Sejak kecil, Kirana Lin dibuang ke desa karena terlahir bisu. Meski tak mampu berbicara, ia memiliki kecerdasan luar biasa dan segudang prestasi.
Dua puluh tahun kemudian, Kirana kembali ke keluarga Lin untuk menggantikan putri angkat mereka menikah dengan Kendra Wu, penguasa keluarga Wu yang lumpuh akibat kecelakaan.
Semua orang mengira Kirana akan menderita di tangan Kendra. Namun, gadis bisu itu justru berhasil membuat sang penguasa jatuh cinta dan membantunya merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Yuk simak kisahnya! Yang tidak suka langsung skip!👊👊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Menyadari
Arthur berjalan cepat menyusuri lorong lantai dua, berusaha mengejar Kirana yang baru saja meninggalkan ruang kerjanya.
Ada rasa bersalah yang terus mengganjal dadanya, terlebih setelah menyaksikan sendiri bagaimana adik kandungnya itu difitnah oleh Shania dan dirinya justru menjadi orang pertama yang menyalahkannya.
“Kirana, tunggu sebentar!” panggil Arthur.
Gadis itu tetap berjalan tanpa menoleh. Arthur mempercepat langkahnya hingga akhirnya berhasil menyusul Kirana tepat di depan kamar perempuan tersebut.
“Kirana, Kakak ingin bicara,” ujarnya dengan suara lebih pelan. “Tentang kejadian tadi, Kakak minta maaf karena sudah langsung mempercayai perkataan Shania tanpa mendengarkan penjelasanmu terlebih dahulu.”
Kirana sama sekali tidak memberikan respons. Ia hanya menatap Arthur sebentar dengan wajah datar, kemudian membuka pintu kamarnya dan masuk begitu saja.
Klik!
Pintu kamar langsung tertutup tepat di depan wajah Arthur.
Pria itu terdiam mematung. Tangannya yang semula hendak mengetuk pintu perlahan turun, sementara tatapannya terpaku pada daun pintu yang kini tertutup rapat.
Beberapa saat kemudian, Sean datang dari arah tangga. Ia melihat Arthur berdiri sendirian di depan kamar Kirana, lalu segera menghampirinya.
“Mana Kirana?” tanyanya. “Apa dia masih di dalam?”
Arthur mengangguk pelan.
Sean melirik pintu kamar tersebut. “Dia marah kepada kita?”
Arthur terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab, “Sepertinya begitu.”
Sean menghela napas. “Tapi kita sudah berniat meminta maaf. Aku juga tadi tidak tahu kalau Shania sengaja memfitnahnya.”
“Memang kita tidak tahu,” sahut Arthur lirih. “Tapi itu bukan alasan untuk langsung menghakiminya.”
Arthur menyandarkan punggungnya ke dinding lorong. Ada perasaan sesak yang sulit dijelaskan ketika ia mengingat kembali bagaimana Kirana berdiri sendirian menghadapi tuduhan mereka, tanpa membela diri melalui suara seperti orang lain.
“Sean, coba pikirkan baik-baik,” ucap Arthur. “Selama dua puluh tahun, kita mengabaikan Kirana hanya karena Ibu melarang kita menjenguknya.”
Sean langsung terdiam.
Sebenarnya, jauh di dalam ingatan mereka, masih ada kenangan tentang seorang bayi perempuan yang pernah menjadi kebanggaan keluarga Lin. Ketika Kirana lahir, Arthur dan Sean begitu gembira karena akhirnya memiliki adik perempuan yang bisa mereka sayangi dan lindungi.
Arthur bahkan masih ingat bagaimana dirinya dahulu sering berdiri di samping tempat tidur bayi Kirana, memperhatikan adiknya yang tertidur dengan wajah mungil.
Sean juga pernah begitu bersemangat menunjukkan mainannya kepada Kirana, meskipun bayi itu tentu belum mengerti apa pun. Tapi, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Setelah keluarga mengetahui bahwa Kirana terlahir bisu, suasana rumah berubah drastis. Nyonya Meylan memutuskan mengirim Kirana ke sebuah desa terpencil.
Saat itu, Arthur dan Sean masih terlalu kecil untuk memahami keputusan orang dewasa. Mereka hanya tahu bahwa adik perempuan yang baru saja hadir dalam kehidupan mereka tiba-tiba menghilang dari rumah dengan alasan harus diobati.
“Aku masih ingat waktu Kirana dibawa pergi,” gumam Sean. “Aku menangis dan terus bertanya kepada Ibu kapan adik kita akan pulang.”
Arthur mengangguk pelan. “Aku juga. Tapi Ibu selalu bilang Kirana harus tinggal di desa karena kondisinya, dan kita tidak boleh mengunjunginya.”
Keduanya sempat merasa kehilangan. Tapi, waktu terus berjalan, dan kesedihan anak-anak itu perlahan tertutupi oleh kehidupan baru yang disiapkan keluarga mereka.
Setahun setelah Kirana dikirim ke desa, Nyonya Meylan membawa seorang bayi perempuan ke mansion. Wanita itu mengatakan bahwa bayi tersebut diadopsi dari panti asuhan dan kini menjadi bagian dari keluarga Lin.
Bayi itu adalah Shania.
Arthur dan Sean yang masih kecil akhirnya menerima kehadiran Shania sebagai adik perempuan mereka.
Mereka mencurahkan kasih sayang kepada gadis itu, bermain bersama, melindunginya, dan tumbuh bersamanya selama bertahun-tahun.
Tanpa disadari, ingatan tentang Kirana perlahan memudar. Shania menjadi satu-satunya adik perempuan yang mereka kenal dalam kehidupan sehari-hari.
“Kurasa itu sebabnya kita selalu membela Shania,” ujar Sean lirih. “Kita sudah terbiasa bersamanya sejak kecil, sedangkan Kirana baru kembali setelah dua puluh tahun.”
Arthur menatap pintu kamar Kirana dengan sorot mata muram. “Mungkin kita merasa lebih dekat dengan Shania karena sudah hidup bersama begitu lama, tetapi itu tidak berarti kita berhak memperlakukan Kirana seperti orang asing.”
Sean menundukkan kepala. Ia mulai menyadari bahwa selama ini dirinya hanya melihat Kirana sebagai gadis yang datang dan mengusik kehidupan keluarga mereka, bukan sebagai adik kandung yang pernah mereka rindukan.
“Padahal dia juga adik kita,” gumam Sean.
“Benar,” jawab Arthur. “Dan selama ini, justru kita yang gagal menjadi kakak yang baik untuknya.”
Keduanya kembali terdiam. Tidak ada yang bisa menghapus dua puluh tahun kehilangan hanya dengan satu permintaan maaf, apalagi setelah mereka berkali-kali menunjukkan keberpihakan kepada Shania.
Arthur akhirnya menepuk bahu Sean. “Sudahlah, kau kembali ke kamar dan beristirahat.”
Sean mengerutkan kening. “Tapi, Kak, bagaimana dengan Kirana? Aku masih ingin meminta maaf kepadanya.”
“Biarkan dulu,” jawab Arthur. “Kirana membutuhkan waktu untuk menenangkan dirinya.”
Sean kembali melirik pintu kamar tersebut. “Apa dia akan memaafkan kita?”
Arthur tidak langsung menjawab. Ia hanya menghela napas panjang sebelum berkata, “Kita tidak bisa memaksanya memaafkan kita, Sean. Kalau memang ingin memperbaiki hubungan dengannya, kita harus membuktikannya melalui tindakan, bukan sekadar kata-kata.”
Sean mengangguk pelan. Setelah itu, ia berjalan menuju kamarnya dengan langkah berat, meninggalkan Arthur yang masih berdiri di depan pintu Kirana.
Sementara itu, di dalam kamar, Kirana duduk di tepi ranjang sambil menatap layar ponselnya. Ia sebenarnya mendengar permintaan maaf Arthur dari balik pintu, tetapi luka akibat perlakuan keluarga Lin selama ini membuatnya belum ingin membuka hati begitu saja.
Kirana meletakkan ponselnya, lalu merebahkan tubuh di atas ranjang. Baginya, permintaan maaf memang bisa diucapkan dalam satu kalimat, tetapi kepercayaan yang telah rusak membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk dibangun kembali.
Tanpa sadar air mata Kirana menetes, sebenarnya ia adalah gadis rapuh yang menginginkan kasih sayang keluarga. Tapi sekarang, ia tidak membutuhkan semua itu lagi.
Yang menjadi misi Kirana adalah mendapatkan tanaman langka itu. Dan membuat ia bisa berbicara.
sat set tnpa drama
keren pojok nya
wuih jous gandos
aaahhh mboh lah mumet AQ sweeter
otornya lho bikin penasaran Mulu 🤣🤣🤣
🤭🤭🤭🤭