Gu Chen hanyalah pemuda biasa yang keluarganya dihancurkan oleh kekuatan misterius. Namun, sebelum kematian menjemputnya, ia menemukan sebuah rahasia mengerikan: dunia tempatnya tinggal hanyalah papan permainan bagi makhluk-makhluk di luar pemahamannya.
Perang, kehancuran sekte, bahkan nasib para jenius ternyata telah diatur oleh tangan tersembunyi. Manusia hanyalah bidak, sementara para kultivator terkuat pun tidak lebih dari pion yang bisa dikorbankan kapan saja.
Gu Chen tidak memiliki bakat luar biasa ataupun kekuatan yang mampu mengguncang langit. Ia hanya memiliki kecerdasan, kesabaran, dan keberanian untuk menentang aturan permainan.
Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin mengerikan kebenaran yang ditemukannya.
Jika dunia ini adalah papan permainan, maka Gu Chen akan menemukan para pemainnya—dan membunuh mereka satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 — Nama yang Dimiliki Bai
“Selamat datang, penciptaku.”
Suara itu keluar dari mulut Bai, tetapi bukan suara Bai yang selama ini dikenal Gu Chen. Nada bicaranya lebih tua, tenang, dan mengandung keangkuhan seseorang yang tidak pernah merasa perlu menjelaskan tindakannya kepada orang lain.
Gu Chen mengarahkan pisaunya ke leher Bai.
“Kalau kau benar-benar pencipta, seharusnya kau tahu aku tidak suka sambutan seperti ini.”
Bai tersenyum tipis.
“Bahkan setelah semua ingatanmu dihapus, kau masih berbicara dengan cara yang sama.”
“Dan kau masih belum menjawab pertanyaanku.”
“Pertanyaan yang mana?”
“Siapa kau?”
Bai memiringkan kepala.
“Pertanyaan yang salah. Kau seharusnya bertanya siapa dirimu.”
Gu Chen menghela napas.
“Baiklah. Siapa diriku?”
“Orang yang menciptakanku.”
“Bagus. Kita sudah kembali ke awal.”
Lin Yue mengangkat busurnya, mengarahkannya kepada Bai. “Gu Chen, jangan biarkan dia terus berbicara. Kita tidak tahu apa yang sedang mengendalikannya.”
“Benar,” jawab Gu Chen. “Itulah alasan aku membiarkannya berbicara. Orang yang terlalu banyak bicara biasanya akan mengungkapkan sesuatu yang seharusnya disembunyikan.”
Bai tertawa.
“Cerdas. Namun, kecerdasanmu tidak akan membantumu kali ini.”
Tiba-tiba, seluruh botol kaca di dalam ruangan bergetar. Potongan-potongan kertas yang tersimpan di dalamnya bergerak liar, seolah-olah berusaha melarikan diri. Sebagian nama muncul di permukaan kaca, kemudian menghilang sebelum sempat dibaca.
Buku putih di atas meja membuka halaman baru.
\[IDENTITAS KETIGA: AKTIF.\]
\[PEMILIK TUBUH: BAI.\]
\[PEMILIK INGATAN: TIDAK DIKENALI.\]
\[KONFLIK IDENTITAS DIMULAI.\]
Gu Chen segera menyadari sesuatu.
“Bai masih ada di dalam tubuh itu.”
Sosok yang mengendalikan Bai tersenyum.
“Kau belajar dengan cepat.”
“Kalau Bai sudah benar-benar menghilang, sistem tidak akan menampilkan konflik identitas. Berarti kau tidak mengambil alih tubuhnya sepenuhnya.”
“Benar. Aku hanya membuka pintu yang selama ini dikunci.”
“Dan kau berharap aku membiarkanmu keluar?”
“Tidak. Aku berharap kau membantuku.”
Gu Chen tertawa pendek.
“Orang yang baru saja mengaku sebagai pencipta selalu mengatakan hal yang sama. Apa kalian semua belajar dari buku yang sama?”
Senyum sosok itu menghilang.
“Aku tidak menciptakanmu, Gu Chen. Aku menciptakan sesuatu yang jauh lebih penting.”
“Apa?”
“Kesempatan bagimu untuk dilahirkan kembali.”
Sebelum Gu Chen sempat menjawab, Bai tiba-tiba mencengkeram lehernya sendiri. Tubuhnya bergetar hebat, dan matanya yang hitam mulai kembali ke warna semula.
“Gu… Chen…”
Suara Bai yang asli akhirnya terdengar.
“Jangan… biarkan dia…”
Kalimat itu terputus.
Mata Bai kembali menghitam.
Sosok asing itu menghela napas.
“Sayang sekali. Kesadarannya masih terlalu kuat.”
Gu Chen tidak menurunkan pisaunya.
“Kalau kau ingin menggunakan tubuh Bai, kau harus melewatiku.”
“Kenapa kau peduli kepadanya?”
“Karena dia belum selesai membayar utangnya kepadaku.”
Lin Yue menoleh dengan ekspresi tidak percaya.
“Serius? Itu alasanmu?”
“Apakah kau punya alasan yang lebih baik?”
“Banyak.”
“Bagus. Simpan untuk nanti.”
Gu Chen bergerak cepat. Ia tidak menyerang leher Bai, melainkan menusukkan pisaunya ke lantai di samping kaki lelaki itu. Pada saat bersamaan, ia mengaktifkan Pemutus Benang.
Benang hitam yang nyaris tidak terlihat muncul dari belakang kepala Bai, menjulur menuju halaman terakhir buku putih.
Gu Chen segera menarik tangannya.
Rasa sakit menjalar dari ujung jarinya hingga ke bahu. Luka lama di telapak tangannya kembali terbuka.
Benang itu tidak putus.
Sebaliknya, sebuah simbol muncul di permukaannya.
\[PERINGATAN: HUBUNGAN INI BUKAN HUBUNGAN PENGAMAT.\]
\[PEMUTUS BENANG TIDAK DAPAT DIGUNAKAN.\]
Gu Chen mengatupkan gigi.
“Tentu saja. Kenapa sesuatu di tempat ini bisa berjalan normal?”
Sosok di tubuh Bai menatapnya dengan ketertarikan.
“Kau mencoba memutus hubungan antara aku dan tubuh ini. Tetapi hubungan kami tidak terbentuk melalui pengamatan.”
“Lalu melalui apa?”
“Penciptaan.”
Gu Chen terdiam sesaat.
Sosok itu melanjutkan, “Aku tidak mengamati Bai dari luar. Aku adalah bagian dari sesuatu yang digunakan untuk membentuknya. Ketika kau memutus benang, kau hanya melukai dirimu sendiri.”
Gu Chen menarik pisaunya dari lantai.
“Kalau begitu, aku harus mencari cara lain.”
“Tidak ada cara lain.”
“Kalimat itu sering kudengar. Biasanya, orang yang mengucapkannya berakhir dengan penyesalan.”
Ia memandang Lin Yue.
“Bantu aku menjauhkan Bai dari buku itu.”
Lin Yue tidak bertanya. Ia melepaskan anak panah yang menghantam meja di samping buku putih. Meja itu terguncang, membuat buku bergeser beberapa jari.
Seketika, tubuh Bai terhuyung.
Sosok asing tersebut menoleh tajam.
“Apa yang kalian lakukan?”
“Bermain,” jawab Gu Chen.
Ia melompat maju dan menarik Bai menjauh dari meja. Lin Yue menangkap lengan Bai dari sisi lain, membantu menyeretnya melewati rak.
Begitu jarak mereka bertambah, tulisan pada buku berubah.
\[KONEKSI MELEMAH.\]
\[IDENTITAS KETIGA: TIDAK STABIL.\]
Bai terjatuh berlutut. Ia mencengkeram kepala sambil mengerang.
“Gu Chen… cepat…”
Gu Chen berlutut di hadapannya.
“Bicara.”
“Ada… pintu…”
“Pintu apa?”
“Di belakang… rak terakhir…”
Sosok asing itu langsung mengangkat kepala.
“Jangan!”
Gu Chen menyeringai.
“Nah. Itu terdengar penting.”
Ia berlari menuju rak paling ujung. Di belakangnya, Lin Yue berusaha menahan Bai agar tidak kembali mendekati meja.
Gu Chen menemukan sebuah pintu kecil yang hampir menyatu dengan dinding. Pada permukaannya terukir sembilan garis dan sebuah lingkaran kosong.
Dua gelang kayu yang dibawanya mendadak menghangat.
Ia mengeluarkan keduanya. Gelang dengan sembilan garis bereaksi terlebih dahulu, sementara gelang yang memiliki lingkaran kosong tetap dingin.
Di balik pintu terdengar ketukan.
Satu kali.
Dua kali.
Lalu suara seorang anak laki-laki.
“Apakah kau akhirnya datang?”
Gu Chen membeku.
Suara itu terdengar persis seperti suaranya sendiri ketika masih kecil.
“Jangan buka pintu itu!” teriak Gu Yuan dari seberang ruangan.
Gu Chen menoleh.
“Kenapa?”
“Karena apa pun yang berada di dalam sana, ia tidak seharusnya bertemu denganmu.”
“Menarik. Berarti aku benar-benar harus membukanya.”
“Gu Chen!”
Gu Yuan bergerak mendekat, tetapi lantai di antara mereka mendadak terbelah. Dari celah itu muncul barisan tulisan hitam yang membentuk dinding tak terlihat.
Gu Yuan berhenti.
\[PENJAGA PAPAN KETIGA TIDAK MEMILIKI HAK UNTUK MEMASUKI RUANG ASAL.\]
Gu Chen memandang tulisan tersebut.
“Ruang Asal?”
Gu Yuan mengepalkan tangan.
“Tempat di mana sebuah identitas dibentuk sebelum diberi nama.”
“Dan kau tidak boleh masuk karena kau bukan penciptanya?”
Gu Yuan menatapnya dengan wajah muram.
“Karena aku pernah mencoba menghancurkan tempat ini.”
Gu Chen tidak menyangka akan mendengar jawaban tersebut.
“Kenapa?”
“Untuk menyelamatkanmu.”
Jawaban itu membuatnya terdiam.
Gu Yuan melanjutkan, “Aku mengetahui apa yang tersimpan di balik pintu tersebut. Aku tahu apa yang akan kau temukan jika membukanya. Dan aku tahu bahwa setelah kau melihatnya, kau tidak akan bisa kembali menjadi orang yang sekarang.”
Gu Chen menatap pintu kecil itu.
“Bukankah kau sendiri yang mengatakan aku berhak memilih?”
Gu Yuan tidak menjawab.
“Kalau begitu, biarkan aku memilih.”
Gu Chen mengulurkan tangan.
Namun, sebelum ia menyentuh gagang pintu, suara Bai terdengar dari belakangnya.
“Gu Chen, jangan buka.”
Gu Chen menoleh.
Bai berdiri dengan susah payah. Mata kanannya telah kembali normal, tetapi sisi kiri wajahnya masih dipenuhi garis-garis hitam yang bergerak seperti retakan.
“Bai?”
“Dengarkan aku. Apa pun yang dikatakan suara di balik pintu itu, jangan percaya.”
Gu Chen memandangnya.
“Kenapa?”
Bai menelan ludah.
“Karena aku pernah menjadi orang yang berada di dalam sana.”
Keheningan memenuhi ruangan.
Gu Chen perlahan menurunkan tangannya.
“Apa maksudmu?”
Bai menatap pintu itu dengan ketakutan yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya.
“Aku bukan manusia yang dilahirkan. Aku adalah identitas yang dibuat untuk menampung ingatan seseorang yang tidak boleh kembali ke dunia.”
“Ingatan siapa?”
Bai menutup mata.
“Ingatan pencipta.”
Gu Chen merasakan bulu kuduknya berdiri.
“Pencipta sembilan papan?”
“Bukan. Pencipta identitas pertamamu.”
Gu Yuan memejamkan mata, seolah-olah ia sudah menduga bahwa rahasia tersebut pada akhirnya akan terbongkar.
Bai melanjutkan, “Ketika orang itu menghilang, para pemain tidak mampu menghapus semua jejaknya. Sebagian ingatannya tersisa di luar sistem. Mereka mencoba memusnahkannya, tetapi Gu Yuan menyelamatkan sebagian kecil dari ingatan itu dan menyimpannya dalam sebuah identitas baru.”
“Bai,” gumam Gu Chen.
Bai mengangguk.
“Namun, aku bukan orang itu. Aku hanya wadahnya. Aku memiliki ingatan yang bukan milikku, ketakutan yang tidak pernah kualami, dan mimpi tentang kehidupan yang tidak pernah kujalani.”
“Lalu mengapa kau mengatakan kau mengenalku?”
“Karena sebagian ingatan itu berasal darimu.”
Gu Chen terdiam.
Bai menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Aku mengingatmu sebelum kau memiliki nama Gu Chen. Aku mengingat hari ketika kau berdiri di hadapan sembilan pemain dan mengatakan bahwa kau akan menghancurkan permainan mereka.”
Ia berhenti sejenak.
“Aku juga mengingat hari ketika kau membunuh orang yang menciptakanmu.”
Gu Chen merasakan sesuatu menghantam dadanya.
“Siapa yang kubunuh?”
Bai menggeleng.
“Aku tidak bisa mengingat wajahnya.”
“Kenapa?”
“Karena sebelum mati, orang itu memerintahkan agar wajahnya dihapus dari semua ingatan.”
Gu Chen menatap pintu.
Dari baliknya, suara anak kecil itu terdengar kembali.
“Bai berbohong.”
Bai langsung membeku.
Suara itu melanjutkan, “Dia bukan wadah ingatanku. Dia adalah bagian yang kubuang ketika aku mencoba menjadi manusia.”
Gu Chen perlahan menoleh kepada Bai.
Wajah lelaki itu memucat.
“Jangan dengarkan dia,” bisik Bai.
Namun, suara dari balik pintu terdengar lagi.
“Kalau kau ingin mengetahui siapa yang menciptakanmu, tanyakan kepada Bai mengapa dia memiliki dua nama.”
Gu Chen mengerutkan kening.
“Dua nama?”
Bai mundur satu langkah.
Gu Chen menatapnya tajam.
“Bai. Apa nama keduamu?”
Bai tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, lelaki itu tampak benar-benar ingin melarikan diri.
Gu Chen melangkah mendekat.
“Siapa namamu yang sebenarnya?”
Bai membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Di saat yang sama, pintu kecil itu terbuka sendiri.
Di baliknya berdiri seorang anak laki-laki berambut putih dengan mata hitam sepenuhnya. Wajahnya menyerupai Gu Chen, tetapi ekspresinya begitu tenang hingga terlihat tidak manusiawi.
Anak itu menatap Gu Chen.
“Namaku adalah nama yang kau buang.”
Kemudian ia memandang Bai.
“Dan nama keduaku adalah nama yang kau curi.”
Bai terhuyung mundur.
Anak itu tersenyum.
“Sudah lama, Bai.”
Ia mengangkat tangan kecilnya.
“Apakah kau masih mengingat siapa yang membunuhku?”
Bai jatuh berlutut.
Sementara itu, tulisan baru muncul di udara.
\[IDENTITAS KETIGA TELAH TERKONFIRMASI.\]
\[NAMA ASLI: TIDAK DAPAT DITAMPILKAN.\]
\[STATUS: PENCIPTA PERTAMA TELAH DITEMUKAN.\]
Gu Chen menatap anak laki-laki itu.
Lalu ia menoleh kepada Gu Yuan.
Ayahnya berdiri membeku, wajahnya dipenuhi penyesalan.
“Gu Yuan,” kata Gu Chen perlahan. “Kau bilang orang yang menciptakan identitas pertamaku adalah seseorang yang bahkan ditakuti para pemain.”
Gu Yuan menutup mata.
“Benar.”
Gu Chen kembali memandang anak itu.
“Apakah dia orangnya?”
Gu Yuan membuka mata.
“Tidak.”
Sebelum Gu Chen sempat bertanya lebih jauh, Gu Yuan mengatakan sesuatu yang membuat seluruh ruangan terasa membeku.
“Dia adalah orang yang dibunuh oleh pencipta identitas pertamamu.”
Anak berambut putih itu tersenyum semakin lebar.
“Dan sekarang,” katanya, “aku ingin kalian membantuku membunuhnya sekali lagi.”
Bersambung ke Bab 23 — Anak yang Pernah Dibunuh.