NovelToon NovelToon
Istri Mafia Memilih Taubat

Istri Mafia Memilih Taubat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir / Mafia
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Rara, seorang gadis yang gemar membaca kisah pria tampan, tiba-tiba terbangun di dalam novel yang baru saja dibacanya. Namun, bukan sebagai pemeran utama yang baik hati, ia justru menjadi Zelara Sabiru, istri arogan, sombong, dan kejam dari seorang bos mafia bernama Bashkar Deluca. Dalam cerita asli, Zelara selalu membenci Bashkar dan ikut keluarganya menuduh sang suami sebagai dalang di balik kematian kedua orang tuanya. Bahkan, Zelara berakhir dengan nasib tragis. Namun Rara mengetahui satu rahasia yang tidak diketahui siapa pun Bashkar tidak pernah membunuh orang tuanya. Semua tuduhan itu hanyalah fitnah. Berbekal pengetahuan tentang alur cerita, Rara memutuskan mengubah takdir Zelara. Ia meninggalkan sifat buruk sang istri, memilih untuk bertaubat, dan mulai membela Bashkar yang selama ini hidup dalam kesepian serta penuh kecurigaan. Tetapi semakin Rara berusaha mengubah akhir cerita, semakin banyak rahasia keluarga Deluca yang terbongkar. Dan yang paling membuatnya bingung… Mengapa sang mafia dingin yang seharusnya membencinya justru mulai melindunginya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

Suasana di dalam boardroom lantai lima puluh Deluca Corp mencekam hingga ke titik nadir. Hawa dingin dari salju yang berkecamuk di luar jendela seolah menembus masuk, membekukan seluruh ruangan konferensi yang megah bernuansa kayu gelap itu.

Jajaran direksi dan manajer senior duduk kaku di kursi berpelapis kulit mereka. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani bersandar, apalagi bernapas terlalu keras. Semua mata menunduk dalam-dalam, menatap meja dengan peluh dingin yang bercucuran di pelipis.

Di ujung meja oval yang panjang, Bashkar duduk membelakangi mereka, menatap pemandangan kota yang memutih diterpa salju. Pria itu tidak berteriak. Ia tidak menggebrak meja atau memaki dengan suara melengking. Justru keheningan dan ketenangannya yang dingin itulah yang menjadi teror paling mengerikan bagi siapa pun yang berurusan dengannya.

Jika Zela berada di ruangan ini dan mengira bahwa suami mafianya hanyalah sosok pria dingin berhati hangat yang hanya butuh sedikit kasih sayang dan perhatian, maka wanita itu salah besar. Di balik visualnya yang sempurna dan sikap diamnya, Bashkar Deluca adalah seorang iblis tanpa hati—seorang penguasa underworld berdarah dingin yang tidak pernah mengenal kata ampun.

"Dua puluh miliar," suara Bashkar akhirnya memecah hening.

Suaranya sangat rendah, datar, dan tenang, namun sanggup menghentikan detak jantung semua orang di ruangan itu. Pria itu memutar kursinya perlahan, menatap lurus pada Kepala Divisi Keuangan yang sudah gemetaran di ujung meja.

"Dua puluh miliar uang perusahaan menguap dalam hitungan minggu karena 'kesalahan input' dari divisimu... Henry," lanjut Bashkar, menyebut nama pria paruh baya itu dengan nada yang teramat halus, namun mematikan.

"T-Tuan Bashkar... mohon ampun, Tuan! Saya... saya ditipu oleh pihak ketiga! Saya tidak berniat untuk—" Henry bangkit dari kursinya, berlutut langsung di atas karpet mahal dengan wajah pucat pasi bak mayat.

Bashkar mengetukkan jemarinya yang panjang di atas armrest kursi. Manik mata kelabunya kosong dari segala jenis emosi manusia. Tidak ada keibaan, tidak ada empati. Hanya ada kekejaman murni yang telah ditempa oleh pengkhianatan dan tumpah darah sejak ia kecil.

"Di tempat ini, kebodohan dan pengkhianatan memiliki bobot hukuman yang sama," bisik Bashkar dingin.

Ia memberi isyarat kecil dengan lirikan matanya kepada dua pengawal pribadi berbadan tegap yang berdiri kaku di balik pintu rapat. Tanpa membuang waktu, kedua pengawal itu melangkah cepat, mencengkeram kedua lengan Henry dan menyeretnya paksa berdiri.

"Tuan Bashkar! Tolong, Tuan! Berikan saya kesempatan satu kali lagi! Aaargh!" jerit Henry histeris.

Bashkar berdiri perlahan dari duduknya. Pria itu melangkah mendekati Henry dengan gerakan anggun namun mengintimidasi bak seekor pemangsa. Begitu berdiri tepat di depan Henry, tanpa keraguan sedikit pun, Bashkar melayangkan satu pukulan mentah tepat ke rahang pria itu!

BUM!

Suara benturan keras bergema di seluruh ruangan. Henry tersentak hebat, darah segar menyembur keluar dari mulutnya bersamaan dengan dua gigi depannya yang patah dan melayang ke lantai. Jeritan kesakitan melengking dari tenggorokannya, membuat para direksi lainnya makin menundukkan kepala, memejamkan mata rapat-rapat dalam ketakutan yang membunuh.

Sebelum Henry sempat jatuh, Bashkar mencengkeram cengkeraman bajunya, lalu menghantamkan wajah pria itu ke atas meja rapat kayu jati tebal yang keras!

BAM!

Darah segar langsung menetes membasahi permukaan meja yang mengkilap. Henry memekik lemah, dadanya memburu dengan pendarahan hebat di hidung dan dahinya.

"Patahkan jari-jarinya," perintah Bashkar datar, mengambil sapu tangan putih dari saku jasnya untuk mengusap sedikit bercak darah yang menciprat ke jemarinya. "Setiap jari mewakili dua miliar yang hilang dari perusahaanku. Setelah itu, buang dia ke penjara bawah tanah."

"Baik, Tuan!" sahut kedua pengawal itu tegas.

Diiringi jeritan histeris dan erangan kesakitan Henry yang diseret keluar dari ruangan, Bashkar menyapu pandangannya ke seluruh jajaran direksi yang tersisa. Manik mata kelabunya berkilat penuh kekejaman mutlak.

"Rapat selesai," desis Bashkar rendah. "Perbaiki laporan kalian sebelum aku kehilangan kesabaran pada orang berikutnya."

Tanpa menunggu sahutan dari para bawahannya yang membeku ketakutan, Bashkar berbalik dan melangkah keluar dari boardroom dengan raut wajah sangat datar menegaskan pada dunia bahwa ia adalah raja tanpa belas kasihan yang tak akan pernah bisa dimaafkan oleh kehangatan apa pun.

Setelah kegaduhan di boardroom mereda dan sisa-sisa jejak pendarahan Henry dibersihkan oleh petugas security, Bashkar melangkah kembali ke dalam ruang kerja pribadinya. Pria itu menyandarkan tubuh tegapnya di kursi kebesarannya, menatap keluar dinding kaca raksasa tempat kepingan salju turun semakin lebat dan menutupi hamparan megah pemandangan kota.

Klek.

Rian melangkah masuk ke dalam ruangan. Di kedua tangannya, ia membawa dua kantong belanjaan besar berbahan kertas tebal berlogo merek busana mewah ternama, lengkap dengan pita bungkus kado yang rapi.

"Tuan," sapa Rian seraya memposisikan dirinya di depan meja kerja Bashkar. "Nyonya Zelara baru saja datang ke lobby. Beliau tidak memaksa masuk setelah ditahan oleh petugas, namun beliau menitipkan barang-barang ini khusus untuk Anda."

Bashkar tidak merespons dengan kata-kata. Manik mata kelabunya yang tajam hanya melirik dingin pada kantong belanjaan tersebut tanpa minat sedikit pun.

Rian meletakkan kantong-kantong itu secara perlahan di atas meja kerja kayu jati yang mengkilap. Dengan cekatan dan hati-hati, sang asisten membukanya satu per satu di hadapan sang majikan. Dari dalam wadah eksklusif itu, Rian mengeluarkan sebuah long coat tebal berpotongan tegas berbahan wool premium warna charcoal gray, beberapa sweater turtleneck rajut berbahan cashmere yang terasa sangat lembut, serta syal hangat berwarna gelap yang serasi.

Di balik pita kado paling atas, Rian menemukan selembar kertas kecil beraroma harum lembut. Ia mengambilnya, lalu meletakkannya tepat di hadapan Bashkar.

Bashkar mengulurkan jemarinya yang panjang, meraih kertas tersebut. Manik matanya menyapu barisan tulisan tangan yang rapi, licin, dan sedikit kekanak-kanakan di sana:

Halo Suamiku yang kaku kayak batu,

Di luar salju sudah turun lebat banget, dinginnya gak santai! Aku beliin mantel wool, turtleneck, sama syal hangat ini khusus buat Kamu.

Ini dipakai ya! Jangan sok kuat cuma pakai jas tipis gitu, nanti Kamu sakit. Kalau Kamu sakit, siapa yang mau galak-galak sama aku lagi?

Dari istri tercinta yang paling imut,

Zelara

Wajah Bashkar tetap bagaikan patung es. Tak ada kerutan di keningnya, tak ada binar kehangatan di matanya, bahkan tak ada perubahan sekecil apa pun pada garis rahangnya yang tegas. Dengan gerakan acuh tak acuh dan dingin, Bashkar meremas kertas beraroma wangi itu di genggamannya hingga remuk, lalu melemparnya tepat ke dalam tong sampah di samping mejanya.

Rian yang menyaksikan hal tersebut menarik napas pelan. Pria berkacamata itu menatap barang-barang hangat bermutu tinggi di atas meja, lalu memberanikan diri menatap sang majikan.

"Tuan..." Rian berucap pelan, suaranya sarat akan rasa ragu yang mendalam. "Saya merasa... Nyonya Zelara benar-benar sudah berubah. Tidak ada lagak kepura-puraan di matanya, dan cara beliau memperhatikan Anda belakangan ini terasa sangat—"

"Diam," potong Bashkar dingin. Suaranya serendah guruh, memutus kalimat Rian seketika.

Aura intimidasi mematikan kembali terpancar dari tubuh Bashkar, memeringatkan Rian agar tidak melintasi batasan posisinya. Rian langsung menundukkan kepala dalam-dalam, mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

TOK! TOK! TOK!

Ketukan di pintu ruang kerja yang keras memecah ketegangan di antara mereka. Pintu terdorong terbuka bahkan sebelum Bashkar memberikan izin.

Seorang pria paruh baya bertubuh agak gempal dengan setelan jas mahal dan rambut klimis beruban melangkah masuk tanpa rasa takut. Pria itu adalah Tuan George, salah satu eksekutif pemegang saham senior sekaligus figur ber pengaruh yang diam-diam memegang faksi oposisi di dalam konsorsium bisnis keluarga Deluca.

George melangkah mendekati meja kerja Bashkar, menyilangkan tangannya di belakang punggung dengan memasang raut wajah cemas bercampur kesal.

"Bashkar," panggil George tanpa basa-basi, mengabaikan keberadaan Rian di ruangan itu. "Bagaimana dengan kesepakatan kita mengenai pengalihan aset dan pembagian wilayah yang waktu itu? Kau tidak akan mengingkari janjimu, bukan?"

Bashkar menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap George dengan manik mata kelabunya yang sepi tanpa emosi.

"Tentu saja tidak," sahut Bashkar datar.

George menghela napas lega secara berlebihan, namun raut mukanya mendadak kembali berkerut tebal saat Bashkar melanjutkan ucapannya.

"Dia meminta waktu dua bulan lagi," tambah Bashkar dengan nada santai. "Semua prosesnya baru akan diselesaikan setelah dua bulan itu berlalu."

Raut wajah George seketika berubah masam. Matanya membelalak tak puas, giginya gemeletuk menahan amarah yang mendadak meluap.

"Dua bulan?!" seru George dengan suara meninggi, ketidaksabarannya meluap di udara. "Itu terlalu lama, Bashkar! Bagaimana pun juga, aku membutuhkan pengalihan itu secepatnya! Para investor di belakangku sudah mendesak dan situasi pasar tidak bisa menunggu permainanmu sampai dua bulan ke depan!"

Bashkar tidak bergeming. Ia hanya menatap George dengan pandangan membekukan yang membuat pria tua itu perlahan mengatupkan mulutnya kembali.

"Dua bulan. Tidak ada negosiasi," desis Bashkar rendah.

George mengepalkan tangannya kuat-kuat, mendengus kasar. Dengan raut wajah gusar, frustrasi, dan marah yang terpancar jelas, ia berbalik secara mendadak.

"Terserah kau! Tapi ingat, kesabaranku ada batasnya!" gerutu George tajam sebelum melangkah lebar keluar dan membanting pintu ruangan itu dengan keras.

BLAM!

Ruang kerja kembali diselimuti kesunyian. Bashkar menatap pintu yang tertutup rapat, lalu pandangannya beralih pada mantel tebal dan pakaian hangat dari Zela yang tergeletak di atas mejanya. Manik mata kelabunya meredup, menyembunyikan perhitungan dan strategi kelam yang sedang berputar di dalam kepalanya.

1
N. Siti 12mplb_ukk
lnjut💪
Herlina Susanty
lanjut thor smgt 💪
Azura75
pisah aja lah.. toh kamu juga nggak hamil. pindah ke luar negri. mulai semua dr awal hidup baru & dgn identitas baru. drpd makan hati dgn suami kyk gitu.
anonim
double up please?🙏
Pelangi Jingga
di tunggu kelanjutannya tor
Apis
ini sebenarnya temanya apa yathor di indo pa di barat, ko manggilnya mas mb tp ada musim saljunya
Gustinur Arofah
karya baru semangat💪💪💪, sdh vote, like, komen, bunga dan kopi biar makin semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!