Nadia tak menyangka takdir akan membawanya menjadi ibu tiri dari pria tiga anak. Ibunya memaksanya untuk menikahi laki-laki yang sudah punya anak. Menggantikan adiknya yang menolak lamaran tersebut, lantaran dia sudah memiliki pacar tentara dan sudah sarjana.
Nadia merasa seolah takdir mempermainkannya, apa salahnya jika dirinya memilih jalan hidup sendiri. menolak perjodohan ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Melihat binar gembira di mata Kenzo dan pelukan hangat anak kecil itu di pinggangnya, rasa kesal Nadia pada Arvin seketika meleleh. Nadia melepaskan pegangan tangan Arvin yang sudah melonggar, lalu berlutut mensejajarkan tingginya dengan Kenzo.
"Halo Kenzo sayang..." ucap Nadia lembut, mengelus pipi halus anak itu.
"Kenzo lagi ngapain di rumah?"
"Kenzo lagi main balok, Tante! Ayo masuk, Tante harus lihat mainan Kenzo!" seru Kenzo penuh semangat sambil menarik-narik tangan Nadia menuju pintu masuk.
Nadia sempat melirik tajam ke arah Arvin yang berdiri di sampingnya. Pria itu hanya bersedekap dada dengan wajah datar tanpa dosa.
"Masuk," perintah Arvin singkat, memberi isyarat dengan dagunya.
Mau tidak mau, demi Kenzo, Nadia melangkah memasuki rumah megah yang didominasi warna putih dan abu-abu itu. Suasananya begitu luas dan mewah, namun terasa dingin dan sepi.
Suara langkah kaki mereka dan celotehan gembira Kenzo seketika menghentikan kegaduhan di ruang tengah. Jovan dan Damian kompak menghentikan game mereka dan menoleh ke arah pintu masuk.
Seketika aura di dalam rumah berubah tegang.
Damian hanya diam memperhatikan dari sofa. Tatapannya dingin dan tak bersuara, mengamati sosok Nadia dari atas ke bawah tanpa berniat menyapa.
Berbeda dengan kakaknya, Jovan langsung berdiri dari duduknya. Matanya menatap Nadia dengan pandangan penuh permusuhan dan cemoohan.
"Siapa dia, Pa?" desis Jovan tajam dan bernada sinis. "Ini cewek yang mau Papa nikahi itu? Gaya pakaiannya biasa banget, nggak ada pantas-pantasnya masuk ke rumah ini!"
Nadia menghentikan langkahnya. Rasa canggung dan tidak nyaman merayapi hatinya saat mendapat cemoohan pedas dari remaja di depannya.
Arvin melangkah maju, meletakkan kunci mobilnya di atas meja kristal. Aura dinginnya seketika menyelimuti ruangan.
"Jaga sikapmu, Jovan," paut Arvin berat dan menekan. "Nadia datang ke sini buat makan siang bersama."
"Makan siang?" Jovan berdecih pelan, melemparkan pandangan benci pada Nadia. "Aku nggak sudi makan se-meja sama wanita asing yang mau geser posisi Mama!"
"Jovan!" tegur Arvin keras.
Melihat pertikaian yang hampir pecah, Kenzo makin erat menggenggam jemari Nadia. Anak kecil itu mendongak menatap Nadia dengan wajah khawatir.
"Tante... Bang Jovan lagi galak aja. Tante jangan takut, ya?" cicit Kenzo polos.
Nadia menghela napas pelan. Keberaniannya yang sempat surut kembali muncul. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan anak remaja yang sedang emosi ini, lagipula, sifat keras kepala Jovan jelas-jelas menurun dari papanya.
Nadia menyunggingkan senyum tipis, menatap lurus ke arah Jovan tanpa rasa takut.
"Nggak apa-apa, Kenzo," ucap Nadia tenang. "Tante memang ke sini cuma mau makan siang karena lapar, bukan mau menggantikan siapa pun."
"Jovan, Damian, duduk di meja makan," perintah Arvin dengan nada menekan yang tak bersahabat.
Damian yang sejak tadi menyimak dalam diam hanya menghela napas pendek. Meski tatapannya tetap dingin, remaja SMA itu bangkit dari sofa tanpa membantah dan melangkah menuju meja makan.
Berbeda dengan Jovan. Anak SMP itu malah melempar stick game-nya ke sofa dengan kasar, lalu berbalik hendak melangkah menuju tangga.
"Aku nggak lapar. Aku mau ke kamar," cetus Jovan sengit.
"Jovan. Papa bilang duduk," potong Arvin tajam. Aura kepemimpinannya menguar pekat di udara, membuat suasana rumah mendadak mencekam.
"Sekarang."
Jovan mengepalkan tangannya di samping tubuh. Menggetarkan rahangnya menahan emosi, ia akhirnya berbalik dengan langkah menghentak kasar, terpaksa menuruti perintah papanya daripada membuat masalah semakin panjang.
Tak berapa lama, mereka semua sudah berkumpul di meja makan kayu jati yang panjang dan megah. Berbagai jenis menu hidangan lezat bertaraf restoran sudah tersaji rapi di sana, aroma makanan mengepul menggugah selera.
Kenzo langsung menggeser kursinya agar bisa duduk menempel tepat di sebelah Nadia.
"Tante Nadia duduk di samping Kenzo, ya! Biar Kenzo bisa disuapin Tante," cicit Kenzo dengan binar mata bahagia, seolah tak terpengaruh aura dingin di sekelilingnya.
Nadia tersenyum lembut, mengelus rambut anak kecil itu. "Iya, sayang. Nanti Tante ambilkan lauknya, ya."
Namun, ketenangan itu tak bertahan lama. Jovan yang duduk di seberang Nadia menatap piringnya dengan raut wajah jijik, lalu sengaja melempar sendoknya hingga berdentang nyaring di atas piring porselen.
PRANG!
"Selera makanku langsung hilang," celetuk Jovan keras-keras, melemparkan pandangan tajam pada Nadia. "Rumah ini makin hari makin nggak jelas. Papa seenaknya bawa wanita yang cuma mau mengincar harta masuk ke meja makan kita."
Damian yang duduk di sebelah Jovan mengerutkan dahi, melirik adiknya dengan tatapan memperingatkan. "Jovan, diam. Jangan buat ulah,"
"Kenapa?! Abang juga mikir gitu, kan?!" Jovan malah makin menjadi-jadi, suaranya meninggi tak terkendali.
"Ngapain kita harus duduk se-meja sama cewek cari muka ini?! Dia itu bukan siapa-siapa di sini! Sampai kapan pun dia nggak akan pernah bisa gantiin Mama!"
"Jovan, cukup!" tegur Damian lagi, kali ini memegang bahu adiknya agar tak makin kebalas.
Tapi Jovan yang sudah tersulut emosi malah makin hilang kendali. "Nggak usah pura-pura baik deh, Tante! Tante pasti senang kan bisa masuk ke rumah kaya gini?! Dasar wanita gatal...."
BRAK!
Gebrakan meja yang begitu keras membuat piring-piring di atas meja bergetar hebat. Kenzo seketika terlonjak kaget dan menyembunyikan wajahnya di samping tubuh Nadia.
Arvin berdiri tegak dari kursinya. Wajahnya menggelap sempurna, matanya menyipit tajam memancarkan amarah besar yang selama ini ditahannya.
"JOVAN GANENDRA!" bentak Arvin dengan suara menggelegar yang menggema di seluruh sudut ruangan.
Ruang makan seketika hening mencekam. Jovan yang tadi berani berteriak mendadak mengatupkan bibirnya rapat-rapat, dadanya naik turun dengan napas memburu, terkejut melihat papanya benar-benar murka.
"Keluar dari meja makan ini sekarang," perintah Arvin.
"Masuk ke kamarmu dan jangan pernah keluar sampai kamu bisa menjaga mulutmu!"
Nadia terlonjak kaget mendengarkan bentakan menggelegar dari Arvin. Jantungnya berdegup kencang, tidak menyangka pria yang biasanya bersikap tenang dan dingin itu bisa meledak seketika.
Melihat Kenzo yang semakin gemetar dan menyembunyikan wajah di balik tubuhnya, keberanian Nadia kembali terkumpul. Ia memberanikan diri menatap Arvin yang masih berdiri tegak dengan aura menakutkan.
"Pak... Mas Arvin, sudah. Tolong tenang," panggil Nadia.
Arvin melirik Nadia dengan tatapan mata yang masih menyala marah, dada pria itu naik turun menahan emosi.
Nadia mengelus punggung Kenzo yang ketakutan, lalu kembali menatap Arvin lurus-lurus.
"Jangan membentak anak di meja makan seperti ini, apalagi di depan Kenzo. Kenzo sampai ketakutan," lanjut Nadia pelan, mencoba menyadarkan Arvin tanpa berniat menggurui.
Nadia kemudian mengalihkan pandangannya pada Jovan yang masih membeku di tempatnya dengan wajah pucat dan rahang tertutup rapat.
"Jovan... Tante tahu kamu marah dan belum bisa menerima kehadiran Tante di sini. Tapi tidak ada salahnya kan kita makan siang dulu dengan tenang? Kalau kamu memang tidak mau bicara sama Tante, tidak apa-apa. Tapi tolong, jangan buat adekmu takut," ucap Nadia lembut, tanpa ada nada dendam atau emosi sedikit pun dalam suaranya.
Mendengar perkataan Nadia, Jovan terdiam. Pemuda SMP itu mengepalkan tangannya rapat-rapat, merasa campur adil antara kesal, malu, dan terkejut karena Nadia bukannya membencinya balik, tapi justru menenangkan situasi.