💗🤗 Assalamualaikum semua! Ayo mampir baca pelan-pelan aja ya! jika suka jangan lupa tinggalkan jejak kalian!👇🤗😍
Di balik wajah cantiknya, Alana menyimpan identitas mematikan: seorang hacker genius sekaligus penembak jitu bayaran yang tak pernah meleset. Namun, ia terpaksa menggantung senapannya demi satu tujuan baru yang tak pernah ia rencanakan—menjadi ibu pengganti bagi keponakannya yang mendadak yatim piatu.
Di sisi lain kota, Sang Bos Mafia penguasa dunia bawah tanah sedang murka. Pembantaian brutal baru saja menewaskan tangan kanan kepercayaannya, dan sepasang anak kembar sang tangan kanan menghilang tanpa jejak.
Dalam perburuannya mencari anak-anak itu dan menuntut balas, sang Mafia juga memburu seorang hacker misterius yang terus-menerus meretas sistem keamanan kartelnya.
Takdir mempertemukan mereka dalam kejar-kejaran yang mematikan. Sang Bos Mafia tidak tahu bahwa wanita cantik yang mati-matian melindungi sepasang anak kembar di dekapannya adalah penembak jitu yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Cahaya matahari pagi menyapu lantai marmer ruang makan Mansion Adhitama, tetapi kehangatannya kalah telak oleh atmosfer yang tengah mendidih di meja makan tersebut.
Alana melangkah masuk dengan balutan kemeja sutra putih dan celana palazzo hitam. Di jari manis tangan kirinya, bertengger sebuah cincin berlian emerald-cut antik yang memantulkan cahaya menyilaukan.
Elvano, rupanya, tidak membuang waktu. Pria arogan itu menyelinap ke kamarnya subuh tadi hanya untuk meletakkan cincin warisan keluarga Adhitama itu di atas nakasnya beserta sebuah catatan singkat bergaya diktator: "Pakai ini, atau aku sendiri yang akan memasangkannya di depan seluruh pasukan."
Begitu Alana menarik kursinya di sebelah Elvano, keheningan yang sangat canggung langsung menyergap meja makan.
Sonia yang sedang mengoleskan selai stroberi menghentikan gerakannya. Matanya yang tajam tertuju lurus pada jari manis Alana. Di ujung meja, Nyonya Besar Lidya menahan napas, garpu di tangannya melayang di udara, sementara Tuan Besar Bramantya menurunkan koran paginya perlahan dengan senyum penuh arti.
"Astaga, Naga..." gumam Bastian yang duduk di seberang mereka. Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar, menatap Elvano dengan raut frustrasi yang jenaka.
"Kalian benar-benar melakukannya? Semalam?"
"Bersihkan pikiran kotormu, Bas," sahut Elvano santai. Pria itu menyesap espresonya dengan keangkuhan seorang raja yang baru saja menaklukkan dunia, matanya melirik sekilas ke arah cincin di jari Alana dengan kilat posesif yang mutlak.
Jeritan kegirangan Lidya seketika memecah kesunyian. Nyonya Besar itu berdiri dari kursinya, nyaris berlari menghampiri Alana, dan memeluk wanita itu dengan erat. "Ya Tuhan! Akhirnya! Kamu tahu enggak mommy sudah lama menyiapkan cincin itu sejak Elvano lulus sekolah menengah! Alana, Sayang, selamat datang secara resmi di keluarga ini!"
Alana yang tidak terbiasa dengan afeksi berlebih hanya bisa tersenyum canggung sambil menepuk pelan punggung calon ibu mertuanya. "Terima kasih, Nyonya Lidya."
"Panggil Mommy," koreksi Lidya mutlak, persis seperti putranya.
Sonia tertawa renyah, mengangkat cangkir tehnya tinggi-tinggi. "Selamat, Adikku yang kaku. Aku benar-benar harus menyewa tim medis untuk mengecek apakah kau mengancamnya dengan pistol agar dia mau menerima lamaranmu."
"Justru aku yang harus mengancamnya agar dia tidak meretas rekening perusahaanku setiap kali dia marah," balas Elvano dengan seringai tipis, melirik Alana yang kini mendengus pelan namun tak menampik ucapannya.
Di tengah keributan bahagia itu, Bastian merogoh dompetnya dengan wajah cemberut dan melempar lima lembar uang seratus dolar ke atas meja, tepat di depan Jace yang kebetulan sedang berdiri mengawal di sudut ruangan.
"Kau menang, Jace," gerutu Bastian.
"Aku bertaruh Elvano butuh waktu setidaknya sebulan untuk menurunkan gengsinya dan melamar. Ternyata dia lebih bucin dari dugaanku."
Jace, sang kepala keamanan yang biasanya sedingin es, dengan santai memungut uang tersebut dan memasukkannya ke dalam saku jasnya tanpa ekspresi.
"Terima kasih, Tuan Bastian. Prediksi saya selalu berdasarkan probabilitas ancaman di lapangan. Tuan Elvano tidak akan membiarkan aset paling berharganya tidak terikat lebih dari dua puluh empat jam."
"Tunggu dulu," suara datar Kael tiba-tiba menginterupsi.
Bocah tampan itu berdiri di atas kursinya, membawa sebuah tablet digital. Di sebelahnya, Kai berdiri melipat tangan di dada dengan postur yang sangat mengintimidasi untuk ukuran anak seusianya. Mereka berdua berjalan menghampiri Elvano.
Kael meletakkan tablet itu tepat di sebelah piring espreso Elvano. Layarnya menampilkan sebuah dokumen digital yang panjang.
"Apa ini?" tanya Elvano, mengangkat sebelah alisnya.
"Syarat dan Ketentuan Pranikah," jawab Kael tanpa berkedip. "Jika Paman El ingin menikahi Bunda dan menjadi ayah sambung kami secara legal, Paman harus menyetujui perjanjian ini."
Alana tersedak air putih yang baru saja diminumnya. "Kael! Bunda tidak pernah mengajarimu membuat prenup!"
Kai menepuk lengan Alana dengan gaya menenangkan yang sangat dewasa.
"Tenang, Bunda. Kami hanya mengamankan investasi emosional kita." Bocah itu menoleh ke arah Elvano.
"Pasal satu: Paman tidak boleh mati meninggalkan Bunda. Jika Paman mati karena kecerobohan di lapangan, aku akan membangkitkan Paman dari kubur hanya untuk membunuh Paman lagi."
"Pasal dua," lanjut Kael, menggeser layar tabletnya. "Paman harus mengalokasikan sepuluh persen dari anggaran pertahanan klan Adhitama untuk meng-upgrade server Bunda setiap tahun.
Pasal tiga: Hak veto mutlak untuk stok es krim cokelat mingguan. Silakan pindai sidik jari Paman di sini."
Tuan Besar Bramantya meledak dalam tawa yang menggelegar, disusul oleh Sonia dan Bastian. Bahkan Lidya harus menyeka air matanya karena terlalu banyak tertawa pagi ini.
Elvano menatap kedua keponakan calon istrinya itu dengan rahang berkedut menahan senyum bangga yang luar biasa. Ia adalah penguasa mafia yang ditakuti seluruh kota, namun di meja makan ini, ia ditodong oleh dua balita jenius dengan kontrak pranikah paling absurd di dunia.
Tanpa banyak bicara, Elvano menempelkan ibu jarinya di layar pemindai.
BIP!
"Kontrak disahkan," ucap Elvano mutlak, menatap Kael dan Kai dengan kesungguhan penuh.
"Dan sebagai tambahan pasal dari pihakku: Jika ada yang berani membuat bundamu menangis, kalian berdua punya izin penuh dariku untuk meledakkan rumah orang itu. Sepakat?"
"Sepakat!" seru si kembar serempak.
Alana hanya bisa menggelengkan kepalanya tak percaya, namun senyum tulus yang hangat merekah di bibirnya. Kekacauan pagi ini adalah jenis kekacauan keluarga yang tak pernah ia miliki sebelumnya. Ia telah menemukan tempatnya.
Namun, dunia bawah tanah tidak pernah membiarkan rajanya beristirahat terlalu lama.
__________
Malam harinya, di ruang rapat eksekutif di puncak Menara Adhitama, ketegangan yang pekat dan mematikan menggantikan kehangatan pagi tadi. Runtuhnya Sindikat Bayangan dalam semalam telah menciptakan pusaran kekosongan kekuasaan.
Para penguasa distrik dari barat dan selatan, serta beberapa mitra bisnis kotor yang selama ini bersikap netral, kini duduk melingkari meja bundar berbahan marmer hitam.
Mereka datang seperti sekumpulan serigala rakus, bersiap memperebutkan wilayah pelabuhan dan aset finansial yang ditinggalkan oleh Sindikat Bayangan.
Pintu ganda ruang rapat terbuka. Elvano melangkah masuk, memancarkan aura dominasi yang seketika membungkam seluruh ruangan. Jas hitamnya disesuaikan sempurna, wajahnya sekeras granit. Namun, yang membuat para bos distrik itu menahan napas bukanlah kehadiran sang don, melainkan sosok yang berjalan sejajar di sampingnya.
Alana.
Wanita itu mengenakan setelan jas wanita berwarna burgundy gelap, kemeja hitam berbahan sutra, dan sepatu hak tinggi stiletto yang mengetuk lantai marmer dengan irama mematikan.
Posturnya angkuh, matanya setajam pedang. Cincin berlian emerald-cut di jarinya memantulkan cahaya lampu gantung, memberikan pesan visual yang tak terbantahkan.
Elvano mengambil tempat duduk di kursi utama, sementara Alana duduk di kursi sebelah kanannya—kursi yang secara tradisi hanya diperuntukkan bagi wakil mutlak sang don.
"Selamat malam, Tuan-tuan," suara bariton Elvano memecah keheningan yang mencekam.
"Seperti yang kalian tahu, pelabuhan utara telah bersih dari hama. Dan semua aset finansial Sindikat Bayangan kini berada di bawah kendali penuh klan Adhitama."
Seorang pria paruh baya berwajah kasar dari distrik selatan, yang dikenal dengan nama Don Marco, berdeham keras. Matanya menatap remeh ke arah Alana.
"Kami menghormati kemenanganmu, Elvano. Tapi pembagian wilayah adalah tradisi," geram Marco dengan suara berat. "Dan tradisi juga mengatakan bahwa ruang rapat ini tidak diperuntukkan bagi... pendamping wanita. Sebaiknya dia menunggu di luar selagi para pria mengurus bisnis."
Hening yang mematikan menyelimuti ruangan. Jace dan para penjaga elit Adhitama yang berdiri di sekeliling ruangan nyaris menyentuh gagang senjata mereka.
Elvano tidak marah. Ia justru bersandar di kursinya, menyilangkan jari-jarinya di atas pangkuan, dan tersenyum miring—sebuah senyum iblis yang sangat ditakuti. Ia tidak perlu membela Alana, karena ia tahu, singa betinanya bisa merobek pria itu tanpa bantuan siapa pun.
"Silakan, Sayang," gumam Elvano santai, memberikan ruang panggung sepenuhnya untuk Alana.
Alana memiringkan kepalanya, menatap Don Marco dengan tatapan yang bisa membekukan lautan. Tanpa membuka mulut, ia merogoh ponsel pipih dari saku jasnya, mengetik beberapa perintah cepat, lalu melempar ponsel itu ke tengah meja.
Layar proyektor raksasa di belakang Elvano seketika menyala terang.
Bukan grafik keuangan yang muncul, melainkan deretan nomor rekening lepas pantai (offshore), foto-foto transaksi senjata ilegal dengan pihak musuh, dan sebuah rekaman suara Don Marco yang sedang bernegosiasi diam-diam dengan sisa-sisa anggota Sindikat Bayangan dua hari yang lalu.
Wajah Don Marco seketika pucat pasi bak mayat. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya. Bos-bos distrik lain mulai bergeser menjauh darinya, menyadari bahwa pengkhianatan baru saja dipertontonkan secara langsung.
"Tradisi memang penting, Don Marco," suara Alana akhirnya mengalun, dingin, tenang, dan mematikan. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menopangkan sikunya di atas meja.
"Tapi di dunia modern ini, informasi adalah dewa. Dalam enam puluh detik, aku bisa membekukan seluruh dana di Kepulauan Cayman milikmu. Dalam sembilan puluh detik, aku bisa mengirimkan bukti penggelapan pajakmu ke interpol. Dan dalam dua menit... aku bisa membuat identitasmu terhapus dari muka bumi."
Alana menyandarkan tubuhnya kembali, tersenyum dengan keangkuhan absolut. "Jadi, beritahu aku, Don Marco... apakah kau masih keberatan aku duduk di kursi ini?"
Marco menelan ludah dengan susah payah, suaranya tercekat di tenggorokan. Ia menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mata Alana maupun Elvano.
"T-tidak, Nyonya Adhitama. S-saya mohon maaf."
Elvano bangkit berdiri perlahan, matanya yang gelap menyapu seluruh pria di ruangan tersebut, memastikan setiap dari mereka merekam momen ini di dalam otak mereka.
"Biarkan ini menjadi peringatan pertama dan terakhir untuk kalian semua," deklarasi Elvano, suaranya menggelegar menggetarkan kaca jendela.
"Dia bukan sekadar wanitaku. Dia adalah pedangku, perisaiku, dan mata yang mengawasi setiap pergerakan kalian di dalam kegelapan. Jika kalian menentangnya, kalian menentangku."
Elvano menoleh ke arah Alana, mengulurkan tangannya. Alana menyambut uluran tangan itu, dan keduanya berdiri berdampingan layaknya dua penguasa tak tertandingi di puncak hierarki dunia bawah tanah.
"Mulai malam ini, klan Adhitama memiliki Ratu baru," pungkas Elvano.
Bersambung....