seorang protagonis yang bereinkarnasi ketubuh anak muda bernama Andre, memiliki kekuatan ganda yang berbeda dari masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zapdos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LEGIUN SANG BAYANGAN
Waktu di dalam Dimensi Saku berjalan tanpa terikat oleh putaran matahari maupun rembulan. Di bawah langit malam artifisial yang bertabur kristal mana ungu, udara terasa sangat padat oleh bau keringat, darah, dan kilatan sihir yang meledak tanpa henti. Lantai obsidian di arena pelatihan raksasa itu dipenuhi oleh retakan dan kawah kecil, bukti dari siksaan brutal yang disebut sebagai 'pelatihan dasar' oleh sang Kaisar Kilat.
Sudah dua minggu berlalu sejak lima ratus orang buangan itu bersumpah setia pada Rishing Guild. Selama empat belas hari penuh, tidak ada satu pun dari mereka yang diizinkan untuk tidur lebih dari tiga jam sehari.
Di sudut barat arena, Bastian Valerius berdiri layaknya gunung emas yang tak tergoyahkan. Sang Tuan Muda Valerius kini mengenakan Beast King’s Bulwark, lempengan tulang hitam legendaris yang menyatu sempurna dengan zirah emasnya. Inti Solar Core di dadanya memancarkan hawa panas yang membuat udara di sekitarnya beriak.
"Lagi! Pukul aku dengan seluruh kekuatan kalian!" raung Bastian, menghantamkan pedang pendeknya ke perisainya.
Di depannya, seratus lima puluh petarung jarak dekat—para Berserker, Knight yang terbuang, dan petarung tangan kosong—menerjang maju secara bersamaan. Garrick, pria paruh baya yang kakinya disembuhkan oleh Andre, berada di barisan terdepan. Matanya menyala merah oleh skill Bloodlust. Garrick mengayunkan kapak gandanya tepat ke arah wajah Bastian.
BLAAARRR!
Kapak Garrick menghantam perisai Bastian, namun efek pantulan dari Solar Core langsung bereaksi. Gelombang api matahari meledak keluar, mementalkan Garrick dan puluhan petarung lainnya sejauh belasan meter hingga mereka bergulingan di lantai obsidian. Zirah mereka hangus, kulit mereka melepuh.
"Jika kalian tidak bisa menembus pertahanan satu Tanker, bagaimana kalian akan membelah barisan Inkuisitor Eden?!" bentak Bastian. "Bangkit! Selama kalian masih bernapas, kalian belum kalah!"
Garrick terbatuk, memuntahkan darah kental. Namun, alih-alih menyerah, pria itu tertawa parau. Ia menggunakan kapaknya sebagai penopang dan kembali berdiri. Semangat pantang menyerah itu menular; seratus lima puluh petarung lainnya kembali bangkit, mata mereka menyala oleh kegilaan yang hanya bisa lahir dari keputusasaan yang telah ditempa menjadi baja.
Di sudut timur arena, pemandangan yang tak kalah mengerikan sedang berlangsung.
Marvin melayang satu meter di atas tanah, dikelilingi oleh rawa racun ungu pekat dari Plague Domain-nya. Cincin Ring of Bone Ash di jari telunjuknya memancarkan aura nekrosis yang membuat udara terasa busuk. Di sekelilingnya, ratusan penyihir, Healer buangan, dan pengguna sihir kutukan sedang bermeditasi di tengah-tengah rawa beracun tersebut. Kulit mereka mendesis, wajah mereka pucat pasi menahan rasa sakit dari racun yang meresap ke dalam pori-pori mereka.
"Jangan lawan racunnya dengan perisai mana," instruksi Marvin dengan nada tenang namun tegas. "Serap racun itu. Pahami strukturnya. Biarkan tubuh kalian membangun imunitas. Sihir cahaya dari malaikat bekerja dengan prinsip yang sama—mereka memurnikan selang kehidupan. Jika sel kalian terbiasa hancur dan beregenerasi oleh racunku, sihir suci mereka tidak akan bisa membakar kalian."
Lyra, sang Blood Mage muda, menggigit bibirnya hingga berdarah. Ia menggunakan darahnya sendiri untuk menciptakan selubung merah tipis yang menyaring racun Marvin sebelum masuk ke paru-parunya. "I-ini gila... rasanya seperti meminum cairan timah panas..."
"Tahan, Lyra," ucap Marvin, menatap gadis itu dengan pandangan mendukung. "Ubah rasa sakit itu menjadi katalis. Campurkan racunku dengan sihir darahmu. Buatlah kutukan baru yang belum pernah dicatat oleh Sistem."
Di atas singgasana meteorit yang menghadap langsung ke seluruh arena, Andre duduk mengawasi segalanya. Mata obsidiannya mencatat setiap perkembangan, setiap tetes keringat, dan setiap fluktuasi mana dari lima ratus rekrutan pertamanya. Mental mereka sudah terbentuk. Mereka tidak lagi takut pada kematian. Namun, mental saja tidak bisa mematahkan zirah Inkuisitor Level 80.
Mereka butuh level. Dan mereka butuhnya sekarang.
Andre berdiri dari takhtanya. Stigmata mahkota di dadanya berdenyut pelan. "Absolute Pressure."
Gelombang gravitasi yang menekan jiwa langsung menyapu seluruh dimensi saku. Dalam sedetik, seluruh aktivitas pertarungan dan meditasi terhenti. Lima ratus orang itu, beserta Bastian dan Marvin, langsung menoleh dan menundukkan kepala mereka ke arah sang pemimpin mutlak.
"Pelatihan dasar selesai," suara Andre menggema, membelah udara seperti petir yang menggelegar. "Kalian telah membuktikan bahwa kalian tidak akan hancur di bawah tekanan. Sekarang, saatnya mengubah lumpur menjadi pedang."
Andre mengangkat tangan kirinya yang telah digenggam oleh Spatial Anchor of the Void. Menggunakan otoritasnya atas dimensi saku tersebut, Andre meretas koordinat Sistem. Ia tidak membuka portal ke Sektor 7, melainkan menembus ruang secara langsung menuju sebuah koordinat dungeon yang telah ia tandai sebelumnya.
Sebuah robekan dimensi raksasa berwarna merah darah terbuka di tengah-tengah aula obsidian. Raungan ribuan monster buas terdengar dari balik portal tersebut, membawa hawa panas yang menyengat.
[Peringatan Sistem: Jalur Paksa Menuju 'Kawah Neraka Jahanam' (Kesulitan: NIGHTMARE) Telah Dibuka.]
[Rekomendasi Level: 85+]
Garrick dan para rekrutan lainnya menelan ludah. Nightmare Dungeon. Bagi mereka yang sebagian besar masih berada di Level 30 hingga 40, masuk ke dalam sana sama saja dengan melompat ke dalam mesin penggiling daging.
Namun, Bastian segera berjalan ke depan barisan, membawa puluhan peti kayu besar. Ia menendang peti itu hingga terbuka, memperlihatkan ratusan botol kaca berisi cairan emas yang bergejolak.
"Setiap orang, ambil satu botol dan minum sampai tetes terakhir!" perintah Bastian. "Ini adalah Potion EXP 30%. Hadiah perkenalan dari Keluarga Valerius. Malam ini, kita tidak akan tidur sampai kalian semua menembus Second Job tingkat akhir!"
Begitu lima ratus orang itu menenggak ramuan emas tersebut, aura mereka meledak serentak.
"Ikuti aku," ucap Andre. Ia mencabut Nocturne, membiarkan pedang hitam itu menghisap cahaya dari portal dimensi, lalu melangkah masuk ke dalam Kawah Neraka Jahanam.
Apa yang terjadi selama sepuluh jam berikutnya bukanlah sebuah perburuan; itu adalah pembantaian industrial.
Kawah Neraka Jahanam dipenuhi oleh monster hibrida elemen api dan iblis tingkat menengah. Namun mereka tidak memiliki kesempatan untuk melawan. Andre melesat ke udara, menggunakan Black Lightning untuk melumpuhkan puluhan monster raksasa dalam satu kedipan mata, menghancurkan pertahanan sihir mereka dan memotong tendon kaki mereka.
Bastian menahan ribuan serangan api dengan Solar Core-nya, menciptakan tembok pertahanan absolut yang melindungi barisan belakang. Sementara itu, Marvin melepaskan Plague Domain ke area yang telah dilumpuhkan Andre, menguras sisa-sisa HP para monster hingga tersisa setitik nyawa.
"Habisi mereka!" raung Bastian kepada para rekrutan.
Ratusan First Job dan Second Job yang terbuang itu menerjang maju. Garrick memenggal kepala seekor Hellhound Level 80 yang sudah lumpuh. Lyra menembakkan tombak darahnya menembus mata seekor Flame Golem.
[Hellhound (Lv. 80) Terbunuh! Party EXP Booster Aktif!]
[Flame Golem (Lv. 82) Terbunuh! Party EXP Booster Aktif!]
[Level Anda meningkat!]
[Level Anda meningkat!]
[Level Anda meningkat!]
Hujan cahaya level-up yang berwarna emas meledak di seluruh penjuru kawah. Langit yang merah dipenuhi oleh pilar-pilar kenaikan level yang terjadi ribuan kali secara tumpang tindih. Sistem Dunia nyaris error memproses distribusi EXP dari monster tingkat Nightmare yang dibunuh secara massal oleh entitas berlevel rendah berkat bantuan manipulasi dari seorang dewa kematian.
Hanya dalam waktu satu malam, legiun bayangan itu berevolusi.
Garrick yang masuk dengan Level 38, keluar sebagai Berserker Level 65, resmi menginjak batas Third Job. Lyra menembus Level 62. Rata-rata dari lima ratus pasukan itu kini berada di atas Level 60. Mereka bukan lagi sampah masyarakat. Mereka kini adalah resimen pembunuh elit yang kapasitas tempurnya menyamai pasukan inti Asosiasi Pusat.
Ketika mereka kembali ke Dimensi Saku, fajar telah menyingsing di dunia nyata. Namun, berita yang menanti mereka jauh lebih panas daripada Kawah Neraka Jahanam.
Di dalam aula obsidian, Marcus, sang Direktur Eksekutif Sektor Pusat, mengirimkan proyeksi hologram darurat secara langsung ke komunikator Bastian. Wajah pria tua itu tidak lagi pucat karena panik, melainkan kelabu seperti mayat karena putus asa.
"Kalian... apa yang telah kalian lakukan," bisik Marcus, suaranya bergetar. "Kalian tidak hanya membunuh Kaelen... kalian telah memicu kiamat. Nyalakan siaran global Asosiasi sekarang juga."
Bastian menekan tombol di komunikatornya. Sebuah layar hologram raksasa muncul di tengah aula, disaksikan oleh Andre, Bastian, Marvin, dan lima ratus legiun yang masih bersimbah darah monster.
Di dalam siaran langsung tersebut, tampak suasana ruang takhta Eden. Arthur, sang Hakim Suci, berdiri di balkon istananya yang melayang. Di belakangnya, berdiri delapan National Protection yang tersisa, masing-masing memancarkan aura yang bisa meruntuhkan benua.
Arthur menatap kamera dengan wajah yang sangat dingin, memancarkan wibawa mesias yang terluka.
"Dunia telah dicemari oleh dosa yang tak terampuni," suara Arthur bergema ke seluruh penjuru planet, disiarkan ke setiap perangkat di seluruh sektor. "Pahlawan kita, Kaelen sang Pedang Matahari, telah dibunuh secara pengecut oleh sebuah sekte penyembah iblis yang menyebut diri mereka 'Rishing Guild'. Mereka dipimpin oleh seorang bidaah yang menggunakan ilmu hitam kuno, mencoba membangkitkan bayangan masa lalu untuk menghancurkan kedamaian yang kita bangun dengan darah."
Arthur mengangkat tangan kanannya. Cahaya suci meledak ke udara.
"Atas nama Asosiasi Pemburu Dunia dan hukum Eden, aku, Arthur sang Hakim Suci, menetapkan Rishing Guild sebagai Ancaman Bencana Skala Nasional (Calamity-Level Threat). Siapa pun yang berafiliasi dengan mereka akan dibakar di tiang gantungan. Dan untuk pemimpin sekte tersebut... aku memerintahkan seluruh armada Inkuisitor, dibantu oleh tiga Pahlawan Nasional, untuk turun ke Sektor Pusat."
Mata Arthur menatap tajam ke lensa kamera, seolah menembus langsung ke mata Andre.
"Kami tidak akan berhenti sampai kepala bidaah itu dipajang di gerbang Eden."
Siaran terputus. Keheningan mutlak menyelimuti aula obsidian. Lima ratus pasukan yang baru saja berevolusi itu memandang ke arah Andre, menunggu reaksi sang pemimpin setelah seluruh dunia mendeklarasikan perang terhadapnya.
Alih-alih marah atau takut, Andre perlahan tersenyum. Tawanya memecah kesunyian, pelan, kelam, dan dipenuhi oleh antisipasi yang mengerikan.
"Tiga Pahlawan Nasional dan seluruh armada Inkuisitor?" gumam Andre, matanya memancarkan kegelapan yang seolah siap menelan seluruh alam semesta. Ia menoleh ke arah legiunnya yang kini memegang senjata mereka dengan erat. "Bagus. Arthur baru saja mengirimkan pupuk berkualitas tinggi untuk menyuburkan kebun kita. Siapkan senjata kalian, Rishing Guild. Kita akan mengajari Eden apa artinya terbakar dalam bayangan."