Sejak ibunya meninggal, hidup Bima berubah menjadi neraka setelah ayahnya membawa istri baru dan anak tirinya yang egois, membuatnya diperlakukan seperti pesuruh dan orang asing di rumahnya sendiri.
Puncaknya, ia difitnah mencuri barang berharga dan diusir begitu saja tanpa ampun, membawa luka hati yang mendalam serta sebuah kotak peninggalan misterius dari mendiang ibunya.
Tak disangka, kotak rahasia itu menjadi kunci bagi Bima untuk bangkit dari titik terendah, bermetamorfosis menjadi sosok sukses dan berpengaruh besar yang siap membuat keluarga pembuangnya bertekuk lutut memohon pengampunan.
Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Matahari pagi bersinar terang memantul di kaca gedung perkantoran mewah PT Cipta Sentosa.
Bima melangkah keluar dari dalam mobil mewah dengan mengenakan setelan jas hitam yang sangat rapi.
Penampilannya hari ini terlihat sangat berbeda jauh dari pemuda miskin yang diusir beberapa minggu lalu.
Wajahnya tampak tenang, dingin, dan memancarkan aura wibawa yang membuat siapa pun segan melihatnya.
"Hari ini adalah hari terakhir kekuasaan Hendra di perusahaan ini," batin Bima pelan dalam hati.
Ia berjalan menembus pintu kaca otomatis lobi utama dengan langkah kaki yang sangat mantap.
Wus...
Angin sejuk dari pendingin ruangan langsung menyambut kedatangannya.
Para petugas keamanan dan resepsionis yang dulu mungkin tidak mengenalnya kini langsung membungkuk hormat.
"Selamat pagi, Tuan," sapa resepsionis itu ramah tanpa menyadari siapa pemuda di hadapannya.
Bima hanya mengangguk pelan sebagai balasan dan langsung menuju lift khusus lantai atas.
Ting...
Pintu lift terbuka lebar di lantai dua puluh lima tempat ruang rapat utama berada.
Suasana di koridor lantai itu tampak sangat sunyi dan dipenuhi ketegangan tingkat tinggi.
Beberapa pengurus dan komisaris perusahaan tampak berdiri mondar-mandir dengan wajah cemas.
Mereka sedang menunggu dimulainya Rapat Umum Pemegang Saham luar biasa pagi ini.
Pak Hartawan yang sudah berdiri di depan pintu ruang rapat langsung tersenyum begitu melihat kedatangan Bima.
"Selamat pagi, Tuan Bima, semua dewan komisaris sudah berkumpul di dalam," sapa Pak Hartawan sopan.
"Bagus, mari kita masuk sekarang," jawab Bima dengan suara datar dan dingin.
Krek...
Pintu kayu mahoni besar itu didorong terbuka lebar oleh petugas keamanan.
Semua pasang mata di dalam ruang rapat mewah itu langsung menoleh ke arah pintu masuk.
Mereka terkejut melihat seorang pemuda berusia dua puluh tahun berjalan masuk dengan sangat percaya diri.
"Siapa anak muda itu? Kenapa dia berani masuk ke ruang rapat penting ini?" bisik salah satu direktur bingung.
Pak Hartawan segera maju dan menuntun Bima menuju kursi utama di ujung meja rapat yang panjang.
"Silakan duduk di kursi utama, Tuan Bima," kata Pak Hartawan mempersilakan dengan hormat.
Bima langsung mendudukkan dirinya di kursi pimpinan rapat dengan tatapan tajam menyapu seluruh ruangan.
"Tunggu dulu! Berani sekali anak bau kencur duduk di kursi direktur utama?!" bentak salah satu direktur kubu lama.
"Kalian semua pasti sudah gila membiarkan orang asing masuk ke ruang rapat rahasia perusahaan!" protes direktur itu lagi.
Bima menatap tajam pria paruh baya yang berteriak protes barusan tanpa sedikit pun merasa gentar.
"Aku bukan orang asing, dan kursi ini adalah hak mutlak milikku," jawab Bima dingin.
"Hak mutlak dari mana?! Perusahaan ini hampir bangkrut dan kamu cuma anak kemarin sore!" cibir direktur itu meremehkan.
Bima membuka map hitam di depannya dan melempar beberapa lembar dokumen resmi di atas meja kayu.
"Silakan baca dokumen itu sebelum kalian membuka mulut untuk menghinaku," perintah Bima tajam.
Rian selaku broker yang berdiri di samping Bima langsung membagikan salinan dokumen kepada seluruh peserta rapat.
Beberapa orang membuka lembaran kertas itu dengan tangan gemetar penuh rasa penasaran.
Mata mereka langsung membelalak lebar begitu melihat angka kepemilikan saham yang tertera di sana.
"Ini... tidak mungkin! PT Garuda Investama memegang mayoritas mutlak enam puluh persen saham perusahaan?!" seru direktur itu syok.
"Tepat sekali, dan aku adalah pemilik tunggal dari perusahaan tersebut," sahut Bima tersenyum sinis.
Suasana di dalam ruang rapat mendadak menjadi sangat gaduh oleh bisik-bisik ketakutan para direktur lama.
Mereka baru menyadari bahwa perusahaan ini sudah jatuh sepenuhnya ke tangan investor misterius.
Di saat yang sama, di luar gedung perkantoran, seorang pria berantakan tampak memaksa masuk melewati pos satpam.
Pria itu adalah Hendra yang datang secara diam-diam untuk mencari pertolongan terakhir dari kenalannya di kantor.
"Lepaskan aku! Aku mantan direktur utama di sini!" ronta Hendra kepada satpam yang menahannya di lobi.
"Maaf, Pak Hendra, Anda sudah tidak punya akses masuk gedung ini sejak kemarin," tolak satpam itu tegas.
"Aku cuma mau ketemu salah satu direktur lama untuk minta tolong!" mohon Hendra dengan suara parau.
Karena terus meronta, salah satu staf HRD yang lewat merasa kasihan dan mengizinkan Hendra naik secara diam-diam.
"Bawa dia lewat lift samping, jangan sampai bikin keributan di lobi utama," perintah staf HRD itu kepada satpam.
Hendra dengan langkah gontai akhirnya berhasil naik ke lantai atas tempat ruang rapat luar biasa sedang berlangsung.
Ia berjalan menyusuri koridor sepi dengan pakaian jas yang sudah kotor dan bau asem.
Langkah kaki Hendra terhenti tepat di depan pintu ruang rapat utama yang tidak tertutup rapat.
Dari celah pintu yang sedikit terbuka, Hendra mendengar suara orang berdebat di dalam ruangan.
Ia mencoba mengintip ke dalam untuk melihat siapa yang memimpin rapat penting tersebut.
Deg!
Jantung Hendra seolah berhenti berdetak seketika saat melihat sosok pemuda yang duduk di kursi utama.
Wajah pemuda itu sangat ia kenal di luar kepala, meskipun penampilannya kini jauh lebih berwibawa.
"Bi... Bima?!" gumam Hendra pelan dengan mata membelalak lebar tidak percaya.
Pikiran Hendra mendadak kosong seketika melihat anak yang dulu ia buang kini duduk di kursi kekuasaannya.
"Bagaimana mungkin anak sialan itu bisa menjadi pemilik mayoritas perusahaan ini?!" batin Hendra histeris.
Kaki Hendra terasa lemas seketika dan ia tidak sanggup lagi berdiri tegak di depan pintu.
Brak!
Pintu ruang rapat itu tiba-tiba terdorong terbuka oleh tubuh Hendra yang ambruk ke lantai.
Semua orang di dalam ruangan langsung menoleh kaget ke arah pintu masuk.
"Ayah?" ucap Bima dingin menatap pria paruh baya yang tersungkur di lantai.
Hendra merangkak masuk ke dalam ruangan dengan napas terengah-engah dan air mata bercucuran.
"Bima... tolong Ayah, nak... perusahaan ini milik kita..." rintih Hendra memohon di lantai marmer.
Bima berdiri perlahan dari kursi pimpinan dan melangkah mendekati ayah kandungnya yang kini tidak berdaya.
Ia berjongkok sedikit untuk mensejajarkan wajahnya dengan Hendra yang berantakan di lantai.
"Perusahaan ini memang milik keluarga kami, tapi bukan milikmu, Ayah," bisik Bima tajam tepat di telinga Hendra.
"Maafkan Ayah... dulu Ayah salah membuangmu..." tangis Hendra tersedu-sedu memegang ujung sepatu Bima.
Bima menarik pelan kakinya dari genggaman tangan Hendra dengan ekspresi wajah yang sangat dingin.
"Dulu saat aku diusir di bawah hujan lebat, tidak ada kata maaf yang keluar dari mulutmu," ucap Bima tanpa belas kasihan.
"Sekarang, nikmati sisa hidupmu sebagai pecundang sejati di luar sana," lanjut Bima bangkit berdiri.
Hendra menjerit histeris mendengar kalimat penolakan mutlak dari anak kandungnya sendiri.
Dua orang petugas keamanan segera datang menyeret tubuh Hendra keluar dari ruang rapat secara paksa.
"Lepaskan aku! Bima! Jangan lakukan ini pada ayahmu sendiri!" teriak Hendra histeris diseret menjauh.
Suara teriakan itu perlahan menghilang di sepanjang koridor gedung yang sunyi.
Bima kembali melangkah tenang menuju kursi pimpinan rapat di ujung meja.
Ia menatap seluruh direktur lama yang kini menunduk ketakutan di hadapannya.
"Rapat kita lanjutkan, mulai hari ini PT Cipta Sentosa resmi berada di bawah kendaliku," umum Bima mutlak.
Semua peserta rapat langsung mengangguk patuh tanpa ada yang berani membantah sepatah kata pun.
Kemenangan mutlak ini menandai berakhirnya penderitaan masa lalu dan dimulainya era baru kekuasaan Bima.