NovelToon NovelToon
Aku Hanya Bidak, Lalu Membunuh Pemainnya

Aku Hanya Bidak, Lalu Membunuh Pemainnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:125
Nilai: 5
Nama Author: Bagas Hirmawan

Gu Chen hanyalah pemuda biasa yang keluarganya dihancurkan oleh kekuatan misterius. Namun, sebelum kematian menjemputnya, ia menemukan sebuah rahasia mengerikan: dunia tempatnya tinggal hanyalah papan permainan bagi makhluk-makhluk di luar pemahamannya.

Perang, kehancuran sekte, bahkan nasib para jenius ternyata telah diatur oleh tangan tersembunyi. Manusia hanyalah bidak, sementara para kultivator terkuat pun tidak lebih dari pion yang bisa dikorbankan kapan saja.

Gu Chen tidak memiliki bakat luar biasa ataupun kekuatan yang mampu mengguncang langit. Ia hanya memiliki kecerdasan, kesabaran, dan keberanian untuk menentang aturan permainan.

Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin mengerikan kebenaran yang ditemukannya.

Jika dunia ini adalah papan permainan, maka Gu Chen akan menemukan para pemainnya—dan membunuh mereka satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 — Ruang Kesepuluh

Gu Chen berdiri membeku ketika Lin Yue mengarahkan busurnya kepadanya. Tatapan gadis itu begitu dingin, seolah mereka tidak pernah berjalan bersama, tidak pernah saling menyelamatkan dari serigala, dan tidak pernah memasuki reruntuhan ini bersama-sama.

“Kau siapa sebenarnya?” ulang Lin Yue. “Mengapa kau memakai wajah orang yang kucari?”

Gu Chen mengerutkan kening. “Apa yang sedang kau bicarakan? Aku Gu Chen.”

“Jangan berbohong!”

Anak panah melesat dan menancap di meja batu tepat di samping tangan Gu Chen. Ia segera mundur, menatap gadis itu dengan waspada. Ada sesuatu yang tidak beres. Beberapa saat sebelumnya, Lin Yue masih berdiri di belakangnya, tetapi sekarang gadis itu memperlakukannya seperti orang asing.

“Turunkan busurmu,” kata Gu Chen. “Kau sudah kehilangan ingatan atau sengaja berpura-pura tidak mengenalku?”

“Aku tidak mengenalmu.”

“Bagus. Kalau begitu, siapa namamu?”

Lin Yue terdiam. Jari-jarinya mengencang pada busur, sementara sorot matanya menunjukkan kebingungan yang sulit disembunyikan.

“Aku… Lin Yue.”

“Bagus. Setidaknya kau masih ingat namamu sendiri.”

“Apa maksudmu?”

Gu Chen mengangkat kedua tangannya, berusaha menunjukkan bahwa ia tidak berniat menyerang. “Namaku Gu Chen. Kita memasuki reruntuhan ini bersama-sama. Kau membawa liontin berbentuk bulan sabit, sedangkan aku membawa bidak hitam dan lempengan kayu. Kau sendiri yang mengatakan bahwa keluargamu memiliki hubungan dengan tempat ini.”

Lin Yue menatapnya lama. Sesaat, ekspresinya berubah, seolah ada sesuatu yang hampir diingatnya. Namun, perubahan itu segera menghilang.

“Aku tidak pernah mengatakan hal-hal itu kepadamu.”

Gu Chen menghela napas. Ia mulai memahami bahwa ini bukan sekadar kebohongan. Ada kemungkinan ingatan Lin Yue telah diubah, atau ruangan ini sedang memengaruhi persepsinya.

Ia melirik kertas yang telah berubah menjadi debu. Pesan Gu Yuan masih terngiang di kepalanya.

Jangan pernah percaya pada ingatanmu sendiri.

Jadi, bahkan ingatan pun bisa dimanipulasi.

“Baiklah,” kata Gu Chen. “Kalau kau tidak mengenalku, aku tidak akan memaksamu percaya. Tapi sebelum kau menembakkan anak panah berikutnya, lihat ke belakangmu.”

Lin Yue tidak bergerak. “Kau pikir aku sebodoh itu?”

“Tidak. Aku hanya berharap kau cukup pintar untuk tidak mengarahkan senjata kepada orang yang berdiri di depanmu tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.”

“Diam!”

Ia menarik tali busurnya sekali lagi.

Namun, sebelum anak panah dilepaskan, suara dentuman terdengar dari balik dinding. Lantai ruangan bergetar. Debu berjatuhan dari langit-langit, dan sebuah retakan panjang membelah meja batu di tengah ruangan.

Lin Yue spontan menoleh.

Gu Chen memanfaatkan kesempatan itu untuk bergerak ke samping. Ia tidak menyerang gadis tersebut, melainkan menjauh dari jalur anak panah.

Dari retakan meja batu, cahaya hitam menyebar ke seluruh ruangan. Udara mendadak menjadi dingin. Di dinding belakang, muncul sebuah pintu yang sebelumnya tidak ada.

Di atasnya terukir tiga kata.

RUANG KESEPULUH.

Gu Chen menatap tulisan tersebut. Selama ini mereka mengira ruangan tempat surat Gu Yuan ditemukan adalah ruang kesepuluh. Ternyata ruangan itu hanyalah pintu masuk.

Pintu yang sebenarnya baru saja muncul.

“Lin Yue,” katanya pelan. “Aku tidak tahu apa yang dilakukan tempat ini terhadapmu. Tapi kalau kau ingin menemukan jawaban tentang keluargamu, kita harus masuk ke sana.”

Lin Yue masih mengarahkan busurnya. “Kenapa aku harus mempercayaimu?”

“Kau tidak harus percaya kepadaku. Percayalah pada rasa ingin tahumu sendiri.”

Gadis itu tidak menjawab. Setelah beberapa saat, ia menurunkan busurnya sedikit, tetapi tetap menjaga jarak.

Gu Chen berjalan menuju pintu. Ketika tangannya menyentuh permukaannya, bidak hitam di sakunya bergetar keras.

\[Ruang Kesepuluh terdeteksi.\]

\[Akses hanya tersedia bagi identitas yang telah dihapus.\]

\[Verifikasi dimulai.\]

Cahaya hitam menyelimuti tubuh Gu Chen. Untuk sesaat, ia merasakan sesuatu menarik pikirannya ke tempat yang sangat jauh. Bayangan-bayangan muncul di hadapannya: seorang pria berambut panjang berdiri di tengah medan perang, ribuan manusia berlutut di hadapannya, dan sebuah papan raksasa menggantung di langit.

Pria itu memiliki wajah yang sama dengan Gu Chen.

Namun, ia bukan dirinya.

Pria tersebut mengenakan jubah hitam berlumuran darah. Di tangannya terdapat pedang yang ujungnya menembus dada seseorang. Sosok yang terluka itu memakai topeng putih, tetapi sebelum Gu Chen dapat melihat wajahnya, seluruh penglihatan tersebut pecah seperti kaca.

Ia terhuyung mundur.

Sebuah pesan muncul.

\[Identitas lama ditemukan.\]

\[Nama: Tidak tercatat.\]

\[Status: Pengkhianat yang belum mati.\]

Gu Chen menatap tulisan itu dengan napas tertahan.

Pengkhianat yang belum mati?

Apakah pesan itu merujuk kepadanya, kepada ayahnya, atau kepada seseorang yang pernah memiliki wajah serupa dengannya?

Ia belum sempat menemukan jawabannya ketika pintu terbuka.

Di baliknya terdapat sebuah ruangan luas yang dipenuhi rak-rak batu. Berbeda dari bagian reruntuhan sebelumnya, tempat ini tidak dipenuhi debu. Lilin-lilin putih menyala di sepanjang dinding, meskipun tidak ada orang yang menjaganya. Di tengah ruangan terdapat sebuah meja panjang dengan sepuluh kursi.

Sembilan kursi telah hancur.

Hanya satu yang masih utuh.

Di atas meja tergeletak sebuah buku tebal dengan sampul berwarna merah gelap.

Gu Chen melangkah masuk. Kali ini, Lin Yue mengikutinya tanpa mengangkat busur.

“Entah kenapa,” ujar gadis itu pelan, “aku merasa pernah melihat tempat ini.”

Gu Chen menoleh. “Kau sudah mulai mengingat sesuatu?”

“Tidak. Hanya perasaan aneh.”

“Kalau begitu, jangan memaksakan ingatanmu. Kita belum tahu apakah yang kau ingat benar-benar terjadi.”

Lin Yue menatapnya dengan curiga. “Kau terdengar seperti seseorang yang sudah mengetahui rahasia tempat ini.”

“Aku baru saja mengetahui bahwa diriku mungkin seorang pengkhianat yang belum mati. Percayalah, aku sama bingungnya denganmu.”

Mereka mendekati meja panjang. Buku merah itu tidak memiliki judul, tetapi pada sampulnya terdapat lambang sembilan garis dan satu kotak kosong. Gu Chen membuka halaman pertama.

Tulisan di dalamnya membuat darahnya terasa dingin.

CATATAN PARA PEMAIN PERTAMA.

Di bawah judul tersebut terdapat daftar nama. Sebagian telah dicoret, sebagian lain ditutupi tinta hitam. Pada baris ketiga, Gu Chen menemukan nama yang dikenalnya.

GU YUAN — STATUS: GUGUR.

Namun, di bawahnya terdapat catatan yang lebih kecil.

Penyebab kematian: Belum disahkan.

Pelaksana: Tidak diketahui.

Pemain yang mengajukan penghapusan: Tidak diketahui.

Gu Chen mengepalkan tangan. Bahkan di tempat yang menyimpan catatan para pemain pertama, penyebab kematian ayahnya tidak diketahui. Atau seseorang telah menghapus jawabannya.

Ia membalik halaman berikutnya.

Di sana terdapat gambar papan catur dengan sepuluh kotak utama. Sembilan kotak dipenuhi simbol berbeda, sedangkan kotak kesepuluh kosong.

Di bawah gambar itu tertulis:

Papan pertama mengatur kelahiran.

Papan kedua mengatur kematian.

Papan ketiga mengatur ingatan.

Adapun papan kesepuluh tidak mengatur apa pun.

Ia hanya menyimpan sesuatu yang tidak dapat dikendalikan.

Gu Chen membaca kalimat terakhir itu dua kali.

Sesuatu yang tidak dapat dikendalikan.

Ia segera teringat pesan yang muncul ketika dirinya memasuki reruntuhan: hasil permainan tidak lagi dapat dipastikan. Mungkinkah keberadaannya berkaitan dengan papan kesepuluh?

“Gu Chen,” panggil Lin Yue.

Gadis itu berdiri di sisi lain meja, menatap sebuah halaman yang terbuka sendiri. Wajahnya kehilangan warna.

“Lihat ini.”

Gu Chen mendekat.

Halaman tersebut berisi silsilah keluarga Lin. Nama-nama leluhur ditulis dengan tinta merah, disertai catatan tentang tugas mereka sebagai penjaga sesuatu yang disebut Kunci Pengamat.

Di bagian paling bawah tertulis satu nama.

LIN YUE — STATUS: PEMBAWA KUNCI.

Lin Yue mundur satu langkah. “Aku tidak pernah tahu tentang ini.”

Gu Chen memperhatikan tulisan itu. “Mungkin keluargamu sengaja menyembunyikannya.”

“Tapi kenapa aku?”

“Karena liontinmu bisa membuka jalan ke sini.”

Lin Yue menggenggam liontin retaknya. “Ayahku selalu mengatakan bahwa benda ini hanya peninggalan ibuku.”

“Bisa jadi dia mengatakan kebenaran yang tidak lengkap.”

Gadis itu menunduk. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Gu Chen melihat ketakutan yang tidak berusaha disembunyikannya. Bukan ketakutan terhadap musuh, melainkan ketakutan bahwa seluruh hidupnya dibangun di atas kebohongan.

Gu Chen memahami perasaan itu.

Namun, sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, buku merah di atas meja menutup dengan sendirinya.

Seluruh lilin padam.

Sebuah suara terdengar dari kursi yang masih utuh.

“Kalian datang lebih cepat daripada perkiraanku.”

Gu Chen segera berbalik dan menghunus pisau kecil yang dibawanya. Di kursi tersebut kini duduk seorang pria berjubah putih. Wajahnya tampak muda, tetapi rambutnya telah memutih seluruhnya. Matanya tertutup kain hitam, dan kedua tangannya terlipat tenang di atas meja.

Lin Yue mengangkat busurnya.

“Siapa kau?” tanya Gu Chen.

Pria itu tersenyum tipis.

“Aku adalah orang yang menjaga catatan ini sebelum sejarah memutuskan bahwa aku tidak pernah ada.”

“Apakah kau mengenal Gu Yuan?”

Senyum pria itu menghilang.

“Aku mengenalnya lebih baik daripada siapa pun.”

“Kalau begitu, katakan siapa yang membunuhnya!”

Pria itu menggeleng pelan. “Kau masih menganggap kematian sebagai sesuatu yang sederhana. Seseorang hidup, seseorang membunuhnya, lalu kau membalas dendam. Tetapi bagaimana jika orang yang kau lihat mati sebenarnya telah mati berkali-kali? Bagaimana jika setiap kematian menghasilkan kehidupan baru yang mengingat masa lalu secara berbeda?”

Gu Chen terdiam.

Pria itu melanjutkan, “Ayahmu tidak hanya meninggalkan dunia ini. Ia mencoba keluar dari permainan. Dan untuk melakukan itu, ia harus mengorbankan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada nyawanya.”

“Apa yang ia korbankan?”

Pria itu mengangkat wajahnya.

“Dirinya sendiri.”

Ruangan terasa semakin dingin.

Gu Chen ingin mendesaknya untuk menjelaskan, tetapi bidak hitam di sakunya tiba-tiba retak lebih jauh. Sebuah pesan muncul di permukaannya.

\[Peringatan: Pemain eksternal telah memasuki ruang kesepuluh.\]

Pria berjubah putih itu perlahan berdiri.

“Sepertinya kita kehabisan waktu.”

Dari balik pintu terdengar langkah kaki. Banyak langkah kaki. Suara logam bergesekan, diikuti perintah singkat dari seseorang yang berdiri di lorong.

“Temukan Gu Chen. Bunuh siapa pun yang menghalangi.”

Lin Yue langsung mengenali suara tersebut. Wajahnya berubah pucat.

“Itu… orang-orang dari keluarga Lin.”

Gu Chen menatap pria berjubah putih. “Apakah kau punya jalan keluar?”

Pria itu menunjuk ke arah lantai, tepat di bawah kursi yang masih utuh.

“Ada satu jalan. Tetapi hanya satu orang yang bisa melewatinya.”

Gu Chen mengerutkan kening.

“Jangan bilang aku harus memilih siapa yang akan ditinggalkan.”

“Tidak,” jawab pria itu. “Kau harus memilih siapa yang akan kau bawa bersamamu.”

Dinding ruangan mulai bergetar. Dari balik pintu, suara langkah semakin dekat.

Gu Chen menatap Lin Yue, lalu menatap lubang gelap di bawah kursi. Ia tidak tahu siapa pria berjubah putih itu, tidak tahu apakah jalan tersebut benar-benar aman, dan tidak tahu apakah para pengejar hanya menginginkan dirinya atau juga Lin Yue.

Namun, ia tahu satu hal.

Apa pun pilihan yang diambilnya, seseorang sedang menunggu untuk memanfaatkan keputusan itu.

Gu Chen tersenyum tipis.

“Kalau begitu, aku memilih untuk tidak mengikuti aturanmu.”

Ia mengangkat meja batu dan mendorongnya ke arah pintu.

“Lin Yue, lari!”

Di tengah suara benturan dan teriakan, keduanya melompat menuju lubang di bawah kursi. Pria berjubah putih itu tidak berusaha menghentikan mereka. Ia hanya berdiri di tengah ruangan, mendengarkan langkah mereka menghilang ke dalam kegelapan.

Kemudian, ia menoleh ke arah buku merah yang kembali terbuka.

Pada halaman terakhir, sebuah kalimat muncul dengan sendirinya.

\[Bidak telah menolak pilihan yang disediakan.\]

Pria itu tersenyum.

“Bagus, Gu Chen. Sekarang, mari kita lihat berapa lama kau bisa bertahan setelah menyadari bahwa bahkan pemberontakanmu mungkin sudah direncanakan.”

Jauh di atas mereka, di tempat yang tidak dapat dijangkau manusia, sebuah papan raksasa bergetar.

Kotak kesepuluh yang selama ribuan tahun kosong kini mulai menampakkan sebuah simbol.

Bukan pedang.

Bukan mata.

Bukan pula bidak.

Melainkan sebuah tangan yang sedang merobek papan itu sendiri.

Dan untuk pertama kalinya, para pemain tidak mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.

Bersambung ke Bab 9.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!