Di dunia fantasi yang kejam, di mana hierarki ditentukan oleh kekuatan dan kemurnian garis keturunan, terlahir sebagai seekor Goblin adalah sebuah kutukan. Mereka adalah ras terendah-lemah, kotor, diburu sebagai ajang latihan para petualang amatir, dan dibantai tanpa ampun oleh umat manusia.
Namun, dari kedalaman keputusasaan ras yang nyaris punah di Hutan Misti, lahirlah sebuah anomali.
Bukan dengan kulit hijau menjijikkan atau tubuh bungkuk yang menyedihkan, melainkan dengan paras rupawan bagai seorang High Elf yang agung. Berambut pirang keemasan, bertelinga runcing yang elegan, dan dianugerahi ingatan serta kecerdasan dari dunia modern, ia adalah Altair-Sang Goblin Emperor pertama.
menyadari ras nya di ambang kepunahan altair pun bertekad membangkitkan kembali ras goblin yang hina, menjadi penguasa dunia dengan bantuan sistem manipulasi genetik dan kekuatan reproduksi nya sebagai sang kaisar goblin. bisakah dia menghadapi segala rintangan di depan nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Memasuki Hutan Pegunungan Sang Penguasa Badai
Perjalanan ke selatan memakan waktu lima hari lima malam tanpa henti.
Di bawah kanopi Hutan Misti yang semakin pekat dan menanjak, barisan panjang Kekaisaran Goblin bergerak dalam keheningan mutlak. Tidak ada keluhan. Ratusan Hobgoblin memanggul beban logistik di pundak mereka, otot-otot hijau gelap mereka menegang menahan kontur tanah yang semakin terjal. Aura dominasi Altair yang memimpin di barisan paling depan cukup untuk mematikan rasa lelah pasukan.
Di tengah barisan, dua tandu tertutup diusung oleh delapan Hobgoblin terkuat. Di dalamnya, Lyra dan Cassvia yang sedang dalam masa pemulihan duduk dalam keputusasaan yang sunyi.
Namun, pemandangan paling mengerikan bagi Cassvia bukanlah hutan yang menakutkan ini, melainkan pemandangan di luar tandunya.
Valdor, bayi ungu yang baru ia lahirkan lima hari lalu, kini berjalan berdampingan dengan para prajurit. Berkat sistem genetik mutlak sang Kaisar, di usianya yang hampir mencapai satu minggu, Valdor telah memiliki fisik setara dengan anak manusia berusia lima tahun. Otot-ototnya padat layaknya baja tempa, dan tangan kecilnya menyeret sebuah pedang besi patah sisa jarahan dengan mudah.
Di belakang Valdor, ketiga saudara Iron-skin Hobgoblin-nya juga tumbuh buas. Mereka kini berpostur bungkuk bertenaga, melompat dari satu akar pohon ke akar lainnya dengan insting berburu yang mulai matang.
Tiba-tiba, langkah Valdor terhenti. Insting kebuasannya terpancing oleh seekor ular berbisa raksasa yang mendesis dari balik semak. Valdor mengangkat pedangnya dengan kasar, bersiap menerjang layaknya binatang liar.
Namun, sebuah tangan berselubung mana ungu mencengkeram bahu Valdor dari belakang, memaksanya diam di tempat.
Itu adalah Zyrus. Pangeran Ungu pertama itu kini berusia menjelang tiga minggu. Tubuhnya telah meroket tinggi, menyamai fisik pemuda manusia berusia belasan tahun. Wajahnya bersudut tajam, memancarkan kecerdasan dan otoritas dingin. Dengan jubah hitam yang meniru ayahnya, Zyrus melambaikan tangannya ke depan. Sebuah peluru mana murni melesat dari telapak tangannya, menembus kepala ular raksasa itu hingga hancur berkeping-keping.
"Tegakkan posturmu, Valdor. Jangan menyerang dengan ceroboh seperti binatang liar," tegur Zyrus dengan suara remajanya yang mulai memberat. "Ayahanda tidak menciptakan kita untuk menjadi budak insting. Disiplin adalah kekuatan kita."
Valdor menoleh, memamerkan taringnya sejenak pada kakaknya. Namun, tekanan mana dari Zyrus dan hierarki kekaisaran memaksanya mendengus pelan dan menurunkan senjatanya, kembali berjalan dengan postur yang lebih tegap.
Di dalam tandu, Cassvia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Anak-anaknya tumbuh, berevolusi, dan mendominasi satu sama lain dalam hitungan hari. Ini bukanlah sekadar monster; ini adalah ras penakluk yang proses pertumbuhannya menentang akal sehat.
Semakin jauh mereka melangkah ke selatan, Hutan Misti mengubah wajahnya, namun tidak kehilangan kelebatannya. Rawa-rawa berlumpur perlahan menghilang, digantikan oleh kontur tanah pegunungan yang sangat terjal. Hutan di wilayah ini jauh lebih purba. Pepohonan tumbuh dengan ukuran yang mustahil—batang-batangnya sebesar menara kastel, dengan akar-akar yang menjalar sebesar bukit berselimut lumut tebal. Kanopi daun di atas mereka begitu rapat dan berlapis-lapis, nyaris sepenuhnya memblokir cahaya langit.
Udara menjadi sangat dingin dan lembap. Suara guntur terus-menerus terdengar bergemuruh, bukan dari kejauhan, melainkan tepat dari atas kanopi dedaunan raksasa yang menutupi mereka.
"Yang Mulia," panggil Anrus, tetua Purple Goblin itu berjalan dengan tongkatnya, menahan napas karena udara pegunungan yang tipis. "Kita telah menaiki lereng wilayah Selatan. Pegunungan Berkanopi ini adalah wilayah Sang Penguasa Badai... Griffin."
Altair menghentikan langkahnya di atas sebuah akar pohon raksasa yang membentang menyeberangi jurang lebat. Ia mendongak, mencoba melihat ke balik kanopi daun raksasa di atas mereka. Kilatan cahaya biru menyambar dari balik dedaunan, diikuti suara petir yang memekakkan telinga.
"Monster kasta purba yang menguasai langit, pucuk-pucuk pohon raksasa, dan cuaca," lanjut Anrus bergetar. "Griffin tidak berburu di permukaan tanah seperti Warcraft Overlord atau Tigre. Ia berburu dari atas kanopi. Selama kita tidak memanjat pepohonan ini atau terbang ke atas kanopi, kita mungkin aman dari jangkauannya."
Altair mengangguk pelan. Wilayah ini adalah benteng pertahanan alami. Pasukan manusia tidak akan sanggup menembus hutan pegunungan securam dan selebat ini tanpa dimangsa oleh predator darat atau disambar badai jika mereka membuka area.
"Kirim unit pengintai. Cari jaringan gua yang terbentuk dari celah akar pepohonan purba atau tebing gunung ini," perintah Altair. "Kita jadikan dasar hutan ini sebagai markas baru."
Tidak butuh waktu lama, unit pengintai menemukan sebuah relung gua raksasa yang membelah ke dalam perut gunung, sepenuhnya tertutup oleh air terjun kecil dan sulur-sulur tanaman berduri. Tempat yang sempurna dan luas untuk menampung seluruh Kekaisaran.
Begitu seluruh rombongan berhasil masuk dan mulai menata markas, Altair berdiri sendirian di luar mulut gua, tepat di bawah rimbunnya dedaunan.
Tiba-tiba, suara angin menderu menembus hutan, menekan pepohonan hingga berderak hebat. Itu bukan tiupan badai biasa, melainkan berasal dari hempasan sayap raksasa di atas kanopi.
SYAAARRR!
Pekikan yang menyerupai gesekan logam dan guntur meledak dari atas sana, menggetarkan daun-daun raksasa dan menjatuhkan ranting-ranting patah ke tanah. Melalui celah dedaunan, Altair bisa melihat bayangan raksasa berselubung petir biru berkelebat cepat—seekor elang singa raksasa yang menguasai langit Selatan.
Altair tidak bersembunyi. Mata merah rubinya menyala dalam kegelapan hutan, menatap bayangan Penguasa Badai itu menembus dedaunan. Ia tahu, untuk mengklaim wilayah ini seutuhnya, bersembunyi di bawah kanopi tidak akan cukup. Takhta Hutan Misti Selatan harus direbut, dan penguasa lamanya harus dijatuhkan dari langit.