NovelToon NovelToon
Aku Pergi Setelah Kau Mendua

Aku Pergi Setelah Kau Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:110.5k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Naya selalu diabaikan Aslan, suaminya. Hingga suatu hari Aslan pergi dinas dan tak pulang selama tiga bulan.

Naya yang khawatir memutuskan untuk menyusulnya, Namun dia justru mendapati Aslan telah menikah siri dengan wanita lain secara diam-diam.

Tanpa marah dan tanpa meminta penjelasan, Naya memilih pergi dari kehidupan suaminya.
Namun, ketika Naya benar-benar menghilang, Aslan justru mulai menyadari bahwa kehilangan istrinya adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Sudah hampir tengah malam, Naya tidak juga pulang ke rumah.

Jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul sebelas lebih empat puluh. Lampu-lampu di lantai bawah masih menyala redup, menciptakan bayangan panjang di dinding. Aslan sudah berkali-kali menaiki tangga, berjalan menyusuri lorong, lalu berhenti di depan pintu kamar tamu. Ia mengetuk dua kali, tapi tidak ada yang membukanya. Dia yang penasaran akhirnya membuka pintu kamar tersebut

Ceklek.....

Pintu kamar terbuka. Kamar itu gelap gulita, seperti tidak ada orang.

Klik...

Lampu kamar menyala. Terlihat ranjang masih rapi. Koper Naya ada di sudut ruangan. Tidak ada baju yang digantung di balik pintu. Tidak ada charger yang tertancap di stop kontak. Seolah wanita itu tidak pernah tidur di kamar itu sama sekali.

Aslan berdiri di ambang pintu cukup lama, menatap ruangan itu. Ia mengeluarkan ponsel dari saku, menekan nomor Naya untuk kesekian kalinya. Panggilan berdering, tapi sama sekali tidak diangkat. Pesan yang ia kirim sejak sore juga masih belum dibaca.

“Naya benar-benar tidak pulang,” gumamnya lirih, suara serak karena menahan rasa kesal yang sudah menumpuk sejak tadi malam.

Ia turun kembali ke ruang tamu dengan langkah berat. Di sofa panjang, Liza duduk dengan kaki dilipat, mengenakan daster sutra tipis berwarna krem. Ranti duduk di kursi single di sebelahnya, memegang secangkir teh yang sudah dingin. Keduanya sudah menunggu Aslan bolak-balik sejak jam sembilan, dan kesabaran mereka terlihat menipis.

Liza yang sejak tadi memasang wajah kesal akhirnya angkat bicara. Nada suaranya manja tapi penuh sindiran. “Sudah, tidak usah dicari. Sekarang dia pasti sedang bersenang-senang dengan laki-laki lain. Lebih baik kamu ceraikan saja dia.”

Ranti langsung mengangguk setuju, wajahnya penuh kejijikan. “Iya. Tidak ada gunanya kamu mempertahankan perempuan liar seperti itu. Sudah tahu punya suami, tapi malah kelayapan sampai tengah malam. Malu-maluin keluarga saja.”

Aslan berhenti di tengah ruang tamu. Kalimat itu menusuk ego laki-lakinya. Ia mengepalkan tangan di sisi tubuh hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras, urat di pelipisnya sedikit menonjol. Bayangan Naya yang membentaknya di lorong, yang menolak membuat soto, yang pergi tanpa izin, dan kini menghilang hingga tengah malam, semuanya menyatu menjadi rasa marah yang panas.

“Dia benar-benar membuatku kesal,” ucapnya pelan, tapi nada suaranya penuh tekanan. “Dari dulu dia patuh. Sekarang tiba-tiba berani pergi seenaknya, tidak angkat telepon, tidak kasih kabar. Seolah aku ini bukan suaminya.”

Liza segera bangkit dari sofa. Ia mendekati Aslan dengan langkah lembut, lalu meraih lengan suaminya dan mengusapnya pelan naik-turun. Gerakannya penuh perhitungan, dirancang untuk menenangkan sekaligus mengalihkan perhatian. “Sudah, sayang… jangan marah terus. Nanti tekanan darahmu naik.” Suaranya berubah manja, hampir berbisik. “Lebih baik kita ke kamar saja. Adik bayi kangen, minta dijenguk.”

Aslan menoleh ke arah Liza. Wanita itu menatapnya dengan mata yang dibuat sendu, satu tangan masih mengusap lengannya, tangan yang lain sedikit menempel di perut yang belum terlihat membesar. Senyum tipis di bibirnya penuh godaan terselubung.

Ranti yang duduk di belakang mereka tersenyum puas. “Dengar istri itu, Aslan. Jangan buang waktu memikirkan perempuan yang tidak tahu diri. Liza butuh istirahat. Kandungannya lebih penting.”

Aslan menghela napas panjang. Rasa marah terhadap Naya masih menggerogoti, tapi di saat yang sama, kehadiran Liza di depannya terasa lebih mudah dikendalikan. Ia tidak perlu berdebat, tidak perlu dibentak, tidak perlu ditinggalkan begitu saja. Liza selalu ada, selalu manja, selalu siap mengalihkan perhatiannya.

Ia mengusap wajahnya kasar dengan satu tangan, lalu mengangguk pelan. “Baiklah… ayo ke kamar.”

Liza tersenyum lebih lebar. Ia menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Aslan, lalu menarik tangan suaminya menuju tangga. Ranti mengikuti di belakang dengan langkah tenang, seolah semuanya sudah berjalan sesuai rencana.

Di kamar utama, lampu sudah redup. Ranjang yang tadinya masih terasa asing kini sudah terbiasa diduduki Liza. Aslan membantu istrinya yang lebih mudanya berbaring, merapikan bantal di belakang punggungnya, lalu duduk di tepi ranjang. Pikirannya masih sempat melayang ke kamar tamu yang kosong, ke nomor Naya yang tidak diangkat, ke rasa kesal yang belum sepenuhnya reda.

Tapi Liza segera menarik perhatiannya kembali. Ia meraih tangan Aslan dan meletakkannya di perutnya. “Nanti kalau anak kita lahir, jangan sampai dia tahu ada drama seperti ini ya, sayang,” bisiknya. “Naya itu sudah tidak pantas jadi istri. Ceraikan saja. Biar kita tenang.”

Aslan tidak langsung menjawab. Ia menatap perut Liza yang masih datar, lalu ke wajah wanita itu yang penuh harap. Di luar jendela, langit malam Jakarta gelap tanpa bintang. Di suatu tempat di kota yang sama, Naya mungkin sedang duduk di suatu kafe, atau di kamar hotel, atau di mana pun, jauh dari rumah ini, jauh dari kendalinya.

Rasa kesal di dada Aslan perlahan bercampur dengan sesuatu yang lain, rasa takut yang samar. Takut bahwa Naya memang sudah tidak akan kembali dengan sukarela. Takut bahwa wanita yang dulu selalu menunggu di sofa dengan makanan dingin kini benar-benar memilih pergi.

Tapi ia menekan rasa itu dalam-dalam. Ego laki-lakinya menolak untuk mengakui bahwa ia sedang kehilangan kendali.

“Besok aku akan mengurusnya,” gumamnya akhirnya, lebih pada diri sendiri daripada pada Liza. “Kalau dia terus seperti ini, aku tidak akan tinggal diam.”

Liza tersenyum puas, lalu memejamkan mata sambil masih memegang tangan Aslan. Ranti yang berdiri di dekat pintu mengangguk pelan, lalu keluar dan menutup pintu meninggal sepasang suami istri itu.

Di dalam kamar yang redup, Aslan duduk diam di tepi ranjang. Ponselnya masih di genggaman, layar gelap. Ia sempat membuka daftar panggilan sekali lagi, menatap nama Naya di urutan paling atas. Jari-jarinya ragu di atas tombol panggil.

Tapi akhirnya ia mengunci layar dan meletakkan ponsel di atas nakas.

Di luar, malam semakin larut. Rumah itu terasa terbagi menjadi dua dunia: satu di kamar utama yang hangat oleh kehadiran Liza, dan satu lagi di kamar tamu yang kosong, menunggu seseorang yang mungkin tidak akan kembali malam itu.

Aslan menyandarkan tubuhnya ke headboard, menatap langit-langit. Rasa kesal masih ada. Rasa tidak berdaya mulai tumbuh. Dan di antara keduanya, ada satu pertanyaan yang tidak berani ia ucapkan keras-keras:

Liza mulai menindih tubuh Aslan. Dia menciumi leher suaminya, mulai merangsangnya.

"Akhhh..... Sayang" desah Aslan sambil mendongak menikmati sentuhan Liza

Liza tersenyum puas. Dia perlahan membuka semua baju yang di kenakan suaminya hingga membuat tubuh laki-laki itu polos tapa sehelai benangpun.

Liza terus menciumi tubuh suaminya, dari leher, dada, perut, hingga berhenti di benda pajang milik suaminya. Dia menggenggamnya, dan mengurutnya secara perlahan.

"Akhh....sayang, masukkan ke mulutmu" pinta Aslan sambil merem melek.

1
Talnis Marsy
resiko jadi selir atau selingkuhan ya kayak gitu Liza..cuma di jadikan pelampiasan sesaat..
sakit kan????
sunaryati jarum
Aslan dendam kamu pada Naya atas kesalahan kamu hanya membakar dirimu hingga hancur.Erland bukan lawanmu dia punya pertahanan kuat.Jika kamu berlanjut tidak akan lama lagi perusahaan kamu hancur, karena banyak pengeluaran untuk menyerang Erland
Agus Tina
Di cerita ini, Liza spt diposisikan sbg korban. Padahal itu akibat dari perbuatan sendiri ... jika memutuskan untuk menjadi pihak ketiga ya harus siap jika pihak kesatu kadang masih memikirkan pihak kedua, entah karena masih cinta, atau hal lainnya .
Ariany Sudjana
sama bodohnya semua 😂😂🤣🤣
sunaryati jarum
Lebih cepat lebih baik Erland ,ingat usia.Usia hampir empat puluh tahun usia krusial untuk hamil,namun jika Sang Pemberi sudah berkehendak tidak ada yang mustahil.
Ilfa Yarni
Hari Hari menuju bajagia Naya pantas mendapatkannyakarena Utah cukup dia menderita Karen'a Punya suami yg jahat Dan dia Salah memilih Dan skr Ada erlan yg mencintainya dgn tulus
Ntahlah
haaai kak
sunaryati jarum
Tanpa basa-basi langsung ke intinya, emak setuju, kalian sudah dewasa dan sudah mengenal lama.,tak perlu pacaran atau pertunangan langsung nikah.
Ilfa Yarni
asyik mereka akan menikah aku tunggu udangannya ya
sunaryati jarum
Erland sudah kebelet nikah,Nih.Ayo Naya dari pada jantungmu berdetak kencang terus -, terusan jika di dekat Erland,lebih baik segera terima cintanya dan nikah,agar tidak kebablasan
YuWie
sweet bgt er..tapi tetap waspada ya
yumi chan
wah cpt2 nkh aja thor..biar aslan kpnsan
Ilfa Yarni
wah erlan gercep nih udah tidur bareng aja Gpp sih jgn sampe gagal untuk yg kedua Kali ya erlan kekep trus naya ya sampe jadi oh ya jgn lengah aslan msh ga mau Kalah mending hancurkan sekalian drpd mengganggu trus
Ma Em
Thor jgn biarkan Aslan mengusik ketenangan perusahaan yg Erlan pimpin , biarkan Aslan jatuh akibat perbuatan nya sendiri dan istri sirinya yg sdh ketakutan tdk kebagian warisan untuk anak yg msh di dlm kandungan nya makin menderita .
sunaryati jarum
Aslan makin nekat tabiat serakah dan pelit mendominasi jiwanya.Sudah jelas kalah karena kesalahannya sendiri seharusnya membiarkan Naya menjual yang menjadi haknya.Akibat ulahmu yang menghalanginya kau berurusan dengan Erland.Kenekatanmu pada Erland akan membawa kehancuranmu sendiri, Erland hanya bertahan saja kamu kalah,apalagi nanti balik menyerang.
YuWie
jadi berlete2 perang urat sarafnya..ehh tapi faris hebat lho, apa2 dia tau.
Ariany Sudjana
terlalu lama Erland membiarkan Aslan bergerak, kenapa ga langsung dihancurkan saja?
YuWie
ternyata kekuatan erlan sebanding dg aslan..kupikir lebih besar perusahaan dan pengaruhnya.
sunaryati jarum
Udah berani panggil sayang
Ilfa Yarni
cieee udah mulai bilang sayang nih duh bsjagianya hatiku to jgn sampe lengah km lg perang melawan aslan yg ingin membobol data perusahaanmu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!