"Om mau nyeraikan gue? Bagus dong! Mana drafnya? Gue tanda tangani sepuluh kali kalau perlu!"
Mayor Yudhana (32) mengira ancaman perceraian akan membuat Vina (20) berlutut memohon ampun. Namun, benturan keras di aspal telah menghapus seluruh kenangan penderitaan Vina selama menikah. Vina yang baru adalah gadis barbar usia 18 tahun yang sama sekali tak terintimidasi oleh baret hijau maupun pangkat tiga melati.
Saat Vina memperlakukannya seperti bapak kos galak dan sibuk mencari uang sendiri untuk angkat kaki, Mayor Yudhana terpukul oleh gengsinya sendiri. Untuk pertama kalinya, Sang Mayor menyadari bahwa hal paling berbahaya bukan lagi kehilangan wibawa di Batalyon—melainkan kehilangan wanita yang baru saja mulai menguasai seluruh sudut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Ampun, Mayor!
Bayangan wajah Yudhana yang dipejamkan penuh kepasrahan saat bibirnya bersatu dengan bibir Tanti kembali melintas tajam, menghantam kesadarannya seperti tebasan pedang.
Saya tidak punya rasa apa-apa pada Vina. Saya akan ajukan gugatan resmi.
"Aaghh!" Vina menjerit tertahan. Dengan satu sentak bernada keputusasaan yang meluap.
Mesin motor matic itu menderu kencang. Desing angin jalan raya langsung menyambar tubuh Vina begitu roda motornya menyentuh aspal jalan utama.
Dunia di sekitarnya berubah menjadi bayangan samar berkecepatan tinggi. Pohon-pohon di tepi jalan, deretan toko, dan kendaraan lain meleleh menjadi garis-garis warna yang tak jelas bentuknya. Angin siang menghantam wajah Vina dengan kasar, menerbangkan helai-helai rambut hitamnya yang lepas dari ikatan. Namun, rasa dingin angin itu sama sekali tidak sanggup memadamkan api yang membakar dada kirinya.
Kenapa?
Satu kata itu berulang-ulang melintas di kepalanya. Kenapa harus selama satu tahun ia dipaksa menyimpan harapan pada pria yang hatinya tidak pernah ada di sana? Kenapa ia harus berpura-pura menjadi istri yang bahagia di balik dinding rumah dinas yang dingin, sementara dirinya hanya dianggap sekadar anak yatim piatu yang ditampung demi syarat janji masa lalu?
Air mata Vina mengalir makin kencang, terbawa angin ke belakang dan meninggalkan jejak perih di pipinya yang memerah. Tangannya meremas tuas gas makin dalam. Raungan mesin sepeda motor kecil itu makin melengking, melaju membabi buta menyusuri jalan raya kota komando yang ramai.
Ia tidak peduli lagi pada klakson kendaraan lain yang menyalak peringatan. Ia tidak peduli pada tatapan pengendara mobil yang mengutuk caranya berkendara. Yang Vina inginkan hanyalah bergerak secepat mungkin, berlari dari rasa sakit hati yang terus mengejarnya bagaikan bayangan hitam yang siap menelannya bulat-bulat.
Di depannya, persimpangan empat jalan utama mulai terbayang. Lampu lalu lintas di sudut jalan berkedip ganti warna—dari hijau, kuning, lalu merah menyala kaku.
Beberapa kendaraan dari arah kirinya mulai bergerak maju memotong jalur. Namun, jemari Vina yang membeku di stang motor tidak menekan tuas rem sedikit pun. Penglihatannya yang dipenuhi lapisan air mata hanya melihat pendar cahaya merah yang kabur dan melebar di udara. Rasa sakit yang melilit dadanya begitu dominan hingga melumpuhkan seluruh rasa takutnya pada bahaya.
"Awas!"
Suara teriakan samar dari pinggir jalan tenggelam oleh deru angin yang memenuhi telinganya.
Dari arah depan persimpangan—menembus celah deretan mobil yang tertahan—sebuah mobil box komersial berwarna putih melaju kencang. Pengemudi mobil box itu membunyikan klakson panjang yang nyaring, melengking memecah udara siang.
Tiiiinnnnnn!
Suara klakson itu menghantam gendang telinga Vina, menghentakkannya dari pusaran keputusasaan. Vina menoleh secara refleks. Pendar lampu depan mobil box yang besar dan moncong besi kendaraannya sudah berada hanya dua meter dari sisi kanan motornya.
Mata Vina membelalak. Waktu seolah melambat secara mengerikan.
Ia bisa melihat bayangan wajah pengemudi mobil box yang pucat ketakutan di balik kaca depan. Ia bisa melihat alur ban mobil yang berdecit keras mencoba mencengkeram aspal, meninggalkan jejak getah karet hitam yang berbau sangit. Namun, jarak itu terlalu sempit untuk sebuah keajaiban.
Duaaarrr!
Benturan keras tak terelakkan terjadi. Moncong besi mobil box menghantam lambung kanan motor matic Vina dengan kekuatan yang menghancurkan.
Tubuh Vina terlempar dari jok motor, melayang melintasi kap mobil sebelum akhirnya menghantam permukaan aspal jalan raya yang kaku dan kasar dengan guncangan yang sangat dahsyat. Suara remukan plastik, kaca spion yang pecah berkeping-keping, dan besi yang beradu bergaung memekakkan telinga, disusul bunyi tumpul saat tubuhnya terseret beberapa meter di atas aspal.
Hening.
Dunia yang tadinya bising oleh deru mesin dan jeritan angin mendadak mengendap menjadi keheningan yang pekat dan berat.
Vina terbaring miring di tengah jalan raya. Tubuhnya terasa begitu asing—dingin, kebas, dan tak bisa digerakkan. Bau sangit karet terbakar, aroma tajam bensin yang bocor, dan bau amis darah melingkupi inderanya yang tersisa. Rasa sakit yang luar biasa menjalar serentak dari pelipis, bahu, dan tulang rusuknya, namun entah mengapa, rasa sakit di tubuhnya itu masih kalah hebat dibanding rasa hancur di dalam dadanya.
Suara-suara samar mulai merayap masuk ke telinganya yang berdengung kencang.
"Ada kecelakaan! Panggil ambulans!"
"Mbak! Mbak, bisa dengar suara saya?!"
"Tolong! Darahnya keluar terus dari kepalanya!"
Langkah-langkah kaki berlarian mendekat. Bayangan sosok orang-orang yang berkerumun mulai menutupi pendar terik matahari di atas kepalanya. Namun, Vina tidak sanggup menatap wajah-wajah asing itu.
Di antara genangan air hujan dan pecahan kaca spion yang berserakan, Vina mengatupkan bibirnya yang berdarah, membiarkan ingatan tentang senyum Yudhana perlahan mengabur ditelan warna hitam.
Di ambang batas kesadarannya yang meredup cepat, air mata terakhir meluncur mulus dari sudut matanya, membasahi luka gesek di pipinya.
Jika ini adalah akhir dari napasnya, Vina tidak ingin mengutuk siapa pun. Namun, jika Tuhan masih memberinya kesempatan untuk terbangun dan bernapas kembali di dunia ini, ia punya satu permintaan terakhir yang amat tulus dari lubuk hatinya yang hancur.
"Ya Allah," bisiknya dalam hati, seiring kegelapan pekat yang merayap turun menutup pandangannya. "Kalau aku harus selamat dari kejadian ini ... mohon, bantu aku melupakan bahwa aku pernah mencintai pria itu. Hapus seluruh rasa sakit ini ... hapus nama Mas Yudhana dari ingatanku."
Kelopak matanya terpejam sepenuhnya. Kesadarannya tenggelam ke dalam kedalaman samudra hitam yang dingin dan tanpa henti, melenyapkan deru napas, jeritan orang-orang, dan bayangan Mayor Yudhana dari jalurnya untuk selamanya.
bersambung...
Alhamdulillah 🤲