Keira Azzalea datang ke Jakarta hanya demi satu hal: melunasi utang keluarga.
Menjadi pengasuh Mika di kediaman mewah keluarga Mahardika terasa bagai angin segar selain gajinya besar, tempatnya juga nyaman.
Masalahnya, rumah itu juga dihuni oleh Ian Xavier Mahardika.
Ian, putra sulung Nathaniel yang dingin dan skeptis, terang-terangan membenci Keira.
Bagi Ian, Keira hanyalah wanita parasit pemburu harta yang memanfaatkan kebaikan ayahnya. Hinaan pedas dan tatapan sinis jadi makanan Keira sehari-hari.
Namun, tinggal di bawah satu atap membuat benturan tak terelakkan.
Seiring berjalannya waktu, benci yang membakar perlahan berubah menjadi perhatian yang membingungkan.
Akankah permusuhan mereka luluh, atau justru tumbuh menjadi obsesi yang berbahaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 : Hujan yang Membawa Kenangan
Langit yang tadinya hanya berawan berubah gelap gulita, padahal jam baru menunjukkan pukul dua siang.
Awan hitam menggantung rendah, menutupi puncak bukit dan perkebunan teh di sekelilingnya. Angin dingin bertiup kencang, menggoyangkan dedaunan sebelum suara gemuruh terdengar dari kejauhan.
BYARRRR!
Hujan deras langsung mengguyur saat SUV hitam milik Ian berbelok memasuki gerbang bertuliskan Vila Mahardika.
Air hujan membasahi kaca depan hingga wiper harus bekerja cepat untuk menjaga pandangan tetap jelas. Suara air yang menghantam atap mobil begitu keras sampai-sampai musik dari radio hampir tidak terdengar.
"Waduh... deras banget hujannya," gumam Keira.
Gadis itu sedikit memajukan tubuhnya untuk melihat bangunan vila di depan mereka. Dari balik tirai hujan, bangunan dua lantai itu tampak remang-remang.
Ian mengarahkan mobil ke bawah kanopi teras, lalu mematikan mesin.
Namun, pria itu tidak langsung turun. Pandangannya justru tertuju pada air hujan yang mengalir deras di kaca depan.
Suara gemuruh yang menghantam atap mobil dan aroma tanah basah dari luar perlahan membawa pikirannya kembali pada sebuah kejadian yang selama ini berusaha dihindarinya.
Dua tahun lalu.
Hari ketika ibunya meninggal dunia.
Hujan turun sama derasnya seperti sekarang. Langit kelabu, jalanan basah, dan udara terasa dingin. Saat itu, Ian sedang berada di jalan tol ketika rumah sakit meneleponnya.
Kabar yang disampaikan melalui telepon itu menghancurkan dunianya.
Sarah Mahardika telah mengembuskan napas terakhir sebelum Ian sempat tiba dan menggenggam tangan ibunya untuk terakhir kali.
Sejak saat itu, hujan deras selalu mengingatkannya pada hari tersebut. Rasa kehilangan, penyesalan karena datang terlambat, dan kesepian seolah kembali menumpuk di dadanya setiap kali suara hujan terdengar.
Jari-jari Ian tanpa sadar mencengkeram lingkar kemudi semakin kuat. Rahangnya mengeras, sementara tatapannya perlahan kehilangan fokus.
Di kursi belakang, Keira yang tadinya sibuk memperhatikan bangunan vila mulai menyadari perubahan suasana di dalam mobil.
Dia menoleh ke arah Ian.
Biasanya, Keira tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menggodanya. Namun, kali ini dia mengurungkan niat setelah melihat ekspresi pria itu.
Wajah Ian tampak tegang. Tatapannya kosong dan suram, seolah pikirannya sedang berada jauh dari tempat mereka sekarang.
Keira tidak tahu apa yang sedang dipikirkan pria itu. Namun, dia bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang mengganggunya.
Sayangnya, hujan deras itu ternyata juga membawa kenangan buruk bagi Keira.
Suara air yang menghantam atap mobil membuat pikirannya melayang ke empat tahun lalu.
Sebuah sore kelam di jalan lintas provinsi.
Saat itu hujan turun deras. Keira masih mengingat bagaimana kabar buruk tentang ayahnya datang melalui telepon tetangga. Truk kayu yang dikendarai sang ayah mengalami rem blong ketika melewati jalan menurun yang licin.
Truk itu menabrak seorang pengendara motor hingga meninggal dunia.
Dalam sekejap, kehidupan keluarga kecil mereka berubah. Musibah tersebut menjadi awal dari berbagai kesulitan yang harus mereka hadapi sampai sekarang.
Keira menunduk. Jemarinya meremas ujung jaket yang dikenakannya. Ada rasa dingin dan nyeri yang perlahan muncul di ulu hatinya.
Dua tahun bagi Ian, empat tahun bagi Keira.
Keduanya memiliki kenangan buruk yang berbeda, tetapi suara hujan ternyata mampu membawa mereka kembali pada masa-masa yang sama-sama ingin dilupakan.
"Mbak Keira... Mika takut suara petirnya," bisik Mika.
Suara kecil itu memecahkan keheningan di dalam mobil.
GUDUG!
Petir menggelegar di kejauhan. Mika langsung menutupi kedua telinganya menggunakan boneka kelinci yang sejak tadi dipeluknya. Matanya yang bulat mulai berkaca-kaca.
Keira segera mengalihkan perhatian dari pikirannya sendiri. Dia meraih tubuh Mika, lalu memeluk dan mengusap punggungnya perlahan.
"Eh, anak pintar, gak apa-apa. Ada Mbak Keira di sini."
Mika menyembunyikan wajah di dada Keira.
"Petirnya kencang banget, Mbak."
"Iya, suaranya memang keras. Tapi Mika gak perlu takut. Petirnya cuma lagi main drum di atas awan. Mungkin sekarang lagi latihan buat konser."
Mika perlahan mengangkat wajahnya.
"Main drum?"
"Iya. Coba bayangin, awannya jadi panggung, terus petirnya jadi pemain drum. Nanti kalau sudah selesai latihan, mereka juga bakal istirahat."
Mika mulai sedikit tenang meskipun masih memeluk boneka kelincinya erat-erat.
Di kursi depan, Ian memalingkan wajah. Dia berdeham pelan untuk menetralkan suaranya yang terasa serak.
"Ayo masuk sekarang sebelum hujannya tambah deras," katanya.
Tidak lama kemudian, pintu vila terbuka dari dalam. Pak Ujang dan penjaga vila sudah berdiri di teras sambil membawa dua payung besar berwarna hitam.
Ian segera turun dari mobil. Setelah membuka payung, dia berjalan ke sisi mobil dan membukakan pintu untuk Keira dan Mika.
"Sini, Dek. Sama Mas," katanya lembut.
Ian membungkuk, lalu menggendong Mika ke dalam dekapannya. Dia bahkan melepas jaketnya sendiri untuk menutupi tubuh adiknya agar tidak terkena hujan.
Sementara itu, tangan kirinya yang memegang payung diulurkan ke arah Keira.
Keira turun sambil merapikan tas yang dibawanya. Begitu menyadari posisi payung Ian, dia langsung mengernyit.
"Mas Ian, payungnya miring ke saya semua tuh! Baju Mas yang kanan malah kena hujan!"
Memang benar. Ian lebih banyak memiringkan payung ke arah Keira dan Mika sampai sebagian bahu kanannya basah.
"Jangan rewel, cepat jalan!" jawab Ian tegas.
"Ya, tapi nanti Mas Ian malah basah kuyup."
"Gak apa-apa. Cepat masuk!"
Keira akhirnya menurut. Dia berjalan cepat mengikuti langkah Ian menyusuri teras menuju pintu utama vila.
Di tengah hujan yang masih mengguyur deras, Ian tetap memastikan adiknya dan Keira terlindungi di bawah payung. Bahkan ketika bahunya sendiri semakin basah, pria itu sama sekali tidak berusaha menggeser posisi payung.
Beberapa langkah kemudian, mereka akhirnya sampai di depan pintu.
Pak Ujang segera membukakannya lebih lebar agar ketiganya bisa masuk.
Ian melangkah lebih dulu sambil menggendong Mika, disusul Keira yang buru-buru masuk sambil mengibaskan sedikit air dari lengan jaketnya.
Akhirnya, mereka bertiga masuk ke dalam Vila Mahardika, meninggalkan hujan deras yang masih mengguyur halaman di luar.
semangat Kak 💪💪