Arabella (18th), gadis SMA yang haus kasih sayang akibat diabaikan keluarga, dia mencari kasih sayang itu dari luar. tanpa dia berpikir panjang bahwa dia di manfaatkan oleh dunia luar yang ia percaya sebagai rumah.
Merasa putra pertamanya, Nathan tak dekat dan mengabaikan bella. orang tua Nathan mengirim sang adik untuk membatu mengurus Bella.
Karena sikap liar Bella dengan kekasihnya itu membuat christian menyimpan rasa pada Bella. hingga perasaan itu berubah menjadi obsesi terlarang.
.
.
Happy reading ✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1.
...Selamat datang di novel baru author. Cerita ini khusus 21++. Mohon bijak dalam Memilih baca-an....
...✨Happy Reading ✨...
...🪷...
Mata Arabella terpejam erat saat jemarinya tenggelam di antara helai rambut tebal pria di hadapannya, mencengkeramnya seolah pria itu adalah satu-satunya pegangan agar ia tidak tenggelam dalam sepinya malam.
Di lantai teratas apartemen mewah kawasan Jakarta Pusat itu, riuh rendah lalu lintas di bawah sana terasa begitu jauh. Hanya hembusan napas yang makin memburu dan gesekan kain halus yang terdengar memecah keheningan ruangan bertata cahaya remang tersebut.
"Bella... look at me," bisik Vero rendah, suara seraknya bergema tepat di depan bibir gadis itu.
Bella membuka matanya perlahan. Pupil matanya memantulkan kilau lampu gantung kristal yang berpendar redup. Di mata Vero, ia melihat sesuatu yang selalu ia cari selama ini: tatapan lapar akan kehadirannya, kepemilikan, dan rasa diinginkan yang tak pernah ia dapatkan di rumah besarnya sendiri.
"Kamu sangat cantik malam ini," tutur Vero lagi, jemarinya yang hangat menelusuri rahang tegas Bella sebelum turun melingkari pinggangnya yang ramping.
Tanpa menunggu balasan, Vero kembali merengkuh bibir Bella. Kali ini lebih dalam, lebih menuntut. Bella mendesah pelan dalam ciuman itu, membiarkan tubuhnya ditarik hingga tak ada lagi jarak tersisa di antara mereka di atas sofa kulit hitam yang dingin.
Sentuhan Vero membakar kulitnya, memberikan ilusi hangat yang membuat Bella rela menyerahkan segalanya—asal pria ini tidak meninggalkannya seperti orang-orang di rumahnya.
"Vero..." bisik Bella di sela ciuman mereka yang kian memanas.
"Sshh... let me love you, Bell," gumam Vero, napasnya makin tak teratur. Tangannya mulai bergerak tidak sabar, menyusup ke balik gaun sutra tipis yang dikenakan Bella, membelai pinggulnya dan berniat menyibak kain itu lebih tinggi.
Sentuhan yang kian liar itu tiba-tiba memicu kepanikan terselubung di dada Bella. Sensasi hangat yang tadinya membuai seketika berganti menjadi gelombang dingin yang menusuk. Jantungnya berdegup kencang, bukan lagi karena mabuk kasmaran, melainkan rasa takut yang pekat. Perasaan terdesak bahwa situasi ini sudah lepas dari kendalinya.
Ketika tangan Vero mulai menarik bagian atas gaunnya, Bella menahan pergelangan tangan pria itu dengan kuat.
"V-Vero, tunggu..." sergah Bella, suaranya gemetar.
Vero tak mendengarkan. Ia menyusupkan wajahnya ke leher Bella, mengecupi kulit halus itu dengan desakan hasrat yang sudah berada di puncak. "Sebentar aja, Bell... aku nggak tahan lagi..."
"Vero, stop! Tolong berhenti!" jerit Bella pelan namun tegas. Kedua tangannya mendorong dada Vero sekuat tenaga.
Gerakan Vero terhenti seketika. Pria itu mengangkat kepalanya, menatap Bella dengan mata yang memerah dan napas tersengal-sengal. Ada raut terkejut dan ketidakpuasan yang menggaris tebal di wajahnya.
"Kenapa, sih, Bell? Kita udah sejauh ini," protes Vero, nada suaranya bergetar menahan kejengkolan. "Kamu sendiri yang bilang kamu sayang sama aku, kan?"
"Aku... aku takut," cicit Bella. Air mata perlahan menggenang di sudut mata indahnya. Ia memeluk tubuhnya sendiri, mencoba menutupi gaunnya yang sedikit berantakan. "Tolong, jangan sekarang. Aku belum siap kalau harus sampai... sejauh itu."
Vero mengusap wajahnya kasar dengan kedua telapak tangan, menghembuskan napas berat yang terdengar seperti dengusan frustrasi. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, memejamkan mata sejenak untuk menekan gejolak dalam dadanya.
Bella menatapnya dengan cemas. Ketakutan terbesar Bella bukanlah kehilangan kesuciannya malam ini, melainkan ketakutan bahwa Vero akan marah, memutuskannya, dan meninggalkannya sendirian lagi.
"Maaf... Vero, maafin aku. Jangan marah, ya?" moho Bella pelan, meraih jemari pria itu dengan lembut.
Vero membuka matanya, menatap wajah polos Bella yang penuh kepasrahan. Perlahan, senyum tipis—hampir manipulatif—terbit di bibir pria itu. Ia tahu betul seberapa rapuhnya Bella dan betapa gadis itu bergantung pada perhatiannya.
"Aku nggak marah, Bell," ujar Vero dengan suara yang sengaja dibuat lembut, meski matanya masih berkilat menuntut. Ia menggenggam balik tangan Bella, lalu mengarahkannya turun menyusuri dadanya, perlahan membawanya ke bawah menuju bagian celananya yang semakin mengetat.
Bella menahan napas, menatap Vero dengan mata melebar.
"Kalau kamu memang belum siap untuk hal yang satu itu, oke, aku menghargai kamu," bisik Vero rapat di telinga Bella, membiarkan jemari halus gadis itu menyentuh tonjolan keras di balik kain celananya. "Tapi kamu nggak bisa biarin aku tersiksa kayak gini, kan? Kamu harus tanggung jawab, Sayang. Manjakan milik aku malam ini... pakai tangan kamu."
*
Jemari Bella gemetar hebat saat menyentuh permukaan kain celana Vero yang terasa panas. Keheningan apartemen yang mewah itu mendadak menjadi begitu menyesakkan, menyisakan deru napas Vero yang masih memburu di sisi wajahnya.
"Vero, aku..." suara Bella tercekat di tenggorokan. Ia menatap wajah kekasihnya dengan pandangan ragu. Ada ketakutan besar yang membayang, namun ketakutan akan ditinggalkan jauh lebih mendominasi pikirannya.
Vero mengusap pipi Bella dengan lembut, menggunakan nada suara yang menenangkan namun tak membiarkan adanya penolakan. "Kenapa, Bell? Kamu sayang kan sama aku? Aku udah ngalah buat nggak minta lebih dari kamu malam ini."
"Tapi aku belum pernah..." bisik Bella pelan, matanya mulai berkaca-kaca.
"Sshh, nggak apa-apa. Aku bimbing, ya?" Vero berbisik rapat di telinganya, menuntun jemari halus Bella untuk memegang bagian itu lebih erat. "Cuma sebentar, Sayang. Biar aku bisa tenang."
Bella menahan napasnya ketika Vero membantunya membuka kancing dan ritsleting celana jeans tersebut. Setiap gerakan terasa begitu lambat dan menegangkan bagi Bella. Namun, demi menjaga agar Vero tidak melangkah pergi dari kehidupannya yang sepi, Bella akhirnya menuruti arahan pria itu.
"Pelan-pelan aja, Bell..." gumam Vero sambil memejamkan mata, kepalanya terlempar ke belakang menyandar pada sofa kulit. Rintihan halus keluar dari bibirnya saat sentuhan jemari Bella mulai bergerak.
Bella memperhatikan ekspresi Vero. Ada rasa lega yang aneh di dalam dadanya saat melihat kekasihnya menikmati apa yang ia lakukan. Bagi Bella, kepuasan Vero adalah jaminan bahwa pria ini akan tetap bertahan di sisinya, setidaknya untuk beberapa waktu ke depan.
"Gitu, Bell... pinter banget," bisik Vero serak. Tangannya mengusap lembut rambut panjang Bella, sesekali mendorong pelan kepala gadis itu mendekat ke dadanya.
Beberapa menit berlalu dalam gejolak rasa asing dan canggung yang memenuhi benak Bella. Ketika erangan Vero mencapai puncaknya dan tubuh pria itu menegang sejenak sebelum akhirnya melemas, Bella langsung menarik tangannya kembali. Ia bernapas lega, seolah baru saja menyelesaikan sebuah tugas yang sangat berat.
Vero menghembuskan napas panjang, lalu menatap Bella dengan senyuman puas. Ia merengkuh tubuh Bella ke dalam pelukannya, mengecup dahi gadis itu dengan hangat. "Terima kasih, ya. Kamu memang paling tahu cara bikin aku senang."
"Kamu nggak akan ninggalin aku, kan, Vero?" tanya Bella pelan, menyandarkan kepalanya di dada bidang Vero.
"Nggak akan, Bell. Mana mungkin aku ninggalin cewek yang selalu mengerti aku kayak kamu," jawab Vero lancar.
*
Namun, di tengah momen hangat itu, ponsel milik Bella yang tergeletak di atas meja kaca bergetar nyaring. Layarnya menyala, menampilkan nama kontak yang membuat senyum di wajah Bella seketika pudar: Nathan.
"Siapa?" tanya Vero pendek.
"Kakakku," cicit Bella. Ia menggeser layar untuk mengangkat panggilan tersebut dengan nada enggan. "Halo, Kak?"
"Kamu di mana jam segini, Bella?" suara Nathan di ujung telepon terdengar dingin dan tanpa nada emosi. "Pulang sekarang. Uang yang kamu pakai dari kartu kredit mama minggu ini udah melebihi batas. Papa sama Mama mau bicara lewat video call."
"Aku lagi di tempat temen, Kak. Nanti aku—"
"Nggak ada nanti. Pulang sekarang atau aku suruh orang jemput kamu," potong Nathan tegas sebelum langsung mematikan sambungan telepon.
*
*
*
......Bentuk apresiasi sederhana untuk author, bisa dilakukan dengan memberikan like, komentar, gift, dan vote.......
...🙏...
kesel banget liat keluarga allegra
tadi aja pada diem Bae pas Bella di maki"
pake acara marah segala pas Bella di culik orang