NovelToon NovelToon
Pernikahan Sendiri

Pernikahan Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: ginevra

Di usia pernikahan yang baru dua bulan seharusnya pasangan suami sedang hangat-hangatnya memadu kasih. Namun tidak begitu dengan pernikahan Rana dan Jax. Meskipun mereka adalah pengantin baru, tapi tidak ada api cinta diantara keduanya, dingin, kaku, tanpa suara. Apakah ada cinta diantara mereka? atau mungkin semua hanyalah rumah tangga kosong?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apakah Sudah Terlambat???

Pagi datang menyapa lewat semburat cahaya keemasan yang menembus celah dedaunan, membawa udara sejuk yang menenangkan jiwa. Burung-burung berkicau merdu, menyanyikan melodi kehidupan yang membangkitkan harapan baru untuk melangkah.

Berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan Dania.

Tangisan dan isakan semalam masih menyisakan jejak di matanya. Harapan akan hati yang lunak terhempas sudah. Untuk pertama kalinya, suaminya tidak pulang. `

Sedangkan tubuhnya tidak berdaya untuk mencari keberadaannya. Lebih baik kalau dia bersama wanita-wanita, bagaimana kalau dia malah melakukan kebiasaan bodohnya untuk mengakhiri hidupnya.

Namun sekali lagi, Dania sudah tidak punya lagi sisa tenaga. Hanya bisa berharap suaminya akan baik-baik saja.

Tuuuut.... Tuuut....

"Please Jax, angkat teleponnya."

Tapi tak ada jawaban dari suaminya itu.

Lalu Dania berpikir mungkin saja Jason mengetahui dimana Jax bermalam.

Namun,

"Ahhh...."

Dania merintih kesakitan saat berniat bangun dari kasurnya. Perutnya tiba-tiba melilit karena kram. Sepertinya sudah waktunya tamu bulanannya datang. Ditambah dengan stress yang melanda semalam, membuat perutnya semakin sakit tak tertahan.

"Ahhh...."

Brakk!!!

Dania terjatuh tepat di depan ranjangnya. Perlahan matanya gelap berkunang dan kesadarannya berangsur menurun.

.

.

.

Semalam, Jax menekan langkahnya yang dalam perjalanannya merasa menyesal. Ia menyalahkan dirinya yang terlalu dibutakan dengan kemarahan sesaat. Bagaimanapun semua itu bukan salah Dania. Ia sendiri yang suka rela terjun pada dunia gelap hanya untuk menarik perhatian istrinya.

Keputusannya yang selalu impulsif mengantarkannya pada akhir yang semakin rumit. Bukan perhatian Dania yang ia peroleh, malah kekecewaan dan kesedihan yang datang menyengsarakan.

Di tengah sepinya malam, di bawah langit gelap, di ujung jalan yang sendirian, ia merenungkan sikapnya. Dari awal ia yang cari masalah. Seharuskan ia relakan saja Dania. Perceraian memang satu-satunya langkah terbaik. Namun lagi-lagi hatinya tidak rela. Ia tak mau Dania pergi dan memili hidup dengan orang lain.

Tapi mengapa ia malah mengkhianatinya dengan semua wanita yang sama sekali tidak disukainya?

Kenapa?

Berulang kali, ia mempertanyakan tindakannya.

Sekarang ia sudah tidak bisa lagi kembali ke rumah itu. Bahkan dengan mengemis memohon ampunan saja ia tak percaya diri.

Lalu bagaimana dengan Dania?

Kalau dia pergi, apakah Dania akan bahagia?

"Pasti, dia pasti lebih bahagia," batinnya.

"Lebih baik aku yang pergi, seharusnya dari dulu saja."

Keegoisan dan keposesifannya meracuni hingga membuatnya buta. Padahal solusi dari semua masalah itu gampang, tinggal ia yang pergi. Kenapa semua itu menjadi berat?

"Benar, ini yang terbaik."

Jax mengurungkan niatnya untuk kembali ke Dania. Ia melangkah maju, menelpon salah satu temannya untuk menjemput.

Mungkin, selanjutnya ia tidak akan melihat lagi rumah yang membuatnya nyaman itu sampai .... Tidak tahu, mungkin selamanya.

.

.

.

"Jax?"

"Dania, itu kah kamu?"

Terdengar sayup-sayup suara manis Dania di tidurnya. Wajah cantiknya tertutup asap keemasan, bagai berada di Nirwana. Gaun putih panjangnya menambah keanggunan dan keindahannya. Senyumnya cerah bagai mentari yang memancarkan cahayanya.

"Jax?" Tangannya melambai, menengadah meminta Jax untuk segera menyambut pelukannya.

Sementara kaki Jax terbelit oleh akar pohon yang semakin kuat menjerat hingga membuatnya jatuh.

"Dania.... Dan.... Daniaaa...."

Semakin dirinya berusaha, semakin kuat jeratannya.

Jax meronta-ronta di tempatnya terjatuh. Kakinya yang berdarah menahannya dan menyisakan raungan yang semakin tercekat. Sementara Sang Bidadari tak lagi menoleh kearahnya dan memilih pergi meninggalkannya.

"DANIA!!!!"

Teriakannya sangat keras hingga membuat tenggorokannya terasa terbakar.

"Hah..hah...hah!"

Jax terbangun dari mimpinya yang mungkin tidak akan menjadi kenyataan.

Napasnya menderu, dadanya terengah-engah, dan keringatnya mengucur deras.

"Ssial!!" Umpatnya menyalahkan kakinya yang tak bisa berlari mengejar istrinya meski hanya dalam mimpinya.

"Sudah bangun?"

Jax mendengar suara rendah dari pojokan.

James yang sedang melukis meski masih pagi buta, menatap tajam sahabatnya. Mendengar teman dekatnya yang berulang kali meneriakkan nama dosennya itu, membuat rasa penasarannya menguasai. Kenapa jax memanggil nama itu?

Jax merebahkan lagi tubuhnya di sofa merah. Lengannya ia letakkan diatas kening yang perlahan memanas karena demam yang tidak ia rasakan. Sementara napasnya masih menderu tak mau tenang.

"Apa kamu sakit?"

James mendekat, memeriksa keadaan temannya itu.

Tapi Jax tidak menjawab dan memilih untuk tetap diposisinya.

"Ada apa?" Lirih James.

"Kemarin aku sempat mendengarkan percakapanmu dengan Jason. Apa benar kamu memacari Bu Dania?"

Masih saja Jax tak ingin membuka mulutnya. Baginya cerita itu sudah berakhir, untuk apa lagi dibahas. Malah membuat lubang di hatinya semakin membesar.

"Sejak kapan? Lalu bagaimana dengan cewek-cewekmu? Apa Bu Dania sama seperti mereka?"

Kalimat James menyentil kemarahannya. Tentu saja Dania tidak sama dengan mereka. Justru Dania lah penyebab Jax memiliki semua wanita itu.

"Jaga omonganmu!" Seketika Jax mendongak, mengangkat badannya untuk mendekat ke James.

"Aaa.... Kali ini sungguh-sungguh ya. Aku kira kamu mempermainkan Bu Dania. Hampir saja aku marah."

"Kenapa?" Jax melirik curiga. Apakah kedua sahabatnya punya ketertarikan pada istrinya?

"Kamu menyukainya? Maaf dia sudah punya aku. Kamu nggak sebanding denganku." Jax melengos, mengelap keringatnya dengan tisu dari atas meja.

"Benarkah? Tapi dari caramu memanggil namanya, kayaknya kalian udah selesai," senyum jahil mengembang di wajah James.

"Tidak, kata siapa?"

"Lalu, kenapa kamu tidak bersamanya sekarang? Kenapa kamu malah disini sendirian? Sampek nangis-nangis lagi. Ck ck ck...."

Deg.

Apa yang dikatakan James ada benarnya. Kalau memang Jax sangat mencintai Dania, seharusnya sekarang dia bersamanya. Seharusnya, dia tidak melakukan semua pengkhianatan itu. Seharusnya, ia menyembah-nyembah meminta maaf atas semua yang telah dilakukannya.

"James!"

"Hm? Kenapa?"

"Aku harus pergi.." matanya masih terbelalak, menyadari sesuatu yang penting. Saat mencintai seseorang, kamu seharusnya melakukan segalanya untuk mengambil hatinya, bukan malah menyakitinya.

Tidak peduli niat Dania hanya menuruti perintah atau mungkin mengincar sesuatu. Yang terpenting Jax mencintainya, itu cukup.

"Aku harus pulang."

James menatap sahabatnya yang berlari, tidak seperti biasa yang pemalas.

Lalu ia tersenyum.

"Sepertinya Jax sudah menemukannya."

Ia melanjutkan lukisannya. Seorang laki-laki yang menunduk sedih, tampak seperti bukan dirinya. Karena memang itu bukan lukisan tentang dirinya, tapi Jax.

"Ah... Aku harus buat lukisan baru."

.

.

.

Napasnya memburu. Tergesa-gesa ia membuka kasar pintu rumah yang tidak terkunci. Matanya mengedar ke seluruh ruangan, namun ia tak menemukan istrinya.

"Dimana?"

Hampir saja ia berbalik untuk pergi ke kampus. Tapi, ia teringat tentang kebodohannya saat Dania menyaksikan adegan di kamarnya. Mungkin saja Dania masih di rumah. Satu-satunya ruangan yang tidak pernah ia masuki, satu-satunya ruangan pemisah antara dirinya dan Dania, yaitu kamar Dania.

Tok tok tok

"Dania? Kamu di dalam? Apa kamu sudah ke kampus?"

Tapi tidak ada jawaban.

"Ini sudah siang, apa dia sudah berangkat?" Batinnya.

Lalu ia merogoh sakunya untuk mengambil HP. Jax tidak mau melakukan kesalahan lagi.

Tuuuut...tuuut...

Ia menelpon istrinya.

Drrrrt... Drrrrt....

Suara HP Dania berdering dekat dengan tempatnya berdiri menandakan kalau Dania masih di kamarnya.

"Dania...dania..."

Jax menempelkan telinganya ke pintu, tapi tidak ada jawaban sama sekali.

Munculah kekhawatiran dan ketakutan di kepalanya.

"DANIA!!!! DANIA!!!"

Ia menggedor keras pintu itu tanpa merasakan tangannya yang memerah.

Kesunyian itu membuatnya berhenti sejenak, ia memutar otaknya untuk mencari benda apa yang ia punya untuk membuka pintu itu.

Jax berlari ke halaman belakang, mengambil linggis yang tersimpan rapi di gudang.

DOK!!! DOK!!!!

Dengan sekuat tenaga, Jax menghantam daun pintu dengan linggis.

Brakkk!!!!

Pintu terbuka dan ada Dania yang tergeletak di lantai.

"Dania!!!"

Jax berlari, menggoyangkan badan Dania untuk menyadarkannya. Tapi tubuh dania yang basah dengan keringat masih terkulai lemah.

"Dania, sadarlah...."

"Jax...."

Dania membuka sedikit matanya, namun kembali terpejam, membuat Jax mencelos.

Tak mau membuang waktu, Jax langsung berlari mencari kunci mobil. Bergegas ia gendong Dania dan meletakkannya di kursi belakang dengan sangat hati-hati.

"Bertahanlah Dania.... "

1
mama Al
hmmm ... Apa neneknya meninggal dunia? dan menitipkan jax pada Dania.
mama Al
hmmm jadi penasaran apa sih yang membuat jax agak jaga jarak sama neneknya
mama Al
muncul sosok liam yang punya masa lalu dengan Dania. apakah kira-kira bakal menjadi saingan jax?
Xlyzy
ternyata itu yg ada dalam fikiran nya jax
Xlyzy
ini si jax mau ngapain mau bundir ya
Myz Pena
kenapa.daniaah ? apa sebenarnya terjadi dengan mu saat dulu ? 🤧
Myz Pena
aku makin penasaran.apa.yang sebenarnya terjadi
Myz Pena
jax mode lagi puber 🤭🤣
Myz Pena
liam meskipun kamu tahu sesuatu di kehdiupan pribadi daniah . please stop mencari dan mengorek luka lama itu 🤧
Myz Pena
hmmmmmm jadi jax dari panti asuhan 🫣
Myz Pena
apa yanb sebenarnya terjadi penasaran
Myz Pena
rahasia apa itu daniah ?? 🫣
Myz Pena
berarti liam ini juga tahu 🫣
Myz Pena
aduh bocah berarti emang brondong yang dinikahi daniah ini🫣
Myz Pena
kasihan liam... aduuh andaikan daniah bersama liam tapi apalah daya author tidak merestui hubungan mereka 🤭
Myz Pena
wkwkwk cembukor kau rupanya 🤣
Myz Pena
aduhai pikiran kalian ternyata sama.. semoga di mudahkan malam pertamanya 🤣
Myz Pena
apakah itu daniah ?? penasaran
Myz Pena
ya lah.. predikat mu itu loh buaya darat cap kuda 🫣
Myz Pena
jason kenal betul.jax.. wkwkwk nggak heran buruk terus lrasangkanya mereka setial jax dekat cewek 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!