Di balik tatapan kosong dan cemoohan sebagai "dokter idiot" yang selalu diremehkan di rumah sakit elit, Arka Prasetya sebenarnya menyimpan kejeniusan otak super serta sertifikasi bedah internasional yang tidak diketahui siapa pun. Ketika hidupnya terus diinjak-injak oleh para dokter senior yang arogan dan terjebak dalam perjodohan tak terduga dengan Clara, seorang pewaris konglomerat yang angkuh, Arka perlahan mulai menunjukkan taringnya lewat operasi-operasi mustahil yang akan memberikan tamparan telak bagi siapa saja yang berani merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Malam semakin larut ketika kendaraan mewah yang membawa Arka, Clara, dan Siska tiba kembali di kawasan rumah sakit utama.
Udara dini hari terasa begitu dingin dan menusuk tulang, namun tidak ada satupun dari mereka bertiga yang merasa lelah.
Keberhasilan menggerebek pabrik gelap kartel farmasi di kawasan industri pinggiran kota memberikan kepuasan tersendiri bagi misi mereka.
Arka melangkah keluar dari mobil dengan tenang sambil merapikan jas dokternya yang sedikit terkena debu malam.
"Mari kita langsung menuju ruang kerja pribadiku di lantai atas," ucap Arka datar.
Clara menganggukkan kepalanya setuju sambil membawa tas kerja berisi dokumen penting hasil sitaan dari lokasi penggerebekan.
"Aku penasaran apa saja rahasia busuk yang disembunyikan di dalam flashdisk pemberian ilmuwan tadi," kata Clara serius.
Siska berjalan tepat di samping Arka sambil memegang tablet pemantau sistem keamanan rumah sakit.
"Semua akses koridor sudah steril, tidak ada orang lain yang bisa masuk ke lantai ini tanpa izin kita," lapor Siska cepat.
Mereka bertiga melangkah masuk ke dalam lift khusus menuju lantai paling atas gedung utama rumah sakit.
Pintu lift terbuka perlahan menampilkan ruangan kerja pribadi Arka yang luas, modern, dan tertutup rapat.
Lampu ruangan menyala secara otomatis begitu mereka melangkah masuk ke dalam ruangan.
Arka duduk di kursi kerjanya yang menghadap langsung ke jendela besar kaca transparan berukuran raksasa.
Pemandangan lampu kota malam hari tampak berkilauan indah dari ketinggian lantai tersebut.
Arka mengeluarkan benda kecil berwarna hitam dari saku jasnya dengan perlahan.
Benda itu adalah flashdisk berisi sandi rahasia server pusat kartel farmasi nasional yang baru saja mereka amankan.
"Sekarang saatnya kita membuka kotak Pandora milik para penjahat berdasi itu," gumam Arka pelan.
Clara meletakkan tas dokumen di atas meja lalu menarik kursi mendekati meja kerja Arka.
Siska berdiri di sisi sebelah kanan sambil memperhatikan layar monitor komputer utama yang mulai menyala.
Arka memasukkan flashdisk tersebut ke dalam port USB komputer kerjanya dengan gerakan mantap.
Ting...
Layar monitor besar di atas meja langsung menyala menampilkan deretan kode enkripsi yang sangat rumit dan berlapis-lapis.
[Sistem Mendeteksi Enkripsi Tingkat Militer Pada Server Pusat]
[Memulai Proses Dekripsi Otomatis Tanpa Hambatan]
Suara notifikasi bernada datar berderik pelan di dalam kepala Arka.
Garis-garis data berwarna hijau bergerak cepat memenuhi layar monitor dalam hitungan detik.
"Sistem pengamanan mereka ternyata menggunakan firewall berlapis ganda yang sangat canggih," komentar Clara mengamati layar.
"Bagi sistem kita, firewall berlapis itu tidak lebih dari sekadar tirai kertas tipis yang mudah dirobek," jawab Arka santai.
Baris demi baris kode rahasia terbuka dengan sangat mudah berkat bantuan sistem di kepala Arka.
Tidak sampai tiga menit, seluruh sistem pertahanan server pusat kartel berhasil dijebol total tanpa hambatan berarti.
Bum...
Tampilan layar monitor berubah menampilkan sebuah halaman utama database rahasia berukuran sangat besar.
"Luar biasa... kita sudah berhasil masuk ke dalam inti jaringan mereka," ucap Clara takjub melihat ribuan data terbuka.
Siska membungkuk sedikit untuk melihat lebih dekat daftar dokumen yang tersusun rapi di layar monitor.
"Lihat folder-folder itu, jumlahnya ada ratusan dengan nama sandi yang berbeda-beda," tunjuk Siska antusias.
Arka menggerakkan tetikus komputer lalu membuka folder utama bertuliskan Proyek Gelap Nusantara.
Satu persatu dokumen transaksi finansial, aliran dana suap, hingga daftar nama pejabat tinggi terbuka lebar di depan mata mereka.
"Ternyata bukan cuma perusahaan farmasi kecil yang terlibat dalam sindikat ini," kata Clara geram.
"Ada banyak nama pejabat kementerian kesehatan dan direktur rumah sakit besar lainnya yang ikut menikmati uang haram," tambah Clara tajam.
Arka membaca setiap baris data dengan tatapan dingin tanpa ada rasa terkejut sedikit pun.
"Kejahatan korporasi medis selalu melibatkan orang-orang berpangkat tinggi yang haus kekuasaan dan uang," ucap Arka tenang.
[Sistem Mendeteksi Dokumen Tersembunyi Berisi Identitas Puncak Kartel]
[Membuka File Bernama Bayangan Hitam Industri]
Suara notifikasi bernada datar kembali berderik pelan di dalam kepala Arka.
Arka mengklik file tersembunyi tersebut untuk melihat siapa dalang utama di balik semua kekacauan medis ini.
Layar monitor menampilkan sebuah profil lengkap seorang tokoh senior di dunia kedokteran nasional.
Foto seorang pria tua berwibawa dengan jas mahal terpampang jelas di tengah layar monitor.
Nama lengkap pria itu tertulis besar: Profesor Doktor Soedirdjo.
Clara membelalakkan matanya melihat nama dan foto yang muncul di layar komputer.
"P-Profesor Soedirdjo?! Tidak mungkin...!" jerit Clara kaget menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Kamu kenal dengan orang tua ini, Clara?" tanya Arka melirik Clara dengan tenang.
Clara mengangguk pelan dengan ekspresi wajah yang masih diselimuti rasa tidak percaya.
"Dia adalah guru besar kedokteran paling dihormati sekaligus ketua dewan kehormatan medis nasional," jelas Clara gemetar.
"Orang itu memegang kendali penuh atas izin praktik seluruh dokter di negeri ini," tambah Clara cemas.
Siska mengerutkan keningnya tidak suka melihat profil pria tua berwibawa tersebut di layar.
"Jadi ketua dewan kehormatan medis sendiri yang menjadi kepala mafia di balik peredaran obat ilegal?" tanya Siska tajam.
"Kelihatannya begitu, rubah tua itu bersembunyi di balik jubah kehormatan akademik selama bertahun-tahun," jawab Arka dingin.
[Sistem Menganalisis Dokumen Jaringan Profesor Soedirdjo]
[Ditemukan Rencana Distribusi Global Berkedok Bantuan Kesehatan Rakyat]
Suara notifikasi berderik pelan memberikan informasi lanjutan di kepala Arka.
Arka membaca rincian rencana busuk yang tersusun rapi di dalam dokumen rahasia tersebut.
"Mereka bukan cuma mau menguasai pasar lokal, tapi juga memperluas jaringan ke seluruh Asia Tenggara," ungkap Arka datar.
"Kalau rencana itu berhasil, ribuan nyawa manusia tak berdosa akan jadi korban eksperimen obat berbahaya mereka," geram Clara marah.
Siska mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan emosi yang meluap di dalam dadanya.
"Kita harus hentikan orang tua bangka itu sekarang juga sebelum jaringannya semakin luas dan memakan banyak korban," ajak Siska bersemangat.
Arka menyandarkan punggungnya ke kursi sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Menghukum tikus tua seperti dia tidak bisa pakai cara biasa," ucap Arka tenang.
"Maksudmu bagaimana, Arka?" tanya Clara penasaran menatap pemuda di sampingnya.
"Kita buat dia jatuh dari singgasananya dengan cara paling memalukan di depan seluruh dunia medis," jawab Arka menyeringai tipis.
Clara menarik napas panjang mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdegup kencang.
"Profesor Soedirdjo punya koneksi politik yang sangat kuat dengan para menteri kabinet," peringat Clara serius.
"Koneksi politik tidak ada artinya kalau bukti kejahatan keuangannya sudah tersebar luas ke publik dan penegak hukum," balas Arka santai.
[Sistem Mempersiapkan Jadwal Unggah Otomatis Seluruh Bukti Ke Mahkamah Etik]
Suara notifikasi bernada datar berderik pelan di dalam kepala Arka.
Arka menekan satu tombol enter terakhir pada keyboard komputer di depannya tanpa ragu.
Tring...
Seluruh data transaksi suap dan daftar korban obat ilegal terkirim otomatis ke server kejaksaan agung.
"Selesai, dalam waktu kurang dari satu jam, surat penangkapan untuk Profesor Soedirdjo akan diterbitkan," kata Arka ringan.
Clara menatap Arka dengan perasaan kagum bercampur ngeri melihat tindakan cepat pemuda itu.
"Kamu benar-benar pria paling berbahaya yang pernah aku kenal, Arka," puji Clara tersenyum tipis.
"Aku hanya dokter yang menegakkan kebenaran dengan cara yang paling efisien," balas Arka datar.
Siska tertawa kecil mendengar percakapan antara Arka dan Clara di ruangan kerja tersebut.
"Sudahlah, mari kita rayakan kemenangan kecil ini dengan minum kopi hangat," ajak Siska riang.
"Ide bagus, tolong ambilkan tiga cangkir kopi dari mesin pembuat di sudut ruangan, Siska," suruh Arka.
"Siap, Bos Besar!" jawab Siska bergegas mengambil cangkir dengan ceria.
Suasana tegang di ruangan kerja perlahan-lahan mencair digantikan oleh kelegaan yang luar biasa.
Namun, di tempat lain di kota ini, badai besar baru saja bersiap menghantam kekaisaran Profesor Soedirdjo.
Ponsel di atas meja kerja Clara tiba-tiba berdering kencang memecah keheningan malam.
Brrr... brrr...
Clara mengangkat ponselnya lalu melihat nama penelepon yang tertera di layar.
"Ayah meneleponku pagi-pagi begini," gumam Clara kaget.
"Angkat saja, pasti berita tentang penangkapan profesor itu sudah sampai ke telinga para petinggi," suruh Arka tenang.
Clara menekan tombol hijau lalu mendekatkan ponsel ke telinganya.
"Halo, Ayah? Ada apa menelpon selarut ini?" tanya Clara hati-hati.
Suara kepanikan terdengar jelas dari ujung sambungan telepon milik ayah Clara.
"Clara! Apa kamu tahu berita besar yang baru saja menggemparkan kalangan elite kota?!" tanya suara di seberang cemas.
"Berita tentang apa, Ayah?" tanya Clara pura-pura tidak tahu.
"Kantor pusat dewan kehormatan medis digeledah oleh kejagung, dan Profesor Soedirdjo baru saja ditetapkan sebagai tersangka utama korupsi!" seru ayah Clara histeris.
Clara melirik ke arah Arka yang sedang menyeruput kopi hangat dengan santai.
"Begitu ya, Ayah... sepertinya keadilan memang bekerja sangat cepat malam ini," jawab Clara tenang.
"Apakah kamu dan Arka terlibat dalam semua kekacauan ini?!" tanya ayah Clara penuh selidik.
"Kami hanya warga negara yang taat hukum, Ayah," jawab Clara tersenyum penuh makna.
Sambungan telepon pun ditutup oleh ayah Clara dengan napas terengah-engah karena terkejut.
Clara meletakkan ponselnya kembali ke atas meja lalu menatap Arka lekat-lekat.
"Ayahku hampir terkena serangan jantung mendengar berita itu," ucap Clara menggelengkan kepala.
"Bapakmu hanya belum terbiasa melihat penjahat berdasi diseret ke penjara dengan cepat," balas Arka santai.
Siska menyerahkan cangkir kopi hangat kepada Arka dan Clara dengan senyuman lebar.
"For kesuksesan malam ini!" seru Siska mengangkat cangkirnya.
"Untuk kehancuran para mafia medis," timpal Clara mengangkat cangkirnya.
Arka membenturkan cangkirnya pelan dengan cangkir milik Clara dan Siska.
"Ini baru permulaan, dunia medis masih butuh banyak pembersihan," ucap Arka dingin.
Malam semakin larut membawa angin perubahan besar bagi seluruh sistem kesehatan di negeri ini.
Dan Arka Prasetya berdiri di puncak kemenangan sebagai penguasa sejati yang tak tergoyahkan.