Sekuel keempat dari buku Sebelumnya: 'Cinderela Ubi Rebus, Kutukan Mbah Golok Sakti dan Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO'.
Menghadapi operasi bedah jantung? dr. Rahsya ahlinya. Tapi dipaksa jadi bidan sapi persalinan tengah malam oleh preman kampung berkolor tali rafia? Itu bencana!
Liburan tenang Rahsya di Desa Ci Sepi berubah total menjadi arena pawai hantu sejak ia menolong seorang anak kecil bernama Nathan.
Di tengah kekacauan mistis dan hilangnya para warga secara tragis, hadir Amel—gadis berisik yang selalu merepotkan namun berhasil mengacaukan detak jantung dokternya. Bisakah sang dokter rasional bertahan hidup, atau jiwanya akan tertinggal di dimensi lain telaga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. DILEMA RUMAH KAYU
"Ya sudah, kalau begitu. Om antar kamu pulang sekarang. Tapi tunggu sebentar, Om masukkan dulu motornya ke dalam."
Entah mengapa, Rahsya tiba-tiba tidak keberatan dipanggil dengan sebutan "Om"—sebuah panggilan penuaan yang biasanya selalu membuat egonya tersinggung berat. Ia segera mendorong kembali motor sport-nya ke dalam garasi, melepas helm, dan melempar asal tas punggungnya ke atas lantai teras.
"Cepat, Om!"
Bocah itu langsung menyambar pergelangan tangan Rahsya dengan tangan mungilnya yang terasa sedingin es batu.
Ia menarik tubuh tegap Rahsya dengan kekuatan yang lumayan besar untuk ukuran seorang anak kecil, menuntun langkah sang dokter meninggalkan daun gerbang vila menuju ke arah jalan setapak di pematang sawah yang diselimuti kabut tebal.
Rahsya hanya bisa pasrah mengikuti arah tarikan tangan kecil itu, sama sekali tidak menyadari bahwa jejak kaki bocah itu di atas tanah basah sawah tampak sangat janggal—tidak meninggalkan bekas injakan kaki sama sekali di lumpur.
"Pelan-pelan jalannya, Dek. Nanti bisa jatuh lagi," pinta Rahsya sembari mempercepat langkah kakinya, berusaha keras mengimbangi pergerakan bocah itu yang mendadak bergerak sangat lincah menembus kabut.
Anak itu seolah-olah menulikan telinganya dari ucapan Rahsya. Ia terus berlari kecil, melintasi permukaan pematang sawah yang licin, membelah rimbunnya ladang jagung warga, hingga akhirnya memasuki kepekatan kawasan hutan jati yang gelap.
Rahsya mulai merasa ada sesuatu yang sangat janggal di sekitarnya; bulu kuduk di lehernya meremang hebat saat ia menyadari bahwa jalur jalan ini adalah rute yang sama menuju ke arah telaga hitam yang sedang mencekam akibat penemuan kasus mayat Rehan.
"Kita sudah sampai, Om," ucap bocah itu tiba-tiba.
Langkahnya berhenti tepat di tepi telaga luas yang airnya tampak hitam berkilau tertimpa sisa cahaya pagi yang redup. Di hadapan mereka, berdiri kokoh sebuah rumah kayu tua yang sunyi—rumah misterius milik Kinan.
Rahsya tertegun mematung, sepasang matanya menyapu bangunan kayu yang tampak rapuh tersebut.
"Mana rumah kamu, Dek?" tanya Rahsya dengan suara yang agak serak, mencoba keras mencari logika rasional di tengah situasi gila ini.
Anak itu menunjuk ke arah rumah kayu milik Kinan tanpa ragu-ragu. "Itu, Om, rumahnya."
"Kamu yakin, Dek?"
Rahsya memastikan kembali. Jantungnya mulai berdegup kencang di balik dada. Pikirannya mendadak melayang jauh pada sosok Kinanti, gadis pujaan hatinya yang telah menghilang sejak masa SMA.
'Apakah anak kecil ini adalah putra kandung Kinanti?' batinnya berkecamuk hebat antara rasa rindu mendalam dan rasa takut mistis.
Tanpa memberikan peringatan sedikit pun, bocah itu kembali menyambar tangan Rahsya. Kali ini, tarikan tangannya terasa begitu kencang dan kuat, jauh melampaui batas kekuatan normal anak seusianya.
Rahsya yang masih terpaku diam hanya bisa pasrah tubuhnya terseret maju.
"Om, ayo! Antarkan aku sampai ke dalam rumah," pinta bocah itu. Langkah kakinya tampak mantap menuju ke arah daun pintu kayu yang sudah lapuk dimakan usia.
"Maaf, Dek. Om tidak bisa ikut masuk. Sampai di depan teras sini saja ya? Om harus segera pulang sekarang," tolak Rahsya tegas.
Ia merasa mentalnya tidak akan sanggup jika harus menghadapi fakta pahit asmara atau gangguan mistis yang lebih jauh di dalam ruangan rumah kayu itu.
"Ayo masuk, Om!"
Tarikan tangan bocah itu mendadak berubah menjadi sebuah sentakan kasar penuh tenaga gaib yang mustahil untuk dilepaskan oleh tangan biasa.
Rahsya yang hendak berbalik badan menjauh justru terseret paksa masuk ke dalam kegelapan ruangan rumah kayu tersebut.
BRAKK!
Daun pintu rumah kayu itu mendadak tertutup sendiri dengan bunyi dentuman keras yang memekakkan telinga. Pandangan mata Rahsya seketika berubah menjadi gelap gulita, seolah-olah seluruh kesadaran jiwanya sedang ditarik paksa keluar dari raganya.
Brukkkk!
Rahsya jatuh terjerembap ke tanah. Perlahan-lahan, ia membuka kembali kelopak matanya dan mengerjap-ngerjapkan mata karena silau cahaya matahari yang menyengat.
Anehnya, ia kini sama sekali tidak berada di dalam ruangan rumah kayu yang pengap, gelap, dan berbau busuk bangkai.
Tubuhnya justru terjatuh di atas hamparan rumput hijau segar yang terasa sangat lembut. Udara di sekelilingnya terasa sangat sejuk, wangi aroma melati pekat menyeruak ke udara, dan pemandangan alam di depannya tampak begitu indah, asri, dan damai—seolah-olah ia sedang tidak berada di dimensi dunia manusia yang ia kenal selama ini.
"Om, cepat bangun!" seru bocah itu, menyentak lamunan Rahsya.
Rahsya mengerjap-ngerjapkan matanya berkali-kali, berharap pemandangan di depannya ini hanyalah halusinasi akibat otak yang kekurangan pasokan oksigen. Namun, hamparan bunga warna-warni, danau jernih tempat rusa dan kelinci minum, serta empat bangunan kayu mewah di hadapannya terasa begitu nyata.
"Kenapa kita bisa ada di sini?" tanya Rahsya kebingungan. Suaranya bergetar hebat saat menatap keindahan alam yang terasa sangat tidak masuk akal itu.
"Tuh rumah aku, Om!" tunjuk bocah itu ke salah satu bangunan rumah kayu mewah tersebut.
Rahsya ternganga. Ia melangkah mundur beberapa langkah dengan napas memburu. "Sebenarnya kamu siapa? Bukannya rumah kamu yang tadi di bawah pohon beringin pinggir telaga? Dan kenapa kita bisa berada di sini?"
"Om ini bawel banget. Sudah, ikut aku saja mendingan!"
Tanpa memedulikan ketakutan Rahsya, bocah bernama Nathan itu kembali menarik lengannya menuju ke arah rumah tersebut.
Di halaman depan rumah, Rahsya melihat tiga orang pria paruh baya dan seorang wanita yang duduk membelakanginya di atas sebuah dipan besar. Mereka tampak tertawa renyah sambil menikmati hidangan makanan yang aromanya sangat menggoda selera.
"Ayah!" panggil bocah itu lantang.
Keempat orang di atas dipan tersebut menoleh secara serempak.
"Nathan! Kamu dari mana saja, Nak?"
Salah satu pria langsung bangkit berdiri dan menghampiri posisi Nathan. Pria itu berjongkok cemas sambil meneliti pakaian anaknya yang tampak basah kuyup.
"Kenapa bisa basah kuyup begini?"
"Aku jatuh saat bermain tadi. Terus aku meminta tolong sama ibu-ibu dan bapak-bapak di sana, tapi mereka tidak mendengar suara aku, Yah. Jadi aku minta tolong sama Om ini saja," adu Nathan polos.
Pria itu tertegun sejenak. Rahangnya tampak mengeras kaku. Ia melirik ke arah Rahsya sekilas dengan tatapan mata yang sangat dingin, tanpa ada niat sedikit pun untuk mengucapkan terima kasih.
"Jangan bilang kamu bermain lagi ke sana," desisnya rendah.
Nathan hanya bisa menundukkan kepalanya diam.
"Sudah Ayah katakan berkali-kali, jangan pernah keluar dari wilayah sini, Nathan! Mereka yang di luar sana tidak sebaik yang kamu kira!"
Rahsya mematung di tempatnya berdiri, dunianya seolah-olah berhenti berputar seketika. Ia tidak lagi memedulikan omelan sang ayah kepada anaknya itu.
Sepasang matanya hanya terpaku lurus pada sosok wanita cantik yang masih duduk diam di atas dipan, menatapnya dengan sepasang mata penuh pandangan aneh yang sulit diartikan.
'Dia siapa? Kinara atau Kinanti?' batin Rahsya berkecamuk hebat, membuat dadanya terasa sangat sesak.
"Sebaiknya kamu cepat pergi dari tempat ini! Jangan pernah datang lagi ke mari!" usir ayah Nathan dengan nada suara penuh emosi, seketika membuyarkan lamunan Rahsya.
Rahsya tersentak kaget. "Sebenarnya ini tempat apa, Pak?" ia justru balik bertanya. Rasa penasaran kedokterannya mengalahkan rasa takut mistisnya.
"Kamu jangan banyak bertanya, cepat pergi!"
Suara pria itu menggelegar dahsyat, membuat nyali Rahsya ciut seketika.
"Tapi saya tidak tahu jalan untuk pulang, Pak," sahut Rahsya jujur.
Ia merasa benar-benar tersesat di dalam dimensi yang sangat asing ini.
Pria itu mengusap wajahnya kasar, tampak sangat terganggu dengan kehadiran seorang manusia biasa di wilayah kekuasaannya. Ia menoleh ke arah wanita cantik yang wajahnya sangat mirip dengan Kinanti itu.
"Kinan, tolong bawa dia keluar dari tempat ini."
Wanita itu mengangguk pelan, lalu bangkit berdiri dari dipan.
"Ikut saya," ucapnya dingin tanpa ekspresi.
"Kinan... jadi kamu beneran Kinan?" tanya Rahsya lirih.
Sepasang matanya mulai berkaca-kaca menahan haru. Ia ingin sekali memastikan apakah ini wanita yang sama yang ia puja sejak masa SMA dulu.
Wanita itu tidak menjawab pertanyaannya sedikit pun. Ia terus berjalan lebar menjauh. Rahsya tetap diam mematung di tempatnya berdiri, menuntut sebuah jawaban pasti.
"Cepat ikut saya!" bentak wanita itu tiba-tiba dengan kilat sepasang mata yang tampak sangat menyeramkan.
Rahsya menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia bingung dan merasa sedang dipermainkan oleh takdir gaib. Rahang wanita itu tampak mengeras murka.
Dalam satu sentakan tangan yang sangat kuat dan tidak manusiawi, ia menarik paksa lengan Rahsya dan mendorong tubuh tegap pria itu hingga terpelanting sangat jauh ke arah kegelapan pekat.
Brukkk!
Rahsya tersentak hebat, tubuhnya menghantam permukaan tanah yang keras dan lembap. Saat perlahan-lahan ia membuka kembali kelopak matanya, pemandangan alam yang indah tadi lenyap seketika tanpa bekas. Ia kini terduduk lemas di depan sebuah rumah kayu tua yang lapuk di tepi telaga—rumah kayu kusam yang sama saat ia masuk bersama Nathan tadi.
Suasana sekitar kembali berubah menjadi sunyi, gelap, dan hanya ada suara burung hantu yang menyambut kembalinya ia ke dimensi dunia nyata.
"Pak Dokter!"
Suara serak Pak Anwar yang muncul tiba-tiba dari arah jalan setapak sawah membuat Rahsya terlonjak kaget luar biasa hingga nyaris terjungkal ke tanah. Jantungnya yang baru saja berpacu akibat insiden di "dimensi lain" kini kembali berdegup dengan sangat kencang.
"Ngapain duduk di situ sendirian? Apa Bapak tidak takut pagi-pagi buta melamun di tempat ini?"