NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia Tuan Arvin

Pernikahan Rahasia Tuan Arvin

Status: tamat
Genre:Perjodohan / CEO / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

Demi menyelamatkan nyawa adiknya yang kritis di ICU, Dania Kirana terpaksa menerima syarat gila dalam surat wasiat seorang konglomerat: menikah dengan Arvin Dirgantara, CEO dingin yang penuh prasangka.
Arvin menganggap Dania wanita matre yang memanfaatkan kakeknya demi harta dan 51% saham perusahaan. Sementara Dania bertaruh harga diri demi bertahan dalam pernikahan rahasia berdurasi satu tahun.
Di balik pernikahan penuh ancaman dan perjanjian kertas ini, bahaya besar mengintai dari Dion—sepupu Arvin yang haus kekuasaan. Mampukah Dania membuktikan dirinya di tengah kepungan musuh, ataukah pernikahan rahasia ini justru menjebak mereka dalam benih cinta yang tak terduga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Di Balik Tirai Rumah Sakit

Sedan hitam Arvin membelah kemacetan Jakarta dengan kecepatan di atas rata-rata. Di dalam kabin yang hening, Dania mencengkeram tali tasnya erat-erat. Matanya tak lepas menatap jalanan di luar jendela, sementara Arvin fokus menatap jalanan di depannya dengan ketenangan yang terkontrol.

Tidak ada pembicaraan berlebihan di antara mereka, namun atmosfer kaku yang biasanya menyelimuti mendadak bergeser menjadi sebuah kepatuhan tanpa suara.

Setibanya di Rumah Sakit Medika Utama, Dania langsung setengah berlari menuju lorong lantai tiga area perawatan pasca-kritis. Arvin menyamai langkah kaki Dania yang cepat, berjalan tegap tepat di sampingnya tanpa menguarkan kata-kata penolakan.

"Mbak... Dania..."

Suara lirih dan lemah itu menyambut Dania begitu ia mendorong pintu kamar perawatan steril. Rehan terbaring di atas ranjang dengan selang oksigen tipis di hidungnya, namun matanya yang bening sudah terbuka dan menatap sang kakak dengan binar kehidupan yang baru.

Dania berlutut di samping ranjang, menggenggam jemari mungil adiknya yang kini terasa jauh lebih hangat. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh membasahi pipi.

"Rehan... Kamu dengar Mbak, kan? Kamu hebat banget, Sayang," bisik Dania dengan suara serak menahan haru. Ia menciumi punggung tangan adiknya berulang kali.

Rehan mengulas senyum tipis di balik masker oksigennya. "Rehan... nggak sakit lagi, Mbak. Dokter bilang... operasi Rehan berhasil."

"Iya, Nak. Operasinya sukses besar," Dokter Gunawan yang berdiri di sisi lain ranjang menepuk pelan bahu Dania. "Fungsi jantungnya menunjukkan grafik pemulihan yang sangat signifikan. Masa-masa paling menakutkan sudah resmi lewat."

Dania mengangguk dalam-dalam, mengusap air matanya cepat-cepat. Di tengah rasa syukurnya yang luar biasa, matanya tak sengaja menangkap sosok Arvin yang berdiri mematung di dekat pintu kamar. Pria tegap itu berdiri bersedekah tangan, memperhatikan interaksi mereka dengan pandangan yang sulit diartikan.Tidak ada aura intimidasi CEO di sana—hanya ada seorang pria yang diam-diam mengamati kebahagiaan sebuah keluarga kecil.

Rehan mengikuti arah pandang kakaknya, lalu menunjuk pelan ke arah Arvin. "Mbak... itu siapa?"

Dania tertegun sejenak. Jantungnya berdesir halus. Sebelum Dania sempat menyusun kebohongan atau penjelasan formal, Arvin melangkah maju dengan gerakan yang tenang.

Arvin berhenti di samping ranjang Rehan, mendudukkan tubuhnya sedikit hingga sejajar dengan posisi tidur anak laki-laki itu. Wajah tegasnya tetap datar, namun tatapan matanya melunak tanpa kesan mengancam.

"Aku Arvin," kata Arvin dengan suara bariton yang rendah dan mantap. "Rekan kerja Mbak Dania."

"Kak Arvin... yang bayar biaya rumah sakit Rehan, ya?" tanya Rehan jujur dengan polosnya. "Mbak Dania pernah cerita... ada orang baik yang bantu Rehan."

Dania menahan napasnya seketika, menatap Arvin dengan cemas kalau-kalau pria itu akan merasa tersinggung atau memberikan jawaban dingin yang menusuk.

Namun, Arvin hanya menatap Rehan secara mendalam. "Mbakmu yang berjuang keras untukmu, Rehan. Aku cuma memfasilitasi apa yang memang sudah menjadi hak kalian."

Arvin lalu menatap Dania sejenak, sebelum kembali menatap Rehan. "Cepat sembuh. Mbakmu butuh kamu cepat pulang."

Rehan mengangguk pelan dengan senyum lebar yang tulus. "Makasih, Kak Arvin."

Malam harinya, Arvin dan Dania kembali ke penthouse. Keheningan malam Jakarta terasa sangat tenang dari lantai 45.

Dania keluar dari kamarnya membawa secangkir teh hangat, melangkah menuju area balkon luar tempat Arvin berdiri menatap pemandangan lampu-lampu kota. Pria itu sudah melepaskan jas kerjanya, hanya mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku.

Dania berdiri di samping Arvin, menyandarkan lengannya pada pagar pembatas besi.

"Terima kasih untuk hari ini, Arvin," ujar Dania tulus, menyebut nama pria itu tanpa sebutan formal untuk pertama kalinya tanpa paksaan. "Bukan cuma soal uang rumah sakit atau kemenangan di dewan komisaris... tapi untuk ucapanmu pada Rehan tadi."

Arvin tidak menoleh, tetap menatap lurus ke depan. "Aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya. Kamu tidak perlu berutang budi padaku."

"Tetap saja," lanjut Dania pelan. "Saya tahu Anda bersikap dingin dan penuh prasangka di awal karena Anda harus melindungi posisi Anda dari orang-orang seperti Dion. Tapi hari ini... Anda membuktikan bahwa Anda memegang kata-kata Anda."

Arvin menghembuskan napas panjang, asap tipis dari napasnya membubung di udara malam yang dingin. Pria itu berpaling, menatap Dania dari samping.

"Dion mungkin sudah dibekukan dari perusahaan, tapi ibunya dan beberapa anteknya masih akan mencari celah," kata Arvin dengan nada bicara bisnisnya yang khas, namun kali ini tanpa rasa curiga berlebihan. "Audit resmi hukum mungkin sudah lewat, tapi pernikahan rahasia kita harus tetap terlihat sempurna di mata publik untuk satu tahun ke depan."

Dania menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyum tegas yang memancarkan rasa percaya diri.

"Saya siap, Tuan CEO," balas Dania mantap. "Kita sudah melangkah sejauh ini. Saya tidak akan biarkan siapa pun merusak kesepakatan ini."

Arvin menatap Dania cukup lama, lalu mengangguk pendek. Untuk pertama kalinya, sebuah aliansi yang kokoh dan dilandasi rasa saling percaya secara profesional resmi terbentuk di antara mereka—di atas kertas, dan di dalam kehidupan nyata yang baru saja dimulai.

1
sunaryati jarum
Tetap waspada dan cinta kalian saling mengustkan
sunaryati jarum
Cinta yang datang alami tanpa paksakan, semoga manis
sunaryati jarum
Akhirnya Arvin kan yang memulai menjadi pasangan tanpa kontrak
sunaryati jarum
Arvin berani merangkul pinggang Dania di tempat umum yang penuh tokoh pebisnis kalangan eksekutif dan penuh jurnalis
Rhea Vey: terima kasih banyak atas dukungannya, selalu memberikan komentar dan like🥰🙏. bikin author tambah semangat 🤗🤗
total 1 replies
sunaryati jarum
Nah baru berpisah sebentar sudah rindu, pilihan kakekmu kok ditolak
sunaryati jarum
Nah harus ada penjelasan seperti itu agar tidak terjadi salah paham
sunaryati jarum
Karena pemaparan kamu seolah kamu tidak mau berinteraksi dengan Dania,seakan kau malu dengannya
sunaryati jarum
Dania terperangkap maksud terselubung CEO yang mulai jatuh cinta padanya 🥰🥰
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 Arvin mulai menyadari perasaannya
sunaryati jarum
Ternyata Ny Helen dan Dion, hanya perusak perusahaan dan menginginkannya uangnya
sunaryati jarum
Arvin mulai perhatian dan peduli pada Dania
sunaryati jarum
Nanti kamu makin lama terpesona dengan kepiawaian Dania, Arvin
sunaryati jarum
Apa Arvin meminta seluruh pakaian Dania di bawa ke kamarnya
sunaryati jarum
Itu kan dinding yang kau buat,emak sumpahin kamu jatuh cinta duluan
sunaryati jarum
Wow sandiwara sempurna Arvin
sunaryati jarum
Dion membuat pernikahan kontrak jadi pernikahan sesungguhnya
sunaryati jarum
Yang kamu benci akan menyelamatkan kamu,Arvin
sunaryati jarum
Mantap tekatmu Dania
sunaryati jarum
Emak suka karakter Dania yang tidak lemah.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!