NovelToon NovelToon
Di Balik Pintu Yang Kukunci

Di Balik Pintu Yang Kukunci

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumah Tangga
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Sepuluh tahun Erlyn membangun kehidupan sempurna bersama suami dan anaknya, menyembunyikan masa lalu kelam yang sudah ia kunci rapat-rapat.

Dulu, saat usia 19 tahun, ia terjebak pada Om Hendi — pria kaya yang mengurungnya, menyiksanya, dan menyimpan ratusan foto memalukan yang dipaksa diambil. Erlyn berhasil kabur, berpikir ia sudah aman.

Hingga suatu hari, pesan dan foto lama masuk ke ponselnya. Hendi kembali.

"Datang padaku, atau semua foto dikirim ke suamimu."

Sekarang Erlyn harus memilih:
kembali ke neraka yang dulu ia tinggalkan, atau membiarkan keluarganya hancur oleh kebenaran yang menyakitkan.

Satu rahasia. Dua pilihan. Tak ada yang tidak terluka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Waktu menunjukkan pukul dua siang ketika taksi berangkat membawa Erlyn menuju gedung apartemen Grand Tower.

Berbeda dari Rabu-Rabu sebelumnya di mana langkah kaki Erlyn terasa sangat berat bagaikan terseret beban ribuan ton, hari ini ada sesuatu yang berbeda di dalam sorot matanya. Ada ketenangan yang dingin, sebuah tekad baja yang telah disatukan oleh cinta dan kebersamaan dengan suaminya semalam.

Ia tidak sendirian lagi. Kalimat itu terus berputar di kepala Erlyn, memberinya perisai tak kasat mata untuk menghadapi monster yang selama ini mencengkeram hidupnya.

Di dalam tas kecilnya, di balik lipatan tisu dan dompet, tersembunyi sebuah perangkat mini, sebuah alat sadap dan pemancar sinyal digital mutakhir yang dipasang oleh Doni.

Tugas Erlyn hari ini sederhana namun sangat mematikan bagi Hendi. Ia harus masuk ke dalam unit 402, mengulur waktu selama mungkin, dan mencari kesempatan untuk menanam perangkat tersebut ke laptop pribadi Hendi di ruang kerja pria itu, tempat di mana seluruh arsip digital pemerasan disimpan.

Erlyn melangkah masuk melalui pintu kaca otomatis lobi. Petugas keamanan menyapanya dengan anggukan formal yang sudah sangat hafal rutinitas mingguan wanita itu. Erlyn membalasnya dengan senyum tipis yang kaku, lalu masuk ke dalam bilik lift privat.

Saat tombol lantai empat belas ditekan dan lift meluncur naik dengan mulus, debar jantung Erlyn mulai berpacu kencang. Ia menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan oksigen, lalu menghembuskannya perlahan untuk menstabilkan getaran di dadanya.

Ia tidak boleh goyah. Sedikit saja ia menunjukkan kepanikan, Hendi yang bermata tajam akan langsung membaca gerak-geriknya.

Ding.

Pintu lift terbuka di lantai empat belas. Sepi. Lorong berkarpet tebal itu sunyi senyap, hanya diterangi oleh lampu dinding temaram bernuansa klasik. Erlyn berjalan menyusuri lorong hingga ia berhenti tepat di depan pintu unit 402.

Tanpa menunggu lama, ia mengangkat tangannya dan menekan bel pintu dua kali.

Cklek.

Tidak butuh waktu lama bagi pintu itu untuk terbuka. Sosok Hendi Sasmita muncul di baliknya, mengenakan kemeja katun rapi berlengan panjang yang digulung sampai siku.

Pria paruh baya itu menatap Erlyn dengan senyum tipis penuh kemenangan, senyum seorang pemilik yang menyambut barang kepunyaannya yang datang tepat waktu.

"Kau tepat waktu, Erlyn," suara Hendi terdengar rendah dan berwibawa, menggema pelan di dalam ruangan foyer yang mewah. Pria itu membuka pintu lebih lebar, mempersilakan Erlyn masuk. "Aku suka wanita yang disiplin. Masuklah."

Erlyn melangkah melewati ambang pintu. Begitu suara bunyi klik dari pintu yang diputar Hendi terdengar di belakangnya, tanda bahwa ia kembali terkunci di dalam sangkar emas itu, suasana dingin langsung menyergap kulitnya.

Namun, kali ini Erlyn tidak mundur. Ia berbalik dan menatap lurus ke mata Hendi, sebuah sikap yang membuat pria itu sedikit mengernyitkan dahi keheranan.

Biasanya, pada jam-jam seperti ini, Erlyn akan berdiri mematung di dekat pintu dengan kepala tertunduk, memeluk tubuhnya sendiri, dan gemetar ketakutan menunggu apa pun yang akan dilakukan Hendi kepadanya.

Namun hari ini, postur tubuh Erlyn tampak tegak, tatapannya tenang, bahkan ada kilatan perlawanan tipis yang terpancar dari pupil matanya.

Hendi melipat tangan di depan dada. Ia menyipitkan matanya, mengamati perubahan gerak-gerik wanita di hadapannya dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Ada apa denganmu hari ini, Erlyn?" tanya Hendi dengan nada menyelidik, sudut bibirnya terangkat sebelah membentuk senyum sinis.

"Kau kelihatan berbeda. Nggak ada air mata, nggak ada isak tangis memohon kasihan seperti minggu lalu. Apakah suamimu sudah tahu? Apakah keparat itu akhirnya menyerah dan membiarkanmu datang ke sini tanpa beban?"

Pertanyaan itu dilontarkan Hendi bukan sebagai rasa ingin tahu yang tulus, melainkan sebagai bentuk intimidasi psikologis yang biasa ia gunakan untuk mematahkan mental mangsanya sejak detik pertama mereka bertemu.

Erlyn menelan ludah dengan susah payah, menjaga agar suaranya tetap stabil dan tidak bergetar. Ia mengangkat dagunya sedikit, menatap Hendi tanpa gentar. "Suamiku tahu atau tidak, itu bukan urusanmu, Om."

Mendengar jawaban yang bernada membangkang itu, tawa kecil yang merendahkan lolos dari mulut Hendi. Pria itu menggelengkan kepala perlahan, lalu melangkah mendekat dengan langkah pelan seorang predator yang sedang mempermainkan mangsanya sebelum diterkam.

"Wah, wah... lidahmu sudah mulai lancip rupanya," gerutu Hendi sinis, berhenti tepat satu langkah di hadapan Erlyn. Aroma parfum mewah bercampur tembakau mahal menguar dari tubuh pria itu, membuat perut Erlyn mual seketika.

Hendi mengangkat tangannya, hendak menyentuh dagu Erlyn seperti biasa. "Sepertinya kau butuh sedikit pengingat tentang siapa yang memegang kendali di ruangan ini."

Sebelum jari Hendi sempat menyentuh kulitnya, Erlyn secara refleks melangkah ke samping, menghindari sentuhan itu dengan gerakan yang begitu natural namun tegas. Ia beralih menatap sekeliling ruangan, lalu berkata dengan nada yang sengaja dibuat santai untuk mengalihkan perhatian.

"Aku capek berdiri di dekat pintu terus, Om. Boleh aku duduk? Dan... boleh aku minta segelas air putih? Tenggorokanku rasanya kering sepanjang perjalanan tadi."

Hendi tertegun sejenak. Permintaan itu begitu kontras dengan ketakutan histeris yang biasanya ditunjukkan Erlyn.

Pria itu mendengus kecil, merasa tersinggung namun di saat yang sama juga merasa di atas angin karena mengira Erlyn mulai menyerah dan beradaptasi dengan situasi ini.

"Baiklah. Kau boleh duduk di sofa ruang kerja," jawab Hendi dingin. Ia berbalik dan menunjuk ke arah pintu kayu di ujung koridor apartemen tersebut. "Ambil sendiri air putih di dapur jika kau haus. Aku akan menyusulmu sebentar lagi."

Ini dia. Kesempatan pertama.

Jantung Erlyn berdegup kencang. Ruang kerja pribadi Hendi, tempat di mana laptop utama dan server penyimpanan file pemerasan berada terletak tepat di sebelah dapur.

Jika ia bisa masuk ke dapur dengan alasan mengambil air, ia punya kesempatan emas untuk menyelundupkan perangkat mini penjejak milik Doni ke ruang kerja tersebut.

"Baik, Om," jawab Erlyn patuh, lalu membalikkan badan dan berjalan perlahan menuju area dapur.

***

Sementara itu, jauh di luar gedung Grand Tower, di dalam kabin mobil sedan sewaan yang terparkir di seberang jalan, Iqbal dan Doni sedang menatap layar laptop pemantau dengan napas tertahan.

Sebuah titik lampu indikator kecil berwarna hijau di sudut layar laptop Doni berkedip pelan—tanda bahwa perangkat mikro yang dibawa Erlyn telah aktif memasuki radius jangkauan sinyal lokal gedung Grand Tower.

"Dia sudah masuk ke zona dalam," bisik Doni dengan nada tegang, jari-jarinya bergerak cepat di atas papan tik laptop untuk memindai jalur enkripsi CCTV lantai empat belas. "Iqbal, bersiaplah. Begitu perangkat itu terhubung ke jaringan lokal Hendi, kita akan langsung meretas masuk ke server utama mereka."

Iqbal mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Matanya menatap tajam ke arah gedung tinggi berlapis kaca di seberang sana. Di dalam dadanya, rasa cemas dan amarah bergemuruh hebat, namun ia tahu ia harus mempercayai istrinya.

Erlyn sedang mempertaruhkan nyawa dan sisa kewarasannya di dalam sana demi memutus rantai teror yang selama belasan tahun membunuh jiwa mereka perlahan-lahan.

"Masuklah, Erlyn... temukan apa yang harus kita temukan," gumam Iqbal lirih di dalam hati, menggenggam setir mobil begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih sempurna.

***

Kembali ke dalam unit apartemen 402, Erlyn berdiri di depan dispenser dapur. Tangannya menuangkan air putih ke dalam gelas kaca dengan jemari yang sedikit gemetar. Dari sudut matanya, ia melihat Hendi berjalan menjauh menuju kamar mandi utama, melepas jasnya dan meletakkannya di atas kursi.

Kesempatan ini tidak akan datang dua kali.

Dengan napas memburu, Erlyn meletakkan gelas air putih itu begitu saja di atas meja dapur. Ia merogoh saku mantel bagian dalamnya, mengeluarkan perangkat mini pemancar sinyal seukuran koin yang diberikan Doni semalam.

Ia melangkah seringan mungkin, menyelinap masuk ke dalam ruang kerja pribadi Hendi yang pintu sewaktu-waktu bisa terbuka. Ruangan itu tampak rapi, didominasi oleh rak buku besar berukuran dinding dan meja kerja kayu mahoni yang kokoh.

Di atas meja tersebut, sebuah laptop hitam berukuran sedang sedang dalam keadaan menyala, tersambung ke kabel pengisi daya.

Ia mendekati meja kerja itu. Tangannya yang berkeringat dingin meraba bagian bawah port USB di sisi laptop Hendi. Dengan cepat dan hati-hati, ia memasukkan perangkat mini tersebut ke dalam celah port yang kosong, memastikan alat itu menempel pas tanpa mencolok pandangan mata.

Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar mendekat dari arah lorong.

Cklek!

"Erlyn, lama sekali di d..." suara Hendi terhenti di ambang pintu ruang kerja.

Dunia seakan berhenti berputar. Jantung Erlyn serasa copot dari tempatnya. Ia baru saja melepaskan tangannya dari meja kerja, berdiri terpaku hanya beberapa sentimeter dari laptop Hendi, saat pria paruh baya itu berdiri melotot menatapnya dengan sorot mata yang mendadak berubah menjadi sangat tajam dan berbahaya.

***

Di luar gedung, lampu indikator di laptop Doni mendadak menyala terang benderang.

“Terhubung! Kita punya akses penuh ke server Hendi!” seru Doni tertahan di dalam mobil.

Pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai. Di dalam ruangan yang sempit itu, Erlyn menatap mata Hendi yang menyipit penuh kecurigaan, sementara detik-detik kritis menuju kejatuhan sang predator kini tengah berdetak menghitung mundur.

1
Maya 摩耶
Halah maaf taek 😒
Maya 摩耶
gk usah, suruh suamimu yg angkat haduuuh, seandainya busa ku jambak, ku jambak juga kau
Maya 摩耶
ah ngira2 mulu lu, fatal akibatnya nanti itu tuh, mending ngomong udah sih ah 😒
Siti Aisyah
jangan mau Lyn jangan mending kamu minta perlindungan dari suamimu aja lyn
Siti Aisyah
gapapa Lyn ceritakan semuanya saja Iqbal pasti akan menerima mu
Miu.Nuha
doni cepet juga dpt semua informasi itu, bagus lah. semua tabir akhirnya terbuka juga. Iqbal punya kebesaran hati yg luar biasa ❤
Pencari Cerita
hadee, kenapa gak ngomomg aja sama Iqbal biar, udh gak sopan banget si hendi ngapain cariin mll ngerusak rumah tangga orang aja
Fall.
obsesi Hendi benar² pengen memiliki erlyn semata kah? bukan yang lain?

kalau bener, emang bener² sakit sih hendi
Fall.
om Hendi membrutal erlyn
Fall.
aww ihhh merinding banget
Reno A.H
Erlynnnn, maksud menguasai hidup mu dulu itu apa?? Moga Iqbal menerima yah, soalnya sudah kepalang kadung. Sudah nyaman.
♡⃝ 𝓠𝓾𝓮𝓮𝓷𝓡𝓪 ♕
Dari awal Iqbal setulus ini. Kayaknya kamu jujur aja deh, Erlyn. Lebih baik mengatakannya sendiri daripada Iqbal mengetahuinya dari orang lain
♡⃝ 𝓠𝓾𝓮𝓮𝓷𝓡𝓪 ♕
Tentu saja, luka dan trauma itu tidak semudah itu untuk menghilangkannya, apalagi memendam semuanya sendirian.
aefpe fp
erlyn ini tipe orang yang suka menyiksa batinya ya adik adik, memang berat si tapi baik dia berpikir yang akan terjadi maka terjadilah👀
Mingyu gf😘
akhirnya terungkap juga😭😭
Mingyu gf😘
Aduhb kalian harus hati hati ya
Mingyu gf😘
semuanya udah kebkngkar kan, gak usah kesana lagi gak usah goblok
Mingyu gf😘
Nikmati hasil dari kebodohanmu
naws
duh. semoga kamu gak ngancurin hidupmu sendiri ya bal. gaboleh sampe jadi kriminal. kamu kriminalkan aja tuh si hendi.
naws
wajar marah dan sedih.
tapi semoga gak berlarut larut. rara masih butuh kamu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!