Mireya Ananta diceraikan suaminya karena tubuhnya yang gemuk.
Terusir tanpa harta, ia hanya memiliki uang dua puluh ribu rupiah dan terpaksa mencari pekerjaan.
Sebuah lowongan membawanya ke kediaman Arven Zarreti, tuan tanah bengis yang memiliki perkebunan luas di sebuah desa.
Arven membutuhkan seseorang untuk mengasuh Elden, putranya yang berusia lima tahun dan menolak sekolah karena takut bertemu orang lain.
Awalnya, Arven menguji Mireya terlebih dahulu, apakah benar di bisa membuat Elden makan tanpa harus dipaksa. Ternyata, berbekal pengalaman mengasuh anak kakak iparnya, Mireya dengan mudah membuat Elden menikmati makannya.
Keesokan hari, Penghulu datang ke rumah itu.
"Kita menikah!"
Jadi lah, beberapa hari usai cerai, Mireya langsung menjadi istri pria bernama Arven.
Mireya menjadi ibu sambung bagi Elden, dan mengurus lahan pertanian milik Arven. Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Seseorang di Balik Ini Semua
Kerumunan itu tiba-tiba mematung. Mereka terlihat saling pandang. Tidak ada lagi yang berani berteriak.
Arven berdiri dengan kedua tangan berpangku di dada. Tatapannya menyapu seluruh wajah di hadapannya.
“Sekarang, katakan padaku! Siapa yang mengatakan bahwa upah kalian sengaja ditahan?”
Seorang petani mengangkat tangan dengan ragu. “Saya, Tuan.”
“Dari siapa kau mendengarnya?”
Pria itu menelan ludah. “Dari seseorang, Tuan."
“Siapa?”
“Saya kurang tahu dia siapa.”
Alis Arven sedikit terangkat. “Tidak tahu tentang orangnya, tetapi kalian langsung percaya?”
Beberapa petani mulai menunduk.
Pria itu akhirnya menjawab, “Dia bilang bekerja di perusahaan yang mengelola lahan Tuan.”
Arven menatap mereka satu per satu.
“Dia juga bilang pembayaran kami sengaja ditahan karena Tuan sedang mengalami masalah keuangan.”
Suasana langsung hening.
Arven menatap Pak Can. “Panggil bagian keuangan.”
“Baik, Tuan.” Pak Can segera menghubungi kantor.
Tidak lama kemudian, seorang staf datang membawa berkas pembayaran.
Arven membuka dokumen tersebut. “Pembayaran mereka tertunda?”
“Benar, Tuan. Dua hari.”
“Kenapa?”
“Ada kesalahan pencatatan hasil panen dari salah satu wilayah. Setelah diperbaiki, pembayaran sudah diproses.”
Arven menutup berkas itu.
“Jadi kalian memang terlambat menerima upah.”
Para petani kembali saling pandang.
“Tetapi bukan karena aku tidak mau membayar.”
Tidak ada yang menjawab.
Arven menyerahkan berkas tersebut kepada Pak Can.
“Bawa kepada perwakilan mereka.”
Pak Can melakukannya.
Beberapa petani mulai membaca dokumen tersebut. Wajah mereka perlahan berubah.
Salah seorang pria menghela napas. “Berarti dia berbohong…”
“Bukan hanya soal upah,” ucap Arven. Semua kembali menatapnya.
“Dia sengaja membuat kalian marah kepadaku.”
Pria paruh baya yang sejak tadi menjadi perwakilan warga mengangguk perlahan.
“Dia memang menyuruh kami berhenti bekerja.”
“Dia mengatakan apa lagi?”
Pria itu berpikir sejenak.
“Katanya kalau kami berhenti bersama-sama, Tuan pasti datang.”
Arven menyipitkan mata. “Lalu?”
“Dia bilang… Tuan akan marah.”
Beberapa warga mengangguk.
“Dia bilang Tuan akan mengusir kami.”
Arven terdiam.
Jadi, orang itu bukan sekadar menyebarkan kabar palsu.
Ia mengetahui sifat Arven. Ia tahu para petani takut kepadanya. Dan ia menggunakan ketakutan itu untuk membuat mereka bergerak.
“Pak Can.”
“Ya, Tuan.”
“Cari tahu siapa orang yang datang kemarin.”
“Baik.”
“Mulai dari siapa yang melihatnya.”
Pak Can mengangguk.
Arven kemudian kembali menatap para petani. “Kalian boleh menyampaikan keluhan.”
Tatapannya tegas.
“Kalau ada masalah dengan upah, datang langsung kepadaku atau orang yang bertanggung jawab. Jangan berhenti bekerja hanya karena perkataan orang asing.”
Para petani mengangguk. Pria paruh baya itu maju sedikit. “Maafkan kami, Tuan.”
Arven hanya menatap dengan datar. “Besok kalian kembali bekerja.”
“Baik, Tuan.”
Kerumunan perlahan mulai bubar. Namun Arven masih berdiri di tempat.
Tatapannya tertuju pada lahan yang membentang di hadapannya. Ada seseorang yang sengaja membuat masalah di wilayahnya.
Dan orang itu mengetahui cukup banyak tentang sistem kerja perkebunan ini.
.
.
Sementara itu, di halaman rumah Zarretti, Mireya sama sekali tidak mengetahui masalah tersebut.
Ia sedang berjongkok menggali tanah bersama Elden. “Elden, lubangnya jangan terlalu dalam.”
“Biar buah semangkanya jadi besar.”
Mireya menggelengkan kepala. “Bukan begitu. Kalau terlalu dalam, bibitnya malah sulit tumbuh.”
Elden membulatkan bibir lalu mengangguk serius. Kemudian ia mengambil sekop kecilnya lagi.
Mireya tersenyum melihatnya.
Ia tak lagi memikirkan masalah-masalah yang ada. Termasuk pertemuan dengan Syhazan, maupun kontrak baru yang ditandatangi malam tadi.
Pikirannya hanya tertuju pada lahan di hadapannya.
Tanpa mereka sadari, sebuah mobil berhenti tidak jauh dari gerbang perkebunan.
Seorang pria turun. Ia tidak masuk. Hanya berdiri sebentar sambil memperhatikan rumah besar di kejauhan.
Tatapannya kemudian berpindah kepada Mireya dan Elden yang sedang berkebun. Pria itu segera kembali masuk ke mobil.
Sebelum pergi, ia mengambil ponselnya. Sebuah pesan singkat dikirim.
[ Jadi, bagaimana menurutmu? ]
Tidak lama kemudian, balasan masuk.
[ Kalau begitu, lanjutkan rencana berikutnya. ]
Pria itu menatap layar beberapa detik.
Kemudian menghapus pesan tersebut.
Mobil perlahan meninggalkan kawasan perkebunan.
Sementara di tempat lain, Arven baru saja kembali menuju rumah.
Ia belum mengetahui siapa yang berdiri di balik semua ini. Namun satu hal sudah pasti. Masalah di wilayah timur bukanlah sebuah kebetulan.
*bersambung*
Beri mereka pelajaran biar gak ngomong seenaknya.
Arven....kamu tahu apa yang harus kamu lakukan utk Mireya dan Elden
ayooo belajar galak
perlu aku kesana ga?
bantuin jambak🫣🤣🤣🤣
kepercayaan itu ga tumbuh dalam semalem..
dia udah pernah mencoba mempercayai seseorang dengan segenap jiwa dan raganya ,dan endingnya menyakitkan.
jadi cobalah kau bangun kepercayaan nya dulu
ambil simpatinya, dan sembuh kan lukanya
baru dia akan bisa membuka hatinya🥹
lucu amet si mereka🤣🤣
kontrak oh kontrak🤔
mending jujur daripada mantan mertua yang mengacaukan semua greget sama Mire
trauma diselingkuhi itu kyk kangker dufalam tubuh,ga keliatan tapi sakitnya nyata. merasuk Ampe kedalam aliran darah dan otak kita tanpa kita sadari
selalu mempertanyakan apakah kita cukup baik
apakah ini semua karena salah kita?
apakah ada g kurang dr kita?
sampai mati pasti kebawa🥹🥹
Mau nya lupa
maunya ga dipikirin
tapi...🫣🥹🥹
Dia takut nasib pernikahannya akan sama dgn sebelumnya
bahkan sekelas artis sebelah aj yg lagi rame
ketemu yg baru,setengah mampus nyerein istrinya 🤣🤣.
katanya yg baru dipilih karena lemah lembut.
hei...kami juga awalnya kembang desa
pas lama nikah jadi kembang api🤣🤣🤣
apalagi pengalaman mireya yg paket komplit...🥹
hatinya aja ga ada gerbang nya di KK
ga ada yg jagain🤣🤣🤣
Iddah itu berlaku pas suami ngucapin talak kan?
nah...si b4ngs4t itukan nalak nya udah lama...lebih dr 3 bulan kali
di pengadilan mah tinggal ketik pali doank
wahhhh....begini orang yg ga ngerti agama sok sok an mau pake dalili agama