Karin terbangun dalam novel medioker sebagai istri idiot CEO dingin, Arlan. Mengetahui nasib tragis tokoh aslinya, Karin memutuskan berpura-pura tetap idiot agar tidak diceraikan dan dibuang.
Namun, tingkah konyolnya justru membuat Arlan yang biasanya kaku mulai merasa bingung sekaligus tertarik.
Di tengah intrik keluarga besar dan ancaman pelakor, Karin harus menyeimbangkan aktingnya yang absurd dengan rasa cinta yang mulai tumbuh nyata.
Apakah rahasia transmigrasinya akan terungkap, ataukah ia akan selamanya menjadi istri kesayangan sang CEO dalam topeng kebodohan yang lucu dan menggemaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Malam harinya, ballroom Hotel Suwono berkilauan seperti istana kristal. Ratusan tamu berpakaian mewah memenuhi ruangan, dan di tengah-tengahnya, berdiri sebuah podium lelang dengan layar LED raksasa di belakangnya.
Karin mengenakan gaun midnight blue yang dipilihkan Arlan sendiri. Gaun itu sederhana tapi elegan, dengan detail bintang-bintang kecil yang dijahit dengan benang perak di bagian roknya. Rambutnya ditata longgar, dan satu-satunya perhiasan yang ia kenakan adalah kalung berlian tipis yang Arlan kalungkan sendiri di lehernya sebelum mereka berangkat.
"Kau terlihat seperti langit malam," bisik Arlan saat mereka turun dari mobil.
"Dan Kak Arlan terlihat seperti bintangnya," balas Karin tanpa berpikir, lalu langsung menutup mulutnya. Gawat! Itu gombalan! Aku nggak sengaja!
Telinga Arlan memerah, tapi ia tidak berkomentar. Ia hanya menggenggam tangan Karin lebih erat dan melangkah masuk.
Begitu mereka masuk, tatapan menusuk langsung datang dari segala arah. Madame Tania ada di sana, menatap Karin dengan dendam yang jelas. Sylvia dan suaminya berdiri di pojok ruangan, berbisik-bisik. Dan di dekat podium, berdiri Vanessa dengan gaun putih yang membuatnya terlihat seperti malaikat yang ingin menghancurkan hidup Karin.
"Selamat datang, Pak Arlan dan Nyonya Karin," sapa Tuan Suwono, tuan rumah acara, dengan senyum yang terlalu lebar. "Kami sangat senang Anda berdua bisa hadir. Oh, dan kebetulan sekali... kami baru saja menerima sumbangan lukisan yang sangat istimewa untuk dilelang. Lukisan ini konon dibuat oleh seorang seniman jenius yang... hmm, bagaimana mengatakannya... memiliki kondisi mental yang unik."
Tuan Suwono memberi isyarat, dan tirai di belakang podium tersingkap. Di sana, tergantung sebuah lukisan besar yang sangat familiar bagi Karin.
Itu adalah lukisan bebek kedinginan yang ia buat di sesi terapi seni bersama Dr. Julian.
Karin terbelalak. Lukisanku?! Bagaimana bisa lukisanku ada di sini?!
"Julian memberikannya padaku sebagai sumbangan amal," bisik Arlan di telinga Karin, suaranya terdengar sangat dingin dan marah. "Dia tidak memberitahuku."
Tuan Suwono melanjutkan dengan suara yang menggema di seluruh ballroom. "Lukisan ini sangat... menarik. Dibuat oleh seseorang yang konon memiliki keterbatasan kognitif. Kami akan memulai lelang dari harga satu juta rupiah. Siapa yang berani membeli karya seni dari... pasien jiwa?"
Tawa kecil terdengar di beberapa sudut ruangan. Vanessa menutup mulutnya, pura-pura kaget tapi matanya berkilat puas. Madame Tania tersenyum lebar. Ini adalah rencana mereka: mempermalukan Karin di depan seluruh elite Jakarta dengan memajang "karya seni gila"-nya dan melelangnya dengan harga murahan.
Arlan hendak melangkah maju, wajahnya sudah berubah menjadi topeng kemarahan yang mematikan, tapi Karin menahan lengannya.
"Tunggu, Kak," bisik Karin. Matanya yang biasanya polos kini menyipit tajam, menganalisis situasi dalam hitungan detik. Mereka ingin aku malu. Mereka ingin aku menangis dan kabur. Tapi kalau aku melakukan itu, mereka menang.
Karin melepaskan genggaman Arlan, lalu berjalan menuju podium. Seluruh ruangan hening, menatapnya dengan campuran rasa kasihan dan geli.
Karin berdiri di depan lukisannya sendiri. Ia menatap gunung es bertopi kuning, payung merah muda, dan bebek yang menggigil. Lalu ia menoleh ke arah Tuan Suwono, tersenyum lebar.
"Tuan Suwono," ucap Karin, suaranya lantang dan jelas. "Tuan bilang lukisan ini dibuat oleh pasien jiwa dan dilelang mulai satu juta? Itu salah besar."
Tuan Suwono mengangkat alisnya. "Oh? Dan berapa harga yang pantas menurut Nyonya?"
"Lukisan ini harganya lima puluh miliar," jawab Karin tenang.
Tawa meledak di seluruh ruangan. Vanessa hampir tersedak minumannya.
"Lima puluh miliar?!" Tuan Suwono tertawa. "Nyonya Karin, dengan segala hormat, ini hanya coretan krayon dan cat akrilik di atas kanvas murah!"
"Bukan soal catnya, Tuan," potong Karin, matanya berbinar dengan kecerdasan yang tidak bisa lagi ia sembunyikan sepenuhnya. "Tapi soal ceritanya. Lukisan ini menggambarkan sebuah gunung es yang dingin dan menakutkan, tapi di atasnya ada matahari kuning yang hangat. Di bawahnya, ada bebek kecil yang kedinginan, tapi dilindungi oleh payung merah muda yang dipegang oleh gunung es itu sendiri."
Karin menatap seluruh ruangan, suaranya berubah menjadi sangat lembut dan tulus. "Ini adalah lukisan tentang seseorang yang terlihat dingin di luar, tapi sebenarnya sangat hangat di dalam. Seseorang yang melindungi orang-orang kecil yang kedinginan tanpa meminta imbalan. Dan di dunia ini, berapa banyak orang yang punya hati seperti itu?"
Hening.
Karin menatap Arlan, yang berdiri di tengah kerumunan dengan tatapan yang tidak bisa ia artikan. "Lukisan ini bukan karya pasien jiwa, Tuan Suwono. Ini adalah potret cinta yang paling jujur yang pernah saya buat. Dan cinta yang jujur... tidak bisa dihargai dengan uang. Tapi kalau Tuan mau lelang, mulai dari lima puluh miliar. Karena di bawah harga itu, Tuan sedang menghina cinta itu sendiri."
Ruangan itu senyap total. Beberapa wanita di barisan depan mulai menyeka sudut mata mereka. Bahkan Madame Tania terlihat tidak nyaman.
Lalu, sebuah suara berat memecah keheningan.
"Seratus miliar," ucap Arlan, melangkah maju dengan tatapan yang menyala-nyala. "Aku membeli lukisan itu. Dan aku menantang siapa pun di ruangan ini yang berani menawar lebih tinggi."
Tidak ada yang berani.
lanjut kn thor💪