prosedur pemeriksaan, dan menjelaskan alasan teknisnya di hadapan juri."

Arga mengangguk.

"Siapa anggota tim saya?"

Fajar memeriksa daftar.

"Arga Pratama, Dimas Prakoso, dan Rendy Mahardika."

Arga mengangkat alis.

"Rendy?"

"Pembagian tim ditentukan melalui sistem undian. Kami tidak mengubahnya."

Arga hampir tertawa kecil.

Setelah saling bersaing sejak babak pertama, kini mereka harus bekerja bersama.

"Apakah Rendy sudah diberi tahu?" tanyanya.

"Sudah. Dia tidak senang."

"Sepertinya itu bukan hal baru."

Fajar tersenyum singkat.

"Satu hal lagi. Adrian Voss meminta agar seluruh peserta menyerahkan catatan diagnostik setelah final selesai. Katanya, beberapa hasil pemeriksaan akan digunakan untuk evaluasi teknis."

Arga menatap Fajar.

"Apakah permintaan itu tercantum dalam aturan awal?"

Fajar menggeleng.

"Belum. Karena itu aku meminta panitia meninjau permintaannya terlebih dahulu."

"Bagus. Catatan peserta seharusnya diserahkan sesuai aturan yang jelas, bukan hanya karena seseorang meminta."

Fajar menatapnya dengan rasa hormat yang semakin besar.

"Aku mulai mengerti mengapa orang-orang lama membicarakanmu."

Arga tidak menjawab.

Ia berjalan menuju ruang peserta.

Di sana, Rendy sudah duduk dengan tangan terlipat. Ketika melihat Arga, ia langsung berdiri.

"Akhirnya datang juga."

"Pagi, Rendy."

"Jangan berpura-pura santai. Kita satu tim, tetapi jangan berharap aku mengikuti semua keputusanmu."

Arga meletakkan tasnya di atas meja.

"Aku juga tidak meminta kamu mengikuti semua keputusanku. Kita hanya perlu menemukan penyebab masalah dan menyampaikan hasil yang bisa dibuktikan."

Rendy mendengus.

"Kalau aku menemukan penyebabnya lebih dulu?"

"Bagus. Kita bisa memeriksanya bersama."

Jawaban sederhana itu membuat Rendy kesulitan membalas.

Dimas yang duduk di samping mereka menahan senyum.

"Sepertinya final ini akan lebih menarik daripada yang kita bayangkan," katanya.

Tepat pukul 08.30, bel kompetisi berbunyi.

Ketiga peserta memasuki area final.

Di tengah arena, sebuah kendaraan uji dengan sistem penggerak hibrida sudah disiapkan. Layar besar menampilkan deskripsi gangguan, batas waktu, serta prosedur keselamatan yang wajib dipatuhi.

Arga membaca instruksi dari awal sampai akhir.

Gejala utama kendaraan itu adalah kehilangan tenaga sesaat ketika sistem berpindah dari mode listrik ke mode pembakaran. Tidak ada kerusakan permanen yang tercatat, tetapi peringatan sistem muncul dalam kondisi tertentu.

Arga merasakan sesuatu yang aneh.

Gejala itu tidak sama dengan kasus ARX-9, tetapi ada kemiripan pada pola gangguannya.

Gangguan hanya muncul ketika beberapa kondisi bertemu.

Dan jika seseorang hanya membaca kode kerusakan, penyebab sebenarnya mungkin akan terlewat.

"Baik," kata Arga kepada kedua rekannya. "Kita mulai dengan mengumpulkan data. Jangan mengganti komponen sebelum kita memahami urutan gejalanya."

Rendy membuka mulut, seolah hendak membantah.

Namun, sebelum ia sempat berbicara, suara Adrian Voss terdengar dari pengeras suara.

"Para peserta final, sebelum memulai, saya ingin mengingatkan bahwa penilaian hari ini akan menjadi dasar pemilihan teknisi untuk program pengembangan otomotif internasional."

Arga mengangkat wajah ke arah panggung.

Adrian berdiri di samping Marcus Hale, mengenakan setelan gelap dengan ekspresi yang sulit dibaca.

"Peserta yang menunjukkan kemampuan analisis terbaik akan mendapatkan kesempatan mengikuti proyek khusus bersama mitra industri kami."

Tepuk tangan terdengar dari penonton.

Namun, Arga tidak ikut bertepuk tangan.

Ia memperhatikan sesuatu di belakang Adrian.

Pada layar kecil yang digunakan tim teknis untuk menampilkan data kendaraan, muncul sebuah notifikasi singkat sebelum segera menghilang.

SYSTEM ACCESS — ARX LEGACY PROFILE DETECTED.

Arga menatap layar itu dengan jantung berdebar.

ARX Legacy Profile.

Istilah yang tidak seharusnya muncul pada kendaraan uji kompetisi nasional.

Ia segera memeriksa kembali data awal yang ditampilkan sistem.

Notifikasi itu sudah tidak ada.

Seolah tidak pernah muncul.

"Arga?" panggil Dimas. "Ada apa?"

Arga mengalihkan pandangan ke kedua rekannya.

"Jangan lakukan perubahan apa pun dulu. Kita harus memeriksa konfigurasi sistem dengan hati-hati."

Rendy mengerutkan dahi.

"Kita kehilangan waktu."

"Lebih baik kehilangan beberapa menit untuk memastikan keselamatan daripada mengambil keputusan berdasarkan data yang belum lengkap."

Rendy hendak membantah, tetapi akhirnya ia diam.

Arga kembali menatap layar.

Sebuah pertanyaan baru muncul dalam pikirannya.

Apakah gangguan kendaraan ini benar-benar bagian dari tantangan yang disiapkan panitia?

Ataukah seseorang telah memasukkan konfigurasi lama ARX-9 ke dalam sistem pengujian?

Jika kemungkinan kedua benar, kompetisi ini mungkin bukan sekadar kompetisi.

Seseorang sedang menguji sesuatu.

Dan kali ini, Arga berada tepat di tengahnya.

Bersambung.

1
Rahmat Agung
🙏
Supendi Supendi
lanjut dan semangat terus thor💪
Supendi Supendi
semoga jalan ceritanya semakin menarik dan tidak membosankan🤣
Supendi Supendi
menarik thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!