Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta bersama Arthur Bond, Rexana Nycekerh hidup bagai pajangan mahal di dalam sangkar emas. Demi menyelamatkan perusahan ayahnya yang terancam runtuh, Rex terpaksa menelan bulat-bulat dinginnya penghinaan dan tuduhan atas rahasia masa lalu yang enggan ia bocorkan. Namun, ketika kembali ke New York, takdir memainkan lelucon paling kejam.
Lexana, kakaknya sendiri, secara terang-terangan memamerkan kekasih barunya—Diedrick Glodereus Ashford.
Pria itu adalah pemilik masa lalu Rex, cinta pertamanya yang kini hadir kembali membawa dendam dan kepahitan.
Di tengah kepungan tuntutan keluarga yang tak berhati dan intrik kekuasaan, Rex harus berdiri sendirian di antara dua pria yang membencinya.
Akankah rahasia di balik perpisahan masa lalu mereka terkuak, atau justru Rex akan benar-benar hancur dalam permainan pembalasan dendam ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#7
Gema langkah kaki Arthur Bond di atas lantai marmer Mansion Mewah Bond terdengar bagaikan ketukan sepatu Algojo yang siap mengeksekusi korbannya.
Lampu gantung di ruang tengah menyala temaram, membiaskan bayangan panjang yang mencekam di antara dinding-dinding tinggi yang terasa makin menyempit.
Sret!
Arthur melempar jas mewahnya secara kasar ke atas sofa kulit, lalu membalikkan badan dengan napas yang memburu.
Wajah tampannya yang tadi diisi oleh senyum ramah di hadapan para bangsawan, kini meliuk dalam kepenuhan amarah dan penghinaan murni.
"Wanita sialan tidak berguna!" umpat Arthur nyaring, suaranya menggelegar memecah keheningan malam New York yang dingin.
Pria itu melangkah maju, memangkas jarak hingga berdiri tepat di depan Rex yang berdiri kaku dengan gaun hitamnya.
"Sama sekali tidak bisa menggoda pria elit!" cacinya, menunjuk wajah pucat Rex dengan telunjuknya yang gemetar oleh emosi.
"Itu artinya dirimu ini memang hanya bisa membuka kedua kakimu untuk kaum rendahan! Kau tidak punya kelas, Rex! Di depan pria sekelas Diedrick Ashford, kau hanya berdiri seperti patung es yang dungu!"
Rex menyandarkan punggungnya pada pilar kayu di belakangnya.
Tatapannya tetap redup, namun bibirnya yang pucat terangkat melengkungkan senyum sinis yang mengiris. Topeng dinginnya tidak pernah lepas, meski hatinya sudah menjadi abu.
"Aku bisa memikirkan masa depan pernikahan kita kedepannya, jika saja kau bisa naik ke ranjangnya tadi," bisik Arthur pelan, namun nadanya sarat akan desakan yang menjijikkan.
"Satu malam di ranjang Ashford, dan posisi perusahaan ayahmu aman selamanya. Tapi kau? Kau bahkan tidak bisa membuat pria itu membawamu keluar dari lantai dansa!"
"Kau suami yang sungguh menjijikkan, Arthur," jawab Rex datar, suaranya tenang tanpa getaran, seolah-olah dia sedang menilai busuknya seekor bangkai di tepi jalan.
Arthur tertawa lepas, sebuah tawa kering yang menggema pening di dalam ruangan.
"Terserah mulut sampahmu saja! Mau kau mengataiku menjijikkan atau iblis, kenyataannya aku adalah pemilik hidupmu saat ini! Kau dan ayahmu yang sakit-sakitan itu hanyalah benalu yang menempel di kekayaanku!"
Arthur melangkah mendekat, mengikis sisa jarak di antara mereka. Matanya menyipit, memancarkan dengki yang sudah lama mengendap terhadap nama besar Ashford.
"Kesombongan seorang Diedrick Ashford itu wajib dibungkam oleh bekas pria rendahan mantan kekasihmu itu," cemooh Arthur dengan nada berseri-seri yang mengerikan.
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana dia menidurimu nanti. Casanova terhormat New York yang dipuja-puja para wanita, menyentuh barang bekas yang pernah ditiduri oleh pria jalanan tak bernama... Ha! Casanova seperti dirinya tentu tidak ada harga dirinya lagi jika menyentuh—"
"Tutup mulutmu!"
Suara Rex meledak murka.
Mata tajamnya yang biasanya redup mendadak memancarkan kilatan api yang begitu pekat.
Rahasia dan kenangan tentang mantan kekasihnya adalah satu-satunya kuil suci yang tersisa di dalam jiwanya yang hancur—dan dia tidak akan membiarkan Arthur mengotorinya dengan lidah beracun itu.
Arthur sedikit terkejut melihat respon emosional istrinya, namun senyum miringnya justru makin melebar.
Rex menelan ludahnya yang terasa pahit, menahan gemetar di dadanya. "Kalau aku bisa naik ke ranjangnya malam ini... apa kau bisa membebaskanku, sialan?"
Arthur menaikkan kedua alisnya, menatap Rex dari atas ke bawah seolah-olah baru saja mendengar lelucon paling menarik tahun ini.
"Tidak hanya membebaskanmu," sahut Arthur mantap, mencondongkan tubuhnya hingga hembusan napas beraroma alkohol menerpa wajah Rex.
"Aku bahkan akan menceraikanmu detik itu juga! Kau bebas. Dan aku bahkan tidak peduli kau hamil putranya sekalian. Beruntunglah kamu menjadi istriku... aku memberikan jalan keluar yang sangat murah untuk wanita seperti dirimu."
Rex membalas tatapan itu dengan tatapan penuh rasa jijik yang mendalam.
Sebuah derai tawa dingin lolos dari tenggorokannya.
"Ciiih! Beruntung apa?" desis Rex tajam, menancapkan tatapannya lurus ke dalam pupil mata Arthur.
"Kau bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mantan kekasihku. Pria yang kau sebut rendahan itu... seribu kali lebih terhormat daripada suami sah yang menjual istrinya sendiri!"
DUARRR!
Kata-kata Rex bagaikan ledakan bom yang menghantam keangkuhan Arthur. Wajah pria itu memerah padam seketika, urat-urat di lehernya menegang hebat.
"Hoo... kau baru saja membanggakan mantan kekasihmu yang rendahan itu?!" gertak Arthur dengan suara melengking murka.
"Begitu?! Kau tidur dengannya bertahun-tahun, lalu menikah denganku karena uangku! Oh... jangan-jangan kau berniat mau kembali padanya setelah kita kembali ke New York, huh?! Sialan! Bitch!"
Tanpa peringatan, tangan Arthur terangkat kasar, mencengkeram kedua bahu Rex dan menghempaskan tubuh wanita itu ke atas sofa panjang.
Rex meringis saat punggungnya menghantam busa sofa dengan keras.
Sebelum dia sempat bangkit, tubuh besar Arthur sudah menindihnya dari atas.
Jemari Arthur yang kasar mencengkeram pergelangan tangan Rex, menguncinya di atas kepala.
Matanya menyala oleh nafsu dan dendam yang bercampur menjadi satu. Arthur seakan ingin memperkos*nya detik itu juga, menancapkan dominasinya yang runtuh akibat pujian Rex pada pria masa lalu.
"Jangan sentuh aku, brengsek!" teriak Rex histeris, bertarung sekuat tenaga menendangkan kakinya dan memalingkan wajahnya dari ciuman paksa Arthur.
"Kenapa?!" bentak Arthur tepat di depan wajah Rex, napasnya yang memburu terasa mencekik. "Bukankah kau haus akan sentuhanku selama empat tahun pernikahan ini?! Kau berlutut dan memohon padaku, bukan?! Layani aku... layani aku sekarang, Rex sialan!"
"Tidak! Aku tidak sudi!" jerit Rex, matanya membelalak penuh ketakutan dan rasa jijik yang luar biasa.
Jemari tangannya yang terkunci berusaha mencakar lengan Arthur, bertarung demi sisa-sisa kehormatan terakhirnya.
"Lepaskan aku, Arthur!"
Perlawanan sengit dari Rex membuat gerakan Arthur terhenti sejenak. Pria itu menahan tubuh Rex yang terengah-engah di bawahnya.
Tiba-tiba, kemarahan di wajah Arthur perlahan luntur, berganti menjadi sebuah senyuman sinis yang teramat mengerikan.
Pria itu terkekeh pelan, tawa beracun yang membuat bulu kuduk Rex berdiri kaku.
"Jangan bilang..." bisik Arthur pelan, matanya menyipit penuh spekulasi jahat.
"Saat lampu ballroom mati tadi... kau sudah dibisiki oleh pria Ashford itu?"
Jantung Rex terhenti berdetak seribu detik.
Arthur menundukkan kepalanya, menatap wajah Rex yang kaku dengan pandangan menelisik yang tajam.
"Kalian akan bertemu tanpa sepengetahuanku, kan? Oh... kenapa aku tidak sadar dari tadi? Kalian berdansa begitu intim, kalian berbisik-bisik... Ku rasa kau memang harus diberi pelajaran malam ini agar tidak lupa siapa pemegang rantaimu!"
Umpatan demi umpatan emosi terus meluncur dari mulut Arthur.
Pria itu mulai menarik kasar gaun hitam Rex, menepis setiap rontaan dan pukulan jari-jemari Rex yang kian melemah.
Rasa putus asa menyelimuti benak Rex.
Dia tahu, jika malam ini Arthur menyentuhnya secara paksa, seluruh sisa jiwanya akan mati sepenuhnya.
Dalam kegentingan yang membakar itu, sebuah ide nekat dan dusta yang mematikan terlintas di dalam kepala Rex.
Sebuah perjudian gila di atas neraka hidupnya.
"Ya!" teriak Rex nyaring, menyela bentakan Arthur.
"Kami akan bertemu lagi!"
Gerakan tangan Arthur yang hendak merobek gaun Rex mendadak terhenti di udara. Pria itu menatap istrinya dengan napas memburu.
"Apa kau bilang?"
Rex menelan rasa perih di tenggorokannya, memaksakan matanya menatap lurus mata Arthur tanpa kebohongan yang bergetar.
"Kami akan bertemu lagi," ulang Rex tegas, menyusun dusta paling berbahaya yang pernah dia katakan.
"Di penthouse-nya... besok malam."
Deg.
Keheningan mencengkeram ruang tengah mansion itu.
Udara terasa membeku seketika.
Rex menahan napasnya, bersiap menerima amukan atau pukulan dari Arthur akibat pengakuan tersebut.
Namun, bukannya marah atau mengamuk gila... Arthur justru perlahan melepaskan cengkeramannya dari tangan Rex.
Pria itu menegakkan tubuhnya, berdiri di samping sofa sembari menatap Rex dengan pandangan yang perlahan berubah menjadi berbinar gembira.
Sebuah senyum lebar yang sangat puas dan beracun terukir di wajah Arthur.
Bukannya terhina karena istrinya mengaku akan menemui pria lain, Arthur justru merasa usahanya memancing Casanova Ashford telah berhasil sepenuhnya.
"Besok malam... di penthouse-nya?" ulang Arthur, suaranya kini terdengar begitu renyah dan penuh kemenangan.
Rex perlahan bangun dari sofa, merapikan gaunnya yang kusut dengan tangan yang gemetar hebat.
Dia tidak menjawab, hanya mengangguk kaku.
"Bagus... sungguh istri yang sangat penurut," ujar Arthur tertawa pelan, mengusap bahu Rex yang dingin seolah-olah wanita itu baru saja memenangkan sebuah trofi untuknya.
"Pergilah. Pergi dan layani dia sebaik mungkin besok malam. Aku akan menyiapkan dan mengirimkan dokumen kontrak kerja sama besar kami ke kantor Ashford setelah kau menyelesaikan tugasmu."
Arthur membalikkan badan, melangkah santai menuju tangga lantai dua sembari bersiul kecil, meninggalkan Rex yang duduk sendirian di atas sofa.
Dalam remang cahaya lampu ruangan, Rex memeluk tubuhnya sendiri yang gemetar.
Dusta baru saja menyelamatkannya dari perkaosan malam ini, namun sekaligus menyeretnya ke dalam jurang yang jauh lebih mengerikan besok malam: mendatangi penthouse Diedrick Glodereus Ashford tanpa janji, tanpa ikatan, dan tanpa jalan untuk kembali.
dan diedrick pria ashford paling bar" gak bisa tahan🤣