Latifah, seorang guru di pondok pesantren, menjalani kehidupan sederhana dengan mengabdikan dirinya untuk mendidik para santri.
Setahun lalu, seorang anak perempuan berusia lima tahun bernama Kahiyang Ayudia datang dan menetap di pesantren tersebut. Kahiyang adalah putri seorang Mayor TNI bernama Abimanyu Wicaksono yang sedang bertugas di Lebanon.
Atas perintah sang ayah, Kahiyang dititipkan kepada Neneknya agar tumbuh menjadi anak yang mandiri dan berakhlak mulia.
Seiring berjalannya waktu, Latifah semakin menyayangi Kahiyang dan menganggapnya seperti anak sendiri. Namun, kebahagiaan itu terusik ketika kedua orang tuanya berniat menjodohkannya dengan seorang duda beranak satu. Latifah tentu saja menolak karena belum siap menjadi seorang istri sekaligus ibu sambung.
Tanpa sepengetahuannya, pria yang dijodohkan dengannya ternyata adalah Abimanyu, ayah dari Kahiyang, anak yang begitu disayanginya.
Akankah Latifah menerima takdir tersebut dan membuka hatinya untuk sang Mayor?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wasiat yang kembali mengusik hati
Malam itu, suasana Pondok Pesantren Darussalam terasa begitu tenang. Angin berhembus lembut melewati pepohonan di halaman, sementara cahaya bulan menerobos masuk melalui jendela kamar Latifah.
Setelah menyelesaikan solat tahajud dan berdoa cukup lama, perempuan muda itu duduk di atas sajadahnya. Kedua tangannya baru saja terangkat untuk mengusap wajah ketika pandangannya tertuju pada sebuah tote bag yang ia letakkan di atas meja kecil.
Tote bag itu adalah pemberian Mayor Abimanyu Wicaksono sebelum pria tersebut membawa Kaning kembali ke Jakarta.
Entah mengapa, sejak sore tadi Latifah terus teringat pada hadiah itu. Ia sebenarnya sudah ingin membukanya, tetapi kesibukan mengajar para santri membuatnya menunda hingga malam.
Akhirnya, Latifah bangkit dan mengambil tote bag tersebut.
"Hadiah apa sebenarnya yang diberikan Mayor Abimanyu ini?" gumamnya pelan.
Dengan hati-hati, ia membuka kemasannya.
Betapa terkejutnya Latifah ketika melihat sebuah kotak berwarna hijau tua dengan hiasan keemasan di dalamnya. Ia mengangkat kotak itu, lalu membukanya perlahan.
Sepasang matanya seketika membulat.
"Masyaallah...."
Di dalam kotak tersebut terdapat sebuah Al-Qur'an dengan sampul berwarna hijau zamrud. Bagian sampulnya dihiasi ukiran kaligrafi yang begitu indah, berpadu dengan ornamen keemasan yang terlihat elegan. Setiap detailnya dibuat dengan begitu teliti sehingga kitab suci itu tampak istimewa.
Latifah menyentuh sampulnya dengan jemari lembut. Ia membuka beberapa halaman, memperhatikan tulisan Arab yang tercetak rapi, kemudian mengusap permukaan kertasnya dengan penuh kekaguman.
"Indah sekali...."
Senyum kecil menghiasi wajahnya.
Di bawah Al-Qur'an itu, terdapat sebuah tasbih dengan butiran berwarna cokelat keemasan. Tasbih tersebut tampak sederhana, tetapi memiliki ukiran kecil pada bagian ujungnya yang membuatnya terlihat anggun.
Belum selesai rasa kagumnya, Latifah menemukan sebuah kotak lain yang berisi seperangkat alat solat.
Ia mengeluarkan mukena berwarna putih gading yang terbuat dari bahan sutra halus. Kainnya terasa lembut ketika menyentuh kulit, dengan bordir bunga-bunga kecil berwarna keemasan di bagian tepi.
Latifah mengembangkan mukena itu, lalu mengamati setiap detailnya.
"Ya Allah, bagus sekali mukenanya."
Ia tersenyum semakin lebar. Sebagai seorang perempuan yang menghabiskan banyak waktunya untuk mengajar dan beribadah, hadiah itu terasa begitu berharga baginya.
Bukan karena harganya, melainkan karena hadiah tersebut dapat ia gunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Latifah kemudian duduk kembali di atas sajadah. Ia meletakkan Al-Qur'an dan tasbih di hadapannya, lalu melipat mukena itu dengan hati-hati.
Namun, setelah beberapa saat, senyumnya perlahan berubah menjadi senyum tipis yang penuh tanda tanya.
"Mengapa Mayor Abimanyu memberikan hadiah seistimewa ini kepadaku?" bisiknya.
Ia teringat percakapan mereka sebelum Bima meninggalkan pesantren. Pria itu mengatakan bahwa hadiah tersebut merupakan tanda terima kasih karena Latifah telah merawat dan mendidik Kaning selama setahun.
Latifah mengangguk kecil, seolah sedang menjawab pertanyaannya sendiri.
"Mungkin memang hanya sebagai ungkapan terima kasih."
Ia tidak ingin berpikir terlalu jauh. Baginya, Bima adalah ayah dari Kaning, seorang pria yang telah mempercayakan putrinya untuk dididik di Darussalam. Tidak lebih dari itu.
Latifah kemudian mengambil Al-Qur'an tersebut dan mendekapnya sebentar ke dada.
"Terima kasih, Pak Bima. Semoga Allah membalas kebaikan Anda."
Ia meletakkannya kembali di atas meja, lalu mengangkat kedua tangannya.
"Ya Allah, jagalah Kaning di mana pun dia berada. Semoga dia selalu sehat, bahagia, dan tumbuh menjadi anak yang salehah. Jangan biarkan dia kehilangan kasih sayang yang selama ini sangat dia butuhkan."
Latifah terdiam sejenak sebelum melanjutkan doanya.
"Dan jika suatu hari nanti Engkau mempertemukan kami kembali, semoga pertemuan itu membawa kebahagiaan untuk kami semua."
Tanpa disadari, ada setetes air mata yang jatuh di pipinya. Rindu itu ternyata tidak mudah dihilangkan.
Baru beberapa jam berpisah, tetapi kenangan tentang Kaning sudah memenuhi pikirannya. Ia merindukan suara kecil yang selalu memanggilnya, langkah kaki mungil yang berlarian di halaman pesantren, serta pertanyaan-pertanyaan polos yang sering membuatnya tertawa.
Latifah menghela napas panjang, kemudian kembali melanjutkan ibadah malamnya.
Di tempat yang jauh, seorang bocah kecil ternyata sedang merasakan kerinduan yang sama.
*
*
Waktu berlalu begitu cepat. Sudah satu minggu sejak Bima membawa Kaning meninggalkan Pondok Pesantren Darussalam. Kini, kehidupan mereka kembali berjalan di kediaman keluarga Wicaksono di Jakarta.
Bima telah kembali menjalankan tugasnya sebagai seorang perwira TNI di Mabesad, Jakarta Pusat. Setiap pagi ia berangkat sebelum matahari meninggi, sedangkan sore atau malam harinya ia baru kembali ke rumah, bergantung pada kesibukan pekerjaannya.
Sementara itu, Kaning mulai menyesuaikan diri dengan kehidupan di rumah. Ia kembali tidur di kamar yang sudah lama tidak ditempatinya, bermain dengan mainan kesukaannya, dan menghabiskan waktu bersama sang nenek.
Namun, ada satu kebiasaan baru yang membuat Bima sering menggelengkan kepala.
Kaning selalu membicarakan Bu Latifah. Saat sarapan, nama perempuan itu muncul. Saat bermain, Kaning mengingatnya. Bahkan ketika hendak tidur pun, bocah itu masih saja bercerita tentang gurunya tersebut.
"Nek, nanti kalau Kaning sudah sekolah, boleh nggak Kaning menelepon Bu Ifah?" tanya Kaning suatu sore sambil duduk di sofa ruang keluarga.
Bu Almira yang sedang merajut tersenyum.
"Tentu saja boleh, Sayang. Nanti kita cari waktu yang tepat, ya."
"Kalau begitu, Kaning mau telepon sekarang saja!"
Kaning langsung meraih ponsel yang berada di atas meja.
Namun, sebelum bocah itu sempat mengambilnya, Bima yang baru pulang dari kantor muncul dari arah pintu.
"Hei, putri Papah sedang apa?"
Kaning menoleh.
"Papah!"
Ia berlari menghampiri Bima, kemudian memeluk kakinya.
Bima mengangkat putrinya dan mengecup pipinya.
"Sudah makan?"
"Sudah, Pah."
"Sudah belajar?"
"Sudah."
"Sudah solat?"
"Sudah juga!"
Bima tertawa kecil.
"Wah, hebat sekali anak Papah."
Kaning mengangguk bangga, lalu tiba-tiba kembali bertanya.
"Papah, kapan kita pergi ke Darussalam?"
Senyum Bima perlahan memudar.
"Lho, memangnya kenapa?"
"Kaning mau bertemu Bu Ifah."
Bima menghela napas, kemudian duduk di sofa sambil memangku putrinya.
"Kaning, kita baru pulang dari sana satu minggu yang lalu."
"Iya, tapi Kaning sudah kangen."
"Bu Ifah juga punya banyak pekerjaan di pesantren. Kaning tidak boleh mengganggu waktu beliau."
"Kaning nggak akan mengganggu, Pah. Kaning cuma mau melihat Bu Ifah."
Bima terdiam sejenak. Bagaimana mungkin ia bisa memarahi anak sekecil itu hanya karena merindukan seseorang yang telah begitu berjasa dalam hidupnya?
Akhirnya, ia mengusap kepala Kaning.
"Nanti Papah usahakan, ya. Kalau jadwal Papah memungkinkan, kita bisa berkunjung lagi."
"Janji?"
"Janji."
Kaning tersenyum lebar, kemudian memeluk leher ayahnya.
"Papah baik sekali!"
Bima tertawa pelan. Namun, ketika Kaning berlari kembali menghampiri neneknya, pria itu hanya bisa menggelengkan kepala.
"Astaga, Bu. Setiap hari nama Bu Latifah terus yang disebut. Saya sampai hafal semua cerita Kaning tentang beliau."
Bu Almira tertawa kecil.
"Itu karena Kaning sangat menyayangi Bu Latifah. Jangan heran, Nak. Selama kamu tidak berada di sisinya, Latifah lah yang menemani Kaning melewati hari-harinya."
Bima mengangguk pelan.
"Saya tahu, Bu. Saya sangat berterima kasih kepadanya."
Bu Almira memperhatikan putranya dengan saksama.
Ada sesuatu yang sejak lama ingin ia bicarakan dengan Bima. Namun, ia selalu menunda karena putranya baru saja kembali dari Lebanon dan masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan di tanah air.
Kini, setelah melihat betapa besar kerinduan Kaning terhadap Latifah, Bu Almira merasa tidak bisa menunda lebih lama lagi. Ia harus membicarakan masa depan putranya. Terutama tentang sebuah perjodohan yang telah lama tertunda.
*
*
Pagi itu, suasana kediaman Wicaksono cukup sibuk.
Bima sudah mengenakan pakaian dinasnya. Seragam loreng yang rapi melekat di tubuhnya, sementara sepatu hitam mengilap telah siap dikenakan. Ia memeriksa jam tangan, lalu meraih tas kerjanya yang terletak di atas meja.
Hari itu ada sejumlah pekerjaan yang harus diselesaikannya di Mabesad, Jakarta Pusat.
Sementara itu, Kaning masih tertidur lelap di kamarnya. Bocah itu semalam tidur cukup larut karena menghabiskan waktu membaca buku cerita bersama Neneknya.
Bu Almira keluar dari ruang makan dan menghampiri putranya yang sedang memeriksa berkas.
"Bima."
Pria itu menoleh.
"Iya, Bu?"
"Ibu ingin bicara sebentar."
Bima melirik jam tangannya.
"Ada apa, Bu? Bima sudah hampir terlambat berangkat ke Mabesad."
"Ini penting, Nak. Ibu hanya membutuhkan beberapa menit."
Bima menghela napas kecil, kemudian meletakkan berkasnya kembali di atas meja.
"Baiklah. Ada apa?"
Bu Almira duduk di sofa ruang keluarga. Wajahnya terlihat lebih serius daripada biasanya. Ia tidak ingin berbasa-basi lagi. Sudah terlalu lama persoalan ini dibiarkan menggantung, sementara usia Bima terus bertambah dan Kaning semakin membutuhkan perhatian penuh dari kedua orang tuanya.
"Bima, putraku," ucap Bu Almira dengan suara tegas, "sudah saatnya kamu menikah lagi."
Bima terdiam.
Bersambung...
lanjut aja lah Thor.....
lanjut lah Thor ..mkn seru ni🥰🥰🥰