NovelToon NovelToon
Jejak Kelima : Gerbang Rimba

Jejak Kelima : Gerbang Rimba

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Petualangan
Popularitas:306
Nilai: 5
Nama Author: Narishea

Lima sahabat Pramuka Penegak — Bima, Arga, Gilang, Maira, dan Elina— masuk ke Rimba Larangan hanya untuk mencari jejak yang hilang.

Satu langkah salah, mereka terperosok ke dimensi lain yang tak terlihat.

Saat Elina tiba-tiba hilang tanpa jejak, Maira panik dan berteriak memanggil namanya sekeras-kerasnya.

Itulah kesalahan fatal mereka.

Teriakan itu membangunkannya.
BHAYAVEDIN — makhluk buta Sang Perasa Takut yang memburu setiap suara. Semakin keras mereka berteriak, semakin dekat ia datang.

Kini mereka terjebak dalam aturan mengerikan: dilarang bersuara.

Dengan satu teman hilang di dalam kabut dan makhluk itu yang terus memburu, satu-satunya cara pulang adalah memecahkan kode rumit di Gerbang Kelima.

Tapi bagaimana memecahkan kode saat kau bahkan dilarang untuk berteriak meminta tolong?

Berhasilkah mereka keluar??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Narishea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 16 : Menuju Sungai Hitam

Setelah istirahat beberapa menit di padang sepi itu, Bima berdiri duluan.

Ia tepuk-tepuk celananya yang kena rumput, lalu lihat ke depan. Padang rumput hijau keabuan itu lurus ke depan, ujungnya masih gelap, hanya diterangi cahaya bulan ungu yang menggantung rendah. Tidak ada tanda-tanda sungai sama sekali. Hanya rumput, bunga-bunga putih kecil yang berpendar pelan, dan dinding akar raksasa yang melingkar jadi mangkuk di sekeliling padang.

"Oke, udah cukup istirahatnya," bisik Bima, suaranya tetap pelan karena ingat Bhayavedin peka suara. "Perban Elina udah diganti, tenaga udah keisi roti. Kita harus jalan lagi sekarang."

Arga yang baca peta, membuka lagi gulungan kulit kayu itu. Ia telusuri garis lurus panjang dengan jarinya di bawah cahaya senter HP yang sudah tinggal 12%.

"Di peta, dari padang sepi ini kita harus jalan lagi lurus ke depan ada sekitar 1 jam barulah nemuin sungai itu," kata Arga pelan sambil menunjuk. "Nggak boleh belok, pokoknya lurus aja ikutin arah bulan. Di peta juga ditulis, jangan bersuara selama jalan."

Gilang yang dari tadi selonjor langsung lemes denger 1 jam, " Satu jam jalan lurus... sambil gendong Elina lagi... ya Tuhan..."

Maira langsung nyolek Gilang, "Sstt... Lang, jangan ngeluh kenceng-kenceng, Bhayavedin denger."

Gilang langsung tutup mulut, "Iya iya sorry."

Elina yang sudah diperban baru sama Maira, kakinya memang sudah tidak berdarah lagi tapi masih nyut-nyutan kalau dipakai jalan. Ia duduk di rumput, menatap Bima.

" Bim, kaki gue masih sakit. Boleh nggak gendong gue lagi?" tanya Elina pelan.

Bima mengangguk ke Gilang, "Lang, lo masih kuat gendong Elina? Kalau nggak kuat gantian sama gua nanti tengah jalan."

Gilang berdiri, menepuk bahunya sendiri biar semangat, "Gua kuat, Bim. Abis makan roti tadi tenaga gua balik. Sini El, naik lagi."

Elina naik lagi ke punggung Gilang, pelan-pelan. Gilang menggendong Elina dengan posisi gendong belakang, biar Elina bisa meluk lehernya dan tidak jatuh.

"Bima yang pimpin jalan, Arga yang baca peta, Elina yang belum pulih digendong Gilang," kata Maira mengulang formasi tadi biar semua ingat. "Gua di tengah ya, biar bisa liatin belakang juga."

Formasi jalan mereka pun terbentuk lagi. Sama seperti di terowongan tadi.

Bima di paling depan, jadi mata. Arga di belakang Bima, jadi kompas yang baca peta. Maira di tengah, jadi penyeimbang. Gilang di belakang, gendong Elina yang belum pulih.

Mereka mulai jalan lurus ke depan.

Awalnya padang itu enak. Rumputnya empuk, tidak becek. Kalau di dunia normal, jalan di padang kayak gini pasti enak sambil ngobrol. Tapi ini dunia monster Bhayavedin. Setiap langkah kaki mereka di rumput menimbulkan suara -kresek... kresek...- kecil.

"Pelan-pelan jalannya, jangan hentak kaki," bisik Bima dari depan tanpa menoleh. "Bhayavedin peka suara, ingat."

Semua langsung jalan jinjit.

10 menit pertama masih aman.

Mereka jalan dalam diam, hanya suara napas dan kresek rumput. Bulan ungu di atas mereka seperti mengikuti langkah mereka.

Maira yang di tengah tiba-tiba berbisik, "Eh, kalian ngerasa nggak, makin ke depan makin dingin?"

Arga yang baca peta sambil jalan mengangguk, "Iya, di peta juga. Makin deket sungai hitam, udaranya makin dingin katanya. Airnya dingin banget."

Gilang di belakang sambil gendong Elina, napasnya mulai ngos-ngosan, "Bukan cuma dingin,gua ngerasa rumputnya makin basah."

Bima yang di depan jongkok sebentar, meraba rumput. Rumput yang tadi kering keabuan, sekarang agak basah, ada embun hitam menempel. Bukan embun bening, tapi hitam seperti tinta.

"Embun hitam. Ini tanda deket sungai hitam nggak, Ga?" tanya Bima ke Arga.

Arga membuka peta lagi, mendekatkan ke mata, "Di peta ada gambar tetes-tetes hitam sebelum sungai. Iya, ini tandanya kita udah setengah jalan,sekitar 30 menit lagi."

Elina yang di gendongan Gilang, dari tadi diam, tiba-tiba berbisik di telinga Gilang,"Lang,gue takut."

Gilang kaget, "Kenapa El?"

Elina menunjuk ke dinding akar di sebelah kanan mereka, yang jauh di kegelapan. "Tadi gue lihat ada yang ngintip di balik akar.Matanya..."

Semua langsung berhenti jalan.

Bima langsung tiarap pelan, "Jangan gerak."

Maira langsung merinding, "Mata? Mata sarang Bhayavedin?"

Arga menyorotkan senter HP-nya yang redup ke arah yang ditunjuk Elina. Cahaya senter hanya sampai 5 meter, tidak sampai ke dinding akar yang jaraknya 30 meter.

Tidak ada apa-apa. Hanya akar.

"El, mungkin lo halu karena capek ya?" bisik Gilang, mencoba menenangkan Elina tapi suaranya sendiri gemetar, karena ia juga takut.

Elina menggeleng, "Enggak Lang, beneran,matanya kedip."

Bima menarik napas dalam, ia ingat keterangan di peta: "Jangan tatap matanya, itu sarang matanya."

"Oke, dengerin... apapun yang kalian lihat di dinding akar, jangan ditatap lama-lama... kalau itu mata sarang Bhayavedin, kalau kita tatap, rasa takut kita kesedot dan dia tau posisi kita," kata Bima pelan tapi tegas. "Jadi jalan nunduk aja, lihat ke bawah, ke rumput."

Semua mengangguk. Mereka lanjut jalan lagi, tapi sekarang semua jalan nunduk, tidak berani lihat ke dinding akar.

20 menit berikutnya adalah 20 menit paling lama dalam hidup mereka.

Gilang gendong Elina sudah mulai gemetar kakinya, "Bim... gua... gua udah gak kuat."

"Bentar lagi Lang, peta bilang 1 jam, kita udah jalan hampir 40 menit." kata Arga dari depan, memberi semangat.

Maira yang di tengah, melihat Gilang kasihan, "Lang, mau gantian nggak? Gua gendong Elina gantian?"

"Emang lo kuat?" cibir Gilang. Maira hendak membalas namun tiba-tiba angin berubah.

Angin yang tadinya dingin bersih, sekarang membawa bau. Bau yang sangat busuk, bau kayu lapuk basah yang menyengat. Bau yang mereka kenal.

Bau Bhayavedin.

Semua langsung berhenti lagi.

" Bau asing? Bukan, bau dia." bisik Maira, menutup hidung.

Bima yang pimpin jalan langsung tiarap lagi, "Semua tiarap, jangan bersuara, jangan takut."

Mereka berlima tiarap di rumput basah yang berembun hitam. Elina masih di punggung Gilang, jadi Gilang tiarap dengan Elina bersamanya.

Dari kejauhan, di belakang mereka, dari arah padang sepi tempat mereka istirahat tadi, terdengar suara langkah.

DUK... DUK... DUK...

Pelan tapi berat. Bhayavedin. Dia mengikuti jejak bau asing mereka yang tertinggal di padang rumput. Bau perban lama Elina yang dikubur Maira, bau keringat mereka, bau roti.

"Bhayavedin... dia ngikutin bau kita..." bisik Arga, matanya melotot.

"Jangan takut,jangan takut." Bima berbisik ke dirinya sendiri dan ke teman-temannya, karena ia tahu Bhayavedin peka rasa takut. Kalau mereka takut, getaran takut mereka akan terasa sampai ke Bhayavedin.

Gilang memejamkan mata, menahan takutnya,"El, jangan takut ya, jangan takut."

Elina yang berada dibelakangnya juga memejamkan mata, "Gue nggak takut ,nggak takut."

Mereka tiarap sekitar 3 menit, tidak bergerak, tidak bersuara, menahan takut setengah mati.

Suara langkah DUK... DUK... itu berhenti. Terdengar suara mengendus keras dari jauh,

SRRRK... SRRRK...

Bhayavedin mengendus bau.

Lalu, suara langkah itu berbelok, menjauh ke arah dinding akar sebelah kiri. Dia kehilangan jejak sedikit karena angin padang mengubah arah bau.

Bima melihat kesempatan.

"Sekarang!! Jalan pelan, jangan lari, lari bikin suara." bisik Bima.

Mereka bangun lagi, jantung berdegup kencang, tapi mereka paksa jalan lagi, lebih cepat tapi tetap jinjit. Keringat dingin mengucur, tapi mereka tahan takutnya.

Sisa perjalanan 20 menit terakhir itu mereka tempuh dengan setengah berlari jinjit.

Rumput yang basah embun hitam sekarang makin basah, sampai berbunyi setiap diinjak. Kabut hitam tipis mulai muncul setinggi lutut.

"Dingin banget..." kata Maira, menggigil.

Arga yang baca peta berteriak pelan hampir menangis karena lega, "Guys,dengerin... suara air!"

Semua berhenti dan pasang telinga.

Dari depan, samar-samar terdengar suara gemericik air.

Bima yang di depan berlari kecil, meninggalkan formasi, "Sungai! Sungai hitam!"

Keempat lainnya menyusul, Gilang yang gendong Elina lari paling belakang dengan napas ngos-ngosan.

Dan benar saja, setelah 1 jam jalan lurus ke depan, mereka akhirnya sampai.

Di depan mereka terbentang sungai yang lebarnya sekitar 10 meter. Airnya bukan bening, bukan coklat, tapi hitam pekat seperti tinta, mengalir pelan, tidak ada riaknya. Di atas airnya ada kabut hitam tipis. Di pinggir sungai, tumbuh bunga-bunga putih yang tadi ada di padang, tapi di sini bunganya lebih besar dan semuanya menunduk ke arah air, seperti menyembah.

Sungai Pelupa. Sungai yang di peta keterangannya -"Cuci tubuhmu di sini, bau asing dan rasa takutmu akan hilang."-

Mereka berlima berdiri di pinggir sungai hitam itu, napas ngos-ngosan.

"Akhirnya... kita sampai..." kata Gilang, menurunkan Elina pelan ke tanah, kakinya langsung lemes duduk.

Elina melihat air hitam itu, agak takut, "Airnya hitam banget. Apa kita harus nyebur?"

Maira yang masih menggigil kedinginan juga ragu, "Airnya... dingin banget pasti."

Bima jongkok, mencelupkan jarinya ke air hitam itu. Dinginnya menusuk tulang. Tapi anehnya, begitu jarinya dicelup, bau keringat di jarinya langsung hilang. Bau asingnya netral.

"Di peta bilang, satu-satunya cara hilang dari Bhayavedin adalah cuci bau asing kita di sini." kata Bima. "Bhayavedin masih di belakang kita, dia masih ngikutin bau kita. Kalau kita gak nyebur sekarang, dia bakal nemu kita di sini."

Arga mengangguk, "Dan rasa takut kita juga,airnya bisa nenangin takut."

Dari belakang mereka, jauh di padang rumput, suara DUK... DUK... itu terdengar lagi, makin dekat. Bhayavedin sudah menemukan jejak mereka lagi.

Tidak ada pilihan lain.

***

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!