💗🤗 Assalamualaikum semua! Ayo mampir baca pelan-pelan aja ya! jika suka jangan lupa tinggalkan jejak kalian!👇🤗😍
Di balik wajah cantiknya, Alana menyimpan identitas mematikan: seorang hacker genius sekaligus penembak jitu bayaran yang tak pernah meleset. Namun, ia terpaksa menggantung senapannya demi satu tujuan baru yang tak pernah ia rencanakan—menjadi ibu pengganti bagi keponakannya yang mendadak yatim piatu.
Di sisi lain kota, Sang Bos Mafia penguasa dunia bawah tanah sedang murka. Pembantaian brutal baru saja menewaskan tangan kanan kepercayaannya, dan sepasang anak kembar sang tangan kanan menghilang tanpa jejak.
Dalam perburuannya mencari anak-anak itu dan menuntut balas, sang Mafia juga memburu seorang hacker misterius yang terus-menerus meretas sistem keamanan kartelnya.
Takdir mempertemukan mereka dalam kejar-kejaran yang mematikan. Sang Bos Mafia tidak tahu bahwa wanita cantik yang mati-matian melindungi sepasang anak kembar di dekapannya adalah penembak jitu yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Matahari pagi menembus celah ventilasi, menyorot debu-debu yang melayang di udara kamar petak yang sempit. Di luar, hiruk-pikuk permukiman kumuh mulai bergeliat, suara deru motor tua, tawaran pedagang keliling, dan tangisan anak tetangga, namun di dalam kontrakan yang di tempati Alana dan si kembar, ketegangan justru terasa semakin menggebu.
Alana berdiri mematung di samping jendela kecil, jemarinya terselip di celah tirai kusam yang berbau apek. Semalaman ia tidak memejamkan mata.
Pikirannya terus berputar liar, menghitung puluhan skenario terburuk yang bisa menghantam mereka. Di satu sisi, ancaman dari musuh almarhum kakaknya masih berkeliaran menyisir kota. Di sisi lain, kehadiran pria berbahaya bernama Elvano Adhitama semalam telah membuka pintu ancaman baru yang tak kalah mematikan.
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan di pintu depan memecah keheningan dengan begitu tiba-tiba.
Napas Alana seketika tertahan. Di atas kasur tipis, Kai dan Kael yang sedang duduk merapat langsung membeku.
Kael, dengan reflek melindunginya, menarik lengan sang adik ke belakang tubuhnya. Sorot mata bulat bocah enam tahun itu tampak sangat tajam dan waspada, sebuah gestur yang terlalu dewasa untuk anak seusianya.
Alana mengacungkan telunjuk di depan bibirnya, memberi isyarat agar kedua keponakannya tidak bersuara.
Dengan langkah senyap tanpa meredam gesekan alas kaki, Alana mendekati pintu kayu yang lapuk. Tangannya menyelinap ke balik saku jaket, meremas kuat gagang pisau lipat taktisnya. Ia menempelkan matanya pada lubang kecil di daun pintu.
Tidak ada barisan pria berjas hitam atau kilatan moncong senjata. Di luar sana, hanya berdiri seorang pemuda dengan seragam kurir oranye dan helm yang tergantung di siku tangannya. Ia memegang sebuah kotak kardus berukuran sedang yang rapi terisolasi.
Alana menarik napas panjang, meredakan detak jantungnya yang berdebar kencang. Ia menggeser selot besi dan membuka pintu hanya selebar sepuluh sentimeter.
"Atas nama Nona Alana?" tanya kurir itu ramah, menyodorkan layar ponsel untuk konfirmasi.
Kening Alana berkerut tajam. "Dari siapa?"
"Pengiriman kilat khusus, Kak. Baru saja masuk dari kantor pusat pagi ini."
Tanpa banyak bicara, Alana membubuhkan tanda tangan asal di layar, merebut kotak kardus itu, lalu langsung membanting pintu dan menguncinya rapat-rapat.
Ia membawa paket tersebut ke atas meja kayu usang. Dengan kecurigaan yang membubung tinggi, Alana menarik pisau lipatnya dan mengiris selotip cokelat yang merekat kuat di bagian atas kardus.
Saat penutup kardus tersingkap, mata Alana membelalak sempurna.
Di dalam paket itu tidak ada barang belanjaan biasa. Melainkan sebuah ponsel pintar edisi terbatas keluaran terbaru dengan spesifikasi kelas militer, lima kartu SIM perdana baru dari penyedia layanan berbeda tanpa registrasi identitas, sebuah flashdisk bernomor seri unik dengan enkripsi tingkat tinggi, serta sepucuk amplop putih tebal berisi lembaran uang tunai bernominal fantastis.
Di atas amplop tersebut, tergeletak selembar kertas catatan kecil dengan tulisan tangan yang terukir tajam dan tegas:
Ganti ponsel lamamu yang retak itu. Jangan coba-coba membuangnya, atau aku sendiri yang akan datang untuk memasangkannya.
— Elvano
Darah Alana serasa membeku. Ponsel burner murah yang ia gunakan semalam sudah ia matikan, dilepas baterainya, dan dibuang ke dalam saluran air sejauh satu kilometer dari kontrakan ini.
Namun Elvano... pria itu seolah memiliki mata di setiap sudut. Dengan kekuasaan dan insting liarnya, ia tahu cara menekan Alana, atau mungkin, pria itu sedang sengaja menguji seberapa jauh Alana bisa berlari.
"Bunda... paket dari siapa itu?"
Suara mungil Kai menginterupsi. Bocah itu melangkah keluar dari kamar dengan wajah pucat, menatap kotak kardus misterius di atas meja dengan dahi berkerut curiga.
Alana dengan sigap menyatukan kembali penutup kardus tersebut. Ia berlutut di hadapan Kai, menangkup kedua bahu kecil keponakannya dengan lembut, berusaha menutupi kepanikan yang berkecamuk di matanya.
"Bukan siapa-siapa, Sayang. Cuma paket salah kirim dari orang tak dikenal," bohong Alana dengan ukiran senyum hangat yang ia paksakan.
"Dengarkan Bunda ya, kita tidak bisa tinggal lebih lama di sini. Kita harus cepat siap-siap."
Kai menatap lurus ke dalam manik mata Alana. Tanpa banyak bertanya, bocah yang kenyang oleh pahitnya pelarian itu mengangguk paham.
"Kita pindah rumah lagi, Bunda?" timpal Kael yang baru saja menyusul dari kamar mandi, kacamata bulatnya sedikit melorot di pangkal hidung.
Alana menatap kedua tumpuan hidupnya itu dengan tekad yang semakin tebal.
"Iya. Kita akan pindah ke tempat yang tidak akan bisa dilacak oleh siapa pun."
___________
Di tempat terpisah, ribuan mil dari pemukiman kumuh tersebut, ketenangan yang mencengkeram lantai teratas gedung pencakar langit Adhitama Group terasa begitu intimidatif.
Sinar matahari pagi menembus dinding kaca hitam ruang kerja utama, memantul di atas meja marmer yang dingin.
Elvano duduk di kursi kebesarannya. Dibalik kemeja hitamnya, perban di perutnya terbalut rapi. Jemari panjang pria itu mengetuk-ngetuk permukaan meja secara teratur, menciptakan irama monoton yang menegangkan.
Di hadapannya, Jace berdiri tegak dengan kepala sedikit menunduk. Raut wajah sang asisten menyiratkan kebingungan dan keheranan yang luar biasa saat memegang berkas hasil penyelidikan.
"Tuan Muda," lapor Jace dengan nada suara yang bergetar pelan.
"Kami sudah melacak seluruh data kependudukan atas nama Nona Alana. Tapi... hasilnya sangat membingungkan."
Elvano menyipitkan mata elangnya, menghentikan ketukan jarinya.
"Maksudmu?"
"Data resminya memang ada, Tuan," jawab Jace cepat.
"Nama Alana Casandra Wiratama terdaftar sebagai mahasiswi yang menghabiskan masa remajanya di luar negeri untuk menempuh pendidikan. Namun, tidak ada satu pun catatan medis, riwayat pekerjaan, dokumen keluarga, atau transaksi keuangan yang menghubungkannya dengan kawasan kontrakan kumuh tempat kita menemukannya semalam.
Lebih aneh lagi... apartemen mewahnya di pusat kota kosong melompong. Tidak ada aktivitas listrik atau air selama berbulan-bulan."
Elvano mendengarkan laporan itu dalam keheningan. Bukannya marah, sudut bibirnya justru terangkat sebelah, membentuk garis senyuman tipis yang sangat berbahaya.
Prediksinya tepat. Gadis dengan mata tajam dan jemari tanpa getar itu bukanlah warga sipil biasa. Alana telah membangun tembok penyamaran yang sangat rapi untuk menyembunyikan identitas aslinya dari dunia luar.
"Dia bukan sekadar bersembunyi, Jace," desis Elvano. Suaranya berat dan menguarkan aura dominasi. "Dia sedang melarikan diri dari sesuatu yang sangat besar."
"Haruskah saya mengerahkan tim untuk mencegatnya sekarang, Tuan?"
"Tidak perlu," potong Elvano dingin. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, menatap ke luar jendela kaca yang menampilkan pemandangan kota dari ketinggian.
"Paket yang kukirimkan pagi ini sudah sampai di tangannya. Begitu dia mengaktifkan ponsel atau flashdisk itu, sistem peretasan kita akan langsung mengunci koordinat GPS-nya."
Elvano mengepalkan tangannya kuat-kuat, membayangkan raut wajah jengkel gadis itu saat membaca catatannya.
"Biarkan dia berlari sejauh yang dia bisa," gumam Elvano, matanya berkilat oleh ketertarikan yang membara.
"Aku ingin melihat, sampai di mana batas kemampuan gadis itu sebelum dia bertekuk lutut di hadapanku."
"Baik, Tuan Muda!"
Bersambung...
smg Al TDK mengaktifkan Hp atau Flashdisk itu yaaa ,, biar TDK ketahuan sama Al 🤣🤣
biar gantian Al yg jengkel kalau GPS nya TDK aktif 🤣🤣🤣🤣
tp Al ttp mau melindungi kedua keponakan nya sndri