Maya cuma cewek biasa yang nggak sengaja masuk ke lingkaran kehidupan Reza, bos mafia paling ditakuti di kota. Awalnya, Maya cuma cari aman. Tapi lama-lama, pesona Reza yang dingin tapi protektif bikin Maya luluh. Masalah utamanya? Reza sudah punya istri sah, Sora—wanita berkelas dari keluarga terpandang yang rela melakukan apa saja demi mempertahankan posisinya.
Di mata orang luar dan lingkaran mafia, Maya digelari sebagai pelakor yang merusak kedamaian. Tapi bagi Maya, ini bukan sekadar cinta terlarang. ini soal bertahan hidup di dunia gelap yang penuh pengkhianatan.
Ketika rahasia besar Reza dan Sora terkuak, Maya harus memilih: tetap bertahan di samping pria paling berbahaya walau dicap perusak rumah tangga, atau kabur sebelum nyawanya sendiri yang melayang.
Cinta terlarang, perebutan kekuasaan, dan intrik berdarah. akankah Maya mendapatkan hati Sang Mafia, atau justru jadi korban berikutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sora menyelidiki maya
Ancaman Sora di telepon itu langsung membuat suhu di dalam penthouse terasa merosot drastis. Reza mengepalkan tangannya kuat-kuat, lalu perlahan melepas pelukannya dari Maya.
"Tetap di dapur, jangan bergerak," perintah Reza pendek dengan suara bariton yang menusuk.
Maya yang masih terisak dan memegangi jarinya yang berdarah menatap Reza bingung. Pria itu melangkah cepat menuju dinding kaca besar yang menghadap langsung ke jalan raya di bawah sana. Dari ketinggian lantai 3 mansion, mata tajam Reza menyapu area jalanan.
Di seberang jalan, tepat di bawah jembatan penyeberangan, terlihat dua buah mobil van hitam tanpa plat nomor terparkir mencurigakan.
Beberapa pria berpakaian serba gelap tampak berjaga di sekitar area tersebut sambil sesekali mengarahkan lensa kamera panjang ke arah jendela apartemen.
Reza menempelkan kembali ponselnya ke telinga, menahan amarahnya yang membumbung tinggi.
"Apa yang mau kamu lakukan, Sora?"
Di seberang sana, suara tawa halus Sora terdengar sangat menyebalkan.
"Aku? Aku cuma memastikan kebenaran, Reza. Kamu tahu kan betapa besarnya nama keluarga besar kita? Mana mungkin aku membiarkan suamiku memelihara cewek jalang tanpa mencari tahu asal-usulnya terlebih dahulu?"
"Jaga mulu*mu, Sora!" bentak Reza pelan namun begitu berbahaya. "Jangan coba-coba melewati batas!"
"Batas? Kamu yang melompati batas itu duluan saat kamu membawa cewek murahan itu masuk ke tempat milik kita!" balas Sora, suaranya yang tadinya santai mendadak berubah dingin dan penuh kedengkian.
"Kamu pikir aku bodoh? Aku sudah menyuruh orang untuk melacak seluruh latar belakang cewek itu. Maya... anak yatim piatu yang cuma lulusan SMA dan kerja jadi pelayan restoran."
Reza terdiam. Garis rahangnya mengeras tajam. Sora ternyata tidak cuma menyebarkan gosip murah di antara para anak buah, tetapi juga bergerak cepat menggali seluruh informasi pribadi tentang Maya.
"Hebat ya," lanjut Sora dengan nada mengejek.
"Seorang Reza, bos besar yang ditakuti seluruh dunia bawah, mendadak jadi pahlawan kepunyaan pelayan biasa. Kamu pikir dia tulus sama kamu? Dia cuma memanfaatkan posisi dan uangmu untuk menyelamatkan nyawanya yang tak berharga itu!"
"Cukup, Sora," bisik Reza dengan nada mematikan.
"Kalau kamu menyentuh dia seujung kuku pun, saya tidak akan segan-segan menghancurkan bisnis keluargamu malam ini juga."
"Coba saja kalau kamu berani!" tantang Sora tanpa rasa takut sedikit pun.
"Ingat, Reza, silsilah keluargaku yang memberikanmu jalan menuju puncak kekuasaan ini. Kamu tidak akan bisa berdiri di sana tanpa pengaruh ayahku! Nanti malam, aku akan datang ke mansion. Kita selesaikan masalah cewek ini di depan mata kepala aku sendiri!"
TUT... TUT... TUT...
Sambungan telepon diputus secara sepihak oleh Sora. Reza meremas ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih, hampir saja memecahkan layar kaca telepon pintar itu.
Sementara itu di dapur, Maya yang mendengar samar-samar percakapan panas itu melangkah keluar dengan tubuh gemetaran.
Jari tangannya yang tergores kaca sudah dibalut seadanya dengan kain bersih, tapi wajahnya sangat pucat.
"Reza... Nyonya Sora tahu siapa aku?" tanya Maya dengan suara bergetar pelan.
Reza membalikkan badan, menatap Maya yang terlihat begitu rentan dan ketakutan.
Pria itu menarik napas panjang, berusaha meredam emosinya yang siap meledak demi tidak menakuti Maya.
"Dia cuma gertak sambal," kata Reza bohong, mencoba menenangkan.
"Tidak, Reza! Aku mendengar semuanya!" jerit Maya pelan, air matanya kembali menetes.
"Dia tahu aku pelayan biasa! Dia tahu latar belakangku! Dia pasti menganggapku sengaja mendekati kamu demi uang... Dia mau datang ke sini nanti malam, kan?"
Reza melangkah mendekat, memegang kedua bahu Maya dengan erat.
"Dengarkan saya, Maya. Kamu tidak perlu takut pada Sora. Tempat ini milik saya, dan tidak ada satu orang pun yang bisa menyentuh kamu selama ada saya di sini."
"Tapi aku tidak mau jadi penyebab kehancuran kamu!" seru Maya emosional, menatap langsung ke dalam mata Reza.
"Nyonya Sora punya keluarga besar! Dialah yang bikin kamu berkuasa seperti sekarang! Kalau kamu melawan dia demi aku, kamu bisa kehilangan segalanya, Reza!"
Reza tertegun. Di tengah ketakutannya sendiri yang begitu besar, hal pertama yang dipikirkan Maya justru adalah keselamatan dan posisi kekuasaan Reza. Kepolosan dan ketulusan gadis ini benar-benar menghantam sudut hati Reza yang paling dalam.
"Saya tidak peduli pada kekuasaan itu kalau harganya adalah membiarkan orang yang tak bersalah menjadi korban," ucap Reza penuh penekanan, jarinya perlahan menghapus air mata di pipi Maya.
"Tapi aku cuma cewek biasa..." bisik Maya lirih, kepalanya tertunduk pasrah.
"Aku tidak punya apa-apa untuk membalas kebaikan kamu..."
"Kamu tidak perlu membalas apa pun," balas Reza lembut. "Kamu cuma perlu percaya pada saya."
Namun, ketenangan singkat itu mendadak menguap saat suara bel pintu depan penthouse berbunyi nyaring.
TING-DONG!
Suara bel itu menggema hebat di seluruh ruangan yang sepi. Maya tersentak kaget, menyandarkan tubuhnya ke dada Reza karena panik.
Reza menatap ke arah pintu utama dengan tatapan membunuh. Pria itu melirik jam tangan mewahnya—baru pukul dua siang. Harusnya Sora datang nanti malam, bukan sekarang.
Melalui layar monitor CCTV di dekat pintu, terlihat sesosok pria setengah baya berambut uban bersetelan jas sangat mahal berdiri kaku di depan pintu bersama empat pengawal bersenjata lengkap.
Pria itu adalah Tuan Burhan—ayah kandung Sora sekaligus ketua klan teratas yang menyokong kekuasaan Reza.
"Buka pintunya, Reza!" suara berat Tuan Burhan terdengar dari intercom dengan nada sangat mengintimidasi.
"Bawa cewek simpananmu itu keluar! Kita harus bicara sekarang juga!"
Bersambung......