Sejak ibunya meninggal, hidup Bima berubah menjadi neraka setelah ayahnya membawa istri baru dan anak tirinya yang egois, membuatnya diperlakukan seperti pesuruh dan orang asing di rumahnya sendiri.
Puncaknya, ia difitnah mencuri barang berharga dan diusir begitu saja tanpa ampun, membawa luka hati yang mendalam serta sebuah kotak peninggalan misterius dari mendiang ibunya.
Tak disangka, kotak rahasia itu menjadi kunci bagi Bima untuk bangkit dari titik terendah, bermetamorfosis menjadi sosok sukses dan berpengaruh besar yang siap membuat keluarga pembuangnya bertekuk lutut memohon pengampunan.
Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Sore hari merambat turun, membawa hembusan angin dingin yang menusuk hingga ke tulang.
Suasana di depan gerbang kediaman mewah keluarga Hendra tampak riuh dan dipenuhi gerombolan orang asing berbadan tegap.
"Kalian tidak berhak menyegel rumah pribadi saya! Ini aset atas nama keluarga!" teriak Hendra histeris di halaman depan.
Pria berjas hitam yang memimpin tim eksekusi itu hanya tersenyum tipis, menatap dingin kemarahan Hendra yang meledak-ledak.
"Maaf, Tuan Hendra, seluruh aset pribadi Anda telah dijaminkan secara sah untuk melunasi tumpukan utang perusahaan yang gagal bayar," jawab pemimpin itu dengan nada datar.
"Tidak mungkin! Kontrak yang kita tandatangani semalam sama sekali tidak mencantumkan penyegelan rumah pribadi!" bantah Hendra ngotot, jari telunjuknya menunjuk-nunjuk lembaran surat di tangan sang penagih.
"Anda sendiri yang menandatangani klausul tambahan di halaman lampiran terakhir, yang sayangnya tidak sempat Anda baca semalam," balas penagih itu dengan nada menyindir.
Seketika itu juga, sekujur tubuh Hendra mendadak lemas, lututnya hampir ambruk menghantam lantai paving halaman rumahnya.
"Semua ini terjadi karena kebodohanmu sendiri, Ayah!" rintih Rina histeris, mencengkeram lengan suaminya dengan putus asa.
"Kenapa kamu malah menyalahkanku?! Kamu juga ikut menikmati fasilitas mewah dari uang perusahaan selama ini!" balas Hendra membentak, urat-urat lehernya menonjol keluar.
"Cukup! Jangan malah bertengkar terus di tengah jalan seperti orang gila!" seru Kevin ikut campur, wajahnya menyiratkan kekesalan tingkat tinggi.
Sorot mata Kevin beralih menatap para pria berjas hitam itu, memancarkan amarah khas anak manja yang tak terima dunianya runtuh.
"Hei, kalian om-om seram, tahu tidak siapa ayahku?! Kalau ayahku lapor polisi, kalian semua bakal dijebloskan ke penjara!" ancam Kevin dengan nada arogan.
Pemimpin penagih utang itu kontan tertawa sinis, meremehkan ancaman kekanak-kanakan yang keluar dari mulut Kevin.
"Silakan saja lapor polisi. Tapi sebelum itu, kartu kredit dan ponsel mewahmu ini sudah lebih dulu diblokir pihak bank atas permintaan kurator pailit," ucap penagih itu dingin sebelum merampas dan melempar ponsel Kevin ke tanah.
Prang!
Layar ponsel mahal milik Kevin langsung retak berkeping-keping menghantam kerasnya lantai paving.
"Ponselku!" teriak Kevin histeris, tubuhnya langsung merosot berlutut demi memunguti serpihan benda kesayangannya itu.
"Kalian benar-benar penjahat! Akan kuadukan kalian semua pada om-ku yang punya pengaruh besar di kota ini!" isak Kevin diiringi kemarahan yang membuncah.
"Silakan hubungi siapa pun yang kalian mau, tapi waktu kalian untuk mengemas pakaian sudah habis," ujar penagih itu tanpa ekspresi.
Dua orang berbadan tegap mulai merentangkan dan menempelkan stiker segel merah berukuran raksasa bertuliskan ASET INI DISELESAIKAN OLEH KURATOR tepat di daun pintu utama rumah mewah itu.
Klar...
Suara tarikan selotip besar yang kasar menggema, merekat erat pada kusen pintu kamar depan.
Tangisan Rina semakin melengking pecah, menyaksikan rumah impian tempat ia berpijar direbut paksa di depan matanya sendiri.
"Di mana tas pakaian kami?! Jangan berani-berani mengambil barang berharga milikku!" raung Rina histeris dari ambang pintu.
"Seluruh isi rumah ini sudah resmi disita, kalian hanya boleh membawa pakaian yang melekat di badan saja," jawab penagih itu tanpa secercah pun belas kasihan.
Sementara itu, Hendra berdiri mematung dengan tatapan kosong nan nanar, menatap bangunan megah tempat ia merajai masa kejayaan selama belasan tahun terakhir.
Seluruh fondasi palsu yang dibangun dari hasil tipu daya dan pengkhianatan di masa lalu kini runtuh berkeping-keping tanpa sisa.
"Apakah ini karma karena dulu aku tega membuang Bima?" batin Hendra mulai dirayapi rasa penyesalan yang teramat pekat.
Bayangan wajah Bima saat diusirnya di bawah guyuran hujan lebat mendadak melintas tajam di dalam benaknya.
"Tidak... Bima hanyalah anak bodoh, dia tidak mungkin punya kemampuan untuk merencanakan kehancuran sebesar ini," gumam Hendra berontak, mencoba menepis bayangan itu.
Namun, realitas pahit yang terpampang nyata di hadapannya membuktikan bahwa keluarganya kini benar-benar telah musnah tak bersisa.
"Cepat keluar dari area properti ini sekarang juga, atau kami terpaksa memanggil aparat keamanan," usir penagih utang itu dengan nada penuh ancaman.
Dengan langkah gontai dan terkulai lemas, Hendra, Rina, dan Kevin terpaksa menyeret kaki keluar meninggalkan gerbang rumah mewah yang selama ini mereka banggakan.
Pintu gerbang besi yang tinggi menjulang itu lantas dibanting menutup dan dikunci dengan gembok besar tepat di depan hidung mereka.
Klotak...
Suara hantaman besi terkunci mati itu seolah menjadi vonis bahwa mereka resmi menjadi gelandangan baru di kota ini.
Sang surya perlahan tenggelam di ufuk barat, menyisakan langit senja berwarna merah jingga yang tampak begitu suram.
Ketiganya berdiri termangu di tepi jalan raya yang bising, tanpa membawa uang sepeser pun di saku pakaian mereka.
"Kita harus tidur di mana malam ini, Pa?" tanya Rina dengan suara parau yang tersendat air mata.
"Aku tidak tahu..." jawab Hendra lirih, jemarinya mencengkeram erat kepala yang terasa berdenyut hebat.
"Aku lapar! Cepat belikan makanan pakai uangmu, Pa!" protes Kevin merengek tak tahu situasi bagaikan anak kecil kelaparan.
"Uang apa lagi yang kamu harapkan, Kevin?! Seluruh rekening kita sudah diblokir pihak bank!" bentak Hendra, meluapkan emosi yang sudah di ujung tanduk.
Kevin seketika terdiam kaget, menyadari bahwa sang ayah kini benar-benar sudah tidak memiliki apa pun untuk diandalkan.
Untuk pertama kalinya dalam catatan hidup mereka, keluarga toksik itu harus menelan pahitnya terlempar ke bawah garis kemiskinan.
Sementara itu, dari balik jendela kaca sebuah kafe di lantai atas yang terletak tepat di seberang jalan raya, seseorang tengah mengamati gerak-gerik mereka.
Bima duduk dengan santai, menyapukan pandangan matanya yang tajam ke arah tiga sosok malang yang berdiri terlunta-lunta di tepi jalan.
Sruut...
Bima menyeruput perlahan es cokelat di dalam gelas plastik yang ada di genggamannya.
"Pemandangan sore ini sungguh indah," batin Bima, menyunggingkan senyuman dingin melihat kehancuran keluarga Hendra.
Tidak ada secercah pun rasa kasihan di hatinya melihat sang ayah kandung dan ibu tiri kini terlunta-lunta tanpa arah di jalanan.
Mereka hanya sedang memetik buah dari segala perbuatan keji dan nista yang mereka tabur di masa lalu.
Tiba-tiba, ponsel di dalam saku jaket Bima bergetar pelan, menandakan sebuah pesan masuk.
Bzzrt...
Bima segera menyentuh layar ponselnya untuk membuka pesan kiriman dari Rian.
"Tuan Bima, rumah mewah utama mereka sudah resmi disegel kurator atas nama perusahaan kita," tulis Rian dalam laporan singkatnya.
"Kerja bagus, biarkan mereka merasakan malam pertama tidur di pinggir jalan raya," balas Bima mengetik cepat dengan senyum penuh kemenangan.