Di dunia otomotif, uang bisa membeli mobil mewah, kekuasaan bisa membeli bengkel terbaik, dan nama besar bisa membuat seseorang dihormati. Namun, tidak semua orang memahami bahwa di balik setiap mesin hebat, ada seseorang yang benar-benar mengerti cara kerjanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmat Agung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 — INISIAL R.W. DAN SUARA DARI MASA LALU
Arga Pratama tidak tidur nyenyak malam itu.
Buku catatan lama ARX-9 terbuka di atas meja kamarnya. Pada halaman yang sudah menguning, dua huruf tertulis di bawah catatan pengujian lima tahun silam.
R.W.
Dua huruf sederhana yang selama ini tidak pernah ia anggap penting.
Namun, setelah menerima telepon misterius, inisial itu terasa seperti pintu menuju rahasia yang sengaja dikunci rapat.
Arga mengambil ponselnya dan memotret halaman tersebut. Ia menyimpan salinan digitalnya, kemudian memasukkan buku asli ke dalam kantong pelindung agar tidak rusak. Ia tidak berniat menyerahkan benda itu kepada siapa pun sebelum mengetahui tujuan mereka.
Pukul enam pagi, ia menelepon Nadia Prameswari.
“Aku menemukan sesuatu di catatan lama.”
“Apa?”
“Inisial R.W. Ada seseorang yang menghubungiku semalam. Dia mengaku berada di ruang kendali ketika aku meminta pengujian dihentikan.”
Nadia terdiam sejenak.
“Apakah dia menyebut namanya?”
“Tidak. Tapi dia mengatakan orang yang menahan perintah penghentian bukanlah orang yang menandatangani laporan final.”
“Berarti kita harus berhati-hati. Bisa jadi dia benar-benar saksi. Bisa juga dia mencoba mengarahkan penyelidikan kita ke orang tertentu.”
“Aku berpikir sama.”
Arga menjelaskan tentang catatan pukul 22.14 dan panggilan yang terputus. Nadia meminta foto halaman tersebut, lalu berjanji memeriksa dokumen jadwal pengujian dan daftar petugas yang pernah berada di ruang kendali.
Sebelum menutup telepon, Nadia mengatakan sesuatu yang membuat Arga kembali memikirkan masa lalunya.
“Arga, ada kemungkinan inisial itu bukan nama orang yang menahan perintah penghentian. Bisa saja itu kode tim, kode ruangan, atau penanda pemeriksaan.”
“Aku tahu. Kita tidak akan menyimpulkan apa pun hanya berdasarkan dua huruf.”
“Bagus. Aku akan mencari dokumen pendukungnya.”
Setelah panggilan berakhir, Arga menyimpan buku catatannya ke dalam tas.
Hari ini ia harus kembali ke arena kompetisi. Namun, sebelum berangkat, ia berencana menghubungi Pak Darto. Ada satu pertanyaan yang sudah lama ingin ia ajukan kepada pria yang telah memberinya pekerjaan ketika semua orang menutup pintu.
Pertanyaan tentang seseorang yang pernah datang ke Agung Joyo Motor bertahun-tahun lalu.
Seseorang yang mungkin memiliki hubungan dengan proyek ARX-9.
Pagi itu, suasana Agung Joyo Motor sudah ramai ketika Arga tiba.
Pak Darto sedang memeriksa sebuah mobil keluarga yang mengalami getaran saat mesin menyala. Dua mekanik lain sibuk mengganti oli, sementara seorang pelanggan menunggu di dekat meja kasir.
“Tumben datang pagi sekali,” kata Pak Darto.
“Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan, Pak.”
Pak Darto mematikan alat pemeriksa, lalu mengajak Arga masuk ke ruang kecil di belakang bengkel.
“Ada masalah dengan kompetisi?”
“Bukan. Saya ingin bertanya tentang orang yang pernah mencari mekanik berpengalaman dalam sistem kendali mesin eksperimental. Bapak pernah mengatakan orang itu mengenal Gunawan Wiratama.”
Wajah Pak Darto berubah serius.
“Kamu masih menyelidiki proyek lama itu?”
“Saya hanya ingin memastikan hubungan yang sebenarnya.”
Pak Darto duduk di kursi kayu. Ia mengusap dagunya, mencoba mengingat kejadian yang sudah lama berlalu.
“Orang itu datang sekitar lima tahun lalu. Usianya mungkin empat puluhan. Dia tidak membawa mobil. Dia hanya bertanya apakah bengkel ini pernah menangani sistem kendali mesin prototipe.”
“Apakah Bapak ingat namanya?”
“Tidak yakin. Dia memperkenalkan dirinya dengan nama panggilan, bukan nama lengkap.”
“Bagaimana penampilannya?”
“Rambutnya mulai beruban. Dia mengenakan kemeja abu-abu dan membawa map hitam. Yang paling kuingat, dia tidak banyak bicara. Sebelum pergi, dia bertanya apakah kamu masih bekerja di sini.”
Arga terdiam.
“Dia mencari saya?”
“Ya. Saat itu kamu sedang berada di luar kota untuk mengurus sesuatu. Aku bilang kamu tidak ada.”
Pak Darto bangkit, lalu membuka lemari arsip kecil di sudut ruangan.
“Aku tidak tahu apakah ini berguna. Tapi aku masih menyimpan buku tamu lama.”
Ia mengeluarkan sebuah buku dengan sampul cokelat yang sudah kusam. Halaman-halamannya dipenuhi catatan pemasok, pelanggan, dan teknisi yang pernah berkunjung.
Pak Darto membuka halaman bertanggal lima tahun lalu.
Di bagian bawah terdapat sebuah catatan singkat.
Konsultasi sistem kendali — R. W. — menanyakan Arga.
Arga merasakan tengkuknya menegang.
Inisial yang sama.
Namun, catatan itu tidak memuat nama lengkap atau nomor telepon.
“Bapak yakin ini orang yang sama?”
“Tidak bisa kupastikan. Aku hanya mencatat apa yang dia tulis sendiri.”
Arga memotret halaman tersebut setelah meminta izin kepada Pak Darto.
“Terima kasih, Pak.”
Pak Darto menatapnya lekat-lekat.
“Arga, dengarkan aku. Kamu boleh mencari kebenaran tentang masa lalumu. Tapi jangan sampai kamu mengorbankan masa depan hanya karena ingin mengetahui siapa yang bersalah.”
Arga mengangguk.
“Saya tidak akan berhenti menjadi mekanik, Pak.”
Pak Darto tersenyum tipis.
“Bagus. Karena sebelum kamu menjadi legenda, kamu tetap harus menyelesaikan pekerjaan pelanggan yang menunggu di luar.”
Untuk sesaat, Arga tertawa kecil.
Ketegangan yang memenuhi pikirannya sedikit berkurang.
Ia kemudian keluar dan membantu memeriksa mobil pelanggan. Meski penyelidikan ARX-9 terus berkembang, ia tidak ingin melupakan hal yang membuatnya bertahan selama lima tahun terakhir.
Mesin yang rusak tetap harus diperbaiki.
Pelanggan yang datang tetap harus dilayani.
Dan kemampuan seorang mekanik tetap harus dibuktikan melalui pekerjaan nyata.
Di Jakarta, Nadia berhasil menemukan salinan jadwal pengujian ARX-9 dari arsip digital yang sebelumnya ia simpan.
Dokumen tersebut tidak lengkap, tetapi memiliki daftar petugas yang dijadwalkan berada di ruang kendali pada malam insiden.
Ada enam nama.
Adrian Voss.
Marcus Hale.
Kevin Santoso.
Fajar.
Seorang teknisi sistem bernama Bima Saputra.
Dan satu nama yang membuat Nadia menghentikan gerakan tangannya.
Raka Wibisono.
Ia segera menghubungi Arga.
“Aku menemukan kemungkinan identitas di balik inisial R.W.”
Arga, yang sedang dalam perjalanan menuju arena kompetisi, langsung menepikan kendaraannya di tempat yang aman sebelum menjawab.
“Siapa?”
“Raka Wibisono. Dia tercatat sebagai teknisi integrasi sistem kendali pada tahap akhir proyek ARX-9.”
“Kenapa namanya tidak pernah muncul dalam laporan final?”
“Itulah masalahnya. Dalam jadwal awal, dia terdaftar sebagai petugas ruang kendali. Dalam dokumen final yang tersedia untuk umum, namanya tidak ada.”
Arga menatap jalan di depannya.
“Apakah dia yang menahan perintah penghentian?”
“Aku belum tahu. Kita juga belum tahu apakah catatan R.W. di buku kamu merujuk kepadanya. Tapi ada satu hal lain. Dalam daftar personel, Raka tercatat mengajukan permintaan penghentian sementara pengujian dua hari sebelum insiden.”
“Alasannya?”
“Validasi komunikasi antarmodul belum selesai. Dia meminta pengujian dibatasi sampai seluruh parameter keselamatan dikonfirmasi.”
Arga mengingat malam ketika ia menemukan ketidaksesuaian data.
Ia tidak sendirian dalam mengkhawatirkan sistem tersebut.
Ada orang lain yang telah memperingatkan tim sebelumnya.
“Bagaimana dengan nasibnya setelah proyek dihentikan?” tanya Arga.
Nadia terdiam beberapa saat.
“Catatan kepegawaiannya menunjukkan bahwa dia mengundurkan diri sekitar dua minggu setelah laporan final diterbitkan.”
“Alasannya?”
“Tidak tercantum. Hanya ada keterangan bahwa pengunduran diri disetujui oleh manajemen.”
Arga memejamkan mata sejenak.
Jika Raka benar-benar telah memperingatkan tim sebelum insiden, mengapa namanya menghilang dari laporan? Mengapa ia meninggalkan perusahaan begitu cepat? Dan mengapa seseorang baru sekarang berusaha mengarahkannya kepada pria tersebut?
“Cari informasi yang bisa memverifikasi keberadaan Raka,” kata Arga. “Jangan menghubunginya melalui nomor yang belum kita pastikan.”
“Aku sedang memeriksa catatan profesional dan dokumen perusahaan yang dapat diakses secara sah.”
“Kalau kita menemukannya, kita harus mendengar ceritanya langsung.”
“Setuju.”
Arga menutup telepon dan kembali melanjutkan perjalanan.
Penyelidikan itu semakin mendekati sesuatu yang nyata. Namun, setiap kali sebuah nama muncul, selalu ada bagian lain yang hilang.
Seolah-olah seseorang telah menyusun sejarah ARX-9 menjadi sebuah teka-teki, lalu sengaja membuang beberapa potongan paling penting.
Di arena kompetisi, babak berikutnya telah dimulai.
Kali ini, para peserta diminta merancang sistem pemantauan kondisi mesin untuk kendaraan yang digunakan dalam perjalanan jarak jauh. Mereka harus menggabungkan data suhu, tekanan, getaran, dan konsumsi energi, lalu menyusun metode peringatan dini yang tidak menghasilkan terlalu banyak alarm palsu.
Arga bergabung dengan Rendy dan Dimas untuk mengerjakan tantangan tersebut.
Rendy terlihat lebih serius dibandingkan hari-hari sebelumnya.
“Aku sudah membaca hasil pengujian kita kemarin,” katanya. “Ada satu hal yang bisa kita perbaiki. Kita terlalu bergantung pada ambang batas tetap.”
Dimas mengangguk.
“Kalau kondisi operasional berubah, sistem bisa mengeluarkan peringatan yang tidak perlu.”
“Benar,” jawab Arga. “Kita perlu membandingkan perubahan terhadap kondisi kerja yang relevan, tetapi tetap menjaga batas keselamatan yang ditetapkan.”
Mereka membagi tugas.
Rendy menyusun model pembacaan kondisi berdasarkan beban kerja. Dimas mengolah data pengujian dan membuat perbandingan pola getaran. Arga merancang alur validasi agar sistem tidak langsung menyimpulkan kerusakan hanya dari satu sinyal yang menyimpang.
Beberapa tim memilih membuat sistem yang sangat sensitif. Hasilnya, hampir setiap perubahan kecil memicu peringatan.
Tim lain menggunakan ambang batas terlalu longgar sehingga beberapa anomali tidak terdeteksi.
Arga menekankan bahwa sistem yang baik bukanlah sistem yang paling sering memberikan alarm, melainkan sistem yang mampu membantu teknisi membedakan perubahan normal dari kondisi yang membutuhkan pemeriksaan.
Setelah beberapa kali pengujian, rancangan tim mereka menghasilkan peringatan yang lebih konsisten.
Ketika juri meminta penjelasan, Rendy maju terlebih dahulu.
“Model ini tidak menganggap satu data menyimpang sebagai bukti kerusakan. Sistem membandingkan beberapa indikator dan mempertimbangkan kondisi operasional, tetapi tetap memberikan peringatan apabila batas keselamatan terlampaui.”
Seorang juri mengangguk.
“Bagaimana jika sensor utamanya mengalami gangguan?”
Arga mengambil alih.
“Kami memasukkan pemeriksaan kewajaran data dan membandingkan sinyal dengan indikator lain yang tersedia. Jika hasilnya tidak konsisten, sistem menandai pembacaan untuk diverifikasi, bukan langsung mengubah pengaturan mesin secara otomatis.”
“Jadi sistem kalian dapat mengakui bahwa datanya belum cukup?”
“Ya. Dalam diagnosis, mengetahui bahwa data belum cukup sering kali lebih aman daripada membuat kesimpulan yang salah.”
Ruangan menjadi hening sejenak.
Marcus Hale, yang duduk di meja juri, menatap Arga dengan ekspresi sulit dibaca.
Ia mengenali prinsip yang sama.
Lima tahun lalu, Arga juga meminta pengujian dihentikan karena data keselamatan belum cukup untuk mendukung keputusan melanjutkan tes.
Namun, kali ini, prinsip itu disampaikan di hadapan banyak orang.
Dan tidak ada laporan final yang bisa dengan mudah menghapus apa yang baru saja didengar semua orang.
Setelah penilaian selesai, tim Arga kembali memperoleh nilai tinggi.
Rendy menepuk bahu Dimas.
“Sepertinya kita mulai menjadi tim yang cukup bagus.”
Dimas tersenyum. “Asalkan kamu tidak kembali menganggap Arga sebagai musuh setiap lima menit.”
“Aku masih ingin mengalahkannya.”
Arga tertawa kecil.
“Kalau begitu, kalahkan aku dengan hasil pengujian. Bukan dengan omongan.”
Rendy mengangguk mantap.
“Itu rencanaku.”
Namun, suasana ringan tersebut tidak bertahan lama.
Seorang petugas panitia menghampiri Arga dan menyerahkan amplop putih.
“Ini ditujukan kepada Anda. Pengirimnya tidak tercantum.”
Arga menerima amplop itu, tetapi tidak langsung membukanya.
Ia memeriksa bagian luar, mengambil foto sebagai catatan, lalu meminta petugas memastikan bahwa amplop tersebut tidak tercampur dengan dokumen resmi kompetisi.
Setelah petugas pergi, Arga membukanya di hadapan Nadia dan Fajar yang baru tiba.
Di dalamnya terdapat satu lembar foto lama.
Foto ruang kendali ARX-9 pada malam pengujian.
Beberapa orang terlihat berdiri di dekat konsol utama. Gambar itu agak buram, tetapi cukup jelas untuk mengenali Adrian Voss dan Marcus Hale.
Di sudut kanan foto, seorang pria berkemeja gelap berdiri membelakangi kamera.
Wajahnya tidak terlihat.
Di bagian belakang foto terdapat tulisan tangan:
Orang yang kamu cari memang berada di ruang kendali. Namun, orang yang memberinya perintah tidak pernah masuk ke dalam ruangan itu.
Fajar menatap foto tersebut dengan wajah pucat.
“Aku pernah melihat gambar ini.”
Arga segera menoleh.
“Di mana?”
“Di arsip dokumentasi lama. Tapi saat itu hanya ada versi yang dipotong. Bagian kanan foto ini tidak pernah ditampilkan.”
Nadia memperhatikan sudut bawah gambar.
“Ada cap waktu.”
Arga mendekatkan foto ke lampu.
Angka yang tercetak tampak samar, tetapi masih bisa dibaca.
22.29.
Tiga menit setelah kamera koridor dinonaktifkan menurut log akses yang mereka miliki.
Arga tidak berani menyimpulkan bahwa foto tersebut asli hanya berdasarkan cap waktu. Foto itu harus diverifikasi melalui sumber, metadata jika masih ada, dan perbandingan dengan arsip lain.
Namun, ada sesuatu yang jauh lebih mengganggunya.
Di dekat tangan pria yang membelakangi kamera, terlihat sebuah kartu akses berwarna hitam dengan simbol kecil berbentuk lingkaran dan garis melintang.
Simbol yang sama pernah muncul dalam salinan dokumen pengawasan yang diperlihatkan Kevin.
Fajar berbisik, “Itu bukan kartu akses biasa.”
“Apa maksudmu?” tanya Arga.
Fajar menelan ludah.
“Pada malam pengujian, hanya beberapa orang yang boleh menggunakan kartu seperti itu. Kartu tersebut dapat membuka ruang kendali tanpa melalui pemeriksaan akses reguler.”
“Siapa saja yang memilikinya?”
“Aku tidak tahu daftar lengkapnya. Tapi aku ingat satu nama yang disebut dalam pengarahan keamanan.”
Arga menatap Fajar.
“Siapa?”
Fajar hendak menjawab ketika ponsel Nadia bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Pesan itu hanya berisi satu kalimat:
Berhenti mencari Raka Wibisono. Dia tidak pernah meninggalkan proyek ARX-9 dalam keadaan hidup-hidup.
Nadia membeku.
Dimas yang berdiri di dekat mereka ikut membaca pesan itu. Rendy segera mendekat setelah melihat perubahan wajah mereka.
Arga mengambil napas panjang.
Ia tidak tahu apakah pesan itu merupakan ancaman, kebohongan, atau peringatan dari seseorang yang benar-benar mengetahui nasib Raka.
Namun, satu hal kini jelas.
Penyelidikan mereka telah menyentuh bagian sejarah ARX-9 yang masih ingin disembunyikan seseorang.
Arga menatap foto lama itu sekali lagi.
Pria tanpa wajah di ruang kendali.
Kartu akses hitam.
Inisial R.W.
Dan sebuah nama yang mungkin menjadi kunci untuk memahami siapa yang sebenarnya mengendalikan keputusan malam itu.
Ia memasukkan foto ke dalam map pelindung.
“Mulai sekarang, kita tidak bergerak berdasarkan ancaman,” katanya tegas. “Kita cari bukti yang bisa diverifikasi. Kalau Raka masih hidup, kita harus menemukannya. Kalau pesan ini benar, kita harus mencari catatan resmi yang menjelaskan apa yang terjadi padanya.”
Fajar mengangguk perlahan.
Nadia menyimpan tangkapan layar pesan tersebut.
Rendy mengepalkan tangan, bukan karena ingin bertarung, melainkan karena ia mulai memahami bahwa perkara ini jauh lebih besar daripada persaingan di arena kompetisi.
Sementara itu, di sebuah ruangan gelap yang jauh dari gedung penyelenggara, seseorang membuka berkas digital bertajuk ARX-9 — PERSONEL YANG DIHAPUS.
Di layar, nama Raka Wibisono masih tercantum.
Di bawahnya terdapat satu kolom berisi status yang belum pernah dilihat Arga.
STATUS: TIDAK DAPAT DIVERIFIKASI.
Pria di depan komputer menutup berkas itu.
Kemudian ia mengangkat telepon.
“Arga sudah menemukan fotonya,” katanya kepada seseorang di seberang sambungan. “Dan dia mulai mencari Raka.”
Suara di ujung telepon menjawab dingin.
“Kalau begitu, pastikan dia menemukan orang yang tepat.”
“Bagaimana jika dia menemukan yang sebenarnya?”
Hening sejenak.
Lalu suara itu berkata, “Itulah sebabnya kita harus memastikan dia tidak pernah sampai ke ruang arsip terakhir.”
Sambungan terputus.
Pria itu menatap sebuah kotak penyimpanan kecil di atas meja. Pada tutupnya tertempel label yang hampir terkelupas.
ARX-9/SR-04.
Kotak yang menurut catatan resmi masih berada di fasilitas arsip perusahaan ternyata sudah berada di tangannya.
Dan di dalamnya, tersimpan sesuatu yang tidak pernah tercatat dalam inventaris mana pun.
Bersambung.