NovelToon NovelToon
Ibu Tiri Jeratan Daddy

Ibu Tiri Jeratan Daddy

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Penyesalan Suami / Ibu Tiri
Popularitas:254k
Nilai: 5
Nama Author: kenz....567

"Bukan aku pelakunya!"

Demi biaya berobat ibunya, Aeris Calythea mengantar ratusan kue ke sebuah rumah mewah. Namun, bukannya uang, ia justru menemukan istri pria kaya tergeletak berlumuran darah. Niat tulus Aeris menolong justru menjebaknya. Sidik jarinya tertinggal, menjadikannya tersangka utama.

Dunia Aeris runtuh saat ibunya meninggal akibat terlambat ditangani. Hilang arah, Aeris bersimpuh pasrah.

"Bunuh aku sekarang! Tujuanku tetap hidup sudah tiada!"

Namun Kaizel Vardan, suami korban yang dibakar dendam, menolak. "Mati terlalu mudah untukmu. Kau harus menggantikan posisi istriku dan menjadi ibu untuk anak kembarku! Tebus dosamu, Aeris!"

Bagaimana nasib Aeris? Di tuduh dan terpaksa menjadi istri serta ibu tiri dari 2 anak kembar? Terlebih dia baru tahu, jika 2 anak kembar Vardan bahkan disiksa di rumah ayahnya sendiri.

"Jangan pukul, kami nda nakal hiks ...,"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Minta Maaf, Aeris~

Di dalam kamar yang baru saja dihantam badai amarah Kaizel, keheningan mencekam mendadak pecah oleh jeritan histeris Avenza. Wanita itu melemparkan tas belanjaan mewahnya ke dinding hingga aksesoris di dalamnya terlempar berhamburan.

"Ini semua gara-gara Mama!" teriak Avenza dengan napas memburu, matanya merah padam menatap Orlena yang masih terisak di lantai.

"Aku sudah bilang, dari dulu jangan terlalu kentara kalau mau memberi mereka makanan sisa! Jangan usir mereka dari kamar utama secara terang-terangan! Sekarang lihat apa yang terjadi?! Kita dibuang ke rumah lain! Kartu kredit kita diblokir!"

Orlena mengusap air matanya kasar, lalu bangkit berdiri dengan wajah tak kalah murka. "Kenapa kamu malah menyalahkan Mama, Avenza?! Anak kamu sendiri yang sengaja menempelkan rokok ke punggung anak itu! Kamu yang tidak bisa menahan emosimu saat Lala menangis! Kamu yang membuat Kaizel curiga dan mengecek CCTV!"

"Mama yang menyuruhku bersikap tegas pada mereka!" balas Avenza melotot tajam, menunjuk muka ibunya. "Mama bilang anak-anak itu harus ditundukkan agar Aeris tidak punya muka di rumah ini! Sekarang gara-gara ide konyol Mama, kita kehilangan segalanya! Kita jadi miskin!"

Lala yang berdiri ketakutan di sudut ranjang mulai menangis kencang. Ia berlari mendekati Avenza dan menarik-narik ujung gaun ibunya. "Mama ... Lala gak mau pindah ke rumah lain ... Hiks ... Lala takut, Ma! Lala mau di kamar Lala .... Lala mau di sini aja!"

"DIAM LALA! BISA DIAM GAK?!" bentak Avenza histeris, menyentak tangan putrinya hingga anak itu tersungkur pelan ke kasur sambil menangis makin keras. Avenza sama sekali tak menghiraukan jeritan putrinya. Ia menyugar rambutnya acak-acakan, frustrasi membayangkan esok hari ia harus mengemas tas-tas mewahnya dan diusir bagaikan pengemis dari Kediaman Vardan.

.

.

.

.

Sementara itu, di lorong sayap barat yang temaram dan dingin, Kaizel melangkah dengan berat. Setiap tumpuan kakinya terasa bagaikan membawanya mendekati pengadilan moral yang paling menyiksa. Kata-kata Aeris tentang kebodohan dan kelalaiannya sebagai seorang ayah terus berputar menghantam kesadarannya.

Ia berhenti di depan pintu kayu kamar Aeris. Berdiri mematung beberapa detik, Kaizel menarik napas panjang untuk mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya sebelum mengetuk pintu pelan.

TOK! TOK! TOK!

Tak lama kemudian, kunci pintu berputar. Daun pintu terkuak sedikit, memperlihatkan sosok Aeris yang berdiri di sana. Rambutnya terurai bebas, wajahnya tampak lelah namun matanya tetap memancarkan ketegasan yang tak goyah.

Melihat Kaizel berdiri di depan kamarnya di larut malam, Aeris menyipitkan mata dengan raut wajah defensif.

"Anak-anak baru saja tidur," bisik Aeris dingin dan pelan, tak ingin suaranya membangunkan si kembar. "Jika kau datang hanya untuk berteriak atau membuat keributan lagi tentang adab dan sopan santun, sebaiknya kau pergi sekarang."

Kaizel mengepalkan tangannya di balik saku celana. Tatapan dingin Aeris terasa lebih menyengat daripada makian apa pun. Pria tegap itu berdehem kaku, mengalihkan pandangannya sekilas sebelum kembali menatap manik mata Aeris.

"Aku ... aku tidak datang untuk berteriak," panggil Kaizel dengan suara rendah yang terdengar serak.

Aeris menyilangkan tangan di dada, bersandar pada bingkai pintu dengan sebelah alis terangkat. "Lalu? Ada urusan apa Tuan Vardan yang terhormat mendatangi kamar buangan ini?"

Kaizel menelan ludah yang terasa mengganjal di tenggorokannya. Mengakui kesalahan adalah hal yang paling asing baginya, namun pemandangan CCTV dan ketakutan Ezmira memaksanya menundukkan kepala.

"Aku ... aku minta maaf," ujar Kaizel lirih.

Aeris tertegun sejenak. Ia menatap pria di hadapannya dengan raut ketidakpercayaan yang nyata, seolah baru saja mendengar hal paling ajaib di dunia. "Apa?"

"Aku minta maaf tentang Kak Avenza dan Mama," lanjut Kaizel, memandu suaranya agar tetap terdengar stabil meski gengsi tingginya terus memberontak.

"Aku sudah memeriksa rekaman CCTV. Semua yang kau katakan tentang perlakuan mereka pada Ezmira dan Zara ... semuanya benar. Aku sudah memutuskan untuk mengusir mereka bertiga ke rumah lain besok pagi."

Aeris terdiam. Ada rasa lega yang menyelusup di dadanya mendengar keluarga iblis itu akhirnya tersingkir, namun wajahnya tetap datar. "Baguslah kalau otaknya akhirnya berfungsi. Minta maafmu seharusnya kau sampaikan pada kedua putrimu, bukan padaku. Merekalah yang menanggung penderitaan itu selama berbulan-bulan."

"Aku tahu," desis Kaizel menunduk pelan, sebelum kembali mendongak dengan tatapan yang mendadak mengeras kembali. "Tapi jangan berpikir hal ini mengubah posisi kita, Aeris."

Aeris menghela napas pendek, menyunggingkan senyum sinis. "Oh, tentu saja. Mana mungkin seorang Kaizel Vardan mengakui kekalahannya secara utuh, bukan?"

Kaizel melangkah satu tapak lebih dekat, memotong jarak di antara mereka hingga aroma maskulin dan dingin yang menguar dari tubuhnya memenuhi udara di sekitar Aeris.

"Masalah Avenza dan Orlena adalah kelalaianku sebagai ayah, dan aku mengakuinya," bisik Kaizel dengan intonasi rendah yang sarat akan dominasi dan dendam mendalam. "Tapi soal Nayvera ... tuduhan itu tidak pernah berubah."

Aeris membeku, rahangnya menegang.

"Kau pikir dengan menyelamatkan anak-anakku dan membongkar kebusukan Avenza, dosa darahmu akan terhapus begitu saja?" Kaizel menyunggingkan senyum tipis yang amat dingin, menatap Aeris lurus ke dalam iris matanya.

"Bukti autopsi, sidik jari di pisau itu, dan keberadaanmu di lokasi kejadian malam itu ... semuanya adalah fakta bahwa kau yang merenggut nyawa istriku! Kau tetaplah wanita yang membunuh Nayvera di mataku!"

Dada Aeris naik-turun menahan emosi yang mendadak meluap mendengarkan tuduhan membabi buta itu lagi.

"Kau benar-benar pria paling buta dan dungu yang pernah kutemui, Kaizel! Kau bisa melihat kebusukan keluargamu lewat bukti visual, tapi kau menolak melihat jebakan yang dipasang pembunuh sebenarnya di depan matamu!"

"Sebab bukti tidak pernah berbohong, Aeris!" tegak Kaizel memotong cepat dengan nada menekan.

"Aku memperbolehkanmu tinggal dan merawat anak-anakku hanya karena mereka membutuhkanmu saat ini. Tapi jangan pernah bermimpi kau bisa lepas dari tuduhan pembunuhan itu. Aku akan terus mengawasimu, memburu kebenarannya, dan jika waktunya tiba ... aku sendiri yang akan memasukkanmu ke penjara atau membuatmu membusuk di rumah ini!"

Aeris tidak gemetar. Ia justru menyunggingkan senyuman paling mematikan yang pernah dilihat Kaizel, maju satu langkah hingga ujung hidungnya nyaris bersentuhan dengan dada bidang pria itu.

"Silakan coba, Tuan Vardan," bisik Aeris dingin nan tajam, suaranya bak sembilu yang menusuk.

"Cari saja 'kebenaran' palsumu itu sampai kau puas. Tapi ingat satu hal ... saat kebenaran yang sesungguhnya terungkap dan kau sadar betapa dalamnya kau telah menuduh orang yang salah ... rasa bersalah itu akan menggerogoti jiwamu sampai kau merangkak di kakiku memohon ampunan!"

Brak!

Aeris mendorong daun pintu dan menghempaskannya tepat di depan wajah Kaizel, menguncinya rapat dari dalam.

Kaizel berdiri mematung di lorong gelap yang sepi. Napasnya terengah halus, dadanya bergemuruh hebat bukan hanya karena amarah ... melainkan karena guncangan aneh tatkala kalimat ancaman Aeris bergema tanpa henti di dalam benaknya, meninggalkan benih ketakutan rahasia yang mulai merayapi hatinya.

"Dia tetap kekeuh dengan pembelaannya?" gumam Kaizel.

1
Felycia Fernandez
lho 😯😯😯😯
hamil anak siapa itu????🤔
Yhenny Pudji
tuchh.... djodohkan bner
kaylla salsabella
Nayvera selingkuh... sampai hamil
Masita Masita
de_ene hamil anak wong liyo
Esther
nah....nah....mengandung anak siapa tuh Nayvera.
Yang jelas bukan anak Kaizel.
Sri Devi
halahh cuma ke siram air panas jadi GK bisa buka baju 🤣🤣🤣dengan alasan tangan yg satunya shok 🤣🤣🤣🤣 cemen Lo 🤣🤣🤣
Lianty Itha Olivia
Waaah mengandung ank siapa ini ya
nayla tsaqif
Namanya kezel, suk bikin kesel,,, bodoh lg,,! Np lbh pinteran asprinya,,??
susi mulhayatii
uppo ka
🦢͜͡𝑨𝒅𝒓𝒆💋𝒏𝒏𝒂. 🜼
bgus
Xeon Nana
kk semangat ya up nya
Listuti
selingkuh ini kek nya kn dia ga ngurusi n ga syg anak nya jg. kaget kn itu olang tua 🤣
Syifa Azhar
yang paling bikin heran tuh masa rumah Segede lapangan gak ada CCTV-nya yakin kamu CEO????
masa iya kamu termasuk CEO yang nyamar 😂😂😂
Syifa Azhar
asal kamu tau bukan cuma kamar aja yang direbut tp semua fasilitas buat anakmu dikasih buat anak kakak mu sendiri dan anakmu cuma dapat barang bekas😬
Syifa Azhar
kamu gak cuma buta tapi bego dan goblok jadi satu entah apa namanya 🙄
🌷Vnyjkb🌷
kyknya nayv d bunuh kekasih dr kekasih gelapnya, myungkinnn🤭
Syifa Azhar
pingin lihat gimana reaksimu selanjutnya betapa kejam orang yang kamu percaya selama ini malah nyiksa anakmu,dan orang yang kamu anggap pembunuh malah melindungi anakmu😬
Syifa Azhar
Aeris: biar.....
biar apa....biarin.....meski pembuat onar yang penting baik sama anak-anak mu dari pada kamu sok sibuk😬😬
merry
hamil mngkin ankmu kei kan istrimu gk cinta sm km trs gk suka sm si kembar,, kyk y bnyk teka teki ya moga Aeris gk jdi sasarann kei dan para ilblis yg haus harta dan saya sosial,, moga kei otak gk dangkal dan mata y gk buta lg
Syifa Azhar
nah bisa jadi nenek gayung nih yang udah bun Bun mamanya sikembar😬
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!