Seorang ratu yang kehilangan mahkota karena fitnah dan seorang putri yang tumbuh dalam pengasingan tanpa mengetahui bahwa darahnya menyimpan kunci takhta.
Enam belas tahun kemudian, seorang dayang baru memasuki istana dengan wajah polos, tangan terampil, dan rahasia yang dapat mengguncang dua kerajaan. Ia datang bukan untuk mencari cinta.
Ia datang untuk membersihkan kembali nama ibunya, membongkar dosa masa lalu, dan mengambil kembali takhta yang dirampas.
Namun, takdir mempertemukannya dengan dua pangeran: seorang pewaris takhta yang kejam tetapi kesepian, dan seorang pangeran dari kerajaan musuh yang membuatnya merasakan cinta untuk pertama kalinya.
Ketika pernikahannya dengan putra mahkota diumumkan, sang kekasih menculiknya tepat pada malam pertama. Satu tindakan nekat itu memicu perang yang mengancam menghancurkan kedua kerajaan di tengah pertumpahan darah, rahasia kelahirannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suesant SW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1. Malam Berdarah Di Istana Weishan
Malam itu, langit Kerajaan Weiyang tampak seperti kain sutra hitam yang dibentangkan oleh tangan para dewa di atas bumi. Awan kelabu menggulung di balik puncak-puncak istana, menelan cahaya bulan yang semula menggantung anggun di antara bintang-bintang. Angin musim gugur menyusup melalui celah-celah jendela, menggoyangkan tirai merah tua dan mengusik nyala lilin yang berjajar di sepanjang koridor Istana Weishan. Jauh di luar tembok istana, lonceng penjaga malam berdentang dua belas kali.
Dentangnya bergema panjang, berat, dan menggetarkan kesunyian, seolah-olah langit sedang menghitung mundur menuju datangnya sebuah malapetaka.
Di bagian terdalam istana kekaisaran, berdiri Paviliun Fengyi, kediaman resmi Permaisuri Wang Laoyin.
Paviliun itu merupakan salah satu bangunan terindah di seluruh Istana Weishan. Atapnya bertingkat tiga dengan genting berlapis glasir keemasan, ujung-ujungnya melengkung anggun menyerupai sayap burung phoenix yang hendak terbang menembus awan. Pilar-pilar merah menjulang kokoh menyangga langit-langit yang dihiasi ukiran naga dan burung phoenix, lambang penyatuan kekuasaan kaisar dan permaisuri. Di halaman depan, kolam teratai membentang di antara bebatuan giok, sementara pohon plum tua berdiri di sisi timur, ranting-rantingnya bergerak perlahan diterpa angin.
Di dalam paviliun utama, kemewahan tampak pada setiap sudut ruangan.
Di balik tirai berlapis sutra merah, sebuah ranjang besar berdiri di atas panggung kayu cendana.
Tirai ranjang itu dihiasi sulaman burung phoenix yang membentangkan sayap di tengah lautan awan. Benang emas yang digunakan untuk menyulamnya berkilauan setiap kali cahaya lilin bergetar, seolah burung legendaris itu benar-benar hidup dan sedang menunggu saatnya mengepakkan sayap.
Permaisuri Kerajaan Weiyang itu berusia dua puluh lima tahun. Kecantikannya telah lama menjadi pembicaraan di antara para bangsawan, bahkan sebelum ia mengenakan mahkota phoenix. Wajahnya memiliki keanggunan yang sulit ditandingi perempuan mana pun di istana, kulit seputih giok yang dipoles, alis lentik menyerupai sapuan kuas pelukis terkenal, hidung yang tegas, serta bibir merah muda yang biasanya memancarkan ketenangan.
Rambut hitamnya terurai di atas bantal sutra, sebagian terjuntai melewati bahunya. Tanpa mahkota dan perhiasan kebesaran, ia tampak lebih muda, lebih lembut, seolah beban seluruh kerajaan tidak pernah singgah di pundaknya.
Namun, di balik kelembutan wajah itu tersimpan keteguhan seorang perempuan yang tidak mudah ditundukkan.
Ratu Wang Laoyin bukan sekadar perempuan tercantik di istana. Ia adalah putri keluarga Wang yang sejak kecil dididik memahami sastra, strategi, tata pemerintahan, dan seni diplomasi. Ia mampu membaca satu kebohongan di antara seribu kalimat manis, mengenali perubahan suasana hati dari sepasang mata, serta menjaga martabatnya bahkan ketika berdiri di hadapan para pejabat yang berusaha merendahkannya.
Selama delapan tahun menjadi istri Raja Han Quan , ia telah mendampingi sang penguasa melewati pemberontakan, bencana kelaparan, dan perselisihan para bangsawan. Ia tidak pernah meminta kekuasaan lebih dari yang diberikan kepadanya, tetapi juga tidak pernah membiarkan siapa pun mempermainkan kehormatannya. Setidaknya, itulah yang diyakini seluruh istana.
Malam itu, Ratu Wang Laoyin tidur tanpa mengetahui bahwa kehancuran sedang merayap mendekati ranjangnya.
Sssshhhhh....
Sebuah suara samar menyusup ke dalam tidurnya.
Mula-mula, ia mengira suara itu hanyalah ranting pohon plum yang bergesekan dengan jendela. Namun, sesaat kemudian, terdengar bunyi lain—seperti sesuatu yang berat diseret melintasi lantai.
"Ugh..." Wang Laoyin berusaha membuka matanya tetapi serasa kelopak matanya bertangkup berat.
Keningnya berkerut.
"Huuuh..." Tangannya terangkat lemah memegang kepalanya. Rasanya masih ingin memejamkan mata tetapi suara angin dia dengar bukan bagian dari bunga tidur. Seperti langkah kaki yang tadinya mendekat kemudian menjauh dengan hati-hati.n
Ia bergerak perlahan di balik selimut, tetapi rasa kantuk yang berat menahannya untuk membuka mata. Kepalanya terasa pening, seakan seseorang telah menuangkan timah cair ke dalam benaknya. Tenggorokannya kering, sementara kedua tangannya terasa seperti tak bertenaga.
Apa yang terjadi?
Pertanyaan itu melintas samar, lalu lenyap ditelan kantuk.
Ingatan terakhirnya hanyalah sebuah cawan teh hangat yang diminumnya setelah menyelesaikan laporan keuangan istana Ratu yang merupakan tanggung jawabnya di mana dia memimpin semua istana paviliun para selir dan dayang istana.
Lamat-lamat di ingatannya, seorang pelayan dari kediaman raja menyampaikan bahwa Raja Han Quan masih menghadiri perjamuan bersama para pejabat tinggi dan tidak akan datang ke Paviliun Fengyi malam itu.Setelah itu, Wang Laoyin beristirahat. Setidaknya, itulah yang ia ingat.
Ia tidak ingat berbicara dengan siapa pun. Tidak ingat memanggil pelayan. Tidak ingat meninggalkan ranjangnya.
Dan ia sama sekali tidak ingat membuka pintu bagi siapa pun.
Suara angin kembali berembus.
Api lilin di atas meja bergoyang, memanjangkan bayangan benda-benda di dinding. Bayangan ukiran phoenix di balik tirai tampak melengkung seperti sayap hitam yang merentang hendak menelan ruangan.
Kemudian, Wang Laoyin mencium sesuatu.
Bau logam.
Ia mengangkat selimut dengan tangan gemetar.
Darah.
Darah merah kehitaman membasahi seprai, menyebar dari sisi ranjang hingga membentuk genangan yang mengilap di bawah cahaya lilin.
Napasnya terhenti.
Jantungnya seolah diremas oleh tangan tak kasatmata.
"Apa ini...?" Desisnya, nyaris tidak terdengar.
Ia menoleh ke samping.
Dan dunia yang dikenalnya runtuh dalam satu kedipan mata.
Seorang lelaki terbaring di sebelahnya.
Tubuh itu mengenakan pakaian pengawal berwarna gelap, dengan sabuk kulit yang biasanya digunakan para penjaga istana. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat seperti kertas yang telah direndam air, dan bibirnya membiru. Matanya terbuka lebar, menatap langit-langit dengan tatapan kosong yang mengerikan.
Darah mengalir dari sudut bibirnya, membasahi dagu dan kerah pakaiannya.Sebuah luka menganga di bagian dadanya.
Lelaki itu telah mati.
Wang Laoyin mengenalinya, itu sosok pengawal pribadinya.
(Haiiii, semua author comeback nulis, rindu dengan kalian semua readers kesayangan.... untuk debut pertama setelah hiatus bertahun-tahun kita coba yang genre fantasi dulu ya setelah itu baru novel romansa modern lagi🥰 ayooooo dukung author😘 support kalian adalah semangat author menulis lagi🥰 lap yu semuaaaa....muahhhh)