Seorang ratu yang kehilangan mahkota karena fitnah dan seorang putri yang tumbuh dalam pengasingan tanpa mengetahui bahwa darahnya menyimpan kunci takhta.
Enam belas tahun kemudian, seorang dayang baru memasuki istana dengan wajah polos, tangan terampil, dan rahasia yang dapat mengguncang dua kerajaan. Ia datang bukan untuk mencari cinta.
Ia datang untuk membersihkan kembali nama ibunya, membongkar dosa masa lalu, dan mengambil kembali takhta yang dirampas.
Namun, takdir mempertemukannya dengan dua pangeran: seorang pewaris takhta yang kejam tetapi kesepian, dan seorang pangeran dari kerajaan musuh yang membuatnya merasakan cinta untuk pertama kalinya.
Ketika pernikahannya dengan putra mahkota diumumkan, sang kekasih menculiknya tepat pada malam pertama. Satu tindakan nekat itu memicu perang yang mengancam menghancurkan kedua kerajaan di tengah pertumpahan darah, rahasia kelahirannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suesant SW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18. Kesaksian Tabib
Malam kembali menyelimuti Istana Weishan, membawa hawa dingin yang merayap di sepanjang lorong-lorong batu, menyusup ke balik tirai sutra, dan menggoyangkan lentera merah yang tergantung di bawah atap berukir naga. Langit di atas ibu kota Weishan tampak gelap tanpa bintang. Awan hitam berkumpul di atas menara kerajaan, seolah-olah langit sendiri sedang menahan kemurkaan yang tak mampu lagi ditampung oleh bumi.
Di dalam istana, nama Permaisuri Wang Laoyin telah menjadi bahan bisikan yang menyebar dari paviliun ke paviliun. Ada yang mengatakan bahwa ia diam-diam menjalin hubungan dengan Shen Rui, pengawal pribadinya. Ada yang bersumpah pernah melihat keduanya berbicara di dekat taman belakang. Ada pula yang mengaku mendengar suara langkah seorang lelaki pada malam-malam tertentu di sekitar Paviliun Fengyi.
Anehnya, tak seorang pun mampu menunjukkan bukti yang benar-benar dapat dipercaya.
Di lingkungan istana, sebuah cerita tidak perlu benar untuk menjadi berbahaya. Ia hanya perlu diulang cukup sering, dibisikkan oleh cukup banyak orang, dan dibiarkan tumbuh di dalam pikiran mereka yang memiliki kuasa untuk menjatuhkan hukuman.
Wang Laoyin masih dikurung di Paviliun Fengyi. Dua pengawal berjaga di depan pintu, sementara empat lainnya ditempatkan di halaman dalam. Perintah Raja Han Quan melarang siapa pun mengunjunginya tanpa izin. Bahkan pelayan yang telah bertahun-tahun mengabdi kepadanya kini harus meminta persetujuan sebelum membawa makanan, air hangat, atau pakaian bersih.
Sang Permaisuri belum dijatuhi hukuman resmi tetapi kehormatannya telah diadili oleh seluruh istana.
Dan ketika kehormatan seseorang telah dihancurkan di hadapan banyak orang, membuktikan ketidak bersalahan sering kali jauh lebih sulit daripada membuktikan sebuah kejahatan.
Di sisi lain istana, jauh dari Paviliun Fengyi, penyelidikan atas kematian Shen Rui memasuki babak baru. Babak yang sejak awal tidak pernah dimaksudkan untuk menemukan kebenaran melainkan untuk memastikan bahwa kebenaran tidak akan pernah ditemukan.
...***...
Ruang pemeriksaan kerajaan terletak di sebelah barat Aula Qinzheng, di sebuah bangunan berlantai batu hitam yang biasa digunakan untuk memeriksa perkara-perkara berat. Ruangannya tidak terlalu luas, tetapi langit-langitnya tinggi dan dindingnya tebal. Pada dinding utara tergantung lambang naga kerajaan, sedangkan di sisi timur terdapat rak kayu berisi kitab hukum, catatan kematian, dan dokumen penyelidikan yang disegel dengan lilin merah.
Di tengah ruangan berdiri sebuah meja panjang dari kayu cendana. Dua buah tempat lilin ditempatkan di kedua ujungnya. Cahaya api yang bergoyang-goyang membuat bayangan orang-orang di dalam ruangan tampak memanjang di dinding, menyerupai sosok-sosok tanpa wajah yang sedang mengawasi satu sama lain.
Malam itu, seorang tabib kerajaan bernama Tabib Gu Wen dipanggil untuk memberikan kesaksian.
Ia adalah lelaki berusia hampir enam puluh tahun, dengan janggut putih yang menjuntai hingga dada dan punggung sedikit membungkuk. Selama puluhan tahun, tangannya telah menyentuh tubuh para bangsawan, prajurit, pejabat, bahkan anggota keluarga kerajaan yang jatuh sakit. Ia memahami denyut nadi, perubahan warna kulit, suhu tubuh, dan tanda-tanda yang tertinggal setelah seseorang mengembuskan napas terakhir.
Bagi banyak orang, Tabib Gu Wen adalah lambang kebijaksanaan tetapi malam itu, kedua tangannya gemetar ketika ia berdiri di hadapan para penyelidik.
Di hadapannya duduk Pejabat Qian Bei, mengenakan jubah biru tua dengan sabuk giok yang berkilau di bawah cahaya lilin. Wajah pejabat itu terlihat tenang, nyaris tanpa ekspresi. Ia memegang secangkir teh yang telah dingin, tetapi belum menyentuhnya sedikit pun. Dia salah satu penasihat yang paling di percaya oleh Raja Han Quan.
“Tabib Gu,” Qian Bei menatap lekat pada sang tabib.
“kau telah memeriksa tubuh Shen Rui setelah ia ditemukan meninggal di Paviliun Fengyi?”
“Benar, Tuan Pejabat.”
“Berdasarkan pemeriksaanmu, kapan ia meninggal?” Mata penasihat Qian Bei menyipit. Tabib Gu Wen menelan ludah. Pertanyaan itu telah diajukan kepadanya sebelumnya. Jawabannya pun sudah ia berikan. Namun, setiap kali mendengar pertanyaan tersebut, dadanya terasa semakin sesak, seolah-olah seseorang sedang mengikatkan tali tak kasatmata di sekeliling lehernya.
“Hamba memperkirakan bahwa Shen Rui telah meninggal sebelum tengah malam,” jawabnya akhirnya.
Qian Bei mengangkat pandangan.
“Perkirakan?” alisnya naik sedikit.
“Berdasarkan kondisi tubuh, suhu kulit, kekakuan pada anggota badan, serta tanda-tanda lain yang hamba amati, kematiannya kemungkinan terjadi sebelum tengah malam. Akan tetapi, hamba tidak dapat menentukan waktu yang tepat hanya berdasarkan pemeriksaan tersebut.”
“Jadi, kau tidak dapat memastikan jam kematiannya?”
“Benar, Tuan Pejabat.”
Qian Bei meletakkan cangkirnya.
“Namun, kau berani menyatakan bahwa ia meninggal sebelum tengah malam?”
Tabib Gu Wen terdiam.
Ia menyadari jebakan yang tersembunyi di balik pertanyaan itu. Jika ia mengubah keterangannya, ia akan dianggap tidak konsisten. Jika ia mempertahankannya, kesaksiannya dapat digunakan untuk membangun rangkaian peristiwa yang belum tentu benar.
“Hamba hanya menyampaikan perkiraan berdasarkan pemeriksaan medis,” jawabnya hati-hati. “Hamba tidak mengatakan bahwa waktu itu merupakan kepastian mutlak.”
Qian Bei tersenyum tipis. Senyum yang tidak mencapai matanya.
“Tidak perlu gugup, Tabib Gu. Kami hanya menginginkan kebenaran. Kerajaan ini membutuhkan orang-orang yang berani menyampaikan apa yang mereka ketahui, bukan orang-orang yang menyembunyikan sesuatu karena takut.”
Kata-kata itu terdengar seperti nasihat seorang pejabat yang bijaksana.
Namun, Tabib Gu Wen justru merasakan hawa dingin menjalar hingga ke tulang belakangnya.
Ia teringat percakapan dua malam sebelumnya, ketika seorang utusan berpakaian hitam mendatanginya di rumah. Lelaki itu tidak membawa surat resmi ataupun lambang kerajaan. Ia hanya meletakkan sebuah kantong kain di atas meja, lalu menyebutkan nama cucu Tabib Gu yang sedang menderita penyakit paru-paru.
Di dalam kantong itu terdapat kepingan-kepingan perak dalam jumlah besar.
Dan sebuah pesan yang jauh lebih berharga daripada seluruh harta yang pernah dimilikinya.
Keselamatan keluargamu bergantung pada kebijaksanaanmu.
Tabib Gu Wen telah mengabdi kepada kerajaan selama puluhan tahun. Ia pernah bersumpah di hadapan altar leluhur untuk menggunakan pengetahuannya demi menyelamatkan kehidupan, bukan memanipulasi kematian. Namun, sumpah yang dahulu terasa begitu kuat itu kini berhadapan dengan wajah cucunya yang pucat dan napasnya yang semakin pendek setiap malam. Ia tidak tahu siapa yang mengirim utusan itu dan tahu juga tidak tahu apakah ancaman tersebut benar-benar akan dilaksanakan.
Yang ia tahu hanyalah bahwa ia terlalu tua untuk melindungi keluarganya dengan kekuatan sendiri, rasa takut telah membuatnya melakukan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan akan dilakukannya.
“Ada satu hal lagi,” kata Qian Bei, memecah lamunannya.
“Apakah pemeriksaanmu menemukan tanda-tanda bahwa Shen Rui meninggal di kamar Permaisuri?”
Tabib Gu Wen mengangkat wajahnya,
(Bersambung yaaaaa, yuk langsung kita up bab 19 - 20 nya ya hari ini, tunggu author nulis dulu bentar☺️)