Hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidup Zoey berubah menjadi mimpi buruk.
Di depan ratusan tamu undangan, sahabat yang paling ia percaya mengaku tengah mengandung anak calon suaminya.
Tak ingin keluarganya dipermalukan, Zoey melakukan sesuatu yang bahkan tak pernah terlintas di benaknya. Ia menarik tangan seorang pria asing yang kebetulan hadir sebagai tamu.
“Aku akan menikah dengannya.”
Pria itu adalah Damian, konglomerat tampan berusia tiga puluh delapan tahun yang dikenal dingin, berwibawa dan sulit didekati. Demi alasan masing-masing, mereka sepakat menjalani pernikahan tanpa cinta.
Namun, sesaat setelah resmi menjadi suami istri, Zoey dibuat syok oleh kenyataan yang sengaja tidak diberitahukan Damian. Pria itu adalah seorang duda dengan anak kembar berusia enam belas tahun.
Mampukah Zoey menaklukkan sang duda yang menutup hatinya sekaligus memenangkan hati kedua kembar nakalnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 34
Suasana di dalam mobil terasa canggung. Tak satu pun alunan musik diputar. Yang terdengar hanya suara mesin mobil yang melaju membelah jalan.
Arga duduk di kursi penumpang dengan pandangan kosong mengarah ke luar jendela. Sejak meninggalkan sekolah, ia sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Sebaliknya, Alana terus mengomel tanpa henti.
“Lihat gara-gara Zoey, keluarga bibi Robert hancur dalam hitungan menit! Wanita itu memang sok berkuasa dan pembawa sial!”
Tak ada jawaban.
Alana melirik Arga yang masih diam.
“Arga, kok diam saja? Apa jangan-jangan kau masih memikirkan Zoey?”
Arga mengembuskan napas pelan. “Sudahlah, Alana. Jangan mengajakku bertengkar.”
“Sudahlah bagaimana?” nada suara Alana meninggi. “Aku melihat sendiri tadi! Kau terus menatap Zoey. Jangan kira aku tidak sadar!”
Arga memejamkan mata sejenak. “Aku hanya memperhatikan situasi.”
“Bohong!” Alana langsung memukul pelan lengan suaminya. “Tatapanmu berbeda! Bahkan saat dia menamparku, kau masih membelanya!”
Arga mulai kehilangan kesabaran. “Karena yang dikatakan Zoey memang benar.”
“Jadi sekarang kau membelanya lagi?”
“Aku membela kebenaran.”
“Kebenaran?” Alana tertawa sinis. “Atau kau menyesal sudah memilihku?”
Arga menoleh perlahan. Tatapannya berubah dingin.
“Kenapa pembicaraanmu selalu berakhir ke sana?”
“Karena aku tahu isi hatimu!”
“Tidak, Alana. Justru aku yang mulai tidak mengerti denganmu.”
Ucapan itu membuat Alana terdiam beberapa detik. Arga melanjutkan dengan suara tenang, tetapi setiap katanya terasa menekan.
“Di sekolah tadi, Zoey dihina habis-habisan. Tapi dia tidak pernah sekali pun membuka aibmu. Padahal kalau dia mau, dia bisa saja mempermalukanmu di depan semua orang.”
“Dia memang mempermalukanku!”
“Tidak.” Arga menggeleng. “Yang mempermalukan dirimu sendiri adalah sikapmu.”
Wajah Alana memerah. “Kau... kau menyalahkanku?”
“Aku hanya mengatakan kenyataannya.”
Alana mengepalkan kedua tangannya.
“Jadi sekarang aku yang salah? Karena aku istrimu, kau sudah bosan denganku lalu mulai membandingkanku dengan Zoey?”
“Cukup!” Suara Arga kali ini jauh lebih keras dari biasanya. “Jangan terus menyeret nama Zoey ke dalam rumah tangga kita. Berhentilah cemburu buta dan bersikap seperti anak kecil!”
Beberapa saat kemudian Arga kembali bersandar di kursinya.
“Ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan.”
“Apa?”
Tatapan Arga berubah tajam.
“Di sekolah tadi, saat Zoey mengatakan tentang tes DNA. Apa maksud ucapan itu?” tanyanya.
Alana memaksakan tawa kecil. Meski sebenarnya, jantung nya sedang berdegup kencang.
“Zoey hanya sedang mengacaukan pikiranmu, Arga,” rayu Alana sembari memeluk lengan suaminya.
“Benarkah?”
“Tentu.”
Arga terus menatap wajah istrinya tanpa berkedip. “Aneh.”
“Apa yang aneh?”
“Kalau kau memang yakin anak itu darah dagingku, kenapa wajahmu langsung pucat saat mendengar kata tes DNA?”
Alana menelan ludah. “Itu... itu karena aku sedang marah padamu!”
“Marah?”
“Iya!”
Arga menghela napas panjang. “Kalau begitu, tidak ada alasan untuk menolak.”
“Maksudmu?”
“Aku ingin melakukan tes DNA setelah bayi kita lahir.”
Ucapan itu bagai petir di siang bolong. Wajah Alana seketika kehilangan warna.
“Aku ingin memastikan semuanya.”
“Arga, apa kau sudah gila? Kau meragukanku?!” teriak Alana tak terima.
“Anggap saja begitu. Aku hanya ingin menghilangkan semua keraguanku.”
Alana mengepalkan jemarinya kuat-kuat hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan. Ia benar-benar panik.
Karena ia tahu, jika tes DNA itu benar-benar dilakukan, seluruh kebohongan yang selama ini ia bangun akan runtuh dalam sekejap.
“Awas kau Zoey. Semua gara-gara mulut sampahmu!” gerutu Alana dengan tangan terkepal erat.
****
Damian tidak mencabut laporannya.
Sebaliknya, ia memerintahkan Roy untuk mengusut seluruh kejahatan keluarga Robert hingga ke akar-akarnya. Dalam waktu singkat, berbagai pelanggaran perusahaan itu mulai terbongkar.
Akibatnya, Dante resmi dikeluarkan dari sekolah. Sebelum meninggalkan sekolah, ia diwajibkan berdiri di depan seluruh siswa untuk meminta maaf secara terbuka kepada Victor atas semua tindakan perundungan yang telah dilakukannya selama ini.
Perlahan, nama Victor yang sempat tercoreng mulai dipulihkan.
Tok... tok...
“Masuk.”
Damian mendongak dari tumpukan berkas di meja kerjanya. Victor berdiri di ambang pintu dengan kepala sedikit tertunduk.
“Ada apa?” tanya Damian datar.
Victor menggaruk tengkuknya canggung. “Aku... cuma mau bilang terima kasih untuk tadi."
Damian menutup map di hadapannya.
“Jangan besar kepala. Papa melakukan itu karena memang sudah menjadi kewajiban.”
Senyum tipis Victor perlahan memudar. “Jadi, bukan karena Papa peduli padaku?” tanyanya lirih, dadanya terasa sesak.
Damian hanya menatap putranya tanpa ekspresi.
“Menurutmu?”
Victor terkekeh hambar. “Aku mengerti.”
Tanpa berkata apa-apa lagi, remaja itu berbalik dan keluar dari ruangan.
Damian mengembuskan napas panjang sembari memijat pelipisnya yang mulai berdenyut.
“Jadi begini caramu berbicara pada putramu sendiri?"
Suara Zoey membuat Damian mengangkat kepala. Entah sejak kapan wanita itu sudah berdiri di ambang pintu sambil membawa secangkir kopi hangat.
“Letakkan saja kopinya di sana,” ucap Damian pelan. “Lalu kemari lah.” pria itu menepuk pahanya.
Zoey tersenyum tipis. Mengingat janji semalam, ia melangkah mendekat lalu duduk di pangkuan Damian tanpa banyak protes. Jemarinya mulai memainkan kancing kemeja Damian sebelum perlahan menyusup ke balik kain, membelai dada bidang pria itu.
“Zoey... hentikan...” pinta Damian dengan suara mulai serak.
Zoey mendekat hingga bibirnya nyaris menyentuh telinga sang suami.
“Ubah sikapmu pada mereka, jika kau ingin aku memberikan kewajibanku sebagai seorang istri,” bisiknya lembut.
Kalimat itu langsung membuat Damian membeku di tempat.
nti salah temen lagi siapa coba yg repot 🤦
dia cuman bingung mesti berbuat apa pas ada yg merhatiin
ini mekanisme perlindungan diri ,kalau 🥹🥹
andaikan
jaga jga hatinya sakit kalau nanti udah nyaman malah ditinggal lagi