Reyhan Ilham, cowok 19 tahun yang sekarang sedang sibuk bekerja menjadi pramuniaga minimarket, suka nongkrong di bengkel teman karena hobi mekanik, sayangnya gak lanjut kuliah karena tidak ada uang.
Suatu hari pergi liburan ke Bandung ke rumah temannya, tapi saat datang dengan status bujang tapi saat pulang malah berstatus menikah. Kok, bisa? Rey saja tidak mengerti kenapa? Kehidupan dia saja sebelumnya sudah pas-pasan, eh ditambah sekarang harus memberi makan satu orang lagi, semakin kekurangan uang dia.
Bagaimana sih, rasanya menjadi Reyhan, tiba-tiba mempunyai seorang istri saat masih muda dan melarat? Apakah pernikahan dia akan langgeng atau berhenti di tengah ja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerita
**
Setelah puas berburu makanan di pinggir jalan, perut mereka akhirnya sudah kenyang. Awalnya mereka hanya berniat makan bakso, kemudian lanjut makan nasi goreng, ayam bakar dan terakhir membeli jajanan seperti cilok, cireng, dan sejenisnya.
Ayana sudah mandi, sedang Reyhan sedang mandi karena tadi dia kalah taruhan. Memangnya, apa yang bisa diharapkan dari hubungan mereka setelah sering berciuman akan menjadi romantis, begitu? Tidak mungkin, setiap hal masih sering diperdebatkan.
"Bagaimana kalau dia datang lagi?" Ayana memasukan satu cilok ke mulutnya, tapi pikiran dia sedang berkecamuk.
Tadi saat mereka di luar, Ayana sempat lupa, tapi sekarang saat di kosan entah kenapa dia teringat lagi. Takut lagi. Lelaki itu sudah sering berusaha untuk melecehkannya dari Ayana berumur 10 tahun tanpa dia sadari. Walaupun entah kenapa beruntungnya selalu gagal, selalu ada hal yang membuat itu tidak pernah terjadi. Tapi tetapi saja, bagi Ayana gagal atau tidak, semua kejadian yang berhubungan dengan lelaki itu terasa menakutkan.
Dia yang sedang patah, bertemu seseorang yang dianggap pelindung tapi ternyata malah melukainya. Dulu, dia pikir semua perhatian lelaki itu adalah memang bentuk sayang seorang saudara. Setelah makin dewasa dia baru sadar, perilaku itu tidak benar. Sentuhannya, pelukannya bukan mengarah ke rasa sayang saudara, melainkan lawan jenis.
"Ngelamun mulu, kesurupan gue video biar viral, siapa tahu langsung diundang tivi terus dapat duit."
Ayana menoleh, menatap tajam kemudian dia menjerit. "Porno, kenapa pakai handuk doang?"
"Kan, habis mandi, masa aku pakai karung," jawab Reyhan santai sedang memilih baju.
"Bukan gitu! Biasanya kan, pakai baju di kamar mandi!"
Reyhan terkekeh. "Lupa bawa baju sama handuk. Ini aja handuk olahraga, pendek banget."
"Bodo amat, sana pergi ke kamar mandi!" Ayana mengintip disela jarinya, kemudian mengangguk. "Pantesan kelihatan, handuknya pendek banget."
Reyhan terkekeh. "Selain pendek, handuk ini membuat aku jadi sexi."
Kemudian, Reyhan berpose ala model dengan berbagai gaya. Sesaat Ayana terdiam, kemudian dia sadar langsung menutup kembali seluruh wajahnya. Dia melemparkan bantal ke arah Reyhan.
"Dasar cabul, mati aja sana!"
Reyhan semakin tertawa. "Tapi sexi, kan? Suka, kan? Walaupun roti sobek aku belum terbentuk sempurna tapi segini udah ok, kan?"
"Jablay dasar!" Sekarang, Ayana sudah melempari Reyhan dengan sapu.
"Gak papa kalau mau lihat, lihat aja. Gak usah bringas malu-malu gitu." Seperti biasa, Reyhan belum puas menggoda Ayana, masih berlenggak-lenggok seperti model.
"Reyhan, jablay! Pergi sana!" Ayana sudah benar-benar frustasi, tapi sesekali masih mengintip kemudian tak habis pikir dengan manusia seperti Reyhan.
"Ampun!" Reyhan tertawa ngakak, kemudian pergi ke kamar mandi.
"Cowok jablay dasar." Kemudian Ayana memegang wajahnya malu. "Tapi badannya memang bagus. Apaan sih, mikir gituan!"
Setelah beberapa menit, Reyhan sudah keluar dari kamar mandi dengan berpakaian lengkap.
"Mau cilor dong!"
Ayana sudah menyerahkan sekantong cilor ke Reyhan. "Awas pedes."
"Siap, aku suka yang pedas-pedas seperti bibir kamu," jawab Reyhan sembari mengedipkan matanya menggoda.
Ayana merinding. "Apaan sih, jablay!"
Reyhan tertawa, kemudian mereka berdua sibuk makan jajanan.
"Ay, boleh tanya?" tanya Reyhan setelah menghabiskan sekantong cilor.
"Boleh. Apa?"
Reyhan terlihat tak enak. "Jadi, cowok yang mau berbuat jahat ke kamu waktu itu, ternyata saudara kamu?"
Ayana menghela napas. Dia tahu pembahasan ini akan Reyhan bahas. "Iya. Dia anak tertuanya paman."
Reyhan jelas terlihat terkejut. "Kok bisa? Paman kamu tahu anaknya gitu?"
Ayana menggeleng. Terdengar miris. "Enggak."
"Kenapa?"
"Aku masih tahu diri tidak merusak keluarga mereka setelah numpang hidup sama mereka."
Entah kenapa, Reyhan bisa merasakan kesedihan Ayana. Lelaki itu mendekat, merangkul pundak Ayana. "Kalau bikin kamu sedih, gak usah dibahas."
Ayana mendongak, membuat kedua mata mereka bertatapan. "Kamu penasaran gak, kenapa aku bisa tinggal sama paman? Apa yang terjadi sama orang tuaku?"
Reyhan terlihat berpikir, kemudian menggeleng kecil. "Kalau dengan membuat kamu harus bercerita jadi membuka luka kamu, aku gak penasaran deh."
"Gak papa." Ayana tersenyum, kemudian wajahnya berubah sendu. "Aku takut, Rey. Dia ada di sini. Satu kota sama kita." Matanya berkaca-kaca.
Reyhan balik memeluk gadis yang terlihat kalut itu. "Gak papa, aku pastikan dia gak akan ganggu kamu lagi."
"Rey, aku mau cerita. Kamu mau dengerin?"
Reyhan mengangguk. "Aku dengerin."
"Walaupun panjang dan lama?"
"Aku dengerin."
*
Ini hari Minggu biasa, dimana menjadi hari libur dari semua rutinitas sibuknya kehidupan.
"Ma, Pa, ayo berangkat!"
"Sebentar Sayang, Mama masih siapkan bekal dulu." Terlihat seorang wanita dewasa tengah berkutat di dapur.
"Lama," ujar Ayana, gadis kecil berusia 9 tahun itu. "Papa mana?"
"Tadi ke luar, mungkin sedang memanaskan mobil."
"Mama, cepet ayo, aku tunggu di luar!" Ayana menghentak kakinya, berjalan menyusul sang papa.
"Ampun anak ini! Dari kemarin heboh mau ke kebun binatang, padahal hari ini rencananya mau lihat bayi tantenya yang baru lahir. Heboh sekali, sekarang sudah mau berangkat." Sang mama tersenyum senang dan gemas mengingat tingkah anaknya yang heboh itu.
Akhirnya, setelah banyak menunggu, Ayana sudah bisa berangkat juga ke kebun binatang bersama kedua orangtuanya.
Dia sekarang sedang bernyanyi heboh saking senangnya. Akhirnya, ia bisa pergi ke kebun binatang seperti teman-temannya juga. Beberapa Minggu ini sangat sangat iri mendengar cerita teman-temannya tentang kebun binatang yang baru dibuka di kota mereka.
"Pa, gimana urusan sama Adipura sudah selesai?"
Papa menggeleng. "Belum. Kita belum nemu kesepakatan, apalagi tadi Papa baru tahu saat kerjasama dulu mereka curang. Entahlah, kerugian waktu itu gede. Kayaknya kerjasama sama ini gak akan jadi. Papa akan tarik lagi."
"Ya ampun, Mama gak menyangka mereka sepertinya itu. Padahal, mereka keliatan baik."
Papa mengangguk. "Papa juga."
"Ma, Pa, Ayana di sana mau beli boneka jerapah, yah? Teman Ayana punya boneka kuda sama panda!" teriak Ayana heboh.
"Ok, Princess," jawab sang Papa senang melihat anaknya penuh semangat seperti itu.
"Ayana mau foto saja harimau!"
"Astaghfirullah, bahaya Sayang, gak boleh." Sang mama panik, ada-ada aja saja tingkah anaknya ini.
"Oh iya? Foto sama ular boleh?" tanya Ayana polos.
Sang Mama menggeleng lagi. "Gak boleh, masih bahaya."
Terdengar, tawa sang papa. "Nanti papa temenin kalau mau foto sama harimau dan ular."
Ayana yang tadinya murung, kembali ceria. "Bener, Pa?"
Papa menangguk. "Bener, Sayang."
"Hore!"
Mama menepuk paha papa. "Papa ih, ajarannya gak bener sama anak."
"Lagian, petugasnya juga gak akan ngizinin Ma, iyain aja dulu sekarang, biar anak kita senang," bisik papa kemudian mengecup singkat pipi mama.
"Dasar." Mana terlihat malu-malu.
Tiba-tiba, mamanya melihat sebuah mobil dari arah depan terlihat ugal-ugalan.
"Pa, hati-hati itu ada mobil yang ugal-ugalan!" ujar mana panik.
"Iya, Ma, ini pa--"
Brakkkk
Perlahan, cahaya itu semakin menghilang berubah menjadi hitam. Suara-suara seakan berhenti, berubah sepi. Tak ada tawa bahagia lagi seperti tadi, samar-samar malah terdengar suara rintihan kesakitan.
"Princess ...."
"Sayang ...."
Ah, perlahan suara itu pun menghilang. Dunia seolah berhenti, padahal nyatanya dunia masih berjalan, sedang hanya waktu mereka saja yang terhenti.
Kejadiannya begitu cepat, saat terbangun Ayana melihat banyak orang berbaju putih yang sedang memeriksa dirinya. Seluruh tubuhnya sakit, dia bahkan tidak bisa menggerakkannya. Suaranya pun susah keluar, entahlah tubuh gadis kecil itu seperti mati rasa.
Beberapa hari terlewat begitu saja, orang-orang datang silih berganti mengunjunginya, dari orang yang dia kenal dan tidak dia kenal. Setiap datang, wajah mereka terlihat sedih, khawatir bahkan tak jarang banyak yang menangis.
Kenapa? Ayana kecil tak mengerti semua hal itu. Apa yang sedang terjadi? Ah, dari semua yang datang, kenapa tidak ada ada wajah kedua orangtuanya? Mereka kemana? Apa mereka pergi ke kebun binatang tanpa dirinya? Apa dia ditinggal?
Beberapa hari berlalu. Perlahan, dia mulai bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Bahkan, dia sudah bisa berbicara. Hal yang pertama yang dia katakan.
"Mama sama papa kemana?"
Setiap orang datang dia tanyakan seperti itu, tapi respon mereka sama hanya diam, sedih kemudian menangis dan memilih pergi. Bahkan, seorang yang selalu ada di ruang rawatnya yang Ayana tidak kenal itu siapa, hanya mengatakan.
"Mungkin sedang sibuk Nak, saya kurang tahu karena saya hanya dibayar untuk menjaga kamu di rumah sakit."
Sampai salah satu omnya mengatakan,
"Mereka meninggal dalam kecelakaan bersama kamu."
Meninggal? Apakah itu? Dulu, semua kakek dan neneknya juga meninggal saat Ayana masih kecil, tapi dia tidak terlalu ingat. Dia hanya tahu orang yang meninggal tidak bisa dia temui lagi, seperti dia yang tidak bisa bertemu dengan semua kakek dan neneknya. Kata mama, katanya orang yang meninggal akan pergi ke surga dan mereka akan selalu ada di hati kita. Dimana, Ayana tidak tahu itu dimana?
Apakah dia sudah tidak bisa bertemu dengan kedua orangtuanya lagi? Kenapa mereka tidak membawa Ayana pergi meninggal juga bersama mereka? Kenapa mereka meninggalkan dirinya? Apa karena dia anak nakal?
"Kedua orangtua kamu bangkrut, sisa uangnya dipakai untuk biaya rumah sakit kamu dan membayar orang untuk menjaga kamu."
Dilain waktu, salah satu tantenya mengatakan itu, Ayana tidak tahu apa maksudnya itu. Kata sepupunya yang lain, bangkrut itu artinya Ayana itu miskin. Tidak lagi punya rumah, mobil, baju bagus, tidak bisa makan enak, tidak bisa jalan-jalan, bahkan Ayana sudah tidak bisa sekolah.
Dia jadi mirip seperti bapak gelandangan di depan sekolahnya. Apa setelah ini, dia juga akan tidur di dekat sekolahnya juga bersama bapak itu?
"Hidup kami susah, tidak bisa rawat kamu."
"Keuangan keluarga kami sedang tidak bagus, kakak sepupu kamu sedang butuh biaya untuk kuliah di luar negri."
"Kami sering bekerja ke luar negri, tidak bisa kamu tinggal di rumah kami."
"Kami akan menyerahkan kamu ke panti asuhan, di sana banyak teman dan ada yang rawat kamu."
Semua orang sering mengatakan itu, Ayana tidak mengerti. Kepala dia sakit, dia hanya mau ketemu kedua orangtuanya. Panti asuhan, tempat anak-anak hebat tapi kurang beruntung. Dulu, dia sering pergi ke sana? Kata mama, mereka sama dengan kita, hanya saja sedikit kurang beruntung karena tidak mempunyai orangtua. Apa sekarang dia juga menjadi sedikit kurang beruntung karena mama sama papa sudah pergi ke surga? Makanya, Ayana harus tinggal di sana.
Waktu berlalu, perlahan kondisi Ayana sudah sehat. Kata om dokter, dia beberapa hari lagi bisa pulang. Dia harus pulang kemana, yah? Mama dan papa sudah tidak ada, rumah tidak ada. Apa ke panti asuhan? Om dan tante-tantenya itu juga sudah jarang datang lagi. Kata Tante Alis yang sering menjaga dia, dia juga akan pergi dan berhenti menjaga Ayana karena masa kerjanya hanya sampai Ayana keluar dari rumah sakit.
Satu hari yang lain, datang kedua orang yang mengaku paman dan bibinya. Ayana tidak mengenal mereka, dia tidak pernah bertemu dengan mereka sebelumnya. Tapi katanya, mereka adalah keluarga Ayana. Katanya lagi, Ayana akan tinggal bersama mereka di sebuah desa yang indah.
Desa itu apa? Mereka mengatakan jika desa adalah tempat yang indah dimana di sana Ayana bisa bermain di sungai, gunung, sawah dan banyak pohon-pohon indah.
"Jadi, aku tidak akan tinggal di panti asuhan?"
Setelah menanyakan itu, paman dan bibi menangis terus memeluknya. Berulang kali meminta maaf karena terlambat datang, mereka berjanji akan menjaga dan menyayangi Ayana kedepannya. Ayana tidak pernah sendiri.
Setelah sehat, keluar dari rumah sakit, Ayana pergi dibawa paman dan bibinya untuk tinggal di desa.
Semuanya terasa asing, baru, tapi dia suka. Dia mempunyai dua saudara lagi, satunya seorang lelaki yang saat itu masih SMA namanya Bayu dan satu lagi seumuran dengannya namanya Ajeng.
Ayana kembali bersekolah, dia hidup bahagia seperti janji paman dan bibi. Bayu juga menyayanginya, sering mengajaknya bermain, membantu Ayana membuat pr, membela Ayah saat ada orang yang meledeknya, tapi beda dengan Ajeng, dari awal dia datang sepertinya gadis itu tidak menyukai Ayana. Bahkan, tak jarang mengatakan.
"Tidak tahu diri. Numpang hidup di rumah orang, nambah beban aja."
Iya, terkadang ada kalanya dia merasa asing. Ini bukan keluarganya, dia hanya orang asing yang menumpang.
Semakin dewasa, Ayana tidak mau merepotkan paman, selalu menabung uang jajan dan membawa bekal. Jika ada biaya sekolah, Ayana berusaha untuk menabung. Kadang, dia sering membantu ibu-ibu di desa untuk menjaga anaknya saat mereka pergi ke kebun bekerja, nanti dia dikasih upah.
Intinya, dia tidak ingin merepotkan keluarga paman selain tempat tinggal dan makan. Kadang, Ayana juga ingin menolak uang jajan, tapi paman dan bibi selalu memaksanya untuk menerima.
Hari itu, Ayana sudah kelas 3 SMP. Sepulang sekolah seperti biasa, dia selalu membantu bibi membereskan rumah, mengerjakan apapun yang bisa dikerjakan, walau terkadang bibi sering melarangnya.
Bayu pulang bekerja, dia tiba-tiba memeluk Ayana yang sedang berjemur baju di depan rumah dari belakang. Akhir-akhir ini, entah kenapa Bayu sering memeluknya, terkadang mencium pipinya. Ayana tidak menganggap aneh, karena itu mungkin bentuk sayang saudara.
Tiba-tiba Bayu menariknya ke kebun belakang, Ayana ikut saja karena mungkin ada sesuatu yang ingin Bayu tunjukan.
Setelah masuk jauh ke dalam kebun jagung, Ayana didorong jatuh, Ayana terkejut, menanyakan kenapa. Tapi jawaban Bayu, seketika membuat Bayu yang awalnya terlihat sebagai sosok kakak, berubah menjadi sosok yang menakutkan.
"Sekarang, udah waktunya kamu layani aku. Kasih perawan kamu sebagai bentuk balas budi karena udah numpang hidup di rumah aku. Aku nunggu lama, aku tahan-tahan karena kamu masih kecil. Sekarang kamu udah gede, badan kamu udah berisi montok. Aku udah gak bisa nahan lagi."
Ayana takut, dia tidak mengerti sebenarnya apa yang sedang terjadi. Menanyakan apa yang sedang kakaknya lakukan, kenapa jadi seperti ini? Ayana sudah tahu apa maksud dari Bayu, di sekolah sudah diajarkan. Dia takut, tubuhnya gemetar. Ingin berlari, tapi Bayu sudah menindih tubuhnya. Berusaha ingin menciumnya, tapi Ayana terus berontak. Sampai tiba-tiba, terdengar suara paman sedang memarahi burung yang memakan jagungnya. Kesempatan itu, Ayana gunakan untuk kabur berlari pergi.
Ayana tidak bisa mengatakan kejadian itu kepada paman dan bibi karena Bayu selalu mengancamnya. Semenjak itu, Ayana menjadi ketakutan setiap melihat Bayu, sosok kakaknya menghilang. Bahkan, saat sedang di dalam kamar, ia takut karena Bayu pernah masuk ke dalam kamarnya dan akan melecehkannya yang berakhir gagal lagi.
Kejadian terus terulang, tapi Tuhan masih baik selalu menyelamatkan Ayana dengan cara apapun. Ayana jadi ingin segera lulus SMA dan pergi dari rumah ini kemudian pergi ke kota, tempat dimana jauh dari Bayu.
Tahu apa yang paling menyakitkan selain dari ketakutan dari korban pelecehan? Ayana kehilangan sodok Bayu yang menjadi kakaknya. Ayana sudah menyayangi Bayu seperti kakaknya sendiri, tapi ternyata Bayu adalah orang yang jahat yang ingin melecehkannya.
Ternyata, selama ini dia sudah menjadi korban pelecehan tapi tidak sadar. Semua pelukan dan ciuman Bayu, itu adalah pelecehan yang sering di alami dari kecil.
(Ayana gak ada yg ngajarin, kalau cowok dewasa gak boleh peluk cium anak kecil. Bagi dia hal itu wajar, karena dia tidak tahu bagaimana saudara saling menyayangi tanpa harus peluk cium saat udah dewasa)
Kejadian saat ada Reyhan itu akhirnya, sampai dia bisa menikah dengan lelaki ini dan bisa pergi dari desa.
**